Rabu, 14 Oktober 2009

Kesetaraan Gender Ada di Kuda Kepang


Artikel: Rosyidah Purwo*
Pembicaraan mengenai kesetaraan gender sudah lama sekali didengungkan. Dipastikan, hampir di setiap lini kehidupan, ada. Bahkan permasalahn ini sudah bukan merupakan ha lasing lagi di telinga masyarakat Indonesia.

Dari bidang pendidikan, ekonomi, pekerjaan, bahkan sampai pekerjaan rumah tangga pun tak lepas dari pembicaraan ini. Kesetaraan gender bahkan sudah merambah lebih luas lagi, tidak melulu dalam bidang kehidupan sosial masyarakat, namun dalam masalah tradisi dan kebudayaan pun ada.

Kuda kepang, atau kata lainnya adalah kuda lumping, pada mulanya merupakan kesenian tradisional yang hanya dimainkan oleh laki-laki saja. Namun, seiring dengan berkembangnya, kuda kepang mulai mengalami perubahan. Perempuan yang pada awalnya tidak pernah menyentuh kesenian ini, sekarang mulai dilibatkan.

Penampilan Kuda Kepang “Langgeng Budoyo”, contohnya. Dua orang perempuan ikut berpartisipasi dalam pertunjukannya. Sepanjang pertunjukkan, dua perempuan ini menari kuda kepang dengan begitu lihainya. Tak tampak kecanggungan sedikitpun selama dalam pertunjukkan.

Sejak dua bulan, terhitung sampai Juni 2009, kelompok kuda kepang asal Walik, Purbalingga, ini mengambil perempuan untuk ikut berpartisipasi dalam setiap pertunjukannya.

Meskipun tujuan semula adalah hanya untuk fariasi agar penonton lebih tertarik menyaksikan setiap pertunjukkan yang dipentaskan, namun tak dapat dipungkiri, bahwa kesetaraan gender ternyata sudah merambah dalam bidang kesenian tradisional. Kuda kepang, khususnya.

Tidak ada komentar: