Tampilkan postingan dengan label JOURNEY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JOURNEY. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Januari 2011

Tiga Hari Bersama KPI


Oleh: Narsiti

Musik mengalun indah mengawali kegiatan hari itu. Terlihat sekitar 46 guru tengah serius mengerjakan soal. Tiga orang triner dari KPI duduk manis di depan sambil mengawasi peserta ujian. Kurang lebih 20 soal disajikan sebagai awal kegiatan.

“Sudah selesai?” tiba-tiba sebuah suara mengagetkan peserta yang tengah asyik mengerjakan test. Dalam waktu 15 menit, peserta diharuskan sudah selesai mengerjakan soal sebanyak 20. Tentu saja sebagian besar menjawab TIDAK. Untuk menciptakan suasana rileks dan menyenangkan, peserta diajak untuk melakukan senam otak bersama. Senam ini sempat membuat derai tawa peserta. Yah, itulah sekilas gambaran kegiatan SMART TEACHING yang diadakan oleh LPP dalam rangka meningkatkan kualitas guru-guru Al quran di seluruh unit sekolah.

Menjadi guru kreatif, inspiratif, dan professional bukanlah hal yang mudah, namun butuh proses, pengalaman, pelatihan, dan keberanian. Karena hal inilah LPP Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto mengundang KPI (Kualita Pendidikan Indonesia) dari Surabaya untuk menjadi trainer selama tiga hari.

Kegiatan yang digelar selama tiga hari di SD Al Irsyad Al Islamiyyah 02 Purwokerto lantai dua ini berjalan dengan asyik dan menyenangkan, terbukti dari 46 peserta, hanya satu peserta yang ijin, meskipun kegiatan dilaksanakan mulai dari pukul 17.30 wib sampai 17.00 wib. Sebagi penutup, peserta diminta untuk mengerjakan test dari materi pelatihan yang sudah diterima selama tiga hari.

Menikmati Libur Sekolah di Wisata Batur Agung, Banyumas, Jawa Tengah





Oleh: Narsiti*)

Udara pagi itu terasa sejuk. Cuaca juga cerah. Sekitar 40 kendaraan sepeda motor tertata rapi di sebuah halaman sekolah dasar. Terlihat sekitar 80 orang dengan pakaian olahraga, tengah siap di atas sepeda motor mereka dan di dalam mobil yang sudah disediakan.

Tak ingin kalah, saya juga ikut menanggalkan pakaian seragam mengajar, berganti dengan pakaian olahraga. Celana panjang parasut coklat sedikit ada warna merah di bagian saku, dipadu padan dengan kaos warna merah dan jilbab hitam, besepatu olahraga dan satu tas bekal dan pakaian ganti. Dengan dibonceng sepeda motor, saya meluncur menuju tempat lokasi.

Yah, rupa-rupanya hari itu seluruh guru dan karyawan SD Al Irsyad Al Islamiyyah 01 Purwokerto hendak mengadakan rekreasi bersama dalam rangka mengisi liburan semester. Guru-guru yang biasanya berkutat dengan kegiatan sekolah yang cukup padat dan melelahkan, kali ini diajak oleh kepala sekolah untuk menikmati liburan bareng. Tujan rekreasi kali ini adalah sebuah objek wisata yang masih terbilang baru di kabupaten Banyumas, tepatnya di desa Kebaseh, Kecamatan Kedung Banteng, Kota Purwokerto, Kabupaten Banyumas.

Lokawisata in tidak begitu jauh dari pusat kota, Purwokerto. Jarak tempuh dari pusat kota, kurang lebih sekitar 200 km. Jika ditempuh dengan menggunakan kendaraan bermotor hanya membutuhkan waktu 30 menit. Jika tidak memiliki kendaraan bermotor, jangan khawatair, sebab untuk menuju ke loka wisata alam ini juga tersedia transportasi umum.

Jika dari terminal Purwokerto, carilah angkutan kota warna orange jurusan Karang Lewas. Dari Karang Lewas cari saja angkutan pedesaan warna biru jurusan Kebaseh, Kedung Banteng. Cukup dengan 5 ribu rupiah saja, kita bisa sampai tujuan. Atau jika tidak ingin ribet bergonta-ganti kendaraan, ada juga armada TAXI. Cukup dengan 50 ribu rupiah saja, bisa diantar samai ujuan.

Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan alam yang maha indah. Di kanan kiri kami seperti sebuah lukisan alam yang luar biasa. Pegunungan dan pohon-pohon yang masih hijau dan udara yang belum terpolusi.

Selama 30 menit menempuh perjalanan, saya bersama mbak Umi, teman baik hati yang memberi tumpangan sepeda motor, sampai di lokasi. Di sana kami disambut oleh petugas yang sudah ditunjuk oleh sekolah. Motor diparkir di tempat parkir yang belum ditata dengan baik. Apa adanya dan ala kadarnya, mungkin karena masih baru, begitu pikir saya.

Sebuah lapangan yang biasa digunakan untuk kegiatan hiburan jika ada moment-moment tertentu, dan biasa digunakan untuk sepak bola oleh penduduk setempat jika lapangan sedang tidak digunakan. Di sebelah kiri lapangan ada wahana Out Bond. Hanya dengan 10 ribu rupiah bisa menikmati aneka macam out bond. Salah satunya adalah flaying fox.

Melepas lelah, saya dan rombongan duduk-duduk santai di depan sebuah warung kecil milik salah sau warga di sana. Merasa sudah hilang lelah, saya mengajak teman untuk menyusuri petilasan Batur Agung. Masuk ke dalamnya akan terlihat sebuah taman hijau yang mungil. Begitu masuk, akan disuguhi pemandangan yang sangat indah. Batu-batu bertahtakan tumbuhan lumut bercampur paku yang sudah puluhan tahun lamanya. Pohon-pohon Angsana besar-besar dan tinggi-tinggi. Berada di dalamnya, serasa berada di dalam ruangan ber-AC. Rimbun pohon-pohon yang masih menghiasi lokasi ini menciptakan udara sejuk dan sehat. Lumut bercampur tanaman paku membentuk permadani hijau yang menghiasi setiap jengkal tanah di petilasan ini.

Di sana ada sebuah bangunan rumah kecil, tepatnya seperti pos ronda. Di dalam bangunan ini terdapat batu-batu berbentuk aneh, yang konon adalah peninggalan Purbakala. Tempat ini sering dijadikan sebagai sarana untuk memanjatkan doa bagi semua agama yang ada di Indonesia.

Menurut sejarahnya, berdasarkan informasi yang saya dapat dari juru kunci Batur Agung, pak Sobirin, yang sudah bekerja sejak 18 tahun lalu, sekaligus juga berprofesi sebagai staff Purbakala Jawa Tengah, konon tempat ini dulunya adalah tempat para laki-laki pilihan. Tidak dijelaskan siapakah laki-laki pilihan yang disebut. Maka dari itu, tempat tersebut dinamakan Batur Agung. Batur berarti Tempat, Agung berarti Laki-Laki pilihan.

Di sini terdapat wahana Joging Track, cukup dengan 2 ribu rupiah dapat menikmati wahana ini sambil menikmati udara sejuk dan pohon-pohon hijau yang besar dan tinggi. Di sini juga disediakan ATV + Trail, namun tak ada satupun dari kami yang ingin mencoba. Maka hanya melihat-llihat dan memegang-megang saja, kami sudah cukup puas. Hanya dengan 5 ribu rupiah, ATV + Trail ini dapat dinikmai sepuasnya. Asal tidak takut dan tidak malu.

Merasa puas, saya dan beberapa teman menyewa Trans Animal, sebuah kendaraan milik Taman Safari yang dibeli untuk melengkapi fasilitas di objek wisata ini, untuk menuju ke lokasi Water Park. Kendaraan yang masih ber-plat B ini, kami gunakan sebagai sarana transportasi menuju lokasi water park.

Dengan membayar dua ribu rupiah, trans animal ini akan mengantar sampai ke lokasi water park yang berjarak tempuh 1 km dari tempat parkir. Di sini hanya ada dua buah trans animal yang berbentuk gajah dan harimau. Jadi, jika lokawisata ini sedang dibanjiri pengunjung, harus berani rebut-rebutan sebab tidak disediakan kartu antrian. Jadi, begitu membeli karcis, langsung saja naik.

Selama naik trans animal, kami disuguhi pemandangan alam yang luar biasa indah. Di sebelah kiri adalah pegunungan dan bentangan sawah yang hijau dan indah. Di sebelah kanan adalah bukit yang dipenuhi semak.

Sampai di wahana water park, rombongan mencoba beberapa paket wisata yang ada. Seperti anak-anak, kami bermain-main plorotan sambil bermain cipratan air di kolam renang. Jika ada yang memiliki anak-anak, di sana juga disediakan mainan anak-anak seperti mandi bola, ayunan, njot-njotan, dll.

Melepas rasa penasaran, saya dan teman-teman mencoba Arum Jeram. Hanya dengan 25 ribu, kami dapat menikamti arum jeram yang hanya berjarak 2,5 km. Jika merasa belum puas dengan jarak ini, dapat dilanjutkan pada jarak yang lebih jauh, namun harus menambah 75 ribu rupiah. Dari jembatan Cibun sampai Jembatan Gantung bawah. Sayangnya waktu tidak mencukupi, maka kami tidak menengok pada lokasi jembatan gantung yang dimaksud.

Merasa sudah puas, kami segera berkemas-kemas. Ganti pakaian dan makan siang. Ingin hati adalah menikmati menu Bakso yang dijajakan di sana, namun ternyata dari pihak sekolahan sudah menyediakan menu makan siang sendiri, dari pada boros-boros, saya urungkan niat untuk menikmati bakso buatan penduduk lokasi wisata Batur Agung.

Yah, di lokawisata ini ada beberapa penjual makanan yang siap melayani. Berbagai menu makan ada di sini. Ada baso. Harga satu porsi baso hanya 7 ribu rupiah. Ada juga mie ayam, cukup dengan uang 5 ribu rupiah, kita sudah bisa mendapatkan satu mangkok mie ayam. Ada juga pedagang asongan yang menjajakan berbagai macam jajan anak dan aneka macam snack ringan.

Tentu saja harganya jauh lebih mahal. Jika menginginkan nasi rames, bisa juga dipesan melalui ibu penjual baso dan mie ayam. Tentu saja menunya tidak semenatik dan sebanyak di perkotaan, sebab penjual ini memang tidak menyediakan nasi rames. Hanya jika ada yang pesan saja.
Merasa sudah cukup, saya dan rombongan pulang dengan perasaan bahagia dan bersiap-siap menyongsong masuk sekolah.

Ingin liburan yang asyik tapi harga terjangkau? Datang saja di loka wisata ini. Dijamin asyik dan menyenangkan!

Senin, 01 Maret 2010

Tentang Sebuah Desa di Kabupaten Madukara, Banjarnegara

By: Rosyidah Purwo
Bau tanah basah dan sedap rumput basah yang dibakar itu mengingatkanku akan masa lalu di mana aku masih kecil. Hidup di sebuah desa dengan masyarakat yang masih bersahaja. Ramah tamah, gotong royong, dan saling bantu adalah norma utama yang masih dijunjung tinggi.

Siang hari di Minggu itu aku menginjakkan kaki di sebuah tempat yang….maha indah. Tempat di mana aku dulu pernah merasakan suasana seperti ini. Basah, sejuk, dingin, harum, menawan, hangat, dan harmonis.

Perjalananku hari ini adalah petualang yang maha indah. Adalah sebuah petualangan yang…aku tidak mampu menguraikannya dengan kata-kata, hanya mampu untuk aku rasakan.
Kebun salak itu, pohon-pohon rindang itu, orang-orang itu, ramah-tamah itu, kolam ikan itu, adalah de javu hari ini. Aku pernah merasakannya dulu. Bukan dalam mimpi, namun sebuah kenyataan hidup, sebuah pengalaman masa lalu.

Bapak setengah tua itu menyapa kami dengan logat ngapaknya. Suara dan senyumannya hangat, akrab, dan ramah. Aku menyukai ini. Seorang ibu setengah tua, hampir seumuran dengan mama, menyapa dengan cara yang sama. Hangat, ramah, tulus.
Jarum jam menunjukkan pukul 11.12wib. namun begitu, terik matahari tak terasa panas, mekipun terik matahari ini sudah mampu mengeringkan baju milik temanku yang pagi tadi dicuci.

Sebab penasaran dengan pohon-pohon salak yang tumbuh hampir di sepanjang jalan, kami menyusuri sepanjang jalan beraspal sebatas jangkauan kami. Sungguh kawan, ini sangat indah. Indah sekali. Sejuk, sepi, hangat, ramah, dan…..damai!
Salak adalah denyut nadi kehidupan masayar akat ini. Salak adalah sumber penghidupan mereka. Hampir 99% masayarakat di sana hidup dengan bermata pencaharian sebagai petani salak.

Termasuk seorang bapak yang hari ini rumahnya aku kunjungi. Ia dapat menyekolahkan dan menghidupi keluarganya yang berjumlah 5 orang, dari bertani salak. Dari cerita yang dilontarkan oleh anak perempuannya, tanaman salak sangat menguntungkan dibandingkan padi.

Salak hanya membutuhkan sekali waktu tanam. Sementara padi berkali-kali waktu tanam. Dengan perawatan yang tidak perlu terlalu rumit dan njlimet, seorang petani salak mampu memeroleh hasil panen setiap tiga bulan sekali dengan jumlah yang cukup banyak.
Jika sukses, maka 2 hektar tanah mampu menghasilkan tujuh ton salak dengan harga per kilonya adalah 3-7 ribu rupiah. Jika harga sedang murah, salak dapat mencapai harga 2 ribu rupiah per kilonya. Dapat dibayangkan, jika setiap rumah memiliki sedikitnya 0,5 hektar kebun salak, maka dapat dipastikan, mereka tidak perlu lagi menjadi buruh bangunan, atau TKW di Negara tetangga.

Tempat ini sangat indah. Alami, sejuk, damai, dan tidak bising. Tempat ini juga memiliki potensi yang baik untuk budi daya ikan air tawar dan lele. Bebrapa rumah penduduk memiliki tempat penyemaian bibit lele dan ikan air tawar. Ini saya dapatkan saat berkunjung di desa tetangga yaitu, Rakit, Banjarnegara.

Di sana, selain penduduknya bertani salak, dan padi, juga membudidayakan ikan air tawar dan lele. Seorang penduduk yang sempat kami singgahi rumahnya, membudidayakan lele dan air tawar sebagai penghasilan tambahan selain ia juga memiliki kebun salak.
Menurut informasi dari anak perempuan si empunya rumah, jika sedang untung maka dapat memanen ikan lele dan air tawar dengan jumlah yang banyak. Kebetulan ia tidak menyebutkan jumlah pastinya. Dari panen salak dan ikan air twar serta lele inilah, masyarakat di sini dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka, bahkan menyekolahkan anak-anak mereka.

Cerita dari seorang anak perempuan yang aku singgahi rumahnya hari ini, banyak dari masyarakat setempat yang menyekolahkan anak-anak mereka dari hasil bertani salak. Hampir sebagian besar masyarakat di desa ini menyekolahkan anak-anak mereka sampai jenjang SMU. Bayangkan, ini ukuran sebuah desa. Di mana belum ada transportasi umum yang masuk (angkot, koprades, dan semacamnya).

Beberapa orang yang sadar akan pentingnya pendidikan, menyekolahkan anak-anak mereka sampai jenjang pendidikan perguruan tinggi. Namun, beberapa masyarakat yang (menurut info: masih menganggap harta benda adalah tujuan utama, mereka hanya menyekolahkan anaknya sampai jenjang SMU).

Mereka Enggan Bertani Padi.Pohon salak hanya dengan sekali tanam, kemudian untuk selanjutnya hanya butuh perawatan. Dari awal masa tanam sampai dapat berbuah untuk pertama kalinya membutuhkan massa tiga tahun. Setelah itu, untuk dapat memeroleh panen selanjutnya, pohon salak tidak perlu ditanam lagi pohon salak yang baru. Cukup dengan perawatan teratur, pohon salak dapat menghasilkan buah salak yang baik, berkualitas, dan hasil produksi juga banyak. Ini yang membuat mereka enggan menanam padi.

Menurut mereka, padi tidak praktis dan tidak efektif. Pohon padi membutuhkan penanaman kembali setelah masa panen. Setelah ditanam membutuhkan perawatan yang njlimet. Mencangkul, menyemai bibit, memupuk, membersihkan laha, memupuk kembali, kemudian masa tunggu untuk waktu panen, setelah masa panen datang masih perlu lagi perawatan, padi harus dirontokkan dari tangkai, lalu disellip.
Dengab perawatan yang njlimet ini belum tentu dapat menghasilkan panen yang baik. Belum tentu jumlah pengeluaran untuk perawatan sebanding dengan hasil yang diperoleh. Bahkan bias jadi rugi banyak. Inilah yang membuat masyarakat di sini enggan menanam padi.

Petani Kreatif, Inovatif, Tangguh, Ulet, dan Cerdas. Merasa bosan dengan tanaman salak, beberapa orang mencoba untuk mengganti tanaman di lahan mereka denga padi. Namun, setelah mereka menempuh proses dan massa perawatan, hasil yang diperoleh tidak sebanding dengan tenaga dan modal yang mereka keluarkan. Lalu mereka mengganti dengan tanaman salak lagi.

Jika dilihat dari cara mereka melakukan usaha, mereka sebenarnya adalah petani yang kreatif, Inovatif, dan cerdas. Mereka kreatif dan inovatif dengan mengganti tanaman salak ke tanaman padi. Mencari perbandingan tanaman mana yang lebih banyak mendatangkan income. Selain itu, untuk meningkatkan taraf hidup mereka, mereka mencari penghasilan lain dengan bertani lele dan ikan air tawar.

Pola pikir mereka untuk mengganti tanaman salak ke tanaman padi, menciptakan lapangan pekerjaan baru dengan memelihara ikan air tawa dan lele membuktikan mereka adalah petani yang kreatif, inovatif, tangguh, ulet, dan cerdas.

Tidak akan memiliki keberanian bagi seseorang yang tidak memiliki sifat tersebut untuk melakukan hal-hal menantang. Dikatakan menantang sebab, mereka berani mengganti tanaman salak yang sudah jelas-jelas mendatangkan penghasilan yang baik ke tanaman padi. Mereka berupaya menciptakan sumber penghasilan lain dengan memelihara ikan lele dan iar tawar. Pola seperti Ini tidak akan dimiliki oleh orang-orang yang pola pikirannya sudah stag, yang menganggap cukup dengan hanya bertanam salak.

Memlihara tanaman salak, memelihara lele, dan ikan air tawar butuh keuletan dan budaya kerja keras yang tinggi. Sebab jika tidak, bukan tidak mungkin lagi hasil panen tidak dapat diperoleh dengan baik. Ini hanya dimiliki oleh merek ayang memiliki kecerdasan, keuletan, tangguh. Tak mudah goyah oleh rasa lelah. Teguh pendirian pada produksi pangan.

Harus Diperhatikan. Melihat pola hidup semacam ini. Pemerintah harus memerhaitkankehidupan mereka. Mereka adalah petani-petani produktif. Pemerintah harus memebrikan “perlindungan” atas kinerja mereka. Jika tidak, bias jadi suatu saat sistem seperti ini menjadi hilang akibatnya adalah pemerintah akan kehilangan lapangan pekerjaan. Efek buruknya adalah semakin bertambahnya pengangguran.
Pemerintah dapat memberikan perhatian dengan cara melindungi hasil produksi mereka dari para tengkulak yang sewaktu-waktu dapat memainkan harga dengan seenak perut sendiri tanpa memerhatikan proses produksi, dan efek dari sistem pemberian harga yang mereka lakukan.

Purwokerto,Minggu, 0 3 Januari 2010

Minggu, 23 September 2007

Berwisata ke Dermaga Wisata Waduk Mrica di Banjarnegara

Oleh: Rosyidah Purwo

Setalah otak dipress untuk menyelesaikan soal-soal ujian, tentunya butuh hiburan dong. Enaknya kemana ya…? Bingung? Nggak usah bingung. Datang aja ke Banjarnegara. Sebuah daerah yang terkenal dengan Dawet Ayu-nya. Dah tahu bukan? Yah, di Banjarnegara, ternyata menyajikan sebuah objek wisata yang tak kalah menariknya dengan objek wisata yang terdapat di daerah lain.

Kenal dengan nama PLTA Panglima Besar Jendral Soedirman? Atau nama Waduk Mrica? Ya, itu dia! Objek wisata Dermaga Wisata namanya. Objek wisata ini berupa pemandangan alam asri yang dipadu asrikan dengan danau buatan atau bendungan. Waduk ini merupakan waduk terbesar di ASIA Tenggara lho. Wow, besar sekali!

Di sini kita dapat menikmati indahnya pemandangan alam dan udara segar pegunungan. Yang menjadi objek wisata utama di Dermaga Wisata adalah Pemandangan alamdan pemandangan air bendungan yang membentang luas sekali seperti danau.

Pada hari libur, objek wisata ini dipenuhi pengunjung. Biasanya adalah mereka para remaja SMA. Untuk masuk ke objek wisata ini, cukup membeli tiket mausuk sebesar Rp. 2000, 00. Murah meriah bukan?

Waduk ini dibangun pada tahun 1982 dan selesai 1987. Lama banget bukan? Dengan memiliki kedalaman 230 meter. Huuu dalam sekaliiii. Nama sebenarnya dari PLTA ini adalah PLTA Panglima Besar Jendral Soedirman. Namun, karena letaknya di desa Mrica, PLTA ini lebih sering disebut dengan PLTA Waduk Mrica

.Pada mulanya tujuan dibangunnya PLTA ini adalah untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat Banjarnegara namun, seiring dengan berjalannya waktu, PLTA ini dijadikan sebagai objek wisata selain juga masih digunakan sebagai sumber tenaga listrik di daerah Banjarnegara.

Objek wisata Dermaga Wisata dibuka pada tahun 1989. Bersamaan dengan diresmikannya lapangan Golf yang berada di bagian barat waduk Mrica.

Mengingat luasnya objek wisata ini, alangkah baiknya apabila hendak berkunjung ke lokasi ini menggunakan sepeda motor atau kendaraan pribadi. Dengan menggunakan kendaraan pribadi, dapat mengurangi lelah sekaligus juga dapat berkeliling mengitari waduk.

Jangan takut kecewa, sebab disepanjang waduk disajikan pemandangan alam yang sangat indah dan asri. Kita juga dapat melihat indahnya pemandangan kaki bukit Lawe.

Jika tidak ada kendaraan sendiri, di objek wisata ini juga disediakan jasa angkutan berupa ojek dan becak. Tapi biasanya meraka hanya mengantar dari pintu masuk sampai ke objek wisatanya saja. Untuk menggunakan jasa ini dikenai biaya sebesar Rp. 5000, 00 per orang.

Pintu masuk menuju ke lokasi ini dibagi menjadi dua yaitu pintu masuk utara dan selatan. Sangat mudah untuk menemukan kedua pintu masuk ini sebab letaknya di tepi jalan raya.

Di objek wisata ini juga disediakan spead boat dan perahu bagi mereka yang ingin berkeliling waduk Mrica melalui jalan air. Cukup dengan membeli tiket sebesar Rp. 10.000, 00 untuk spead boat dan Rp. 1000, 00 untuk perahu. Tinggal pilih sesuai selera.

Mengingat besarnya bendungan ini, tentunya kita berpikir, dari mana sumber airnya? Ternyata bendungan ini mengambil airnya dari sungai Serayu. Itu lho, sungai terpanjang di Jawa Tengah. Ada juga sih yang mengatakan mengambil airnya dari mata air di daerah Mrica yang berasal dari lereng pegunungan Dieng. Konon ceritanya mata air ini tidak pernah mengering, meskipun kemarau panjang melanda.

Lapangan Golf dan Hutan Pinus
Berkunjung ke objek wisata ini rasa-rasanya kurang puas jika tidak mencicipi bermain golf. Ya, di objek wisata ini juga terdapat lapangan golf. Lapangan ini dibuka untuk umum. Jadi, siapa saja dapat menggunakannya.

Dengan membayar uang sewa lapangan sebesar Rp. 30.000, 00 kita dapat menikmati bagaimana rasanya bermain golf. Tapi harus membawa peralatan main sendiri sebab pihak pengelola wisata tidak menyediakan.

Di objek wisata ini juga terdapat hutan pinus. Hutan pinus ini sengaja dibuat oleh pihak pengelola PLTA dengan tujuan untuk menghindari terjadinya erosi tanah di sekitar waduk. Pada awalnya, daerah hutan pinus ini berupa lahan pertanian penduduk yang kebanyakan ditanami palawija.

Lelah berkeliling di objek wisata ini, kita dapat menikmati suguhan makanan yang sudah disediakan dikantin-kantin. Ada Bakso, Mi Ayam, Mi Rebus dan lain-lain. Makanan ringan juga disediakan juga di sini.

Jangan kaget jika harganya lebih mahal dengan makanan yang dijual di luar objek wisata ini. Tapi jangan khawatir, meskipun harganya sedikit lebih mahal kita masih tetep bisa kok menikmati makanan di kantin. Tidak sampai mencapai ratusan ribu. Nah, bagaimana? Siap untuk berlibur?

Laporan Perjalanan Semarang, Nusakambangan, Kebumen

By: Rosyidah Purwo

Tujuan wisata jama’ah Arridlo yang diketuai oleh mbah Gito mengadakan kunjungan wisata atau lebih sopannya adalah kunjungan ziarah ke petilasan Syekh Subakir di Goa Ratu Cilacap.

Berangkat dari Semarang tepat pukul 00.00 wib. Pada pukul 04.30 wib rombongan sampai di hotel Graha Baru di Kebumen. Di sana rombongan melakukan sholat subuh berjamaah, mandi, dan makan pagi. Makan pagi dengan menu adalah mi goreng, ayam goreng Kentucky, dan sop. Ditambah dengan minum teh hangat. Selama satu jam lamanya rombongan beristirahat di sana.

Rombongan melakukan perjalanan kembali tepat pukul 07.00 wib dan sampai di dermaga Wijayapura pada pukul 11.15 wib. Dermaga Wijayapura adalah pintu masuk pertama untuk menuju ke Nusakambangan.

Sampai di sana kami tidak dapat masuk ke nusakambangan, dengan alasan sudah ditutup untuk umum semenjak ada tsunami. Jika hendak ke sana memerlukan surat ijin terlebih dahulu.

Kemudian sebagai gantinya, kami mengalihkan tujuan objek wisata ke wisata Bahari Cilacap. Bagi saya tidak ada ruginya sebab saya dapat memperoleh banyak pengetahuan dari wisata Bahari ini. Dengan menggunakan kapal Mentari yang berlantai dua dengan jumlah kursi kurang lebih lima puluh, kami menyususri wisata bahari kurang lebih selama satu jam.

