Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Januari 2011

Cerita Pewayangan yang Novel


Oleh: Narsiti

Resensi Buku
Judul Buku : Anak Bajang Menggiring Angin
Penulis : Sindhunata
Penerbit : Gramedia
Tebal Buku : 472 halaman
Cetekan ke IX : Agustus 2010
Harga : Rp 84.000,00

Ceritane Wayang Ramana
Neng Negara Alengka di Raja
...Rahwana Raja
Gawe Geger Nyolong Dewi Shinta

Anoman si Ketek Putih
Sowan Taman Shinta Dijak Mulih
Kewenangan Indrajit lan Patih
Ning Anoman Ora Wedi Getih

...
Lirik lagu di atas pernah popular di tahun 2000-an. Hampir semua kalangan mengenal lagu ini. Dari anak kecil sampai roang dewasa. Dengan lagu ini pula, saya menjadi paham sedikit tentang cerita wayang. Cerita tentang wayang yang menurut kebanyakan orang sangat membosankan dan menjenuhkan, bisa jadi menjadi sebuah cerita menarik dan asyik, tergantung pada penyajian dan pengemasan.

Ibarat sebuah produk, sebagus dan seenak apapun, jika cara penyajiannya kurang menarik, sudah pasti hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahui, menyukai, dan memilihnya. Tentu saja dalam dunia bisnis, orang tidak mau rugi hanya karena hal semacam ini. Maka muncullah orang-orang dengan ide kreatif menciptakan sebuah gaya baru cara pengemasan sebuah barang/produk. Dengan cara semenarik mungkin, orang-orang ini mencoba menawarkan dan mengenalkan kepada orang banyak agar mereka mengenal dan menggunakan.

Ibarat sebuah barang, sebuah cerita bagus, jika cara penayampaiannya kurang menarik, maka sudah pasti sangat sedikit orang yang mau mengetahui, atau mengenalnya.

Cerita pewayangan, jika dibaca secara seksama adalah sebuah cerita yang mengandung nilai luhur yang sangat tinggi. Sayangnya, cerita yang terlanjur dianggap rumit dan membosankan ini, kurang diminati oleh kalangan banyak. Akhirnya cerita ini hanya sekadar muncul pada acara-acara pentas wayang. Itu pun belum tentu orang mau melihat dan memerhatikan.

Sindhunata, dalam bukunya berjudul “Anak Bajang Menggiring Angin” mencoba menuturkna cerita pewayangan dengan cara yang sangat menarik. Melalui gaya tutur novel, ia mengurai cerita pewayangan ini dengan sangat menarik.

Saya pribadi, sebelumnya adalah orang yang kurang begitu mengerti tentang cerita pewayangan dengan tokoh-tokoh di dalamnya yang terlampau banyak. Namun setelah membaca buku karya Sindhunata ini, pikiran saya terbuka lebar-lebar tentang cerita pewayangan. Cerita Tentang Anoman Obong, Rama Tambak, dan lain-lain dikemas dalam sebuah cerita menarik dan menyenangkan.

Diawali dengan kisah tentang dua insan manusia bernama Wisrawa dan Dewi Sukesi, cerita pewayangan ini mengalir begitu indah sampai pada cerita tentang Rahwana menculik Dewi Shinta, Anoman yang membuat tambak sebagai jembatan untuk pasukannya mengantar ke kerajaan Alengka. Ditutup dengan meninggalnya Rahwana dalam perang melawan Rama dan bala tentaranya. Semua ini dikemas dalam sebuah cerita apik dan menarik. Runtut dan tidak membuat pusing. Dengan gaya bahasa novel, membuat keseluruhan dari cerita dalam pewayangan menjadi sebuah cerita yang ringan dan mudah untuk dimengerti.

Sidhunata muncul sebagai sosok kreatif yang menawarkan “produk” yang dianggap membosankan dan tidak menarik menjadi sebuah “produk” yang sangat indah dan menarik. Tertarik dengan ceritanya? Baca buku ini! Di dalamnya akan ditemukan nilai-nilai luhur dari cerita yang dituturkannya.

Senin, 01 November 2010

Miskin = Objek Penderita!


RESENSI BUKU
Judul Buku : Yang Miskin Dilarang Maling…!
Penulis : Salman Rusydie Anwar
Penerbit : Laksana
Cetakan Pertama : Juli 2010
Tebal Buku : 357 halaman
Harga : Rp 44.000,00

Oleh: Narsiti*)

Hidup miskin bukanlah sebuah pilihan. Siapapun orangnya tidak akan ada yang mau untuk memilih hidup menjadi orang miskin. Nasib, barangkali itulah jawaban satu-satunya yang tepat. Sebagai negara yang statusnya masih terus berkembang ini, Indonesia masih memiliki banyak sekali orang-orang dengan taraf penghasilan tidak sesuai dengan standar UMR atau dengan kata lain “MISKIN”.

Namun jika jawabannya nasib, rasa-rasanya juga kurang tepat. Sebab, Indonesia ini adalah negara dengan kekayaan alam terbesar di dunia sesudah Brazil. Sangat tidak logis jika masih terjadi kemiskinan di sana-sini.

Jika demikian, pasti ada yang salah dengan pengelolaan kekayaan alam kita ini. Dengan alasan seperti itu, rasanya tidak mungkin jika kemiskinan terjadi di sana-sini. Hal ini berarti memang ada yang salah dengan pengelolaan sumber daya yang dimiliki.

Salman Rusydie Anwar, dalam bukunya “Yang Miskin Dilarang Maling…!” berkisah tentang kehidupan seorang buruh tani yang menjadi korban ketidak adilan hukum beserta dengan kisah pilu kehidupannya. Sebagai tokoh uatama adalah Sukasman, diceritakan sebagai orang miskin dengan penghasilan tidak tetap. Ia harus menanggung beban hutang yang begitu banyak kepada tetangga-tetangganya.

Dalam himpitan hidup yang sudah begitu menyiksanya, ia harus dihadapkan pada sebuah tuduhuan yang teramat sangat kejam. Ia dituduh sebagai pencuri. Tuduhan ini yang menyebabkan dirinya harus meringkuk di sel penjara. Belum lagi ia masih harus menerima image negative dari tetangga-tetangganya.

Beban hidup belum usai, ia masih dihadapkan pada sebuah kenyataan hidup yang teramat pahit dan sebuah hukum yang tidak adil. Suniati, yang ditokohkan sebagai istrinya, divonis mengidap kangker otak.

Sebab keadaan yang serba sulit, ia terpaksa mencuri ayam milik pak Lurah. Atas pencurian ini ia didakwa dengan hukuman 15 tahun penjara. Sementara, Anas, yang digambarkan sebagai tokoh terkaya di kampungnya, dinyatakan bebas atas korupsi terang-terangan yang ia lakukan.

Salman Rusydie ingin menuturkan fakta di lapangan tentang kacaunya Membaca novel ini, seperti disuguhi sebuah potret hidup keadaan masyarakat kita. Orang miskin sepertinya hanya dijadikan sebagai objek penderita bagi orang-orang yang lebih berkuasa. Bahwa uang, dianggap sebagai kuasa atas sebuah kehidupan. Sangat menarik untuk dibaca.

Kamis, 12 November 2009


Resensi Buku
Judul Asli : Rumis’s Daughter
Judul Terjemahan : Kimya sang Putri Rumi
Penulis : Muriel Maufroy
Penerbit : Mizan
Tebal Buku : 272 halaman
Cetakan Pertama : April 2005

Kimya; Sebuah Fiksi Sejarah
Oleh: Rosyidah Purwo
Sering kita jumpai berbagai buku bacaan sejarah. Di toko-toko buku juga sering kali kita melihat bermacam buku bacaan sejarah dipajang.

Bacaan sejarah, selama yang kita kenal adalah bacaan membosankan yang membutuhkan banyak energi u ntuk berpikir pada setiap kalimat yang dibaca. Meskipun pada dasarnya isi di dalamnya berbobot, namun karena cara penyampaian penulis yang cenderung naratif, membuat otak cepat jenuh dan lelah.

Namun berbeda ketika sebuah bacaan sejarah disajikan dalam bentuk fiksi. Novel, misalnya. Gaya penulisan semacam ini akan memberi kelebihan tersendiri. Seberat apapun sebuah sejarah dipaparkan, tetap saja enak untuk dibaca. Meskipun di dalamnya dipaparkan beberapa macam kejadian, beberapa tokoh sejarah, pembaca tetap saja ingin mengikuti sampai sejauh mana sejarah itu selesai.

Barangkali karena gaya penuturannya yang lebih ringan, dan cenderung lebih bisa dirasakan langsung oleh pembaca, sebab, barangkali karena cara penuturannya yang melihat dari sudut pandang si pelaku sejarah yang dimainkan dalam tokoh utama.
Terlebih bacaan fiksi lebih banyak digemari oleh semua kalangan. Maka bukan bukan hal aneh jika sekarang banyak penulis yang menayjikan bacaan sejarah dalam bentuk fiksi.

Seperti yang dilakukan oleh Muriel Maufroy. Dalam bukunya yang berjudul Kimya sang Putri Rumi, Maufroy menuliskan mengenai kehidupan Jalaludin Rumi dan hal ihwal yang terkait dengan kehidupannya. Di dalamnya adalah sahabat-sahabatnya, keluarga, dan kisah hidupnya.

Buku ini menceritakan menceritakan tentang kehidupan Jalaludin Rumi. Salah seorang yang diakui sebagai tokoh spiritual yang memengaruhi banyak orang dengan ajaran-ajarannya tentang cinta illahi dan perdamaian.

Rumi dikisahkan hidup dengan seorang anak angkatnya bernama Kimya. Diceritakan pula bagaimana Rumi menjalani kehidupannya sebagai seorang suami, teman, ayah, dan sekaligus ulama bagi masyarakatnya. Diceritakan pula bagaimana Rumi kemudian berubah menajdi seorang yang gemar akan musik. Bagaimana Rumi kemudian dicap sebagai orang yang sudah gila dan sesat.

Ditelisik secara detail, buku ini pada dasarnya merupakan bacaan sejarah, namun karena gaya penulisannya dibuat fiksi, dan gaya bahasanya yang ringan, membuat buku ini lebih mudah dan enak untuk dibaca. Meskipun ini adalah cerita sejarah (sebuah kehidupan seorang tokoh).

Dengan gaya bahasa fiksinya, pembaca secara tidak sadar diajak untuk menghafal beberapa nama-nama tokoh yang ada dalam kehidupan Rumi. Muriel Maufroy berusaha menyajikan sejarah kepada pembaca dengan sudut pandang dan gaya penulisan berbeda. Penasaran dengan bukunya? Selamat membaca.

Rabu, 21 Oktober 2009


RESENSI BUKU

Judul Buku : Guru Dalam Tinta Emas
Editor : Y. Suhartono
Penerbit : KOMPAS
Tebal Buku : xi + 275 halaman
Cetakan I : Juni 2005

Kita bisa membaca dan menulis, guru yang mengajarkan. Kita dapat menduduki jabatan tertentu, guru jugalah yang mengantarkannya. Kita bisa berkreasi dan berwirausaha, ya tetap guru juga yang berandil besar.

Tanpa guru, kita tidak akan seperti sekarang ini. Maka, pantaslah jika kita memberikan penghargaan tinggi kepada beliau. Penghargaan tersbut dapat kita ungkapkan antara lain dengan menerapkan, mengembangkan, dan mewariskan ajaran-ajarannya lewat keteladanan hidup kita sehari-hari. Agar kita memiliki greget untuk mewujudkannya, maka seyogyanya kita berusaha mengenal bagaimana guru itu.

Guru. Sering kita mendengar kata tersebut. Guru sering diartikan sebagai sosok yang bisa digugu dan ditiru (dipercaya dan diikuti). Ada juga yang menyebutkan guru itu adalah glugu turu, yang dimaksud adalah guru sebagai jembatan bagi siapa saja yang akan menuju “pintu masa depan/kesuksesan”.

Guru, bagi beberapa kelompok masyarakat yang masih memiliki kebudayaan yang bersahaja menganggap bahwa sosok guru adalah sosok yang harus dihormati, dengan memberikan panggilan Mas Guru. Kata “Mas” adalah kepanjangan dari ”Nimas”, merupakan sebutan untuk orang yang sangat dihormati. Hal alin yang kerap kita dengar tentang guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.

Memang hal yan sangat pantas apabila julukan seperti itu melekat pada mereka. Namun hanya pantas bagi mereka yang benar-benar menjadi pendidik sejati. Mereka yang mengajar tidak sekadar menjalankan tugas dan kewajiban. Namun, mereka yang benar-benar melaksanakan tanggung jawab dengan sepenuh hati.

Pernahkah mendengar nama Hajjah Sabariah? Atau Butet Manurung? Atau Nurlaila? Mereka dalah sekian contoh pendidik sejati. Seorang guru sejati.

Hajjah Sabariah, seorang guru dan pendidik yang di usia senjanya justru lebih memilih untuk membagikan pengetahuannya pada anak-anak rimba raya di pedalaman Papua sana. Siapa yang mau berbuat demikian kecuali mereka yang mempunyai hati emas dan tekad sekuat baja.

Dengan bekal pengetahuannya, hasil sekolah do Normaal School Amsterdam, dengan menguasai tiga bahasa (Indonesia, Jepang, dan Inggris). Di mana banyak orang yang berkejar-kejaran memeroleh gelar dan jabatan dengan pengetahuan yang mereka punyai, justru Hajjah Sabariah tidak demikian adanya. Dengan kehidupan yang sederhana, dan pas-pasan, dengan lingkungan hidup yang jauh dari keramaian, dan dengan anak-anak yang benar-benar masih terbelakang, ia denga tabah dan sabar membagikan ilmunya kepada mereka.

Ada juga kisah Butet Manurung (Saur Marlina Manurung). Siapa yang tidak mengenal akan dirinya. Seorang perempuan muda yang rela mengabdikan diri di rimba raya Riau sana. Pendidikan yang ia peroleh dari almamaternya (UNPAD), ia gunakan dengan sebaik-baiknya. Ia sebarkan ilmunya pada anak-anak rimba raya Riau sana.

Siapa yang mau hidup denga orang-orang yang tinggal di daerah yangsangat terpencil dan tertutup serta jauh dari keramaian. Sebab ia tinggal di tengah hutan. Saat-saat di mana orang-orang yang seusia dengannya sedang mencari kesenangan hidup dengan menghabiskan waktunya di maal-maal, justru ia lebih memilih mengabdikan hidupnya ada anak-anak rimba.

Semuanya dikarenakan mereka betul-betul berhati emas. Mereka ingin menjadi pendidik sejati. Mereka ingin semua orang dapat merasakan adanya pendidikan..

Guru engkaulah pahlawanku. Engkaulah pahlawan sejatiku. Guru engkaulah penyelamat bangsaku. Betulkah?

Buku Guru Dalam Tinta Emas, yang merupakan kumpulan dari tulisan wartawan harian KOMPAS, akan menjawab semuanya. Dengan bahasanya yang sederhana dan ringan, membuat buku ini mudah sekali untuk dipahami dan dibaca.

Bagi para guru yang sedang mencari kebenaran sejati, atau ingin menjadi pendidik sejati, bacalah buku ini.

Membaca buku ini akan memberi inspirasi dan informasi yang banyak pada kita. Membuat mata dan hati benar-benar terbuka. Ternyata di dunia sana yang kita tidak tahu sama sekali tempatnya, masih ada kebodohan dan keterbelakangan.

*) Resensi ini pernah dimuat di KOMPAS MAHASISWA, edisi 77 Mei 2006

Selasa, 20 Oktober 2009


RESENSI BUKU

Judul Buku : Misteri 7 Bayi yang Dapat Berbicara (Mengeja Tanda Demi TandaKekuasaan Allah di alam Semesta)
Penulis : Dr. Musthofa Murad
Penerbit : Mirqat Publishing
Cetakan Pertama : Oktober 2008
Tebal Buku : XXIX + 108 halmaan

Bayi-Bayi “Ajaib” Ciptaan Tuhan
By: Rosyidah Purwo

Betapa Tuhan telah menciptakan alam ini dengan segenap perhitungan. Asetiap apa yang diciptakannya tidak pernah luput dari apa yang namanya “sisi manfaat dan pelajaran”. Segala sesuatunya telah diperhitungkan secara cermat dan detail.

Bukan sebuah keniscayaan jika suatu saat, barangkali seseorang, ketika sedang berjalan tiba-tiba melihat atau mendengar sepucuk daun dapat berbicara. Meskipun kelihatannya mustahil menurut daya pikir kita.Bagi akal manusia, hal ini mungkin dianggap sebagai hal yang mustahil. Namun tidak bagi Tuhan.

Hukum kelaziman mewartakan, setiap manusia terlahir dari buah cinta orang tua mereka yaitu ayah dan ibu. Dari pertemuan seperma dan telur (melalui proses pembuahan) terbentuklah segumpal daging (baca; janin), yang kemudian setelah lahir orang menyebutnya sebagai manusia.

Namun, realita kehidupan mewartakan, Tuhan juga menciptakan manusia tanpa ayah dan ibu, dialah nabi Adam. Tuhan juga menciptakan manusia tanpa ibu, dialah Hawa, Tuhan juga menciptakan manusia tanpa ayah, dialah nabi Isa.

Realita penciptaan tersebut, untuk menunjukkan tanda kuasa Tuhan di alam semesta ini agar setiap makhluk memahami bahwa Tuhan maha kuasa atas segala sesuatu. Jika Tuhan mampu menciptakan, hal yang demikian, maka bukan tidak mungkin lagi Tuhan akan menciptakan hal-hal “aneh” yang menurut daya pikir manusia adalah mustahil.

Dr. Musthafa Murad menuliskan dalam bukunya yang berjudul “Misteri 7 Bayi yang Berbicara (Mengeja Tanda Demi Tanda Kekuasaan Tuhan di Alam semesta), menuliskan tentang kisah 7 bayi yang mamapu berbicara.

Dalam buku ini dituliskan mengenai sejarah tujuh bayi tersebut. Disertai dengan dialog-dialog dan dalil-dalil untuk menguatkan adanya sejarah tersebut. Dr. Musthafa Murad mencoba menguak sisi lain kuasa Tuhan dari sudut mana kebanyakan orang masih sedikit yang mengetahuinya.

Dengan gaya bahasanya, dan penyertaan dalil-dalil serta penajaman kata-katanya dapat menambah keyakinan kita terhadap keberadaan Tuhan, yang maha kuasa atas segala sesuatu.

Rabu, 14 Oktober 2009

“Kantong Doraemon” di Fiqih Sunnah


By: Rosyidah Purwo
Resensi Buku
Judul Asli : Fiqhussunnah
Judul Terjemahan : Fikih Sunnah
Penulis : Sayyid Sabiq
Penerbit : Pena Pundi Aksara
Cetakan Pertama : Februari 2008
Tebal Buku : Jilid I : xxiii + 591 hal
Jilid II : xxi + 554 hal
Jilid III : xxiii + 470 hal
Jilid IV : xxix + 431 hal


Ilmu fikih bagi sebagian besar orang, dianggap sebagai seuatu yang rumit, dan sulit dipahami. Mengingat hukum-hukum dan permasalahnnya yang ada di dalamnya terlalu kompleks.

Hampir seluruhan permasalahan yang ada di masyarakat, dapat dipastikan selalu ada hukum dan dalil-dalil yang mengaturnya. Maka tidak heran jika sebagian besar orang merasa berat untuk belajar fikih, mengingat kompleks dan peliknya permasalahan yang muncul di masyarakat. Sudah barang tentu aturannya pun semakin kompleks.

Terlalau kompleksnya permasalahan yang diatur di dalam fikih, menyebabkan banyak sekali buku-buku bacaan fikih yang beredar di masyarakat. Baik yang berbahasa arab/asing, maupun bahasa Indonesia.

Hal ini tidak menutup kemungkinan menjadi sesuatu yang menyulitkan bagi sebagian besar orang untuk mencari buku rujukan/pedoman yang terkait dengan fikih. Terlebih banyaknya buku-buku rujukan fikih yang condong pada satu madzhab tertentu, yang terkadang menyoroti masalah hanya dengan satu sudut pandang. Ini membuat banyak orang terkadang juga harus berpikir lebih keras untuk memahami apa yang dimaksud dalam teks. Terlebih jika aturan itu jauh dari realita budaya masyarakat setempat..

Sebagai contoh misalnya batasan aurat perempuan. Dalam madzhab Syafiiyyah, batasan aurat adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Jika aturan menutup aurat semacam ini diterapkan pada masyarakat Indonesia yang ada di pedesaan, yang mana kebanyakan mata pencaharian mereka sebagai petani atau buruh sawah, tentunya kurang cocok. Bahkan bisa jadi menyulitkan gerak mereka.

