Minggu, 07 Maret 2010

Tentang “Pasar Tiban” dan Pak Mabes POLRI

Oleh: Rosyidah Purwo

Dalam sebuah event besar yang diselenggarakan oleh sekolah dasar Maju Banget, seorang bapak dipercaya sebagai koordinator kegiatan bazaar ibu-ibu dan orang tua wali murid. Berkat kelihaian dan keahlian si Bapak ini, kegiatan bazar dapa berjalan dengan sukses dan lancar. Terbukti banyak sekali orang tua wali murid dan ibu-ibu yang mendaftar sebagai peserta bazaar.

Hari-H datang. “Pasar Tiban”-pun muncullah. Halaman sekolah tumpah ruah oleh pedagang-pedagang senior dan juniaor. Pedagang senior adalah mereka yang kegiatan kesehariannya memang benar-benar sebagai penjual di rumah atau di pasar atau di kios miliknya. Pedagang Junior adalah mereka yang menjadi pedagang dadakan sebab tanggung jawabnya untuk ikut meramaikan event sekolah.

Beraneka jenis makanan, pakaian, bahkan sampai dengan perabot rumah tangga tersedia lengkap di “Pasar Tiban” ini. Tidak sekadar makanan, pakaian, perabot rumah tangga, bahkan rumah juga tersedia di sini, pulsa, internet, juga tersedia. Masing-masing stand memiliki ciri dan jenis dagangan yang berbeda. Ada beberapa yang menjual barang dagangan yang sama.

Stand pak Panjul menjual Bakso, stand Bu Tuki menjual pakaian dalam anak dan dewasa, Stan Ipin-Upin menjual Burger dan aneka makan cepat saji, stand Bu Dika menjual es buah dan es campur, stand bu Iin menjual Karpet dan sejenisnya, stand bu Mamik menjual aneka makanan pengenyang perut, stand bu Khasna menjual aneka buah segar, stand bu Ani menjual mie goreng dan mie-mie lainnya. Stand bu Catur memasarkan rumah beserta fasilitasnya. Stand bu Bekti menjual aneka Nuget. Dan masih ada beberapa stand lainnya yang tak kalah meriah dan serunya.

Hari-H itu sekolah dipenuhi oleh riuh rendah suara penjual dan pembeli, serta celoteh anak-anak dan tamu undangan yang hadir. Ajaib, dalam sekejap, sekolah yang biasanya hanya dipenuhi suara anak dan guru, kini berubah seperti pasar tradisional yang modern.

Sepertinya nasib si Bapak ketua ini sedang mujur. Sebab peserta “Pasar Tiban” ini patuh dan tunduk pada perundang-undangan yang berlaku. Hampir tidak ada satu-pun peserta yang ngeyel dan ngedel. Namun konon ceritanya, ada salah satu peserta yang kurang cocok dengan perundang-undangan "Pasar Tiban". Namun karena perundang-undangan “Pasar Tiban” ini sudah terlanjur diketok palu, ke-ngeyelan dan kengedelan si Ibu ini kurang didengar oleh si Bapak ketua.

Rupa-rupanya si Ibu ini memang orang yang berhati besar, tangguh, dan pantang menyerah. Maka, apa yang dilarang dilakukanlah, oleh karena itu yang terjadi, terjadilah. Si Ibu tetap teguh pendirian pada prinsip ngeyel dan ngedel.

Setiap prinsip, keputusan, dan pilihan pasti akan dihadapkan pada ujian. Dan si Ibu ini-pun harus menghadapi ujian tersebut. Datanglah si Bapak ketua memeriksa setiap stand. Dari semua stand yang dicek, ternyata tidak ada masalah. Tibalah pada stand si ibu Prinsip Ngeyel-Ngedel. Sebab ketajaman indra serta ketelitiannya, si bapak Ketua menemukan kejanggalan di stand si Ibu Prisnsip Ngeyel-Ngedel.

Terkenalah pasal Undang-Undang “Pasar Tiban”. Memang dasarnya si ibu ini ngeyel dan ngedel, sudah jelas salah, tetap saja masih ngeyel dan ngedel. Maka dikenakanlah sanksi ringan. Dua buah roti dagangannya diambil oleh si bapak ketua.

Beberapa hari setelah kejadian, seorang bapak yang mengaku sebagai pak MABES POLRI menelpon si Bapak ketua. Mujur benar sekolah Maju Banget ini. Sikap tegas dan berani membela yang benar milik pak Ketua ini, memang T O P B G T! Sikapnya telah menyiutkan hati si Ibu Ngeyel Ngedel.

“Kita bicarakan dulu masalah sebenarnya apa. Sesuai dengan pasal yang berlaku dalam UU Pasar Tiban, tidak boleh seperti ini. Tapi si Ibu maunya tetap seperti ini. Pelanggaran harus diberi sanksi. Saya memberi sanksi dengan mengambil dua potong roti milik si Ibu. Apakah itu terlalu berat jika dibandingkan dengan ketidak adilan yang sudah diciptakan oleh si Ibu?”

Begitulah si bapak Ketua kegiatan bazaar menjelaskan masalah sebenarnya. Manggut-manggut tanda mengerti. Itulah ekspresi pak MABES POLRI.

Sebagai penutup, si Bapak ketua berucap, “saya berani mati demi membela yang benar! Saya pernah ditodong pistol karena membela yang benar, Pak!”

Istana Mungil di sudut Kota Purwokerto, 07-03-10
(08.57wib)

Tidak ada komentar: