Oleh: Rosyidah Purwo
Pagi hari itu, aku bersama teman-teman bersenda gurau sambil memerhatikan lalu lalang anak-anak kecil yang riang berangkat sekolah.
Seorang ibu tua dengan seorang gadis berjalan bersama. Gadis itu berjalan sambil menggandeng ibu tua. Sambil menampakkan mimik muka…..entahlah (bahagiakah, senangkah¬, bencikah, atau marahkah?) Aku tidak tahu. Gadis itu berjalan sedikit tergesa.
Aku melihatnya seksama. Aku tahu siapa dia. Aku pernah melihatnya. Di sebuah tempat yang biasa ia kunjungi. Aku mengenalnya. Ia gadis berumur tiga puluh satu tahun.
Setelahnya aku abai dengannya. Sebab sepertinya tidak ada lagi yang mesti aku perhatikan tentangnya. Aku-pun menyibukkan diri dengan teman-teman untuk jagongan pagi.
“Hi.” Aku menyapa seorang teman. Aku bercanda dan bergurau seperti biasa. Lalu lalang anak-anak kecil menghalangi andanganku dari orang-orang yang berjalan di depanku. Tatap mataku menangkap sebuah baju unik. Biru cerah dan berukuran panjang se mata kaki.
Aku memerhatikan orang itu. Lagi-lagi gadis berumur tiga puluh satu tahun. Sedikit kaget melihatnya. Menurut pendapatku, tak biasanya ia mengenakan kostum semacam itu. Pikiranmacam-macam langsung aku hapus baik-baik dalam benakku. Aku melempar senyum padanya. Jabatan tangannya luar biasa. Ganas!
Dasar orang rese, aku melirik teman duduk sebelahku. Gadis berumur tiga puluh satu tahun berlalu begitu saja sambil menggandeng tangan tua ibu tua itu.
Pagi hari yang cerah itu menjadi catatan muram untuk gadis berumur tiga puluh satu tahun. Pertemuan dengannya yang tak disangka dan tek diduga telah menoreh luka dalam di hatinya.
Purwokerto, 290310
Minggu, 28 Maret 2010
Selasa, 23 Maret 2010
Nenek Tua dan Sarang Semut
Oleh: Rosyidah Purwo
Suatu sore, setelah kepulangannya dari rumah sakit Santa Elishabet, nenek tua bertemu dengan salah satu pasien di rumah sakit tersebut.
Ia bercerita mengenai sakit yang diderita cucunya, yaitu tentang benjolan di salah satu bagian anggota tubuhnya.
Atas saran dari kawan baru tersebut, nenek tua menelpon dan berkonsultasi ulang dengannya. Lalu kawan baru itu memberikan sebungkus obat tradisional.
Menurut cerita dari nenek tua, yang sempat saya tanya tentang bungkusan itu, bahwa bungkusan tersebut adalah sarang semut hutan Irian Jaya.
Aku geleng-geleng kepala. Ada-ada saja manusia ini. Sarang semut bisa dijadikan obat. Weleh, weleh, weleh.
Pojok Istana Mungil, 23-03-10
Suatu sore, setelah kepulangannya dari rumah sakit Santa Elishabet, nenek tua bertemu dengan salah satu pasien di rumah sakit tersebut.
Ia bercerita mengenai sakit yang diderita cucunya, yaitu tentang benjolan di salah satu bagian anggota tubuhnya.
Atas saran dari kawan baru tersebut, nenek tua menelpon dan berkonsultasi ulang dengannya. Lalu kawan baru itu memberikan sebungkus obat tradisional.
Menurut cerita dari nenek tua, yang sempat saya tanya tentang bungkusan itu, bahwa bungkusan tersebut adalah sarang semut hutan Irian Jaya.
Aku geleng-geleng kepala. Ada-ada saja manusia ini. Sarang semut bisa dijadikan obat. Weleh, weleh, weleh.
Pojok Istana Mungil, 23-03-10
Tikus vs Maling
Oleh: Rosyidah Purwo*)
Di sebuah rumah yang cukup besar, tinggal seorang nenek tua bersama suaminya. Dalam usianya yang sudah renta, nenek tua ini sangat setia menjaga suaminya yang tengah terbaring sakit. Dalam kurun waktu lima tahun, nenek tua ini disiplin sekali dengan urusan menjaga suami tercintanya.
Di rumah model Jawa yang cukup besar ini, tinggal pula seorang anak gadis nan cantik jelita, yang tak lain dan tak bukan adalah cucu dari si nenek. Cucu ini sangat pendiam dan tertutup. Praktis rumah besar, teduh, dan lapang ini terkesan sunyi senyap.
Jika malam datang, hampir tak ada kehidupan.Yang terdengar hanya gaduh suara tikus yang mencuri makanan milik si nenek tua, atau suara jangrik yang mengikrik, atau suara cicak yang berdecak, ada juga suara kendaraan bermotor yang terkadang lewat. Atau suara radio yang sepanjang hari menemani nenek tua.
Selain suami dan cucu, di rumah ini juga tinggal dua anak gadis. Mereka adalah anak-anak yang memanfaatkan kamar kosong milik nenek tua. Alias nge-kost.
Yah, nenek tua ini memang kreatif. Meskipun sudah berumur, namun otak bisnisnya tetap jalan. Barangkali karena sayang, dua kamar besarnya dibiarkan kosong, maka nenek ini menjadikan dua kamar di rumah besarnya sebagai kost-kostan.
Dengan kondisi rumah yang sunyi sepi, keberadaan dua gadis ini menjadi “lentera” bagi si nenek. Jika sedang ada masalah, sudah bisa ditebak, si nenek tua ini akan bercerita panjang lebar mengenai masalahnya kepada dua anak kost-nya.
Mau tak mau, meskipun dalam keadaan lelah setelah seharian melaksanakan tanggung jawab mengajarnya, dua gadis dewasa ini dengan setia dan tekun mendengarkan tuturan dari si nenek.
O iya, nenek tua ini benar-benar seorang nenek yang luar biasa hebat. Dalam kondisi sunyi sepi, menghadapi suaminya yang terbaring tak berdaya, ia masih mampu berkomunikasi dengan suami tercintanya.
Suatu saat, dalam sebuah moment, aku diundang masuk ke kamar pribadinya guna diperkenalkan dengan suami tercintanya yang konon ceritanya dulu adalah anak seorang patih yang kelak saat besar menjabat menjadi seorang wedana.
Aku itu bingung, kaget, kagum, dan tercengang. Begitu masuk ke kamar, aku melihat sesosok laki-laki tua bertubuh jangkung, putih dan besar serta beruban tergeletak di atas tempat tidur. Aku mendekatkan diri untuk menyalaminya.
Aku terlonjak kaget saat laki-laki tua tinggi besar itu mengeluarkan suaranya. Sungguh, siapapun pasti akan kaget dan bingung. Sebab saraf-saraf bicaranya telah digerogoti stroke, semua kata yang dikeluarkan tidak terdengar jelas. Ditambah kuku panjangnya yang sepertinya tidak pernah dipotong. Menambah rasa takutku saat itu.
Sebagai orang jawa asli, aku berusaha sebisa mungkin untuk menjaga keramah-tamahan di kamar setengah mayat itu. Namun begitu, sebagai anak muda yang sedang getol-getolnya mencarai jati diri sesungguhnya, aku tak mampu juga menyembunyikan kepalsuan ramah-tamah itu, nyatanya si nenek langsung angkat bicara saat aku sedang geligapan. Ia menerjemahkan bahasa “planet” suami tercintanya. Nenek ini luar biasa hebat.
Rumah besar ini memiliki ruang tengah yang memiliki tiga pintu. Pintu menuju dapur dan halaman belakang, yang dijadikan jalan raya tikus-tikus kecil yang selalu mencuri makanan. Ke dua, pintu keluar bagian belakang yang menghubungkan menuju halaman samping dan halaman depan, dan terakhir adalah pintu menuju ruang tamu. Yang menjadi masalah bagi si nenek adalah masalah pintu menuju dapur.
Salah satu anak kostnya memiliki kebiasaan baik, ia selalu memerlakukan dengan baik, pintu keluar bagian belakang. Adalah dengan menutupnya rapat-rapat dan mengunci baik-baik pintu tersebut. Ini sudah refleks, ia selalu melakukannya. Entah waktunya pagi, siang, sore, atau malam.
Ternyata kebiasaan ini, menurut nenek tua tidak perlu dilakukan. Menurut nenek, yang perlu diperlakukan seperti itu, adalah pintu menuju dapur. Nah, ini berkebalikan sekali dengan kebiasaan anak kostnya. Hampir dipastikan, setiap kali anak kost ini membuka pintu menuju dapur, ia tidak pernah menutup, apalagi menguncinya. Tentu saja ini menjadi masalah bagi si Nenek.
Ternyata si Nenek memiliki alasan tersendiri mengapa ia mewanti-wanti anak kostnya untuk rajin menutup pintu menuju dapur. Alasannya adalah, jika pintu ini tidak ditutup, maka tikus-tikus kecil yang imut dan nakal akan masuk dan mencuri persediaan makan milik Nenek.
Sementara pintu belakang bagian luar tidak perlu untuk dikunci rapat-rapat. Sebab sepanjang sepengetahuan nenek, meskipun pintu ini tidak dikunci atau ditutup tetap aman-aman saja.
Pikiran ini rupa-rupanya berkebalikan dengan anak kostnya. Menurutnya, aturannya yang ditutup rapat-rapat adalah pintu keluarnya. Dan yang tidak perlu ditutup rapat-rapat adalah pintu menuju dapur.
Anak kostnya ini punya alasan tersendiri. Jika pintu luar tidak dikunci, dikhawatirkan ada orang jahil alias maling yang masuk rumah dan mengambil barang-barang milik nenek. Sementara pintu menuju dapur tidak perlu ditutup, sebab sudah pasti aman dari orang-orang jahil alias maling.
Dalam pikiran si anak kost sudah tertanam “maling lebih berbahaya dari pada tikus.” Sementara di hati si nenek tua sudah tertanam dengan kuat pikiran, “tikus lebih berbahaya dari pada maling.” Ternyata si nenek tua ini lebih takut kepada tikus dari pada maling. Aksi tegur-menegur tentang tutup-menutup pintu pun terjadilah setiap hari.
Purwokerto, 21 Maret 2010
Di sebuah rumah yang cukup besar, tinggal seorang nenek tua bersama suaminya. Dalam usianya yang sudah renta, nenek tua ini sangat setia menjaga suaminya yang tengah terbaring sakit. Dalam kurun waktu lima tahun, nenek tua ini disiplin sekali dengan urusan menjaga suami tercintanya.
Di rumah model Jawa yang cukup besar ini, tinggal pula seorang anak gadis nan cantik jelita, yang tak lain dan tak bukan adalah cucu dari si nenek. Cucu ini sangat pendiam dan tertutup. Praktis rumah besar, teduh, dan lapang ini terkesan sunyi senyap.
Jika malam datang, hampir tak ada kehidupan.Yang terdengar hanya gaduh suara tikus yang mencuri makanan milik si nenek tua, atau suara jangrik yang mengikrik, atau suara cicak yang berdecak, ada juga suara kendaraan bermotor yang terkadang lewat. Atau suara radio yang sepanjang hari menemani nenek tua.
Selain suami dan cucu, di rumah ini juga tinggal dua anak gadis. Mereka adalah anak-anak yang memanfaatkan kamar kosong milik nenek tua. Alias nge-kost.
Yah, nenek tua ini memang kreatif. Meskipun sudah berumur, namun otak bisnisnya tetap jalan. Barangkali karena sayang, dua kamar besarnya dibiarkan kosong, maka nenek ini menjadikan dua kamar di rumah besarnya sebagai kost-kostan.
Dengan kondisi rumah yang sunyi sepi, keberadaan dua gadis ini menjadi “lentera” bagi si nenek. Jika sedang ada masalah, sudah bisa ditebak, si nenek tua ini akan bercerita panjang lebar mengenai masalahnya kepada dua anak kost-nya.
Mau tak mau, meskipun dalam keadaan lelah setelah seharian melaksanakan tanggung jawab mengajarnya, dua gadis dewasa ini dengan setia dan tekun mendengarkan tuturan dari si nenek.
O iya, nenek tua ini benar-benar seorang nenek yang luar biasa hebat. Dalam kondisi sunyi sepi, menghadapi suaminya yang terbaring tak berdaya, ia masih mampu berkomunikasi dengan suami tercintanya.
Suatu saat, dalam sebuah moment, aku diundang masuk ke kamar pribadinya guna diperkenalkan dengan suami tercintanya yang konon ceritanya dulu adalah anak seorang patih yang kelak saat besar menjabat menjadi seorang wedana.
Aku itu bingung, kaget, kagum, dan tercengang. Begitu masuk ke kamar, aku melihat sesosok laki-laki tua bertubuh jangkung, putih dan besar serta beruban tergeletak di atas tempat tidur. Aku mendekatkan diri untuk menyalaminya.
Aku terlonjak kaget saat laki-laki tua tinggi besar itu mengeluarkan suaranya. Sungguh, siapapun pasti akan kaget dan bingung. Sebab saraf-saraf bicaranya telah digerogoti stroke, semua kata yang dikeluarkan tidak terdengar jelas. Ditambah kuku panjangnya yang sepertinya tidak pernah dipotong. Menambah rasa takutku saat itu.
Sebagai orang jawa asli, aku berusaha sebisa mungkin untuk menjaga keramah-tamahan di kamar setengah mayat itu. Namun begitu, sebagai anak muda yang sedang getol-getolnya mencarai jati diri sesungguhnya, aku tak mampu juga menyembunyikan kepalsuan ramah-tamah itu, nyatanya si nenek langsung angkat bicara saat aku sedang geligapan. Ia menerjemahkan bahasa “planet” suami tercintanya. Nenek ini luar biasa hebat.
Rumah besar ini memiliki ruang tengah yang memiliki tiga pintu. Pintu menuju dapur dan halaman belakang, yang dijadikan jalan raya tikus-tikus kecil yang selalu mencuri makanan. Ke dua, pintu keluar bagian belakang yang menghubungkan menuju halaman samping dan halaman depan, dan terakhir adalah pintu menuju ruang tamu. Yang menjadi masalah bagi si nenek adalah masalah pintu menuju dapur.
Salah satu anak kostnya memiliki kebiasaan baik, ia selalu memerlakukan dengan baik, pintu keluar bagian belakang. Adalah dengan menutupnya rapat-rapat dan mengunci baik-baik pintu tersebut. Ini sudah refleks, ia selalu melakukannya. Entah waktunya pagi, siang, sore, atau malam.
Ternyata kebiasaan ini, menurut nenek tua tidak perlu dilakukan. Menurut nenek, yang perlu diperlakukan seperti itu, adalah pintu menuju dapur. Nah, ini berkebalikan sekali dengan kebiasaan anak kostnya. Hampir dipastikan, setiap kali anak kost ini membuka pintu menuju dapur, ia tidak pernah menutup, apalagi menguncinya. Tentu saja ini menjadi masalah bagi si Nenek.
Ternyata si Nenek memiliki alasan tersendiri mengapa ia mewanti-wanti anak kostnya untuk rajin menutup pintu menuju dapur. Alasannya adalah, jika pintu ini tidak ditutup, maka tikus-tikus kecil yang imut dan nakal akan masuk dan mencuri persediaan makan milik Nenek.
Sementara pintu belakang bagian luar tidak perlu untuk dikunci rapat-rapat. Sebab sepanjang sepengetahuan nenek, meskipun pintu ini tidak dikunci atau ditutup tetap aman-aman saja.
Pikiran ini rupa-rupanya berkebalikan dengan anak kostnya. Menurutnya, aturannya yang ditutup rapat-rapat adalah pintu keluarnya. Dan yang tidak perlu ditutup rapat-rapat adalah pintu menuju dapur.
Anak kostnya ini punya alasan tersendiri. Jika pintu luar tidak dikunci, dikhawatirkan ada orang jahil alias maling yang masuk rumah dan mengambil barang-barang milik nenek. Sementara pintu menuju dapur tidak perlu ditutup, sebab sudah pasti aman dari orang-orang jahil alias maling.
Dalam pikiran si anak kost sudah tertanam “maling lebih berbahaya dari pada tikus.” Sementara di hati si nenek tua sudah tertanam dengan kuat pikiran, “tikus lebih berbahaya dari pada maling.” Ternyata si nenek tua ini lebih takut kepada tikus dari pada maling. Aksi tegur-menegur tentang tutup-menutup pintu pun terjadilah setiap hari.
Purwokerto, 21 Maret 2010
Ana Rega, Ana Rupa (Kisah Seorang Ibu dan Anak Laki-Lakinya yang Bersenang Hati)
Oleh: Rosyidah Purwo
Sebuah cerita disampaikan kepada saya. Dalam sebuah senda gurau, seorang teman bercerita kepada saya tentang seorang anak laki-laki yang menjadi anak didiknya.
Anak laki-laki ini merupakan anak satu-satunya dalam sebuah keluarga yang dilahirkan setelah lima belas tahun usia pernikahannya. Praktis, si Ibu sangat menyayangi anak laki-laki ini.
Sayangnya, barangkali karena pola asuh yang kurang tepat di rumahnya, anak laki-laki ini tumbuh menjadi seorang anak yang memiliki daya intelegensi rendah. Di lingkungan rumah maupun sekolah, ia dikenal sebagai anak yang memiliki daya ingat rendah.
Guru kelasnya juga pernah bercerita bahwa ia anak yang menerima perlakuan khusus di kelas. Ia mendapat prioritas perhatian yang lebih tinggi dibandingkan teman-teman yang lain.
Seorang guru mata pelajaran juga pernah menyampaikan unek-unek tentang anak ini. Ia merasa keberatan jika harus memegang anak ini sendirian. Namun begitu, guru ini tetap mengajarnya dengan tekun.
Tidak ada anak yang dilahirkan dalam keadaan yang bodoh. Semua anak dilahirkan dalam keadaan yang suci seperti kertas putih yang masih bersih. Masalah kertas ini mau berubah menjadi hitam, putih, biru, kuning dan sebagainya tergantung pada si empunya kertas mau memberikan warna apa.
Seperti halnya seorang anak. Ia akan menjadi pintar atau bodoh, tergantung bagaimana orang-orang di sekitar memerlakukannya. Jika ia selalu dicemooh “kamu anak bodoh”, lama-lama anak akan tumbuh menjadi bodoh. Jika orang dilingkungan sekitar tinggal, sekolah dan rumah, melabel sebagai anak yang bodoh, dengan sendirinya anak akan menganggap dirinya sebagai anak yang bodoh.
Barangkali jika semua guru di sekolahnya selalu melabel anak ini sebagai anak yang bodoh dan tidak perlu diperhatikan, anak ini akan tumbuh menjadi anak yang benar-benar bodoh. Padahal sudah tahu sendiri bukan?
Setelah melalui proses pendidikan yang luar biasa hebat di sekolahnya, anak ini berubah seratus delapan puluh derajat. Anak yang tadinya tidak tahu huruf hijaiyyah, anak yang tadinya tidak mampu membaca sama sekali, dalam hitungan bulan, anak ini telah mampu membaca dengan baik. Anak yang tadinya tidak mampu merespon setiap gurauan yang dilontarkan teman-teman sekelasnya, sekarang berubah menjadi anak yang cekatan dan tanggap.
Orang tuanya juga terheran-heran. Ia sempat bercerita, setiap adzan berkumandang, anak ini mengajak orang tuanya untuk melaksanakan sholat. Kepada orang tuanya, ia menjadi patuh dan baik hati.
Sebab merasa penasaran, menurut sebuah cerita, seorang ibu rumah tangga mecoba mengetes kemampuan anak ini. Saat kunjungan ke puskesmas setempat, ibu rumah tangga ini memerhatikan si anak yang dengan fasih membaca tulisan dalam sebuah surat kabar, dan sebuah kalimat di pintu masuk, “kamar untuk putra”. Si ibu ini terkagum-kagum luar biasa.
Sebab merasa bangga dengan kemampuan anak semata wayangnya ini, si Ibunya anak bercerita kepada gurunya di sekolah.
“Wah, memang ana rega ana rupa.” Maksud ibu ini adalah, sekolah mahal tidak menjadi masalah, yang penting anaknya bisa. Sekolah mahal pasti berkualitas.
Catatan: Sekolah yang baik adalah sekolah yang memerlakukan anak didiknya sebagai manusia. Atau dengan kalimat lebih kerennya adalah “Proses memanusiakan manusia”. Anak ini boleh dikatakan anak yang beruntung. Dalam rangka menciptakan anak yang cerdas, pandai, berhati nurani,berperi kemanusiaan, baik hati, jujur, dan tidak sombong, berbakti kepada orang tua, orang tua anak ini menyekolahkan anaknya di sebuah sekolah dasar swasta paling baik saat ini di Banyumas.
Pojok Sekolah, 14 Maret 2010
Sebuah cerita disampaikan kepada saya. Dalam sebuah senda gurau, seorang teman bercerita kepada saya tentang seorang anak laki-laki yang menjadi anak didiknya.
Anak laki-laki ini merupakan anak satu-satunya dalam sebuah keluarga yang dilahirkan setelah lima belas tahun usia pernikahannya. Praktis, si Ibu sangat menyayangi anak laki-laki ini.
Sayangnya, barangkali karena pola asuh yang kurang tepat di rumahnya, anak laki-laki ini tumbuh menjadi seorang anak yang memiliki daya intelegensi rendah. Di lingkungan rumah maupun sekolah, ia dikenal sebagai anak yang memiliki daya ingat rendah.
Guru kelasnya juga pernah bercerita bahwa ia anak yang menerima perlakuan khusus di kelas. Ia mendapat prioritas perhatian yang lebih tinggi dibandingkan teman-teman yang lain.
Seorang guru mata pelajaran juga pernah menyampaikan unek-unek tentang anak ini. Ia merasa keberatan jika harus memegang anak ini sendirian. Namun begitu, guru ini tetap mengajarnya dengan tekun.
Tidak ada anak yang dilahirkan dalam keadaan yang bodoh. Semua anak dilahirkan dalam keadaan yang suci seperti kertas putih yang masih bersih. Masalah kertas ini mau berubah menjadi hitam, putih, biru, kuning dan sebagainya tergantung pada si empunya kertas mau memberikan warna apa.
Seperti halnya seorang anak. Ia akan menjadi pintar atau bodoh, tergantung bagaimana orang-orang di sekitar memerlakukannya. Jika ia selalu dicemooh “kamu anak bodoh”, lama-lama anak akan tumbuh menjadi bodoh. Jika orang dilingkungan sekitar tinggal, sekolah dan rumah, melabel sebagai anak yang bodoh, dengan sendirinya anak akan menganggap dirinya sebagai anak yang bodoh.
Barangkali jika semua guru di sekolahnya selalu melabel anak ini sebagai anak yang bodoh dan tidak perlu diperhatikan, anak ini akan tumbuh menjadi anak yang benar-benar bodoh. Padahal sudah tahu sendiri bukan?
Setelah melalui proses pendidikan yang luar biasa hebat di sekolahnya, anak ini berubah seratus delapan puluh derajat. Anak yang tadinya tidak tahu huruf hijaiyyah, anak yang tadinya tidak mampu membaca sama sekali, dalam hitungan bulan, anak ini telah mampu membaca dengan baik. Anak yang tadinya tidak mampu merespon setiap gurauan yang dilontarkan teman-teman sekelasnya, sekarang berubah menjadi anak yang cekatan dan tanggap.
Orang tuanya juga terheran-heran. Ia sempat bercerita, setiap adzan berkumandang, anak ini mengajak orang tuanya untuk melaksanakan sholat. Kepada orang tuanya, ia menjadi patuh dan baik hati.
Sebab merasa penasaran, menurut sebuah cerita, seorang ibu rumah tangga mecoba mengetes kemampuan anak ini. Saat kunjungan ke puskesmas setempat, ibu rumah tangga ini memerhatikan si anak yang dengan fasih membaca tulisan dalam sebuah surat kabar, dan sebuah kalimat di pintu masuk, “kamar untuk putra”. Si ibu ini terkagum-kagum luar biasa.
Sebab merasa bangga dengan kemampuan anak semata wayangnya ini, si Ibunya anak bercerita kepada gurunya di sekolah.
“Wah, memang ana rega ana rupa.” Maksud ibu ini adalah, sekolah mahal tidak menjadi masalah, yang penting anaknya bisa. Sekolah mahal pasti berkualitas.
Catatan: Sekolah yang baik adalah sekolah yang memerlakukan anak didiknya sebagai manusia. Atau dengan kalimat lebih kerennya adalah “Proses memanusiakan manusia”. Anak ini boleh dikatakan anak yang beruntung. Dalam rangka menciptakan anak yang cerdas, pandai, berhati nurani,berperi kemanusiaan, baik hati, jujur, dan tidak sombong, berbakti kepada orang tua, orang tua anak ini menyekolahkan anaknya di sebuah sekolah dasar swasta paling baik saat ini di Banyumas.
Pojok Sekolah, 14 Maret 2010
Senin, 15 Maret 2010
Sesungging Senyum yang Tertunda di Sudut Bibir Mungil Gadis Kecil
By: Rosyidah Purwo
Sore hari itu, Jumat, 18 Desember 2009. Aku berjalan menyusuri sepanjang trotoar jalan Masjid, Purwokerto. Panas matahari sore itu sangat menyengat. Baju hitam yang saya kenakan basah oleh keringat.
Alun-alun Putwokerto dipadati oleh pasangan muda-mudi yang sekadar cari angin, atau sengaja mencari hiburan. Beberapa anak-anak kecil berlari-lari riang. Angin bertiup semilir. Mencegah lelah yang berkepanjangan.
Riuh-rendah bising suara kendaraan, mengurangi eloknya pemandangan alun-alun sore hari itu. Beberapa peluit tukang parkir, berbunyi menyetop beberapa kendaraan roda dua dan roda empat yang hendak parkir di pinggiran alun-alun. Aku berjalan cepat. Sore hari yang panas, membuatku ingin cepat-cepat sampai di kost-kostan.
Seorang bapak dengan tiga anak kecilnya. Berjalan santai di sepanjang trotoar jalan masjid. Satu anak laki-lakinya, barangkali yang terkecil, sebab jika dilihat dari bentuk tubuh dan wajahnya, rasa-rasanya ia adalah anak yang paling kecil, digendong tanpa menggunakan kain.
Anak laki-laki yang agak besar berjalan paling depan. Mendahului si bapak dan anaknya si bapak yang perempuan. Dengan mengenakan baju koko, dan pecis, anak laki-laki itu berjalan riang. Sejenak aku melihat ia memerhatikanku.
Gadis kecil itu menoleh kepadaku. Sesungging senyuman ia lempar kepadaku. Jika kamu melihatnya, sungguh bahagia rasanya menerima senyuman itu. Tulus….manis…bahagia…gembira… meskipun hanya beberapa detik saja.
‘Ah, cantik sekali gadis kecil itu,’ batinku. Aku tersenyum tipis. Jilbab ungunya terlampau besar untuk ukuran gadis sekecil itu.
‘Ah, kurang pas buat dia,’ protesku dalam hati.
‘Si bapak bagaimana si.’ Protesku lagi. Aku sedikit ketus. Ini aku berbicara pada diri sendiri.
Aku memerhatikan seksama pada si bapak. Jenggot panjangnya tidak cocok untuk ukuran tubuhnya. Kecil, kurus, hitam. Baju yang dikenakan juga tidak enak dipandang menurut saya.
Baju putihnya terlampau panjang, ujung celana panjangnya terlampau tinggi. Ah, pemandangan yang tidak perlu untuk dilihat.
Gadis kecil itu, berjalan riang meninggalkan bapaknya di belakang. Ia menoleh ke arahku. Senyuman itu ia lempar setulus-tulusnya. Gigi-gigi kecilnya terliat putih, bersih, dan indah.
Andaikan siapapun melihatnya, sungguh senang sekali rasanya. Namun, kebahagiannku sore itu, rupa-rupanya tidak diijinkan untuk berlama-lama. Beberapa detik setelah jarak antara saya dan gaadis kecil itu berdekatan, senyuman itu tiba-tiba hilang dan berupah menjadi wajah gadis kecil yang penuh derita dan sedih.
Aku kaget. ‘Why?’ Tanyaku. Sepanjang perjalanan setelah kejadian itu, aku lebih banyak menoleh ke belakang. Memerhatikan gadis kecil itu. Senyum tulus itu hilang dalam sekejap. Senyum bahagia itu hilang dalam beberapa langkah.
Adakah gadis kecil itu berpikir sesuatu tentangku? Adakah aku adalah seseorang yang tidak perlu mendpat senyuman itu? Adakah …adakah…tanya itu menggelayut di pikiran di sepanjang perjalanan menuju kost-kostan.
Gadis kecil…
Purwokerto, 181209
Sore hari itu, Jumat, 18 Desember 2009. Aku berjalan menyusuri sepanjang trotoar jalan Masjid, Purwokerto. Panas matahari sore itu sangat menyengat. Baju hitam yang saya kenakan basah oleh keringat.
Alun-alun Putwokerto dipadati oleh pasangan muda-mudi yang sekadar cari angin, atau sengaja mencari hiburan. Beberapa anak-anak kecil berlari-lari riang. Angin bertiup semilir. Mencegah lelah yang berkepanjangan.
Riuh-rendah bising suara kendaraan, mengurangi eloknya pemandangan alun-alun sore hari itu. Beberapa peluit tukang parkir, berbunyi menyetop beberapa kendaraan roda dua dan roda empat yang hendak parkir di pinggiran alun-alun. Aku berjalan cepat. Sore hari yang panas, membuatku ingin cepat-cepat sampai di kost-kostan.
Seorang bapak dengan tiga anak kecilnya. Berjalan santai di sepanjang trotoar jalan masjid. Satu anak laki-lakinya, barangkali yang terkecil, sebab jika dilihat dari bentuk tubuh dan wajahnya, rasa-rasanya ia adalah anak yang paling kecil, digendong tanpa menggunakan kain.
Anak laki-laki yang agak besar berjalan paling depan. Mendahului si bapak dan anaknya si bapak yang perempuan. Dengan mengenakan baju koko, dan pecis, anak laki-laki itu berjalan riang. Sejenak aku melihat ia memerhatikanku.
Gadis kecil itu menoleh kepadaku. Sesungging senyuman ia lempar kepadaku. Jika kamu melihatnya, sungguh bahagia rasanya menerima senyuman itu. Tulus….manis…bahagia…gembira… meskipun hanya beberapa detik saja.
‘Ah, cantik sekali gadis kecil itu,’ batinku. Aku tersenyum tipis. Jilbab ungunya terlampau besar untuk ukuran gadis sekecil itu.
‘Ah, kurang pas buat dia,’ protesku dalam hati.
‘Si bapak bagaimana si.’ Protesku lagi. Aku sedikit ketus. Ini aku berbicara pada diri sendiri.
Aku memerhatikan seksama pada si bapak. Jenggot panjangnya tidak cocok untuk ukuran tubuhnya. Kecil, kurus, hitam. Baju yang dikenakan juga tidak enak dipandang menurut saya.
Baju putihnya terlampau panjang, ujung celana panjangnya terlampau tinggi. Ah, pemandangan yang tidak perlu untuk dilihat.
Gadis kecil itu, berjalan riang meninggalkan bapaknya di belakang. Ia menoleh ke arahku. Senyuman itu ia lempar setulus-tulusnya. Gigi-gigi kecilnya terliat putih, bersih, dan indah.
Andaikan siapapun melihatnya, sungguh senang sekali rasanya. Namun, kebahagiannku sore itu, rupa-rupanya tidak diijinkan untuk berlama-lama. Beberapa detik setelah jarak antara saya dan gaadis kecil itu berdekatan, senyuman itu tiba-tiba hilang dan berupah menjadi wajah gadis kecil yang penuh derita dan sedih.
Aku kaget. ‘Why?’ Tanyaku. Sepanjang perjalanan setelah kejadian itu, aku lebih banyak menoleh ke belakang. Memerhatikan gadis kecil itu. Senyum tulus itu hilang dalam sekejap. Senyum bahagia itu hilang dalam beberapa langkah.
Adakah gadis kecil itu berpikir sesuatu tentangku? Adakah aku adalah seseorang yang tidak perlu mendpat senyuman itu? Adakah …adakah…tanya itu menggelayut di pikiran di sepanjang perjalanan menuju kost-kostan.
Gadis kecil…
Purwokerto, 181209
Tentang Gadis Berumur 31 Tahun (Catatan Pojok Sekolah)
Oleh: Rosyidah Purwo
Adalah sebuah kisah. Ini disampaikan oleh teman saya kepada saya, mengenai seorang gadis berumur 31 tahun. Saya tidak paham mengapa ia bercerita demikian tentang gadis itu kepadaku.
Sungguh, jika kamu bertemu dirinya kamu akan menyaksikan sebuah wajah yang sudah hampir menua. Sedikit dipenuhi keriput. Kecil, dan sedikit kurus. Tatapan matanya sungguh menusuk dan menyayat.
Kata-katanya tajam seperti suara ranting kering yang patah. Penuh misteri dan penuh rahasia. Ia suka mengatur dan sedikit angkuh. Sekali watu ia akan baik hati kepada semua orang, sekali waktu ia akan “membunuh” orang-orang yang ia kenal.
Jangan sekali-kali berkata yang membuat ia tersakiti, atau membuat ia merasa rendah di hadapan orang. Siap-siap saja kamu akan “dilahap”-nya. Aku kasihan kepadanya. Seharusnya ia cepat-cepat mengubah status kesinggle-annya. Agar ia mampu memperbaiki diri. (Saya tidak paham dengan bait kalimat yang terakhir: mengubah status kesingle-annya?).
O iya,Ia tidak mau orang lain lebih unggul dari padanya. Jangan salah, kamu tidak akan pernah “dilihat” sepandai apapun, sejenius apapun, setangkas apapun, segesit apapun, secerdas apapun, seaktif apapun. Ia selalu merasa dirinya sebagai orang yang paling hebat diantara teman-temannya. (Saya sempat bergidik dengan cerita ini).
Sebagai teman, saya berusaha mendengarkan dengan baik setiap kata yang meluncur dari bibir mungilnya yang imut dan indah. Sejenak rasa kasihan muncul dalam diriku. Saya berpikir, “apakah ia bagitu menderitanya berteman dengan gadis ini?”
Sebagai teman yang baik hati, jujur, tidak sombong, suka menabung, patuh, hormat kepada orang tua, hemat, cermat, dan bersahaja (he he he), saya berusaha sekuat mungkin untuk tidak memerlihatkan ekspresi -kasihan- padanya. Dengan patuh dan ta’dzim, saya mendengarkan setiap detail ceritanya, meskipun lelah ini sudah mendera.
Memang, masalah ngomong, teman saya yang satu ini, luar biasa hebatnya. Jika diladeni terus, sehari tidak bakal habis cerita meluncur dari bibir mungilnya.
Tentang gadis berumur 31 tahun. Saya pernah mendengar sekilas cerita tentangnya.
Sekali waktu saya juga pernah akrab dan bertegur sapa dengannya, bahkan bercengkerama. Dan saya tidak paham kalau gadis berumur 31 tahun sebegitu menakutkannya bagi teman saya. Bagi saya sendiri, keberadaannya sekadar fariasi dalam dunia dongengan saya. Meskipun saya tahu sendiri bagaimana tentang dirinya.
Hari ini aku mendengar suara lantangnya. Dengan mikrofon yang membuat suaranya terlihat lebih menyayat dan menusuk.
Tentangnya aku sudah banyak mendengar kisahnya. Salah satunya adalah sebuah kisah mengenai pertemanannya yang hancur di tengah jalan, sebab masalah yang terlihat sepele bagi saya.
Sebab teman dekatnya hendak menikah, ia rela menghancurkan sebuah hubungan pertemanan yang sudah terjalin sekian lama. Sebab pastinya belum jelas, namun menurut sebuah sumber yang sempat saya dengar dari seorang nenek tua yang sempat bercerita kepadaku, hubungan mereka retak sebab teman dekatnya tidak memberi kabar saat hendak menikah. Wow, sebegitu parahkah?
Bukan maksud ingin mencocok-cocokkan masalah. Saya sedang merenung saja. Saat kemarin, satu bulan yang lalu tepatnya, teman saya melangsungkan akad nikah, ia tidak hadir dalam resepsi itu. Apakah karena sebuah kebetulan? Saya tidak tahu, hatilah yang mengetahui.
Seorang gadis berumur 31 tahun. Hari itu, adalah hari resepsinya. Kebetulan saya dimintai tolong oleh teman saya. Dengan segenap tenaga dan pikiran yang saya miliki, saya mengikuti acara itu dengan seksama.
Dalam waktu yang begitu panjang, saya melewati setiap kegiatan demi kegiatan. Sungguh melelahkan. Waktu sudah menunjukkan pukul 14.30 wib, tamu undangan sudah semakin sedikit yang hadir. Dalam kurun waktu 6 jam, saya memerhatikan setiap tamu undangan yang hadir. Beberapa tamu undangan ada yang saya kenal dengan baik. Banyak pula teman-teman yang satu profesi dengan saya.
Sebab saya mengetahui tentang teman dekat orang yang diceritakan oleh teman saya itu, saya menunggu-nunggu kedatangannya. Waktu sudah selesai, tamu undangan sudah pulang satu-persatu. Rumah sudah mulai kosong. Orang yang saya tunggu-tunggu tak kunjung datang.
Sudah saatnya saya berpamitan dengan tuan rumah. Buku tamu saya tutup. Dalam hati saya berkata, “selamat jalan wahai Gadis, mengapa kamu tidak hadir dalam acara sepenting ini? Tidakkah kau tahu, ini adalah acara resespsi teman dekat kamu yang sempat kamu hadirkan dalam hatimu? Bukankah kamu sudah pernah menganggap ia sebagai bagian dari kehidupanmu?”
Aku berpamitan. Pikiranku melayang-layang. Teringat akan sebuah cerita masa lalu dari seorang nenek yang menceritakan sebuah kisahnya. Adalah kisah yang sama seperti hari ini. Saya berpikir, “apakah kisah itu akan terulang lagi pada hari ini?” Mudah-mudahan tidak, sebab, sungguh menderita sekali. Gadis itu sudah 31 tahun.
Pojok Sekolah, 12 Maret 2010
Adalah sebuah kisah. Ini disampaikan oleh teman saya kepada saya, mengenai seorang gadis berumur 31 tahun. Saya tidak paham mengapa ia bercerita demikian tentang gadis itu kepadaku.
Sungguh, jika kamu bertemu dirinya kamu akan menyaksikan sebuah wajah yang sudah hampir menua. Sedikit dipenuhi keriput. Kecil, dan sedikit kurus. Tatapan matanya sungguh menusuk dan menyayat.
Kata-katanya tajam seperti suara ranting kering yang patah. Penuh misteri dan penuh rahasia. Ia suka mengatur dan sedikit angkuh. Sekali watu ia akan baik hati kepada semua orang, sekali waktu ia akan “membunuh” orang-orang yang ia kenal.
Jangan sekali-kali berkata yang membuat ia tersakiti, atau membuat ia merasa rendah di hadapan orang. Siap-siap saja kamu akan “dilahap”-nya. Aku kasihan kepadanya. Seharusnya ia cepat-cepat mengubah status kesinggle-annya. Agar ia mampu memperbaiki diri. (Saya tidak paham dengan bait kalimat yang terakhir: mengubah status kesingle-annya?).
O iya,Ia tidak mau orang lain lebih unggul dari padanya. Jangan salah, kamu tidak akan pernah “dilihat” sepandai apapun, sejenius apapun, setangkas apapun, segesit apapun, secerdas apapun, seaktif apapun. Ia selalu merasa dirinya sebagai orang yang paling hebat diantara teman-temannya. (Saya sempat bergidik dengan cerita ini).
Sebagai teman, saya berusaha mendengarkan dengan baik setiap kata yang meluncur dari bibir mungilnya yang imut dan indah. Sejenak rasa kasihan muncul dalam diriku. Saya berpikir, “apakah ia bagitu menderitanya berteman dengan gadis ini?”
Sebagai teman yang baik hati, jujur, tidak sombong, suka menabung, patuh, hormat kepada orang tua, hemat, cermat, dan bersahaja (he he he), saya berusaha sekuat mungkin untuk tidak memerlihatkan ekspresi -kasihan- padanya. Dengan patuh dan ta’dzim, saya mendengarkan setiap detail ceritanya, meskipun lelah ini sudah mendera.
Memang, masalah ngomong, teman saya yang satu ini, luar biasa hebatnya. Jika diladeni terus, sehari tidak bakal habis cerita meluncur dari bibir mungilnya.
Tentang gadis berumur 31 tahun. Saya pernah mendengar sekilas cerita tentangnya.
Sekali waktu saya juga pernah akrab dan bertegur sapa dengannya, bahkan bercengkerama. Dan saya tidak paham kalau gadis berumur 31 tahun sebegitu menakutkannya bagi teman saya. Bagi saya sendiri, keberadaannya sekadar fariasi dalam dunia dongengan saya. Meskipun saya tahu sendiri bagaimana tentang dirinya.
Hari ini aku mendengar suara lantangnya. Dengan mikrofon yang membuat suaranya terlihat lebih menyayat dan menusuk.
Tentangnya aku sudah banyak mendengar kisahnya. Salah satunya adalah sebuah kisah mengenai pertemanannya yang hancur di tengah jalan, sebab masalah yang terlihat sepele bagi saya.
Sebab teman dekatnya hendak menikah, ia rela menghancurkan sebuah hubungan pertemanan yang sudah terjalin sekian lama. Sebab pastinya belum jelas, namun menurut sebuah sumber yang sempat saya dengar dari seorang nenek tua yang sempat bercerita kepadaku, hubungan mereka retak sebab teman dekatnya tidak memberi kabar saat hendak menikah. Wow, sebegitu parahkah?
Bukan maksud ingin mencocok-cocokkan masalah. Saya sedang merenung saja. Saat kemarin, satu bulan yang lalu tepatnya, teman saya melangsungkan akad nikah, ia tidak hadir dalam resepsi itu. Apakah karena sebuah kebetulan? Saya tidak tahu, hatilah yang mengetahui.
Seorang gadis berumur 31 tahun. Hari itu, adalah hari resepsinya. Kebetulan saya dimintai tolong oleh teman saya. Dengan segenap tenaga dan pikiran yang saya miliki, saya mengikuti acara itu dengan seksama.
Dalam waktu yang begitu panjang, saya melewati setiap kegiatan demi kegiatan. Sungguh melelahkan. Waktu sudah menunjukkan pukul 14.30 wib, tamu undangan sudah semakin sedikit yang hadir. Dalam kurun waktu 6 jam, saya memerhatikan setiap tamu undangan yang hadir. Beberapa tamu undangan ada yang saya kenal dengan baik. Banyak pula teman-teman yang satu profesi dengan saya.
Sebab saya mengetahui tentang teman dekat orang yang diceritakan oleh teman saya itu, saya menunggu-nunggu kedatangannya. Waktu sudah selesai, tamu undangan sudah pulang satu-persatu. Rumah sudah mulai kosong. Orang yang saya tunggu-tunggu tak kunjung datang.
Sudah saatnya saya berpamitan dengan tuan rumah. Buku tamu saya tutup. Dalam hati saya berkata, “selamat jalan wahai Gadis, mengapa kamu tidak hadir dalam acara sepenting ini? Tidakkah kau tahu, ini adalah acara resespsi teman dekat kamu yang sempat kamu hadirkan dalam hatimu? Bukankah kamu sudah pernah menganggap ia sebagai bagian dari kehidupanmu?”
Aku berpamitan. Pikiranku melayang-layang. Teringat akan sebuah cerita masa lalu dari seorang nenek yang menceritakan sebuah kisahnya. Adalah kisah yang sama seperti hari ini. Saya berpikir, “apakah kisah itu akan terulang lagi pada hari ini?” Mudah-mudahan tidak, sebab, sungguh menderita sekali. Gadis itu sudah 31 tahun.
Pojok Sekolah, 12 Maret 2010
Minggu, 07 Maret 2010
Miss Tomorrow
Oleh: Rosyidah Purwo
Hey, aku menangis!
Gara-garanya tu gini ni….niatan awal adalah ingin menulis tentang Mpok Minah yang pernah ke Meja Hijau sebab mengambil 3 batang Kakao.
Setelah mencoba bikin tulisan, ternyata buntu di tengah jalan. Lalu aku OL. Saat sedang OL, tiba-tiba teringat karyaku yang masih menggantung alias masih mentah, lalu aku membuka “mbah Google” untuk mencari berita tentang Mpok Minah. Lalu aku menemukan sebuah blog yang mem-posting gambar beserta beritanya.
Waduuuuuuh….sungguh, keterlaluan banget deh!
Gak tahu tu siapa yang keterlaluan. Baca aja deh beritanya! Kalau kamu mengaku sebagai orang yang masih berhati nurani, bakalan dimenangis. Wajahnya innocent banget. Kulitnya keriput. Masih harus menghadapi pak Hakim yang segar bugar. Belum dengan ketukan palunya!
Hiks, hiks, hiks! Sabar ya, Mpok….
Aku juga keterlaluan sekali. Mendengar beritanya dari jaman baheula, baru punya greget menulis sekarang! Memang Miss Tomorrow!
Hey, aku menangis!
Gara-garanya tu gini ni….niatan awal adalah ingin menulis tentang Mpok Minah yang pernah ke Meja Hijau sebab mengambil 3 batang Kakao.
Setelah mencoba bikin tulisan, ternyata buntu di tengah jalan. Lalu aku OL. Saat sedang OL, tiba-tiba teringat karyaku yang masih menggantung alias masih mentah, lalu aku membuka “mbah Google” untuk mencari berita tentang Mpok Minah. Lalu aku menemukan sebuah blog yang mem-posting gambar beserta beritanya.
Waduuuuuuh….sungguh, keterlaluan banget deh!
Gak tahu tu siapa yang keterlaluan. Baca aja deh beritanya! Kalau kamu mengaku sebagai orang yang masih berhati nurani, bakalan dimenangis. Wajahnya innocent banget. Kulitnya keriput. Masih harus menghadapi pak Hakim yang segar bugar. Belum dengan ketukan palunya!
Hiks, hiks, hiks! Sabar ya, Mpok….
Aku juga keterlaluan sekali. Mendengar beritanya dari jaman baheula, baru punya greget menulis sekarang! Memang Miss Tomorrow!
Tentang “Pasar Tiban” dan Pak Mabes POLRI
Oleh: Rosyidah Purwo
Dalam sebuah event besar yang diselenggarakan oleh sekolah dasar Maju Banget, seorang bapak dipercaya sebagai koordinator kegiatan bazaar ibu-ibu dan orang tua wali murid. Berkat kelihaian dan keahlian si Bapak ini, kegiatan bazar dapa berjalan dengan sukses dan lancar. Terbukti banyak sekali orang tua wali murid dan ibu-ibu yang mendaftar sebagai peserta bazaar.
Hari-H datang. “Pasar Tiban”-pun muncullah. Halaman sekolah tumpah ruah oleh pedagang-pedagang senior dan juniaor. Pedagang senior adalah mereka yang kegiatan kesehariannya memang benar-benar sebagai penjual di rumah atau di pasar atau di kios miliknya. Pedagang Junior adalah mereka yang menjadi pedagang dadakan sebab tanggung jawabnya untuk ikut meramaikan event sekolah.
Beraneka jenis makanan, pakaian, bahkan sampai dengan perabot rumah tangga tersedia lengkap di “Pasar Tiban” ini. Tidak sekadar makanan, pakaian, perabot rumah tangga, bahkan rumah juga tersedia di sini, pulsa, internet, juga tersedia. Masing-masing stand memiliki ciri dan jenis dagangan yang berbeda. Ada beberapa yang menjual barang dagangan yang sama.
Stand pak Panjul menjual Bakso, stand Bu Tuki menjual pakaian dalam anak dan dewasa, Stan Ipin-Upin menjual Burger dan aneka makan cepat saji, stand Bu Dika menjual es buah dan es campur, stand bu Iin menjual Karpet dan sejenisnya, stand bu Mamik menjual aneka makanan pengenyang perut, stand bu Khasna menjual aneka buah segar, stand bu Ani menjual mie goreng dan mie-mie lainnya. Stand bu Catur memasarkan rumah beserta fasilitasnya. Stand bu Bekti menjual aneka Nuget. Dan masih ada beberapa stand lainnya yang tak kalah meriah dan serunya.
Hari-H itu sekolah dipenuhi oleh riuh rendah suara penjual dan pembeli, serta celoteh anak-anak dan tamu undangan yang hadir. Ajaib, dalam sekejap, sekolah yang biasanya hanya dipenuhi suara anak dan guru, kini berubah seperti pasar tradisional yang modern.
Sepertinya nasib si Bapak ketua ini sedang mujur. Sebab peserta “Pasar Tiban” ini patuh dan tunduk pada perundang-undangan yang berlaku. Hampir tidak ada satu-pun peserta yang ngeyel dan ngedel. Namun konon ceritanya, ada salah satu peserta yang kurang cocok dengan perundang-undangan "Pasar Tiban". Namun karena perundang-undangan “Pasar Tiban” ini sudah terlanjur diketok palu, ke-ngeyelan dan kengedelan si Ibu ini kurang didengar oleh si Bapak ketua.
Rupa-rupanya si Ibu ini memang orang yang berhati besar, tangguh, dan pantang menyerah. Maka, apa yang dilarang dilakukanlah, oleh karena itu yang terjadi, terjadilah. Si Ibu tetap teguh pendirian pada prinsip ngeyel dan ngedel.
Setiap prinsip, keputusan, dan pilihan pasti akan dihadapkan pada ujian. Dan si Ibu ini-pun harus menghadapi ujian tersebut. Datanglah si Bapak ketua memeriksa setiap stand. Dari semua stand yang dicek, ternyata tidak ada masalah. Tibalah pada stand si ibu Prinsip Ngeyel-Ngedel. Sebab ketajaman indra serta ketelitiannya, si bapak Ketua menemukan kejanggalan di stand si Ibu Prisnsip Ngeyel-Ngedel.
Terkenalah pasal Undang-Undang “Pasar Tiban”. Memang dasarnya si ibu ini ngeyel dan ngedel, sudah jelas salah, tetap saja masih ngeyel dan ngedel. Maka dikenakanlah sanksi ringan. Dua buah roti dagangannya diambil oleh si bapak ketua.
Beberapa hari setelah kejadian, seorang bapak yang mengaku sebagai pak MABES POLRI menelpon si Bapak ketua. Mujur benar sekolah Maju Banget ini. Sikap tegas dan berani membela yang benar milik pak Ketua ini, memang T O P B G T! Sikapnya telah menyiutkan hati si Ibu Ngeyel Ngedel.
“Kita bicarakan dulu masalah sebenarnya apa. Sesuai dengan pasal yang berlaku dalam UU Pasar Tiban, tidak boleh seperti ini. Tapi si Ibu maunya tetap seperti ini. Pelanggaran harus diberi sanksi. Saya memberi sanksi dengan mengambil dua potong roti milik si Ibu. Apakah itu terlalu berat jika dibandingkan dengan ketidak adilan yang sudah diciptakan oleh si Ibu?”
Begitulah si bapak Ketua kegiatan bazaar menjelaskan masalah sebenarnya. Manggut-manggut tanda mengerti. Itulah ekspresi pak MABES POLRI.
Sebagai penutup, si Bapak ketua berucap, “saya berani mati demi membela yang benar! Saya pernah ditodong pistol karena membela yang benar, Pak!”
Istana Mungil di sudut Kota Purwokerto, 07-03-10
(08.57wib)
Dalam sebuah event besar yang diselenggarakan oleh sekolah dasar Maju Banget, seorang bapak dipercaya sebagai koordinator kegiatan bazaar ibu-ibu dan orang tua wali murid. Berkat kelihaian dan keahlian si Bapak ini, kegiatan bazar dapa berjalan dengan sukses dan lancar. Terbukti banyak sekali orang tua wali murid dan ibu-ibu yang mendaftar sebagai peserta bazaar.
Hari-H datang. “Pasar Tiban”-pun muncullah. Halaman sekolah tumpah ruah oleh pedagang-pedagang senior dan juniaor. Pedagang senior adalah mereka yang kegiatan kesehariannya memang benar-benar sebagai penjual di rumah atau di pasar atau di kios miliknya. Pedagang Junior adalah mereka yang menjadi pedagang dadakan sebab tanggung jawabnya untuk ikut meramaikan event sekolah.
Beraneka jenis makanan, pakaian, bahkan sampai dengan perabot rumah tangga tersedia lengkap di “Pasar Tiban” ini. Tidak sekadar makanan, pakaian, perabot rumah tangga, bahkan rumah juga tersedia di sini, pulsa, internet, juga tersedia. Masing-masing stand memiliki ciri dan jenis dagangan yang berbeda. Ada beberapa yang menjual barang dagangan yang sama.
Stand pak Panjul menjual Bakso, stand Bu Tuki menjual pakaian dalam anak dan dewasa, Stan Ipin-Upin menjual Burger dan aneka makan cepat saji, stand Bu Dika menjual es buah dan es campur, stand bu Iin menjual Karpet dan sejenisnya, stand bu Mamik menjual aneka makanan pengenyang perut, stand bu Khasna menjual aneka buah segar, stand bu Ani menjual mie goreng dan mie-mie lainnya. Stand bu Catur memasarkan rumah beserta fasilitasnya. Stand bu Bekti menjual aneka Nuget. Dan masih ada beberapa stand lainnya yang tak kalah meriah dan serunya.
Hari-H itu sekolah dipenuhi oleh riuh rendah suara penjual dan pembeli, serta celoteh anak-anak dan tamu undangan yang hadir. Ajaib, dalam sekejap, sekolah yang biasanya hanya dipenuhi suara anak dan guru, kini berubah seperti pasar tradisional yang modern.
Sepertinya nasib si Bapak ketua ini sedang mujur. Sebab peserta “Pasar Tiban” ini patuh dan tunduk pada perundang-undangan yang berlaku. Hampir tidak ada satu-pun peserta yang ngeyel dan ngedel. Namun konon ceritanya, ada salah satu peserta yang kurang cocok dengan perundang-undangan "Pasar Tiban". Namun karena perundang-undangan “Pasar Tiban” ini sudah terlanjur diketok palu, ke-ngeyelan dan kengedelan si Ibu ini kurang didengar oleh si Bapak ketua.
Rupa-rupanya si Ibu ini memang orang yang berhati besar, tangguh, dan pantang menyerah. Maka, apa yang dilarang dilakukanlah, oleh karena itu yang terjadi, terjadilah. Si Ibu tetap teguh pendirian pada prinsip ngeyel dan ngedel.
Setiap prinsip, keputusan, dan pilihan pasti akan dihadapkan pada ujian. Dan si Ibu ini-pun harus menghadapi ujian tersebut. Datanglah si Bapak ketua memeriksa setiap stand. Dari semua stand yang dicek, ternyata tidak ada masalah. Tibalah pada stand si ibu Prinsip Ngeyel-Ngedel. Sebab ketajaman indra serta ketelitiannya, si bapak Ketua menemukan kejanggalan di stand si Ibu Prisnsip Ngeyel-Ngedel.
Terkenalah pasal Undang-Undang “Pasar Tiban”. Memang dasarnya si ibu ini ngeyel dan ngedel, sudah jelas salah, tetap saja masih ngeyel dan ngedel. Maka dikenakanlah sanksi ringan. Dua buah roti dagangannya diambil oleh si bapak ketua.
Beberapa hari setelah kejadian, seorang bapak yang mengaku sebagai pak MABES POLRI menelpon si Bapak ketua. Mujur benar sekolah Maju Banget ini. Sikap tegas dan berani membela yang benar milik pak Ketua ini, memang T O P B G T! Sikapnya telah menyiutkan hati si Ibu Ngeyel Ngedel.
“Kita bicarakan dulu masalah sebenarnya apa. Sesuai dengan pasal yang berlaku dalam UU Pasar Tiban, tidak boleh seperti ini. Tapi si Ibu maunya tetap seperti ini. Pelanggaran harus diberi sanksi. Saya memberi sanksi dengan mengambil dua potong roti milik si Ibu. Apakah itu terlalu berat jika dibandingkan dengan ketidak adilan yang sudah diciptakan oleh si Ibu?”
Begitulah si bapak Ketua kegiatan bazaar menjelaskan masalah sebenarnya. Manggut-manggut tanda mengerti. Itulah ekspresi pak MABES POLRI.
Sebagai penutup, si Bapak ketua berucap, “saya berani mati demi membela yang benar! Saya pernah ditodong pistol karena membela yang benar, Pak!”
Istana Mungil di sudut Kota Purwokerto, 07-03-10
(08.57wib)
Senin, 01 Maret 2010
Tentang Sebuah Desa di Kabupaten Madukara, Banjarnegara
By: Rosyidah Purwo
Bau tanah basah dan sedap rumput basah yang dibakar itu mengingatkanku akan masa lalu di mana aku masih kecil. Hidup di sebuah desa dengan masyarakat yang masih bersahaja. Ramah tamah, gotong royong, dan saling bantu adalah norma utama yang masih dijunjung tinggi.
Siang hari di Minggu itu aku menginjakkan kaki di sebuah tempat yang….maha indah. Tempat di mana aku dulu pernah merasakan suasana seperti ini. Basah, sejuk, dingin, harum, menawan, hangat, dan harmonis.
Perjalananku hari ini adalah petualang yang maha indah. Adalah sebuah petualangan yang…aku tidak mampu menguraikannya dengan kata-kata, hanya mampu untuk aku rasakan.
Kebun salak itu, pohon-pohon rindang itu, orang-orang itu, ramah-tamah itu, kolam ikan itu, adalah de javu hari ini. Aku pernah merasakannya dulu. Bukan dalam mimpi, namun sebuah kenyataan hidup, sebuah pengalaman masa lalu.
Bapak setengah tua itu menyapa kami dengan logat ngapaknya. Suara dan senyumannya hangat, akrab, dan ramah. Aku menyukai ini. Seorang ibu setengah tua, hampir seumuran dengan mama, menyapa dengan cara yang sama. Hangat, ramah, tulus.
Jarum jam menunjukkan pukul 11.12wib. namun begitu, terik matahari tak terasa panas, mekipun terik matahari ini sudah mampu mengeringkan baju milik temanku yang pagi tadi dicuci.
Sebab penasaran dengan pohon-pohon salak yang tumbuh hampir di sepanjang jalan, kami menyusuri sepanjang jalan beraspal sebatas jangkauan kami. Sungguh kawan, ini sangat indah. Indah sekali. Sejuk, sepi, hangat, ramah, dan…..damai!
Salak adalah denyut nadi kehidupan masayar akat ini. Salak adalah sumber penghidupan mereka. Hampir 99% masayarakat di sana hidup dengan bermata pencaharian sebagai petani salak.
Termasuk seorang bapak yang hari ini rumahnya aku kunjungi. Ia dapat menyekolahkan dan menghidupi keluarganya yang berjumlah 5 orang, dari bertani salak. Dari cerita yang dilontarkan oleh anak perempuannya, tanaman salak sangat menguntungkan dibandingkan padi.
Salak hanya membutuhkan sekali waktu tanam. Sementara padi berkali-kali waktu tanam. Dengan perawatan yang tidak perlu terlalu rumit dan njlimet, seorang petani salak mampu memeroleh hasil panen setiap tiga bulan sekali dengan jumlah yang cukup banyak.
Jika sukses, maka 2 hektar tanah mampu menghasilkan tujuh ton salak dengan harga per kilonya adalah 3-7 ribu rupiah. Jika harga sedang murah, salak dapat mencapai harga 2 ribu rupiah per kilonya. Dapat dibayangkan, jika setiap rumah memiliki sedikitnya 0,5 hektar kebun salak, maka dapat dipastikan, mereka tidak perlu lagi menjadi buruh bangunan, atau TKW di Negara tetangga.
Tempat ini sangat indah. Alami, sejuk, damai, dan tidak bising. Tempat ini juga memiliki potensi yang baik untuk budi daya ikan air tawar dan lele. Bebrapa rumah penduduk memiliki tempat penyemaian bibit lele dan ikan air tawar. Ini saya dapatkan saat berkunjung di desa tetangga yaitu, Rakit, Banjarnegara.
Di sana, selain penduduknya bertani salak, dan padi, juga membudidayakan ikan air tawar dan lele. Seorang penduduk yang sempat kami singgahi rumahnya, membudidayakan lele dan air tawar sebagai penghasilan tambahan selain ia juga memiliki kebun salak.
Menurut informasi dari anak perempuan si empunya rumah, jika sedang untung maka dapat memanen ikan lele dan air tawar dengan jumlah yang banyak. Kebetulan ia tidak menyebutkan jumlah pastinya. Dari panen salak dan ikan air twar serta lele inilah, masyarakat di sini dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka, bahkan menyekolahkan anak-anak mereka.
Cerita dari seorang anak perempuan yang aku singgahi rumahnya hari ini, banyak dari masyarakat setempat yang menyekolahkan anak-anak mereka dari hasil bertani salak. Hampir sebagian besar masyarakat di desa ini menyekolahkan anak-anak mereka sampai jenjang SMU. Bayangkan, ini ukuran sebuah desa. Di mana belum ada transportasi umum yang masuk (angkot, koprades, dan semacamnya).
Beberapa orang yang sadar akan pentingnya pendidikan, menyekolahkan anak-anak mereka sampai jenjang pendidikan perguruan tinggi. Namun, beberapa masyarakat yang (menurut info: masih menganggap harta benda adalah tujuan utama, mereka hanya menyekolahkan anaknya sampai jenjang SMU).
Mereka Enggan Bertani Padi.Pohon salak hanya dengan sekali tanam, kemudian untuk selanjutnya hanya butuh perawatan. Dari awal masa tanam sampai dapat berbuah untuk pertama kalinya membutuhkan massa tiga tahun. Setelah itu, untuk dapat memeroleh panen selanjutnya, pohon salak tidak perlu ditanam lagi pohon salak yang baru. Cukup dengan perawatan teratur, pohon salak dapat menghasilkan buah salak yang baik, berkualitas, dan hasil produksi juga banyak. Ini yang membuat mereka enggan menanam padi.
Menurut mereka, padi tidak praktis dan tidak efektif. Pohon padi membutuhkan penanaman kembali setelah masa panen. Setelah ditanam membutuhkan perawatan yang njlimet. Mencangkul, menyemai bibit, memupuk, membersihkan laha, memupuk kembali, kemudian masa tunggu untuk waktu panen, setelah masa panen datang masih perlu lagi perawatan, padi harus dirontokkan dari tangkai, lalu disellip.
Dengab perawatan yang njlimet ini belum tentu dapat menghasilkan panen yang baik. Belum tentu jumlah pengeluaran untuk perawatan sebanding dengan hasil yang diperoleh. Bahkan bias jadi rugi banyak. Inilah yang membuat masyarakat di sini enggan menanam padi.
Petani Kreatif, Inovatif, Tangguh, Ulet, dan Cerdas. Merasa bosan dengan tanaman salak, beberapa orang mencoba untuk mengganti tanaman di lahan mereka denga padi. Namun, setelah mereka menempuh proses dan massa perawatan, hasil yang diperoleh tidak sebanding dengan tenaga dan modal yang mereka keluarkan. Lalu mereka mengganti dengan tanaman salak lagi.
Jika dilihat dari cara mereka melakukan usaha, mereka sebenarnya adalah petani yang kreatif, Inovatif, dan cerdas. Mereka kreatif dan inovatif dengan mengganti tanaman salak ke tanaman padi. Mencari perbandingan tanaman mana yang lebih banyak mendatangkan income. Selain itu, untuk meningkatkan taraf hidup mereka, mereka mencari penghasilan lain dengan bertani lele dan ikan air tawar.
Pola pikir mereka untuk mengganti tanaman salak ke tanaman padi, menciptakan lapangan pekerjaan baru dengan memelihara ikan air tawa dan lele membuktikan mereka adalah petani yang kreatif, inovatif, tangguh, ulet, dan cerdas.
Tidak akan memiliki keberanian bagi seseorang yang tidak memiliki sifat tersebut untuk melakukan hal-hal menantang. Dikatakan menantang sebab, mereka berani mengganti tanaman salak yang sudah jelas-jelas mendatangkan penghasilan yang baik ke tanaman padi. Mereka berupaya menciptakan sumber penghasilan lain dengan memelihara ikan lele dan iar tawar. Pola seperti Ini tidak akan dimiliki oleh orang-orang yang pola pikirannya sudah stag, yang menganggap cukup dengan hanya bertanam salak.
Memlihara tanaman salak, memelihara lele, dan ikan air tawar butuh keuletan dan budaya kerja keras yang tinggi. Sebab jika tidak, bukan tidak mungkin lagi hasil panen tidak dapat diperoleh dengan baik. Ini hanya dimiliki oleh merek ayang memiliki kecerdasan, keuletan, tangguh. Tak mudah goyah oleh rasa lelah. Teguh pendirian pada produksi pangan.
Harus Diperhatikan. Melihat pola hidup semacam ini. Pemerintah harus memerhaitkankehidupan mereka. Mereka adalah petani-petani produktif. Pemerintah harus memebrikan “perlindungan” atas kinerja mereka. Jika tidak, bias jadi suatu saat sistem seperti ini menjadi hilang akibatnya adalah pemerintah akan kehilangan lapangan pekerjaan. Efek buruknya adalah semakin bertambahnya pengangguran.
Pemerintah dapat memberikan perhatian dengan cara melindungi hasil produksi mereka dari para tengkulak yang sewaktu-waktu dapat memainkan harga dengan seenak perut sendiri tanpa memerhatikan proses produksi, dan efek dari sistem pemberian harga yang mereka lakukan.
Purwokerto,Minggu, 0 3 Januari 2010
Bau tanah basah dan sedap rumput basah yang dibakar itu mengingatkanku akan masa lalu di mana aku masih kecil. Hidup di sebuah desa dengan masyarakat yang masih bersahaja. Ramah tamah, gotong royong, dan saling bantu adalah norma utama yang masih dijunjung tinggi.
Siang hari di Minggu itu aku menginjakkan kaki di sebuah tempat yang….maha indah. Tempat di mana aku dulu pernah merasakan suasana seperti ini. Basah, sejuk, dingin, harum, menawan, hangat, dan harmonis.
Perjalananku hari ini adalah petualang yang maha indah. Adalah sebuah petualangan yang…aku tidak mampu menguraikannya dengan kata-kata, hanya mampu untuk aku rasakan.
Kebun salak itu, pohon-pohon rindang itu, orang-orang itu, ramah-tamah itu, kolam ikan itu, adalah de javu hari ini. Aku pernah merasakannya dulu. Bukan dalam mimpi, namun sebuah kenyataan hidup, sebuah pengalaman masa lalu.
Bapak setengah tua itu menyapa kami dengan logat ngapaknya. Suara dan senyumannya hangat, akrab, dan ramah. Aku menyukai ini. Seorang ibu setengah tua, hampir seumuran dengan mama, menyapa dengan cara yang sama. Hangat, ramah, tulus.
Jarum jam menunjukkan pukul 11.12wib. namun begitu, terik matahari tak terasa panas, mekipun terik matahari ini sudah mampu mengeringkan baju milik temanku yang pagi tadi dicuci.
Sebab penasaran dengan pohon-pohon salak yang tumbuh hampir di sepanjang jalan, kami menyusuri sepanjang jalan beraspal sebatas jangkauan kami. Sungguh kawan, ini sangat indah. Indah sekali. Sejuk, sepi, hangat, ramah, dan…..damai!
Salak adalah denyut nadi kehidupan masayar akat ini. Salak adalah sumber penghidupan mereka. Hampir 99% masayarakat di sana hidup dengan bermata pencaharian sebagai petani salak.
Termasuk seorang bapak yang hari ini rumahnya aku kunjungi. Ia dapat menyekolahkan dan menghidupi keluarganya yang berjumlah 5 orang, dari bertani salak. Dari cerita yang dilontarkan oleh anak perempuannya, tanaman salak sangat menguntungkan dibandingkan padi.
Salak hanya membutuhkan sekali waktu tanam. Sementara padi berkali-kali waktu tanam. Dengan perawatan yang tidak perlu terlalu rumit dan njlimet, seorang petani salak mampu memeroleh hasil panen setiap tiga bulan sekali dengan jumlah yang cukup banyak.
Jika sukses, maka 2 hektar tanah mampu menghasilkan tujuh ton salak dengan harga per kilonya adalah 3-7 ribu rupiah. Jika harga sedang murah, salak dapat mencapai harga 2 ribu rupiah per kilonya. Dapat dibayangkan, jika setiap rumah memiliki sedikitnya 0,5 hektar kebun salak, maka dapat dipastikan, mereka tidak perlu lagi menjadi buruh bangunan, atau TKW di Negara tetangga.
Tempat ini sangat indah. Alami, sejuk, damai, dan tidak bising. Tempat ini juga memiliki potensi yang baik untuk budi daya ikan air tawar dan lele. Bebrapa rumah penduduk memiliki tempat penyemaian bibit lele dan ikan air tawar. Ini saya dapatkan saat berkunjung di desa tetangga yaitu, Rakit, Banjarnegara.
Di sana, selain penduduknya bertani salak, dan padi, juga membudidayakan ikan air tawar dan lele. Seorang penduduk yang sempat kami singgahi rumahnya, membudidayakan lele dan air tawar sebagai penghasilan tambahan selain ia juga memiliki kebun salak.
Menurut informasi dari anak perempuan si empunya rumah, jika sedang untung maka dapat memanen ikan lele dan air tawar dengan jumlah yang banyak. Kebetulan ia tidak menyebutkan jumlah pastinya. Dari panen salak dan ikan air twar serta lele inilah, masyarakat di sini dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka, bahkan menyekolahkan anak-anak mereka.
Cerita dari seorang anak perempuan yang aku singgahi rumahnya hari ini, banyak dari masyarakat setempat yang menyekolahkan anak-anak mereka dari hasil bertani salak. Hampir sebagian besar masyarakat di desa ini menyekolahkan anak-anak mereka sampai jenjang SMU. Bayangkan, ini ukuran sebuah desa. Di mana belum ada transportasi umum yang masuk (angkot, koprades, dan semacamnya).
Beberapa orang yang sadar akan pentingnya pendidikan, menyekolahkan anak-anak mereka sampai jenjang pendidikan perguruan tinggi. Namun, beberapa masyarakat yang (menurut info: masih menganggap harta benda adalah tujuan utama, mereka hanya menyekolahkan anaknya sampai jenjang SMU).
Mereka Enggan Bertani Padi.Pohon salak hanya dengan sekali tanam, kemudian untuk selanjutnya hanya butuh perawatan. Dari awal masa tanam sampai dapat berbuah untuk pertama kalinya membutuhkan massa tiga tahun. Setelah itu, untuk dapat memeroleh panen selanjutnya, pohon salak tidak perlu ditanam lagi pohon salak yang baru. Cukup dengan perawatan teratur, pohon salak dapat menghasilkan buah salak yang baik, berkualitas, dan hasil produksi juga banyak. Ini yang membuat mereka enggan menanam padi.
Menurut mereka, padi tidak praktis dan tidak efektif. Pohon padi membutuhkan penanaman kembali setelah masa panen. Setelah ditanam membutuhkan perawatan yang njlimet. Mencangkul, menyemai bibit, memupuk, membersihkan laha, memupuk kembali, kemudian masa tunggu untuk waktu panen, setelah masa panen datang masih perlu lagi perawatan, padi harus dirontokkan dari tangkai, lalu disellip.
Dengab perawatan yang njlimet ini belum tentu dapat menghasilkan panen yang baik. Belum tentu jumlah pengeluaran untuk perawatan sebanding dengan hasil yang diperoleh. Bahkan bias jadi rugi banyak. Inilah yang membuat masyarakat di sini enggan menanam padi.
Petani Kreatif, Inovatif, Tangguh, Ulet, dan Cerdas. Merasa bosan dengan tanaman salak, beberapa orang mencoba untuk mengganti tanaman di lahan mereka denga padi. Namun, setelah mereka menempuh proses dan massa perawatan, hasil yang diperoleh tidak sebanding dengan tenaga dan modal yang mereka keluarkan. Lalu mereka mengganti dengan tanaman salak lagi.
Jika dilihat dari cara mereka melakukan usaha, mereka sebenarnya adalah petani yang kreatif, Inovatif, dan cerdas. Mereka kreatif dan inovatif dengan mengganti tanaman salak ke tanaman padi. Mencari perbandingan tanaman mana yang lebih banyak mendatangkan income. Selain itu, untuk meningkatkan taraf hidup mereka, mereka mencari penghasilan lain dengan bertani lele dan ikan air tawar.
Pola pikir mereka untuk mengganti tanaman salak ke tanaman padi, menciptakan lapangan pekerjaan baru dengan memelihara ikan air tawa dan lele membuktikan mereka adalah petani yang kreatif, inovatif, tangguh, ulet, dan cerdas.
Tidak akan memiliki keberanian bagi seseorang yang tidak memiliki sifat tersebut untuk melakukan hal-hal menantang. Dikatakan menantang sebab, mereka berani mengganti tanaman salak yang sudah jelas-jelas mendatangkan penghasilan yang baik ke tanaman padi. Mereka berupaya menciptakan sumber penghasilan lain dengan memelihara ikan lele dan iar tawar. Pola seperti Ini tidak akan dimiliki oleh orang-orang yang pola pikirannya sudah stag, yang menganggap cukup dengan hanya bertanam salak.
Memlihara tanaman salak, memelihara lele, dan ikan air tawar butuh keuletan dan budaya kerja keras yang tinggi. Sebab jika tidak, bukan tidak mungkin lagi hasil panen tidak dapat diperoleh dengan baik. Ini hanya dimiliki oleh merek ayang memiliki kecerdasan, keuletan, tangguh. Tak mudah goyah oleh rasa lelah. Teguh pendirian pada produksi pangan.
Harus Diperhatikan. Melihat pola hidup semacam ini. Pemerintah harus memerhaitkankehidupan mereka. Mereka adalah petani-petani produktif. Pemerintah harus memebrikan “perlindungan” atas kinerja mereka. Jika tidak, bias jadi suatu saat sistem seperti ini menjadi hilang akibatnya adalah pemerintah akan kehilangan lapangan pekerjaan. Efek buruknya adalah semakin bertambahnya pengangguran.
Pemerintah dapat memberikan perhatian dengan cara melindungi hasil produksi mereka dari para tengkulak yang sewaktu-waktu dapat memainkan harga dengan seenak perut sendiri tanpa memerhatikan proses produksi, dan efek dari sistem pemberian harga yang mereka lakukan.
Purwokerto,Minggu, 0 3 Januari 2010
Rabu, 10 Februari 2010
Demam Upin-Ipin dan Rizki Untuk Falah
Artikel: Rosyidah Purwo
Bel tanda pergantian pelajaran berbunyi. Seorang anak berlari dari ruang kelasnya menuju ke ruang kelas sebelah untuk mengikuti pelajaran berikutnya. Tergopoh ia berlari sambil membawa toples kecil. Sebagai seorang guru, saya memerhatikan setiap detail apa yang dibawa, dipakai, dibicarakan, dan dilakukan anak.
Sebab pelajaran kurang tiga menit anak-anak memanfaatkannya untuk bermain stick Upin-Ipin, adalah stick es krim yang kemudian dijadikan mainan ala film kartun anak Upin-Ipin. Beberapa anak sibuk memukul-mukul lantai dengan tujuan menciptakan angin dari pukulan tangan mereka agar stick mau bergerak. Saat anak-anak yang lain sibuk bermain, seorang anak saya lihat sedang asyik melakukan tawar-menawar sambil memegang satu toples kecil berisi potongan “stick Upin-Ipin”.
Seorang Anak yang Cerdas
Saya dekati anak itu. Saya tanya anak itu sambil saya lihat toples yang dipegangnya, “Apa ini, Nak?”
“Jualan, Ust.” Jawabnya.
“Maksudnya?!” Mendengar jawabannya saya terkejut. Sambil menyembunyikan keterkejutan saya, saya memerhatikan isi di dalam toples tersebut. Selain ada potongan stick es krim yang diganti nama menjadi stick Upin-Ipin, ada sekitar dua puluhan potongan kertas kecil berwarna putih bertuliskan “KUPON”.
Saya mengambil satu potong stick Upin-Ipin dan sepotong kertas putih bertuliskan “KUPON. Anak itu menjelaskan kepada saya bahwa dirinya sedang berjualan Stick Upin-Ipin yang tidak lain adalah stick bekas es krim. Kemudian ia memberikan kupon kepada siapa yang membeli lima potong stick. Jika mampu mengumpulkan lima kupon akan diberi hadiah satu potong stick. Cerdas bukan?
Berpikir Kreatif
Kartun anak Upin-Ipin yang tayang di salah satu stasiun televisi kita merupakan salah satu film kartun yang menjadi kegemaran anak. Dalam salah satu episodenya, kartun ini memunculkan sebuah permainan dari stick. Permainan yang dimunculkan di dalam film ini adalah permainan (pukul stick : red). Cara memainkannya adalah dengan meletakkan stick bekas es krim di lantai kemudian lantai dipukul-pukul menggunakan tangan dengan tujuan agar stick dapat bergerak . Stick mana yang posisinya duluan menumpang di atas stick milik teman, berarti dialah si pemenang.
Permainan ini sangatlah sederhana, tidak modern, dan terkesan sedikit tradisional. Sebab di dalamnya tidak mengandung unsur teknologi sama sekali. Namun, permainan ini telah mampu menyedot perhatian sebagian anak-anak. Di sekolah di mana saya mengajar, hampir setiap anak, laki-laki ataupun perempuan, memiliki stick ini untuk dibuat mainan. Jika waktu istirahat tiba, aula, koridor sekolah, lantai kelas dipenuhi oleh anak-anak yang memainkan permainan ini.
Bagi anak-anak yang biasa-biasa saja, munculnya “wabah” permainan stick Upin-Ipin adalah hal lumrah yang sudah seharusnya ada. Namun tidak bagi anak-anak yang memiliki daya pikir kreatif.
Falah, nama anak tersebut, mampu menciptakan “demam stick Upin-Ipin” menjadi ajang menimba rizki. Dengan modal yang tidak seberapa, ia membeli satu bungkus stick es krim kemudian ia potong menjadi dua bagian. Agar terlihat lebih cantik, ia memberi gambar pada dua sisi stick ini. Hasilnya, luar biasa! Stick-stick kecil nana cantik itu terjual laris manis. Terbukti ia mampu mengantongi uang sebesar enam ribu rupiah dalam sehari. Ini tidak mampu dilakukan oleh sembarang orang. Ini hanya akan mampu dilakukan oleh anak-anak yang memiliki daya pikir kreatif.
Anak ini memang benar-benar memiliki daya pikir yang luar biasa kreatif.
Jiwa Enterpreneurship
Barangkali dengan tujuan agar ia tak melulu berkutat dengan satu macam jenis barang saja, ia melakukan kerja sama “penanaman modal” dengan teman sepermainannya. Teman sepermainannya
tak kalah cerdasnya, ia menjual jajan kepada teman-teman sekelasnya. Jika masing-masing mendapat untung, mereka akan membagi rata keuntungan tersebut. Kemudian modal awal dia gunakan untuk membeli barang yang akan dijual.
Jika kita mau berpikir lebih jauh, mungkin akan muncul sebuah pertanyaan, “bagaimana mungkin anak sekecil itu mampu melakukan hal yang seharusnya dilakukan oleh orang-orang dewasa?” tak lain dan tak bukan jawabannya adalah karena ia anak cerdas dan kreatif.
Daya pikir kreatif, jiwa interpreneurship atau apapun itu yang menyangkut daya imajinatif kreatif anak tidak akan mampu dimiliki oleh seorang anak tanpa melalui proses pendidikan terlebih dahulu. Pendidikan ini adalah meliputi keluarga dan sekolah.
Permasalahannya adalah, sudahkan sekolah-sekolah yang ada sudah mampu memberikan pendidikan yang demikian pada anak-anaknya? Jika boleh menjawab dengan jujur, sudah, namun jumlahnya masih sangat minim.
Ini menjadi PR bersama tentunya. Sebab jika anak tidak dididik sejak dini untuk memiliki daya pikir kreatif, cerdas, dan imajinatif mereka akan tumbuh menjadi seorang anak dewasa yang manja. Jika sudah demikian, akan dikemanakan masa depan mereka? Lebih parah lagi tentunya, akan berdampak pada Negara tercinta Indonesia Raya.
Bel tanda pergantian pelajaran berbunyi. Seorang anak berlari dari ruang kelasnya menuju ke ruang kelas sebelah untuk mengikuti pelajaran berikutnya. Tergopoh ia berlari sambil membawa toples kecil. Sebagai seorang guru, saya memerhatikan setiap detail apa yang dibawa, dipakai, dibicarakan, dan dilakukan anak.
Sebab pelajaran kurang tiga menit anak-anak memanfaatkannya untuk bermain stick Upin-Ipin, adalah stick es krim yang kemudian dijadikan mainan ala film kartun anak Upin-Ipin. Beberapa anak sibuk memukul-mukul lantai dengan tujuan menciptakan angin dari pukulan tangan mereka agar stick mau bergerak. Saat anak-anak yang lain sibuk bermain, seorang anak saya lihat sedang asyik melakukan tawar-menawar sambil memegang satu toples kecil berisi potongan “stick Upin-Ipin”.
Seorang Anak yang Cerdas
Saya dekati anak itu. Saya tanya anak itu sambil saya lihat toples yang dipegangnya, “Apa ini, Nak?”
“Jualan, Ust.” Jawabnya.
“Maksudnya?!” Mendengar jawabannya saya terkejut. Sambil menyembunyikan keterkejutan saya, saya memerhatikan isi di dalam toples tersebut. Selain ada potongan stick es krim yang diganti nama menjadi stick Upin-Ipin, ada sekitar dua puluhan potongan kertas kecil berwarna putih bertuliskan “KUPON”.
Saya mengambil satu potong stick Upin-Ipin dan sepotong kertas putih bertuliskan “KUPON. Anak itu menjelaskan kepada saya bahwa dirinya sedang berjualan Stick Upin-Ipin yang tidak lain adalah stick bekas es krim. Kemudian ia memberikan kupon kepada siapa yang membeli lima potong stick. Jika mampu mengumpulkan lima kupon akan diberi hadiah satu potong stick. Cerdas bukan?
Berpikir Kreatif
Kartun anak Upin-Ipin yang tayang di salah satu stasiun televisi kita merupakan salah satu film kartun yang menjadi kegemaran anak. Dalam salah satu episodenya, kartun ini memunculkan sebuah permainan dari stick. Permainan yang dimunculkan di dalam film ini adalah permainan (pukul stick : red). Cara memainkannya adalah dengan meletakkan stick bekas es krim di lantai kemudian lantai dipukul-pukul menggunakan tangan dengan tujuan agar stick dapat bergerak . Stick mana yang posisinya duluan menumpang di atas stick milik teman, berarti dialah si pemenang.
Permainan ini sangatlah sederhana, tidak modern, dan terkesan sedikit tradisional. Sebab di dalamnya tidak mengandung unsur teknologi sama sekali. Namun, permainan ini telah mampu menyedot perhatian sebagian anak-anak. Di sekolah di mana saya mengajar, hampir setiap anak, laki-laki ataupun perempuan, memiliki stick ini untuk dibuat mainan. Jika waktu istirahat tiba, aula, koridor sekolah, lantai kelas dipenuhi oleh anak-anak yang memainkan permainan ini.
Bagi anak-anak yang biasa-biasa saja, munculnya “wabah” permainan stick Upin-Ipin adalah hal lumrah yang sudah seharusnya ada. Namun tidak bagi anak-anak yang memiliki daya pikir kreatif.
Falah, nama anak tersebut, mampu menciptakan “demam stick Upin-Ipin” menjadi ajang menimba rizki. Dengan modal yang tidak seberapa, ia membeli satu bungkus stick es krim kemudian ia potong menjadi dua bagian. Agar terlihat lebih cantik, ia memberi gambar pada dua sisi stick ini. Hasilnya, luar biasa! Stick-stick kecil nana cantik itu terjual laris manis. Terbukti ia mampu mengantongi uang sebesar enam ribu rupiah dalam sehari. Ini tidak mampu dilakukan oleh sembarang orang. Ini hanya akan mampu dilakukan oleh anak-anak yang memiliki daya pikir kreatif.
Anak ini memang benar-benar memiliki daya pikir yang luar biasa kreatif.
Jiwa Enterpreneurship
Barangkali dengan tujuan agar ia tak melulu berkutat dengan satu macam jenis barang saja, ia melakukan kerja sama “penanaman modal” dengan teman sepermainannya. Teman sepermainannya
tak kalah cerdasnya, ia menjual jajan kepada teman-teman sekelasnya. Jika masing-masing mendapat untung, mereka akan membagi rata keuntungan tersebut. Kemudian modal awal dia gunakan untuk membeli barang yang akan dijual.
Jika kita mau berpikir lebih jauh, mungkin akan muncul sebuah pertanyaan, “bagaimana mungkin anak sekecil itu mampu melakukan hal yang seharusnya dilakukan oleh orang-orang dewasa?” tak lain dan tak bukan jawabannya adalah karena ia anak cerdas dan kreatif.
Daya pikir kreatif, jiwa interpreneurship atau apapun itu yang menyangkut daya imajinatif kreatif anak tidak akan mampu dimiliki oleh seorang anak tanpa melalui proses pendidikan terlebih dahulu. Pendidikan ini adalah meliputi keluarga dan sekolah.
Permasalahannya adalah, sudahkan sekolah-sekolah yang ada sudah mampu memberikan pendidikan yang demikian pada anak-anaknya? Jika boleh menjawab dengan jujur, sudah, namun jumlahnya masih sangat minim.
Ini menjadi PR bersama tentunya. Sebab jika anak tidak dididik sejak dini untuk memiliki daya pikir kreatif, cerdas, dan imajinatif mereka akan tumbuh menjadi seorang anak dewasa yang manja. Jika sudah demikian, akan dikemanakan masa depan mereka? Lebih parah lagi tentunya, akan berdampak pada Negara tercinta Indonesia Raya.
Selasa, 09 Februari 2010
Demi Buku, Handuk pun “Jadi Korban”
By: Rosyidah Purwo
Jika kamu adalah para pembaca aktif, atau pecinta buku, hindarilah hal-hal yang kiranya dapat membahayakan buku-buku kamu. Sebab kamu akan nangis lahir batin. Adalah saya pada pagi ini. Sebab ada tugas yang mendesak untuk membuat teks pidato untuk anak-anak pramuka yang hendak mengikuti LT 2, maka aku bangun pagi-pagi sekali, pukul 02.03 dini hari.
Setelah teks pidato itu jadi, aku kemudian membuka-buka tulisan Om Jay yang sempat saya unduh diinternet pada siang harinya. Tulisan itu adalah mengenai bukunya Om Jay yang memenangkan lomba sayembara Penulisan Buku Pengayaan, yang sempat saya minta melalui blog miliknya.
Saat tengah asyik otak-atik buku Om Jay dengan judul YUK KITA NGE-BLOG! Waktu sudah menunjukkan pukul 04.15 wib. Hari ini sepertinya aku harus mandi besar sebab ada “tamu bulanan” yang sepertinya sudah tidak “nongol lagi”. Lalu aku beranjak untuk meninggalkan “istana kecilku” alias kamar tidur miniku yang aku sewa setiap bulannya dengan harga 150 ribu rupiah, untuk menyalakan mesin pompa air.
Sebelum sempat aku keluar dari “istana kecil”, aku kemudian menghampiri meja belajarku yang praktis hampir tidak pernah aku gunakan untuk menulis atau membaca sebab isinya full of book. Hampir tidak tersisa ruang kosong di meja itu untuk membaca atau menulis. Tujuannya aku hendak mengambil sisa air minum yang belum sempat aku habiskan.
Sebelumnya, saat saya belum membuka note book, saya sempat mengambil satu gelas air putih, ini adalah kebiasaan saya setiap baru bangun tidur pasti harus minum satu gelas air putih. Eit, tidak gosok gigi dulu lho. He, he, he.
Deng,deng, deng! Saat hendak mengambilnya, si perut menyenggolnya hingga isinya tumapah ruah membanjiri meja belajarku. Sempat aku terbengong melihat buku-buku kesayangannku kena air, beruntung bengongnya tidak terlalu lama senhingga dengan secepat kilat aku bergerak.Dengan gerakan secepat kilat, tanganku meraih kain lap yang biasa aku letakkan di samping meja note book-ku.
Sebab lap dengan kualitas kain yang buruk, air itu tak kunjung terserap kain. Aku lalu menurunkan buku-bukuku dari meja ke lantai. Setalah merasa buku-buku berada di tempat yang aman, aku segera keluar untuk menyalakan mesin pompa air, kemudian mengambil handuk yang aku jemur di beranda belakang rumah.Entah dapat ide dari mana, handuk yang rencana aku cucui sebab sudah satu minggu dipakai, spontan aku gunakan untuk membersihkan air minum yang sempat membasahi buku-buku tercintaku.
Untuk menghibur diri aku berucap, “ah mungkin meja ini minta “dimandiin” sebab hampir satu tahun tak pernah dibersihkan”. He, he, he.
Demi buku, handuk mandiku-pun jadi korban!
Jika kamu adalah para pembaca aktif, atau pecinta buku, hindarilah hal-hal yang kiranya dapat membahayakan buku-buku kamu. Sebab kamu akan nangis lahir batin. Adalah saya pada pagi ini. Sebab ada tugas yang mendesak untuk membuat teks pidato untuk anak-anak pramuka yang hendak mengikuti LT 2, maka aku bangun pagi-pagi sekali, pukul 02.03 dini hari.
Setelah teks pidato itu jadi, aku kemudian membuka-buka tulisan Om Jay yang sempat saya unduh diinternet pada siang harinya. Tulisan itu adalah mengenai bukunya Om Jay yang memenangkan lomba sayembara Penulisan Buku Pengayaan, yang sempat saya minta melalui blog miliknya.
Saat tengah asyik otak-atik buku Om Jay dengan judul YUK KITA NGE-BLOG! Waktu sudah menunjukkan pukul 04.15 wib. Hari ini sepertinya aku harus mandi besar sebab ada “tamu bulanan” yang sepertinya sudah tidak “nongol lagi”. Lalu aku beranjak untuk meninggalkan “istana kecilku” alias kamar tidur miniku yang aku sewa setiap bulannya dengan harga 150 ribu rupiah, untuk menyalakan mesin pompa air.
Sebelum sempat aku keluar dari “istana kecil”, aku kemudian menghampiri meja belajarku yang praktis hampir tidak pernah aku gunakan untuk menulis atau membaca sebab isinya full of book. Hampir tidak tersisa ruang kosong di meja itu untuk membaca atau menulis. Tujuannya aku hendak mengambil sisa air minum yang belum sempat aku habiskan.
Sebelumnya, saat saya belum membuka note book, saya sempat mengambil satu gelas air putih, ini adalah kebiasaan saya setiap baru bangun tidur pasti harus minum satu gelas air putih. Eit, tidak gosok gigi dulu lho. He, he, he.
Deng,deng, deng! Saat hendak mengambilnya, si perut menyenggolnya hingga isinya tumapah ruah membanjiri meja belajarku. Sempat aku terbengong melihat buku-buku kesayangannku kena air, beruntung bengongnya tidak terlalu lama senhingga dengan secepat kilat aku bergerak.Dengan gerakan secepat kilat, tanganku meraih kain lap yang biasa aku letakkan di samping meja note book-ku.
Sebab lap dengan kualitas kain yang buruk, air itu tak kunjung terserap kain. Aku lalu menurunkan buku-bukuku dari meja ke lantai. Setalah merasa buku-buku berada di tempat yang aman, aku segera keluar untuk menyalakan mesin pompa air, kemudian mengambil handuk yang aku jemur di beranda belakang rumah.Entah dapat ide dari mana, handuk yang rencana aku cucui sebab sudah satu minggu dipakai, spontan aku gunakan untuk membersihkan air minum yang sempat membasahi buku-buku tercintaku.
Untuk menghibur diri aku berucap, “ah mungkin meja ini minta “dimandiin” sebab hampir satu tahun tak pernah dibersihkan”. He, he, he.
Demi buku, handuk mandiku-pun jadi korban!
Selasa, 15 Desember 2009
Lapang Dada itu ‘Enak’, Lho…
By: Rosyidah Purwo
Tulus adalah segala-galanya untuk hidup. Jangan penah sekalipun kamu mengharapkan balasan dari orang lain atas kebaikan yang pernah kamu lakukan. Atas tawa, canda, dan gurauan yang pernah kamu lakukan untuk orang lain.
Jangan pernah menganggap sedikitpun, bahwa, tawa, canda, yang kamu lakukan tidak memberikan kebahagiaan untuk orang lain.
Sering kali kita dihadapkan pada permasalahan aka sebuah tanya pada sebuah hal. “Mengapa aku diperlakukan sepereti ini, padahal aku sudah cukup baik sama dia?”, “Mengapa sikapnya seperti itu, padahal aku sudah baik sama dia? Apa yang salah pada diri saya?”
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu, kerap kali membuat pikiran dan hati terasa terbebani. Padahal belum tentu orang lain seperti apa yang kita pikirkan. Kakau toh pada kenyatannya betul, bahwa apa yang dilakukan orang lain sama seperti apa yang kita pikirkan, tidak perlu bersusah hati.
Berlapang dada, hadapi kenyataan. Sengaja saya tidak menampilkan tips, tersenyum, sebab belum tentu orang yang berlapang dada dapat melakukan senyum dengan mudah. Kadang ada orang yang benar-benar hatinya tulus, namun untuk tersenyum sungguh sangat sulit.
Saya bekerja pada sebuah lembaga pendidikan yang cukup terkenal di wilayahnya. Lembaga ini mengembangkan diri dalam bidang pendidikan. Dalam proses pengembangannya, lembaga ini terbilang berkembang sangat pesat.
Tentunya perkembangan ini, menuntut sebuah kinerja professional pada seluruh karyawan dan tenaga pendidiknya. Eenergik, cerdas, mandiri, tekun, dan sebagainya adalah hal wajib yang harus dikantongi oleh seluruh karyawan dan tenaga pendidik. Tak lain dan tak bukan, tuntutan semacam ini menciptakan sebuah lingungan kerja yan. serius. Hal semacam ini rawan sekali mendatangkan konflik. Konflik batin, social, dan sejenisnya.
Sebagai individu yang homo homini lupus, yang mana tidak dapat terlepas dari interaksi dengan orang lain, sedikit banyak, pasti pernah mengalaminya. Merasa sudah berbuat baik, sudah bekerja secara benar dan sesuai prosedur, sudah ramah-tamah, sopan, jujur, masih ada saja yang protes atau tidak suka dengan kinerja yang telah dilakukan.
Tidak menajdi masalah, sebab sepertinya ini sudah menajdi hukum alam. Yang dipermasalahkan di sini adalah, bagaimana cara dapat menyikapinya.
Pernah suatu ketika, saat saya masih sebagai tenaga pendidik baru, yang masih membawa idealism kemahasiswaan saya, dapat dipastikan hampir setiap hari, senyum dan tawa tidak pernah ‘mampir’ di wajah saya. Sebab apa yang ada di dalam lingkungan tempat kerja saya masih banyak yang tidak sesuai dengan apa yang ada di alam pikiran saya. Andaikan saya adalah selembar kertas, saya adalah kertas yang ditekuk-tekuk dengan bentuk lipatan yang tak jelas.
Bagaimana tidak, berada dalam sebuah lingkungan kerja dengan jam kerja sangat tinggi, berinteraksi dengan beratus anak dan berpuluh rekan sejawat, menghadapi system kerja yang unik, serius, dan professional. Beragam masalah kerap kali muncul.
Maka tak heran jika stress dan pusing kerap kali mampir di kepala saya. Sungguh tidak enak sama sekali. Hidup setiap hari berteman dengan stress dan pusing. Masalah sedikit, stress, ada perubahan sikap pada teman, pusing. Lalu aku berpikir, jika begini terus, kapan aku menikmati hidup?
Sedikit demi sedikit saya berusaha untuk menepis semua pikiran-pikran negative yang kerap kali mampir di kepala saya. Lalu, aku berusaha untuk menikmati apapun yang terjadi di lingkungan kerja saya. Sulit memang. Sebab harus merubah pola pikir, cara bersikap, berkomunikasi, dan yang paling utama adalah, bagaimana memiliki hati lapang.
Saya tidak tahu, apakah sekarang saya sudah berhasil menaklukan si ‘rasa gengsi’ yang kerap kali membuat kepala serasa ckot-ckoooot, ckot-ckoooot. Jelasnya, sekarang saya sudah merasa lebih enak dan nyaman dengan sikap saya yang lebih banyak tersenyum, menyatu dengan lingkungan, berkomunikasi, tidak sensitive, dan yang jelas adalah lapang dada.
Sering-seringlah melontarkan gurauan, canda, senyum, bahkan kalau perlu tawa. Ini akan membuat sehat pikiran, hati, dan jasmani.
Mau? Lakukan saja!
Tulus adalah segala-galanya untuk hidup. Jangan penah sekalipun kamu mengharapkan balasan dari orang lain atas kebaikan yang pernah kamu lakukan. Atas tawa, canda, dan gurauan yang pernah kamu lakukan untuk orang lain.
Jangan pernah menganggap sedikitpun, bahwa, tawa, canda, yang kamu lakukan tidak memberikan kebahagiaan untuk orang lain.
Sering kali kita dihadapkan pada permasalahan aka sebuah tanya pada sebuah hal. “Mengapa aku diperlakukan sepereti ini, padahal aku sudah cukup baik sama dia?”, “Mengapa sikapnya seperti itu, padahal aku sudah baik sama dia? Apa yang salah pada diri saya?”
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu, kerap kali membuat pikiran dan hati terasa terbebani. Padahal belum tentu orang lain seperti apa yang kita pikirkan. Kakau toh pada kenyatannya betul, bahwa apa yang dilakukan orang lain sama seperti apa yang kita pikirkan, tidak perlu bersusah hati.
Berlapang dada, hadapi kenyataan. Sengaja saya tidak menampilkan tips, tersenyum, sebab belum tentu orang yang berlapang dada dapat melakukan senyum dengan mudah. Kadang ada orang yang benar-benar hatinya tulus, namun untuk tersenyum sungguh sangat sulit.
Saya bekerja pada sebuah lembaga pendidikan yang cukup terkenal di wilayahnya. Lembaga ini mengembangkan diri dalam bidang pendidikan. Dalam proses pengembangannya, lembaga ini terbilang berkembang sangat pesat.
Tentunya perkembangan ini, menuntut sebuah kinerja professional pada seluruh karyawan dan tenaga pendidiknya. Eenergik, cerdas, mandiri, tekun, dan sebagainya adalah hal wajib yang harus dikantongi oleh seluruh karyawan dan tenaga pendidik. Tak lain dan tak bukan, tuntutan semacam ini menciptakan sebuah lingungan kerja yan. serius. Hal semacam ini rawan sekali mendatangkan konflik. Konflik batin, social, dan sejenisnya.
Sebagai individu yang homo homini lupus, yang mana tidak dapat terlepas dari interaksi dengan orang lain, sedikit banyak, pasti pernah mengalaminya. Merasa sudah berbuat baik, sudah bekerja secara benar dan sesuai prosedur, sudah ramah-tamah, sopan, jujur, masih ada saja yang protes atau tidak suka dengan kinerja yang telah dilakukan.
Tidak menajdi masalah, sebab sepertinya ini sudah menajdi hukum alam. Yang dipermasalahkan di sini adalah, bagaimana cara dapat menyikapinya.
Pernah suatu ketika, saat saya masih sebagai tenaga pendidik baru, yang masih membawa idealism kemahasiswaan saya, dapat dipastikan hampir setiap hari, senyum dan tawa tidak pernah ‘mampir’ di wajah saya. Sebab apa yang ada di dalam lingkungan tempat kerja saya masih banyak yang tidak sesuai dengan apa yang ada di alam pikiran saya. Andaikan saya adalah selembar kertas, saya adalah kertas yang ditekuk-tekuk dengan bentuk lipatan yang tak jelas.
Bagaimana tidak, berada dalam sebuah lingkungan kerja dengan jam kerja sangat tinggi, berinteraksi dengan beratus anak dan berpuluh rekan sejawat, menghadapi system kerja yang unik, serius, dan professional. Beragam masalah kerap kali muncul.
Maka tak heran jika stress dan pusing kerap kali mampir di kepala saya. Sungguh tidak enak sama sekali. Hidup setiap hari berteman dengan stress dan pusing. Masalah sedikit, stress, ada perubahan sikap pada teman, pusing. Lalu aku berpikir, jika begini terus, kapan aku menikmati hidup?
Sedikit demi sedikit saya berusaha untuk menepis semua pikiran-pikran negative yang kerap kali mampir di kepala saya. Lalu, aku berusaha untuk menikmati apapun yang terjadi di lingkungan kerja saya. Sulit memang. Sebab harus merubah pola pikir, cara bersikap, berkomunikasi, dan yang paling utama adalah, bagaimana memiliki hati lapang.
Saya tidak tahu, apakah sekarang saya sudah berhasil menaklukan si ‘rasa gengsi’ yang kerap kali membuat kepala serasa ckot-ckoooot, ckot-ckoooot. Jelasnya, sekarang saya sudah merasa lebih enak dan nyaman dengan sikap saya yang lebih banyak tersenyum, menyatu dengan lingkungan, berkomunikasi, tidak sensitive, dan yang jelas adalah lapang dada.
Sering-seringlah melontarkan gurauan, canda, senyum, bahkan kalau perlu tawa. Ini akan membuat sehat pikiran, hati, dan jasmani.
Mau? Lakukan saja!
Kamis, 12 November 2009

Resensi Buku
Judul Asli : Rumis’s Daughter
Judul Terjemahan : Kimya sang Putri Rumi
Penulis : Muriel Maufroy
Penerbit : Mizan
Tebal Buku : 272 halaman
Cetakan Pertama : April 2005
Kimya; Sebuah Fiksi Sejarah
Oleh: Rosyidah Purwo
Sering kita jumpai berbagai buku bacaan sejarah. Di toko-toko buku juga sering kali kita melihat bermacam buku bacaan sejarah dipajang.
Bacaan sejarah, selama yang kita kenal adalah bacaan membosankan yang membutuhkan banyak energi u ntuk berpikir pada setiap kalimat yang dibaca. Meskipun pada dasarnya isi di dalamnya berbobot, namun karena cara penyampaian penulis yang cenderung naratif, membuat otak cepat jenuh dan lelah.
Namun berbeda ketika sebuah bacaan sejarah disajikan dalam bentuk fiksi. Novel, misalnya. Gaya penulisan semacam ini akan memberi kelebihan tersendiri. Seberat apapun sebuah sejarah dipaparkan, tetap saja enak untuk dibaca. Meskipun di dalamnya dipaparkan beberapa macam kejadian, beberapa tokoh sejarah, pembaca tetap saja ingin mengikuti sampai sejauh mana sejarah itu selesai.
Barangkali karena gaya penuturannya yang lebih ringan, dan cenderung lebih bisa dirasakan langsung oleh pembaca, sebab, barangkali karena cara penuturannya yang melihat dari sudut pandang si pelaku sejarah yang dimainkan dalam tokoh utama.
Terlebih bacaan fiksi lebih banyak digemari oleh semua kalangan. Maka bukan bukan hal aneh jika sekarang banyak penulis yang menayjikan bacaan sejarah dalam bentuk fiksi.
Seperti yang dilakukan oleh Muriel Maufroy. Dalam bukunya yang berjudul Kimya sang Putri Rumi, Maufroy menuliskan mengenai kehidupan Jalaludin Rumi dan hal ihwal yang terkait dengan kehidupannya. Di dalamnya adalah sahabat-sahabatnya, keluarga, dan kisah hidupnya.
Buku ini menceritakan menceritakan tentang kehidupan Jalaludin Rumi. Salah seorang yang diakui sebagai tokoh spiritual yang memengaruhi banyak orang dengan ajaran-ajarannya tentang cinta illahi dan perdamaian.
Rumi dikisahkan hidup dengan seorang anak angkatnya bernama Kimya. Diceritakan pula bagaimana Rumi menjalani kehidupannya sebagai seorang suami, teman, ayah, dan sekaligus ulama bagi masyarakatnya. Diceritakan pula bagaimana Rumi kemudian berubah menajdi seorang yang gemar akan musik. Bagaimana Rumi kemudian dicap sebagai orang yang sudah gila dan sesat.
Ditelisik secara detail, buku ini pada dasarnya merupakan bacaan sejarah, namun karena gaya penulisannya dibuat fiksi, dan gaya bahasanya yang ringan, membuat buku ini lebih mudah dan enak untuk dibaca. Meskipun ini adalah cerita sejarah (sebuah kehidupan seorang tokoh).
Dengan gaya bahasa fiksinya, pembaca secara tidak sadar diajak untuk menghafal beberapa nama-nama tokoh yang ada dalam kehidupan Rumi. Muriel Maufroy berusaha menyajikan sejarah kepada pembaca dengan sudut pandang dan gaya penulisan berbeda. Penasaran dengan bukunya? Selamat membaca.
Rabu, 21 Oktober 2009

RESENSI BUKU
Judul Buku : Guru Dalam Tinta Emas
Editor : Y. Suhartono
Penerbit : KOMPAS
Tebal Buku : xi + 275 halaman
Cetakan I : Juni 2005
Kita bisa membaca dan menulis, guru yang mengajarkan. Kita dapat menduduki jabatan tertentu, guru jugalah yang mengantarkannya. Kita bisa berkreasi dan berwirausaha, ya tetap guru juga yang berandil besar.
Tanpa guru, kita tidak akan seperti sekarang ini. Maka, pantaslah jika kita memberikan penghargaan tinggi kepada beliau. Penghargaan tersbut dapat kita ungkapkan antara lain dengan menerapkan, mengembangkan, dan mewariskan ajaran-ajarannya lewat keteladanan hidup kita sehari-hari. Agar kita memiliki greget untuk mewujudkannya, maka seyogyanya kita berusaha mengenal bagaimana guru itu.
Guru. Sering kita mendengar kata tersebut. Guru sering diartikan sebagai sosok yang bisa digugu dan ditiru (dipercaya dan diikuti). Ada juga yang menyebutkan guru itu adalah glugu turu, yang dimaksud adalah guru sebagai jembatan bagi siapa saja yang akan menuju “pintu masa depan/kesuksesan”.
Guru, bagi beberapa kelompok masyarakat yang masih memiliki kebudayaan yang bersahaja menganggap bahwa sosok guru adalah sosok yang harus dihormati, dengan memberikan panggilan Mas Guru. Kata “Mas” adalah kepanjangan dari ”Nimas”, merupakan sebutan untuk orang yang sangat dihormati. Hal alin yang kerap kita dengar tentang guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.
Memang hal yan sangat pantas apabila julukan seperti itu melekat pada mereka. Namun hanya pantas bagi mereka yang benar-benar menjadi pendidik sejati. Mereka yang mengajar tidak sekadar menjalankan tugas dan kewajiban. Namun, mereka yang benar-benar melaksanakan tanggung jawab dengan sepenuh hati.
Pernahkah mendengar nama Hajjah Sabariah? Atau Butet Manurung? Atau Nurlaila? Mereka dalah sekian contoh pendidik sejati. Seorang guru sejati.
Hajjah Sabariah, seorang guru dan pendidik yang di usia senjanya justru lebih memilih untuk membagikan pengetahuannya pada anak-anak rimba raya di pedalaman Papua sana. Siapa yang mau berbuat demikian kecuali mereka yang mempunyai hati emas dan tekad sekuat baja.
Dengan bekal pengetahuannya, hasil sekolah do Normaal School Amsterdam, dengan menguasai tiga bahasa (Indonesia, Jepang, dan Inggris). Di mana banyak orang yang berkejar-kejaran memeroleh gelar dan jabatan dengan pengetahuan yang mereka punyai, justru Hajjah Sabariah tidak demikian adanya. Dengan kehidupan yang sederhana, dan pas-pasan, dengan lingkungan hidup yang jauh dari keramaian, dan dengan anak-anak yang benar-benar masih terbelakang, ia denga tabah dan sabar membagikan ilmunya kepada mereka.
Ada juga kisah Butet Manurung (Saur Marlina Manurung). Siapa yang tidak mengenal akan dirinya. Seorang perempuan muda yang rela mengabdikan diri di rimba raya Riau sana. Pendidikan yang ia peroleh dari almamaternya (UNPAD), ia gunakan dengan sebaik-baiknya. Ia sebarkan ilmunya pada anak-anak rimba raya Riau sana.
Siapa yang mau hidup denga orang-orang yang tinggal di daerah yangsangat terpencil dan tertutup serta jauh dari keramaian. Sebab ia tinggal di tengah hutan. Saat-saat di mana orang-orang yang seusia dengannya sedang mencari kesenangan hidup dengan menghabiskan waktunya di maal-maal, justru ia lebih memilih mengabdikan hidupnya ada anak-anak rimba.
Semuanya dikarenakan mereka betul-betul berhati emas. Mereka ingin menjadi pendidik sejati. Mereka ingin semua orang dapat merasakan adanya pendidikan..
Guru engkaulah pahlawanku. Engkaulah pahlawan sejatiku. Guru engkaulah penyelamat bangsaku. Betulkah?
Buku Guru Dalam Tinta Emas, yang merupakan kumpulan dari tulisan wartawan harian KOMPAS, akan menjawab semuanya. Dengan bahasanya yang sederhana dan ringan, membuat buku ini mudah sekali untuk dipahami dan dibaca.
Bagi para guru yang sedang mencari kebenaran sejati, atau ingin menjadi pendidik sejati, bacalah buku ini.
Membaca buku ini akan memberi inspirasi dan informasi yang banyak pada kita. Membuat mata dan hati benar-benar terbuka. Ternyata di dunia sana yang kita tidak tahu sama sekali tempatnya, masih ada kebodohan dan keterbelakangan.
*) Resensi ini pernah dimuat di KOMPAS MAHASISWA, edisi 77 Mei 2006
Selasa, 20 Oktober 2009

RESENSI BUKU
Judul Buku : Misteri 7 Bayi yang Dapat Berbicara (Mengeja Tanda Demi TandaKekuasaan Allah di alam Semesta)
Penulis : Dr. Musthofa Murad
Penerbit : Mirqat Publishing
Cetakan Pertama : Oktober 2008
Tebal Buku : XXIX + 108 halmaan
Bayi-Bayi “Ajaib” Ciptaan Tuhan
By: Rosyidah Purwo
Betapa Tuhan telah menciptakan alam ini dengan segenap perhitungan. Asetiap apa yang diciptakannya tidak pernah luput dari apa yang namanya “sisi manfaat dan pelajaran”. Segala sesuatunya telah diperhitungkan secara cermat dan detail.
Bukan sebuah keniscayaan jika suatu saat, barangkali seseorang, ketika sedang berjalan tiba-tiba melihat atau mendengar sepucuk daun dapat berbicara. Meskipun kelihatannya mustahil menurut daya pikir kita.Bagi akal manusia, hal ini mungkin dianggap sebagai hal yang mustahil. Namun tidak bagi Tuhan.
Hukum kelaziman mewartakan, setiap manusia terlahir dari buah cinta orang tua mereka yaitu ayah dan ibu. Dari pertemuan seperma dan telur (melalui proses pembuahan) terbentuklah segumpal daging (baca; janin), yang kemudian setelah lahir orang menyebutnya sebagai manusia.
Namun, realita kehidupan mewartakan, Tuhan juga menciptakan manusia tanpa ayah dan ibu, dialah nabi Adam. Tuhan juga menciptakan manusia tanpa ibu, dialah Hawa, Tuhan juga menciptakan manusia tanpa ayah, dialah nabi Isa.
Realita penciptaan tersebut, untuk menunjukkan tanda kuasa Tuhan di alam semesta ini agar setiap makhluk memahami bahwa Tuhan maha kuasa atas segala sesuatu. Jika Tuhan mampu menciptakan, hal yang demikian, maka bukan tidak mungkin lagi Tuhan akan menciptakan hal-hal “aneh” yang menurut daya pikir manusia adalah mustahil.
Dr. Musthafa Murad menuliskan dalam bukunya yang berjudul “Misteri 7 Bayi yang Berbicara (Mengeja Tanda Demi Tanda Kekuasaan Tuhan di Alam semesta), menuliskan tentang kisah 7 bayi yang mamapu berbicara.
Dalam buku ini dituliskan mengenai sejarah tujuh bayi tersebut. Disertai dengan dialog-dialog dan dalil-dalil untuk menguatkan adanya sejarah tersebut. Dr. Musthafa Murad mencoba menguak sisi lain kuasa Tuhan dari sudut mana kebanyakan orang masih sedikit yang mengetahuinya.
Dengan gaya bahasanya, dan penyertaan dalil-dalil serta penajaman kata-katanya dapat menambah keyakinan kita terhadap keberadaan Tuhan, yang maha kuasa atas segala sesuatu.
Rabu, 14 Oktober 2009
“Kantong Doraemon” di Fiqih Sunnah
By: Rosyidah Purwo
Resensi Buku
Judul Asli : Fiqhussunnah
Judul Terjemahan : Fikih Sunnah
Penulis : Sayyid Sabiq
Penerbit : Pena Pundi Aksara
Cetakan Pertama : Februari 2008
Tebal Buku : Jilid I : xxiii + 591 hal
Jilid II : xxi + 554 hal
Jilid III : xxiii + 470 hal
Jilid IV : xxix + 431 hal
Ilmu fikih bagi sebagian besar orang, dianggap sebagai seuatu yang rumit, dan sulit dipahami. Mengingat hukum-hukum dan permasalahnnya yang ada di dalamnya terlalu kompleks.
Hampir seluruhan permasalahan yang ada di masyarakat, dapat dipastikan selalu ada hukum dan dalil-dalil yang mengaturnya. Maka tidak heran jika sebagian besar orang merasa berat untuk belajar fikih, mengingat kompleks dan peliknya permasalahan yang muncul di masyarakat. Sudah barang tentu aturannya pun semakin kompleks.
Terlalau kompleksnya permasalahan yang diatur di dalam fikih, menyebabkan banyak sekali buku-buku bacaan fikih yang beredar di masyarakat. Baik yang berbahasa arab/asing, maupun bahasa Indonesia.
Hal ini tidak menutup kemungkinan menjadi sesuatu yang menyulitkan bagi sebagian besar orang untuk mencari buku rujukan/pedoman yang terkait dengan fikih. Terlebih banyaknya buku-buku rujukan fikih yang condong pada satu madzhab tertentu, yang terkadang menyoroti masalah hanya dengan satu sudut pandang. Ini membuat banyak orang terkadang juga harus berpikir lebih keras untuk memahami apa yang dimaksud dalam teks. Terlebih jika aturan itu jauh dari realita budaya masyarakat setempat..
Sebagai contoh misalnya batasan aurat perempuan. Dalam madzhab Syafiiyyah, batasan aurat adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Jika aturan menutup aurat semacam ini diterapkan pada masyarakat Indonesia yang ada di pedesaan, yang mana kebanyakan mata pencaharian mereka sebagai petani atau buruh sawah, tentunya kurang cocok. Bahkan bisa jadi menyulitkan gerak mereka.
Rasa-rasanya permasalahan semacam ini tidak perlu menjadi hal yang memusingkan. Sebab, Sayyid Sabiq, dalam bukunya, Fiqih Sunnah, telah menjelaskan secara rinci, detail, dan praktis mengenai permasalahan-permasalahan fiqih.
Berbagai permasalahn fiqih dikupas tuntas dari berbagai perspektif dengan landasan yang detail berlandasan pada Al quran, As Sunnah, dan ijma’ ulama.
Semua pembahasan di dalam buku ini dihadirkan dengan sajian ekslusif, lengkap, sistematis, dan mudah dipahami.
Sayyid Sabiq yang tidak berfanatisme pada satu madzhab, memberi kemudahan dan kepraktisan dalam penjelasan seputar fiqih.
Buku ini memiliki judul asli Fiqhussunnah, penerbit Darul Fath, Kairo. Diterbitkan menjadii empat jilid di penerbit Pena, Indonesia.
Jilid pertama memaparkan hal-hal yang berkaitan dengan ibadah. Seperti, pemaparan hal-hal terperinci mengenai bersuci dan tata caranya, jenis-jenis sholat, tata cara shalat dalam kondisi-kondisi tertentu, puasa zakat, dan hal-hal menganai ibadah lainnya.
Dalam jilid dua merupakan pemaparan lanjutan jilid satu yaitu mengenai ibadah haji, safar, ibadah ketika sakit, serta pengurusan jenazah. Dilanjutkan dengan penjelasan rinci mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pernikahan seperti ijab Kabul, syarat pernikahan, syarat wali, hak antara suami dan istri, walimah, khotbah dan doa pernikahan, berhias, poligami, pihak-pihak yang haram menjalin hubungan pernikahan, kawin kontrak, dan sebagainya.
Dilanjutkan dengan jilid tiga memaparkan mengenai perceraian, hak asuh anak, hukum mengnai khamar, zina murtad, , ,mengenai perampokan dan pencurian, diat, jihad, jizyah, atau pajak, harta rampasan perang, serta perlindungan keamanan bagi non muslim.
Terakhir adalah jilid empat. Memaparkan mengenai muamalah antar sesama manusia, seperti hubungan jual beli, utang-piutang, riba, penyembelihan, kurban, akikah, penjaminan, pengadilan, pakaian, wakaf, hibah, pernafkahan, hingga wasiat dan pewarisan.
Ibarat kantong Doraemon, buku ini akan menjawab semua permasalahan fiqih dengan rinci, mudah, dan praktis.
Selamat menikmati karya fenomenal ini. Edisi lengkapnya yang diterbitkan dengan cover dan kertas dengan kualitas baik, membuat harga buku ini sedikit mahal. Namun tidak menjadi masalah. Sebab buku ini buku bacaan berkualitas yang harus anda miliki.
Kesetaraan Gender Ada di Kuda Kepang
Artikel: Rosyidah Purwo*
Pembicaraan mengenai kesetaraan gender sudah lama sekali didengungkan. Dipastikan, hampir di setiap lini kehidupan, ada. Bahkan permasalahn ini sudah bukan merupakan ha lasing lagi di telinga masyarakat Indonesia.
Dari bidang pendidikan, ekonomi, pekerjaan, bahkan sampai pekerjaan rumah tangga pun tak lepas dari pembicaraan ini. Kesetaraan gender bahkan sudah merambah lebih luas lagi, tidak melulu dalam bidang kehidupan sosial masyarakat, namun dalam masalah tradisi dan kebudayaan pun ada.
Kuda kepang, atau kata lainnya adalah kuda lumping, pada mulanya merupakan kesenian tradisional yang hanya dimainkan oleh laki-laki saja. Namun, seiring dengan berkembangnya, kuda kepang mulai mengalami perubahan. Perempuan yang pada awalnya tidak pernah menyentuh kesenian ini, sekarang mulai dilibatkan.
Penampilan Kuda Kepang “Langgeng Budoyo”, contohnya. Dua orang perempuan ikut berpartisipasi dalam pertunjukannya. Sepanjang pertunjukkan, dua perempuan ini menari kuda kepang dengan begitu lihainya. Tak tampak kecanggungan sedikitpun selama dalam pertunjukkan.
Sejak dua bulan, terhitung sampai Juni 2009, kelompok kuda kepang asal Walik, Purbalingga, ini mengambil perempuan untuk ikut berpartisipasi dalam setiap pertunjukannya.
Meskipun tujuan semula adalah hanya untuk fariasi agar penonton lebih tertarik menyaksikan setiap pertunjukkan yang dipentaskan, namun tak dapat dipungkiri, bahwa kesetaraan gender ternyata sudah merambah dalam bidang kesenian tradisional. Kuda kepang, khususnya.
Kamis, 13 Agustus 2009
Motivasi Hidup Ala Life Must Go On!

RESENSI BUKU
Judul Buku : Life Must Go On, Seni Membangun Optimisme dan Menghilangkan Keresahan Hati
Penulis : M. Rusli Amin, MA
Penerbit : Zahira Press
Cetakan Pertama : Maret 2008
Tebal Buku : 160 halaman
Motivasi adalah sesuatu yang sangat berharga dalam hidup ini. Bila motivasi hilang dari dalam diri, maka sama saja ia adalah jiwa yang telah mati. Bagaimana tidak? Karena hilangnya motivasi akan menyebabkan seseorang tidak lagi mempunyai gairah dan asa dalam menjalani kehidupan ini. Lalu apakah yang lebih berbahaya dari hilangnya motivasi dalam hidup ini?
Karena itulah, siapapun kita, kita membuthkan motivasi dari orang-orang yang ada di sekitar kita. Entah itu dari keluarga, guru, dan para sesepuh, atau bahkan dari para tetangga terdekat kita. Bahkan motivasi yang kita butuhkan itu bisa saja bersumber dari kejadian-kejadian di sekitar kita, atau dari buku-buku yang kita baca.
M. Rusli Amin, dalam bukunya berjudul Life Must Go On! Menuliskan motivasi hidup untuk kita. Di dalamnya dibicarakan bagaimana manusia meraih kebahagiaan, kesuksesan. Dibicarakan juga bagaimana manusia menyikapi kondisi hidup yang buruk, begaimana kita harus selalu berpositif thinkkink.
Buku ini menyajikan banyak motivasi-motivasi hidup brilian yang dikemukakan oleh orang-orang tersukses dalam bidangnya. Lengkap dengan ilustrasi-ilustrasi yang menggelitik hati. Membaca buku ini optimisme dalam diri. Sekaligus menghalau segala keresahan yang sedang melanda hati.
Bahasanya yang tidak terkesan menggurui, membuat kita merasa enak membaca buku ini. Penasaran dengan buku ini?
Rabu, 05 Agustus 2009
Menulis itu…MUDAH, Kawan!!!*
Banyak orang yang bingung ketika hendak memulai membuat sebuah tulisan. Bahkan ketika tangan sudah siap untuk memencet tuts keyboard, pikiran masih kosong. Tidak tahu harus menulis apa dan bagaimana.
Jika dalam durasi 10 menit ide tak kunjung ada, akan terlontar kata “sulit banget!” atau “bingung deh!” atau “mau nulis apaan niiiih!” atau “aahhhhhh!”
Bermula dari Ide
Ide merupakan modal tak terbatas. Namun, biasanya tak banyak orang percaya. Orang lebih percaya, modal adalah materi atau financial yang tersedia dan dimiliki. Bahkan nyaris semua orang percaya, modal adalah uang. Padahal, orang yang memiliki kekayaan sejati adalah orang yang memiliki ide. Sebaliknya, orang yang tak punya ide berarti termasuk dalam kelompok garis kemiskinan (KGK).
Oleh karena itu, seorang penulis harus memiliki ide dan mampu mengkongritisasi atau mewujudkan ide itu. Degan ide yang jelas, seorang penulis akan menghasikan tulisan yang jelas pula. Lain bila seorang yang menulis bingung karena tak memiliki ide, tulisannya pun akan membingungkan. Bahkan tak akan menghasikan tulisan satu kata pun.
Bagaimana Memeroleh Ide?
Harus cerdas, jenius, atau pinteeeer banget?
Jawabannya: TIDAK.
Terkadang, seorang yang biasa-biasa saja bisa memiliki ide brilliant. Selama ia mampu mengembangkan idenya, ia bisa menjadi penulis.
JK. Rowlling, adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Dia bukan orang yang jenius-jenius amat. Siapa yang menyangka ia dapat menulis sebuah karya yang spektakuler?
Idenya sungguh biasa-biasa saja. Namun ia mampu mengubahnya menjadi sebuah mahakarya yang luar biasa!!!
Ahmad Thohari, seorang penulis novel spektakuler “Ronggeng Dukuh Paruk” bukan orang yang pintar-pintar amat, namun ia mampu menciptakan sebuah maha karya agung yang luar biasa dahsyat!
Ide selalu muncul di dalam pikiran semua orang sesuai dengan lingkungan hidupnya. Lingkungan akan selalu memberikan rangsangan terhadap timbulnya ide.
Lantas, bagaimana agar dapat memeroleh ide dengan mudah?
Jawabnya: Jadilah Orang yang PEKA dan SENSITIF.
J.K Rowling dan Ahmad Thohari adalah orang biasa saja, namun ia memiliki sens of fiction. Mereka memiliki kepekaan yang luar biasa dengan lingkungkan di mana mereka tinggal. Juga sensitive terhadap kejadian dan apa yang ada di sekitar ia tinggal.
“Makanan Pokok Saya adalah Membaca”
Katakan itu.
Seorang juru masak professional, tidak akan pernah bisa menciptakan sebuah masakan yang enak, tanpa terlebih dahulu merasakan lalu bertanya bagaimana cara membuatnya.
Sudah melakukannya pun, belum tentu dapat menghasilkan masakan yang enak. Ia masih harus lagi, makan lagi (resep sana-sini), baca resep sana-sini, begitu seterusnya sampai ia mampu memeroleh sebuah karya cipta (masakan) yang spektakuler.
Begitupun bagi penulis. Ingin menjadi penulis, tidak boleh puas dan merasa sudah cukup hanya dengan membaca sebuah buku. Ingin menjadi penulis professional, bacalah sebanyak-banyaknya buku bacaan. Apa saja, kapan, dan di mana saja.
Buku itu ibarat saplement bagi para penulis.
“Ayo Mencoba Terus…”
Ibarat sebuah pisau, jika tidak dipakai dan tidak diasah terus tentu ia akan menjadi tumpul. Begitupun dengan seorang penulis, jika ide seguadang banyaknya, tanpa pernah diujicobakan untuk dituangkan dalam bentuk tulisan, maka ide itu hanya akan hilang. Terbuang sia-sia.
Jika ingin ide yang segudang itu berubah menjadi karya yang luar biasa, maka satu pesan dari saya, “Mencoba yuk” selanjutnya adalah “nyoba lagi yuk”, terus “ayooo teruslah mencobaaaaa!” Ingat kawan, ide itu mahal harganya. Jadi, jangan sampai hilang ya.
Jadikan mencoba (berlatih) sebagai bagian dari kebiasaan hidup. Maka, sudah pasti menulis itu akan menjadi MUDAH, Kawan!!!
Mengapa Enggak untuk Menjadi Penulis
Bagi seorang penulis, tulisan adalah komoditas bacaan bagi pembaca, yang berarti penulis berusaha memproduksi tulisan dan pembaca sebagai konsumennya.
Bukankah sekarang ini para pembaca tak segan-segan mengeluarkan uang untuk buku berisi tulisan yang menyenangkan saat dibaca? Jadi, mengapa enggak untuk menjadi seorang penulis?
Jangan pernah putus asa, jika sekali tulisan, dikatakan buruk, ditolak, dan di”maki-maki” editor. Sampai akhirnya mampu menciptakan sebuah karya yang baik. Tak ada seseorang yang bangkit (sukses) sebelum terpuruk.
Selamat mencoba menjadi penulis, ya.
Yang pasti, jangan sampai menjadi kelompok KGK! Menderitaaaaa lahir, batin!
Ingat, menulis dapat menambah uang saku lhoh!
*Disampaikan dalam Grand Opening Perpustakaan Al-Amin, 28 Maret2009.
Jika dalam durasi 10 menit ide tak kunjung ada, akan terlontar kata “sulit banget!” atau “bingung deh!” atau “mau nulis apaan niiiih!” atau “aahhhhhh!”
Bermula dari Ide
Ide merupakan modal tak terbatas. Namun, biasanya tak banyak orang percaya. Orang lebih percaya, modal adalah materi atau financial yang tersedia dan dimiliki. Bahkan nyaris semua orang percaya, modal adalah uang. Padahal, orang yang memiliki kekayaan sejati adalah orang yang memiliki ide. Sebaliknya, orang yang tak punya ide berarti termasuk dalam kelompok garis kemiskinan (KGK).
Oleh karena itu, seorang penulis harus memiliki ide dan mampu mengkongritisasi atau mewujudkan ide itu. Degan ide yang jelas, seorang penulis akan menghasikan tulisan yang jelas pula. Lain bila seorang yang menulis bingung karena tak memiliki ide, tulisannya pun akan membingungkan. Bahkan tak akan menghasikan tulisan satu kata pun.
Bagaimana Memeroleh Ide?
Harus cerdas, jenius, atau pinteeeer banget?
Jawabannya: TIDAK.
Terkadang, seorang yang biasa-biasa saja bisa memiliki ide brilliant. Selama ia mampu mengembangkan idenya, ia bisa menjadi penulis.
JK. Rowlling, adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Dia bukan orang yang jenius-jenius amat. Siapa yang menyangka ia dapat menulis sebuah karya yang spektakuler?
Idenya sungguh biasa-biasa saja. Namun ia mampu mengubahnya menjadi sebuah mahakarya yang luar biasa!!!
Ahmad Thohari, seorang penulis novel spektakuler “Ronggeng Dukuh Paruk” bukan orang yang pintar-pintar amat, namun ia mampu menciptakan sebuah maha karya agung yang luar biasa dahsyat!
Ide selalu muncul di dalam pikiran semua orang sesuai dengan lingkungan hidupnya. Lingkungan akan selalu memberikan rangsangan terhadap timbulnya ide.
Lantas, bagaimana agar dapat memeroleh ide dengan mudah?
Jawabnya: Jadilah Orang yang PEKA dan SENSITIF.
J.K Rowling dan Ahmad Thohari adalah orang biasa saja, namun ia memiliki sens of fiction. Mereka memiliki kepekaan yang luar biasa dengan lingkungkan di mana mereka tinggal. Juga sensitive terhadap kejadian dan apa yang ada di sekitar ia tinggal.
“Makanan Pokok Saya adalah Membaca”
Katakan itu.
Seorang juru masak professional, tidak akan pernah bisa menciptakan sebuah masakan yang enak, tanpa terlebih dahulu merasakan lalu bertanya bagaimana cara membuatnya.
Sudah melakukannya pun, belum tentu dapat menghasilkan masakan yang enak. Ia masih harus lagi, makan lagi (resep sana-sini), baca resep sana-sini, begitu seterusnya sampai ia mampu memeroleh sebuah karya cipta (masakan) yang spektakuler.
Begitupun bagi penulis. Ingin menjadi penulis, tidak boleh puas dan merasa sudah cukup hanya dengan membaca sebuah buku. Ingin menjadi penulis professional, bacalah sebanyak-banyaknya buku bacaan. Apa saja, kapan, dan di mana saja.
Buku itu ibarat saplement bagi para penulis.
“Ayo Mencoba Terus…”
Ibarat sebuah pisau, jika tidak dipakai dan tidak diasah terus tentu ia akan menjadi tumpul. Begitupun dengan seorang penulis, jika ide seguadang banyaknya, tanpa pernah diujicobakan untuk dituangkan dalam bentuk tulisan, maka ide itu hanya akan hilang. Terbuang sia-sia.
Jika ingin ide yang segudang itu berubah menjadi karya yang luar biasa, maka satu pesan dari saya, “Mencoba yuk” selanjutnya adalah “nyoba lagi yuk”, terus “ayooo teruslah mencobaaaaa!” Ingat kawan, ide itu mahal harganya. Jadi, jangan sampai hilang ya.
Jadikan mencoba (berlatih) sebagai bagian dari kebiasaan hidup. Maka, sudah pasti menulis itu akan menjadi MUDAH, Kawan!!!
Mengapa Enggak untuk Menjadi Penulis
Bagi seorang penulis, tulisan adalah komoditas bacaan bagi pembaca, yang berarti penulis berusaha memproduksi tulisan dan pembaca sebagai konsumennya.
Bukankah sekarang ini para pembaca tak segan-segan mengeluarkan uang untuk buku berisi tulisan yang menyenangkan saat dibaca? Jadi, mengapa enggak untuk menjadi seorang penulis?
Jangan pernah putus asa, jika sekali tulisan, dikatakan buruk, ditolak, dan di”maki-maki” editor. Sampai akhirnya mampu menciptakan sebuah karya yang baik. Tak ada seseorang yang bangkit (sukses) sebelum terpuruk.
Selamat mencoba menjadi penulis, ya.
Yang pasti, jangan sampai menjadi kelompok KGK! Menderitaaaaa lahir, batin!
Ingat, menulis dapat menambah uang saku lhoh!
*Disampaikan dalam Grand Opening Perpustakaan Al-Amin, 28 Maret2009.
Kamis, 16 Juli 2009
Tahu Kalisari
Sabtu, 4 April 2009. Anak-anak kelas IV SD Al Irsyad Al-Islamiyyah I Purwokerto, mengadakan kunjungan ke pabrik tahu Kalisari, Cilongok.
Disertai dengan 8 guru pendamping, sejumlah 151 anak, melakukan out door study. Out door study kali ini mengusung tema “Cintai Produk dalam Negeri”.
Dengan menggunakan 24 mobil milik orang tua wali murid, rombongan berangkat pukul 07.30 wib. Selama kurang lebih 30 menit, rombongan tiba di lokasi.
Desa Kecil yang Produktif
Kalisari adalah desa kecil, bagian dari wilayah Banyumas. Letaknya tidak begitu jauh dengan objek wisata Curug Cipendok. Bagi yang sudah pernah berkunjung ke objek wisata Jurug Cipendok, tentunya akan melewati desa ini.
Meskipun dibilang kecil, desa ini terbilang produktif. Sebanyak 460 kelompok produsen tahu, berdiri di wilayah ini. Jumlah yang bisa dibilang cukup besar.
Bisa dibilang, industri tahu adalah nafas kehidupan wilayah ini. Sebab hampir sebagian warganya berkecimpung dalam kegiatan ini.
Tahu sudah mampu memberi penghidupan layak bagi beberapa warga di daerah ini. Adalah bapak Taruno. Salah satu produsen tahu di daerah ini yang sejak 1987 menggeluti profesi sebagai produsen tahu.
Dengan usahanya, ia sudah mampu menyekolahkan anak-anaknya sampai jenjang perguruan tinggi. Bahkan sudah mampu membeli mobil sendiri.
Tetap Semangat!
Meskipun di pabrik tahu udara terasa panas, tidak membuat anak-anak enggan untuk melakukan kegiatan ini.
Disebabkan rasa penasaran dan tuntutan tugas, mereka bersemangat mengamati proses pembuatan tahu dari awal sampai akhir.
Kami Cinta Produk Dalam Negeri
Dengan peluh bercucuran dan wajah merah merona, anak-anak melakukan kegiatan dengan penuh antusias.
Kurang lebih dua setengah jam anak-anak melakukan pengamatan, wawancara, dan mengerjakan tugas.
Setelah kegiatan selesai, acara dilanjutkan dengan ajang belanja dan menyantap tahu bersama. Siapa yang menyangka anak-anak begitu antusias membeli dan memakan produk dalam negeri ini? Yah, sebab kami mencintai produk dalam negeri.
Disertai dengan 8 guru pendamping, sejumlah 151 anak, melakukan out door study. Out door study kali ini mengusung tema “Cintai Produk dalam Negeri”.
Dengan menggunakan 24 mobil milik orang tua wali murid, rombongan berangkat pukul 07.30 wib. Selama kurang lebih 30 menit, rombongan tiba di lokasi.
Desa Kecil yang Produktif
Kalisari adalah desa kecil, bagian dari wilayah Banyumas. Letaknya tidak begitu jauh dengan objek wisata Curug Cipendok. Bagi yang sudah pernah berkunjung ke objek wisata Jurug Cipendok, tentunya akan melewati desa ini.
Meskipun dibilang kecil, desa ini terbilang produktif. Sebanyak 460 kelompok produsen tahu, berdiri di wilayah ini. Jumlah yang bisa dibilang cukup besar.
Bisa dibilang, industri tahu adalah nafas kehidupan wilayah ini. Sebab hampir sebagian warganya berkecimpung dalam kegiatan ini.
Tahu sudah mampu memberi penghidupan layak bagi beberapa warga di daerah ini. Adalah bapak Taruno. Salah satu produsen tahu di daerah ini yang sejak 1987 menggeluti profesi sebagai produsen tahu.
Dengan usahanya, ia sudah mampu menyekolahkan anak-anaknya sampai jenjang perguruan tinggi. Bahkan sudah mampu membeli mobil sendiri.
Tetap Semangat!
Meskipun di pabrik tahu udara terasa panas, tidak membuat anak-anak enggan untuk melakukan kegiatan ini.
Disebabkan rasa penasaran dan tuntutan tugas, mereka bersemangat mengamati proses pembuatan tahu dari awal sampai akhir.
Kami Cinta Produk Dalam Negeri
Dengan peluh bercucuran dan wajah merah merona, anak-anak melakukan kegiatan dengan penuh antusias.
Kurang lebih dua setengah jam anak-anak melakukan pengamatan, wawancara, dan mengerjakan tugas.
Setelah kegiatan selesai, acara dilanjutkan dengan ajang belanja dan menyantap tahu bersama. Siapa yang menyangka anak-anak begitu antusias membeli dan memakan produk dalam negeri ini? Yah, sebab kami mencintai produk dalam negeri.
Langganan:
Postingan (Atom)