Rasa-rasanya permasalahan semacam ini tidak perlu menjadi hal yang memusingkan. Sebab, Sayyid Sabiq, dalam bukunya, Fiqih Sunnah, telah menjelaskan secara rinci, detail, dan praktis mengenai permasalahan-permasalahan fiqih.

Berbagai permasalahn fiqih dikupas tuntas dari berbagai perspektif dengan landasan yang detail berlandasan pada Al quran, As Sunnah, dan ijma’ ulama.
Semua pembahasan di dalam buku ini dihadirkan dengan sajian ekslusif, lengkap, sistematis, dan mudah dipahami.

Sayyid Sabiq yang tidak berfanatisme pada satu madzhab, memberi kemudahan dan kepraktisan dalam penjelasan seputar fiqih.

Buku ini memiliki judul asli Fiqhussunnah, penerbit Darul Fath, Kairo. Diterbitkan menjadii empat jilid di penerbit Pena, Indonesia.

Jilid pertama memaparkan hal-hal yang berkaitan dengan ibadah. Seperti, pemaparan hal-hal terperinci mengenai bersuci dan tata caranya, jenis-jenis sholat, tata cara shalat dalam kondisi-kondisi tertentu, puasa zakat, dan hal-hal menganai ibadah lainnya.

Dalam jilid dua merupakan pemaparan lanjutan jilid satu yaitu mengenai ibadah haji, safar, ibadah ketika sakit, serta pengurusan jenazah. Dilanjutkan dengan penjelasan rinci mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pernikahan seperti ijab Kabul, syarat pernikahan, syarat wali, hak antara suami dan istri, walimah, khotbah dan doa pernikahan, berhias, poligami, pihak-pihak yang haram menjalin hubungan pernikahan, kawin kontrak, dan sebagainya.

Dilanjutkan dengan jilid tiga memaparkan mengenai perceraian, hak asuh anak, hukum mengnai khamar, zina murtad, , ,mengenai perampokan dan pencurian, diat, jihad, jizyah, atau pajak, harta rampasan perang, serta perlindungan keamanan bagi non muslim.

Terakhir adalah jilid empat. Memaparkan mengenai muamalah antar sesama manusia, seperti hubungan jual beli, utang-piutang, riba, penyembelihan, kurban, akikah, penjaminan, pengadilan, pakaian, wakaf, hibah, pernafkahan, hingga wasiat dan pewarisan.

Ibarat kantong Doraemon, buku ini akan menjawab semua permasalahan fiqih dengan rinci, mudah, dan praktis.

Selamat menikmati karya fenomenal ini. Edisi lengkapnya yang diterbitkan dengan cover dan kertas dengan kualitas baik, membuat harga buku ini sedikit mahal. Namun tidak menjadi masalah. Sebab buku ini buku bacaan berkualitas yang harus anda miliki.

Kamis, 13 Agustus 2009

Motivasi Hidup Ala Life Must Go On!


RESENSI BUKU
Judul Buku : Life Must Go On, Seni Membangun Optimisme dan Menghilangkan Keresahan Hati
Penulis : M. Rusli Amin, MA
Penerbit : Zahira Press
Cetakan Pertama : Maret 2008
Tebal Buku : 160 halaman

Motivasi adalah sesuatu yang sangat berharga dalam hidup ini. Bila motivasi hilang dari dalam diri, maka sama saja ia adalah jiwa yang telah mati. Bagaimana tidak? Karena hilangnya motivasi akan menyebabkan seseorang tidak lagi mempunyai gairah dan asa dalam menjalani kehidupan ini. Lalu apakah yang lebih berbahaya dari hilangnya motivasi dalam hidup ini?

Karena itulah, siapapun kita, kita membuthkan motivasi dari orang-orang yang ada di sekitar kita. Entah itu dari keluarga, guru, dan para sesepuh, atau bahkan dari para tetangga terdekat kita. Bahkan motivasi yang kita butuhkan itu bisa saja bersumber dari kejadian-kejadian di sekitar kita, atau dari buku-buku yang kita baca.

M. Rusli Amin, dalam bukunya berjudul Life Must Go On! Menuliskan motivasi hidup untuk kita. Di dalamnya dibicarakan bagaimana manusia meraih kebahagiaan, kesuksesan. Dibicarakan juga bagaimana manusia menyikapi kondisi hidup yang buruk, begaimana kita harus selalu berpositif thinkkink.

Buku ini menyajikan banyak motivasi-motivasi hidup brilian yang dikemukakan oleh orang-orang tersukses dalam bidangnya. Lengkap dengan ilustrasi-ilustrasi yang menggelitik hati. Membaca buku ini optimisme dalam diri. Sekaligus menghalau segala keresahan yang sedang melanda hati.

Bahasanya yang tidak terkesan menggurui, membuat kita merasa enak membaca buku ini. Penasaran dengan buku ini?

Minggu, 23 September 2007

MENGENAL PESANTREN LEWAT SASTRA


Oleh: Rosyidah Purwo

Judul Buku : Santri Lelana
Penulis : Didik Komaidi
Penerbit : P_IDEA
Cetakan Pertama : 2006
Tebal Buku : xxxiv + 144 halaman

Pesantren adalah dunia tersendiri. Ia mempunyai warna dan kekhasannya. Pesantren adalah sub kultur di antara kultur-kultur yang lain. Ia merupakan kultur ideal dari kehidupan keislaman masyarakat pada umumnya.

Karena di pesantrenlah nilai-nilai ajaran Islam senantiasa dilaksanakan dengan ikhlas dan istikomah. Di samping itu, di pesantrenlah banyak hal dan kajian yang muncul. Mulai dari kajian islam, budaya, tasawuf, pendidikan, dan sejenisnya, termasuk sastra.

Di mata orang banyak, kehidupan pesantren identik dengan sesuatu yang kuno, kotor, miskin, dan semrawut. Namun, jika ditilik lebih jauh bagaimana kehidupan dalam pesantren yang sebenarnya, sungguh akan ditemukan suatu realitas kehidupan yang menakjubkan. Pesantren memiliki liku dan seluk beluk tersendiri. Unik, dan mengagumkan.

Kehidupan pesantren telah lama muncul di dalam masyarakat kita. Sejak masa pemerintah kolonial Belanda menjajah Indonesia, pesantren telah ada. Ada yang mengatakan bahwa pesantren merupakan pelopor pendidikan di Indonesia sebelum munculnya lembaga pendidikan resmi pemerintah (SD, SMP, SMA dan PT).

Pendidikan yang diperkenalkan dalam pesantren sangatlah berbeda dengan pendidikan yang di terima melalui instansi resmi pemerintah. Sebagai lembaga pendidikan non formal, pesantren banyak mengajarkan mengenai pendidikan kemasyarakatan. Adalah, bagaimana santri diajarkan untuk dapat hidup mandiri melalui kreatifitas mereka yang tak dibatasi dengan tetap ada kontrol pengasuh atau kiyai.

Dalam dunia pesantren tidak melulu diajarkan baca tulis dan penguasaan ilmu pengetahuan. Penguasaan dan ketrampilan dalam mengolah kecerdasan Spiritual, dan Emosional juga diajarkan. Kepandaian seorang santri tidak dinilai dari IQ semata, namun SQ, dan EQ, ikut diperhitungkan.

Namun sayangnya, dunia pesantren yang demikian hebatnya jarang dikenal oleh masyarakat umum (awam). Kebanyakan dari mereka hanya mengetahui secara sekilas saja informasi mengenai pesantren. . Hal ini barangkali yang membuat pesantren menjadi terpinggirkan. Butuh sebuah usaha untuk mengenalkan pada masyarakat akan kehidupan pesantren, namun tentunya tidak mudah.

Surat kabar dan majalah sebagai salah satu media informasi telah banyak yang mengulas mengenai profil-profil kehidupan pesantren, namun karena budaya baca masyarakat yang rendah, menjadikan dunia pesantren tetap saja menjadi hal yang asing dan aneh bagi mereka.

Seorang penulis berbakat yang memiliki back ground pendidikan pesantren, Didik Komaidi, berusaha mengenalkan dunia pesantren melalui bakat menulisnya. Santri Lelana, sebagai karya ciptanya yang merupakan kumpulan dari cerpen-cerpennya, menceritakan mengnai lika-liku kehidupan santri yang belajar di dunia pesantren.

Salah satu cerpennya bercerita mengenai kehidupan seorang santri yang berkelana ke berbagai tempat untuk menimba ilmu. Namun karena sang santri memiliki kekurangan kecerdasan dalam berpikir dan menerima ilmu, ia tak kunjung dapat menguasai ilmu yang telah dipelajarinya. Namun berkat ketekunan dan mental bajanya, sang santri akhirnya dapat menjadi seorang ulama masyhur. Bagaimana lika-liku sang santri dalam menimba ilmu di dunia pesantren sampai ia menjadi ulama masyhur/terkenal? Baca saja dalam Santri Lelana.

Dengan gaya bahasanya yang sederhana, membuat buku ini enak dan mudah untuk dibaca. Kumpulan cerita ini akan banyak mengenalkan kepada publik tentang pesantren. Selamat membaca.

Pentingnya Peran Keluarga


Oleh: Rosyidah Purwo

Judul Buku : Labirin Lazuardi Langit Merah Saga
Penulis : Gola Gong
Penerbit : Tiga Serangkai
Cetakan : Pertama 2007
Tebal Buku : viii+244 halaman


Kecemasan kerap melanda remaja. Ini terjadi karena pada usianya, remaja mengalami pertumbuhan fisik dan mental yang tidak bersamaan. Secara fisik remaja mengalami perubahan yang cepat, tetapi secara psikologis dia masih berada pada masa transisi; setengah dirinya masih kanak-kanak.

Psikologis memandang periode ini sebagai periode penuh gejolak. Pada periode ini remaja memiliki kecenderungan berkonflik dengan orang tua, mengalami perubahan mood yang cepat, dan perilaku beresiko.

Pada masa transisi inilah seorang remaja sedang gencar-gencarnya mencari jati diri yang sebenarnya. Pada masa-masa seperti ini remaja cenderung memiliki hasrat dan keinginan yang tinggi untuk mencoba dan melakukan sesuatu yang baru. Sesuatu yang dianggap asing dan penuh tantangan.

Di sini kontrol sosial sangat diperlukan untuk menjaga agar remaja tidak terjebak ke dalam kehidupan yang ”menyesatkan”. Lingkungan sosial di mana remaja tinggal sangat mempengaruhi sekali terhadap perkembangan psikologis/mentalnya.

Terlebih keluarga. Keluarga merupakan agent pertama bagi terbentuknya kondisi perkembangan psikologis/kejiwaan remaja. Kondisi lingkungan keluarga menjadi sesuatu yang benar-benar perlu diperhatikan. Sebab, pada masa-masa seperti ini, remaja membutuhkan sekali peran asuh orang tua. Orang tua menjadi semacam “police” untuk perkembangan psikologisnya.

Untuk itu, keluarga harus benar-benar mampu mengemban fungsinya demi terciptanya sesosok individu (baca: remaja) yang baik. Kemana remaja akan melangkah/mencari kehidupan untuk dirinya, menjadi jelek atau baikkah seorang remaja, tergantung dari bagaimana pola pengasuhan di dalam lingkungan keluarga.

Tokoh Lazuardi dalam novel berjudul Labirin Lazuardi Langit Merah Saga merupakan cerminan remaja yang mengalami kecemasan. Terluka dengan kondisi keluarganya yang tidak harmonis, dia melarikan kecemasannya pada gaya hidup hedonis, hura-hura, bahkan tergelincir pada narkoba.

Beruntung seorang ”juru selamat” datang padanya. Lazuardi dapat diselamatkan dari kehidupan kelam tersebut. Lazuardi yang baru adalah Lazuardi yang memiliki semangat heroisme. Semangat yang mulai pudar dalam masyarakat. Kepeduliannya pada negeri ini menjadi hero itu sendiri.

Bercermin dari tokoh Lazuardi, mengingatkan bahwa betapa pentingnya kedudukan dan fungsi sebuah keluarga dalam mendidik dan mengasuh anak.

Sebagai sebuah novel, buku ini sangat bagus sekali menjadi sumber bacaan remaja. Di sana akan diperlihatkan bagaimana lika-liku kehidupan seorang remaja yang sedang mencari jati dirinya. Bagaimana arti pentingnya sebuah nilai kebaikan dan kejujuran.

Sayangnya, karena novel ini merupakan novel bersambung, kita belum bisa menikmatinya secara utuh. Jadi, tunggu saja edisi berikutnya, dan berikutnya. Selamat membaca.