Dengan dipandu oleh guid yang berupa suara kaset, kami menikmati wisata ini sambil serius mengdengarkan petunjuk atau keterangan-keterangan yang diberikan oleh guid. Agak kecewa memang sebab, terkadang keterangan-keterangan tersebut tidak pas atau tidak tepat dengan objek yang dilihat.

Di wisata Bahari ini kita akan melihat dermaga Sodong. Yaitu pintu masuk ke dua menuju pulau Nusakambangan. Dermaga Sodong ini dapat dicapai dengan menggunakan kapal verry atau kapal kecil macam Mentari. Di dermaga Sodong ini dapat ditemukan beberapa toko-toko kecil penjual makanan, minuman, makanan kecil, tanaman hias.

Bagi yang hendak masuk ke Nusakambangn, namun belum memiliki bekal yang cukup, diharapkan membeli bekal di dermaga Sodong, sebab jika sudah masuk ke Nusakambangan tidak akan bisa ditemui took-toko penjual makanan.

Di wisata Bahari kami dapat melihat penambangan pasir, kilang minyak terbesar di Asia Tenggara, perahu-perahu besar pengangkut barang-barang ekspor impor (beras, gula, ikan, kayu, pasir, minyak dll).

Diperlihatkan pula mengenai bahan baku / mentah dari pembuat semen yang diproduksi di Indonesia. Hampir 87% bahan baku tersebut diambilkan dari pulau Nusakambangan. Bahan pokok pembuat semen ini berwarna kuning.

Nusakambanan sebagai pulau yang memiliki potensi alam berupa bahan baku pembuat semen telah dikontrak selama 200 tahun oleh pabrik semen. Diperlihatkan juga mengenai mesin penghancur batu-batu untuk dijadikan semen.

Diperlihatkan pula mengenai perumahan yang digunakan sebagai tempat untuk menampung siswa-siswa dari…….yang mana nantinya jika mereka hampir mendekati masa lulus mereka akan diuji di pulau Nusakambangan selama tiga hari tiga malam tanpa dibekali apapun. Hanya korek api, minyak gas, dan tali.

Di sana mereka disuruh membebaskan sandera. Yaitu seorang petugas keamanan di Nusakambangan yang disekap di suatu ruangan LP dengan berbagai macam rintangan.

Kami menemukan istilah baru terkait dengan kelautan yaitu bui yaitu berupa menara pendek berwana merah dan hijau yang mana jika waktu malam akan menyalakan lampu sesuai dengan warna dari menara itu. Jika di darat alat tersebut dinamakan rambu-rambu. Ini berfungsi sebagai rambu-rambu bagi kapal pada waktu mala.

Dengan hanya membayar Rp 9000, 00 - Rp. 10000, 00 per orang, kita dapat menikmati wisata ini dengan santai dan nyaman. Ber 35 kami menikmati wisata Bahari ini. Setelah selama satu jam kami berkeliling menikmati wisata Bahari dengan kapal Mentari, kami melanjutkan perjalanan ke Benteng Pendem.

Benteng Pendem
Benteng Pendem merupakan benteng peninggalan Belanda yang digunakan sebagai benteng pertahanan pada masa perang. Dikatakan benteng Pendem karena benteng ini terpendam di bawah tanah. Luasnya bias mencapai……km.

Melihat dari dekat keadaan benteng Pendem sungguh memprihatinkan, sebab benteng ini terlihat tidak terawat. Dinding-dindingnya terlihat mulai menghijau karena lumut. Juga adanya goresan-goresan tangan jahil pengunjung.

Benteng pendem sekarang lebih banyak dijadikan sebagai objek wisata alam, bukan sebagai objek wisata sejarah.

Memang masih adanya beberapa pohon-pohon besar, dan beberapa tanaman-tanaman perdu membuat lokasi benteng Pendem sangat nyaman untuk dijadikan objek wisata. Taman bermain, gazebo, sekarang dapat dijumpai di sini.

Melihatnya membuat kepala berpikir bahwa betapa kuat dan kokohnya pasukan belanda saat itu. Betapa moderennya orang-orang Belanda pada masa itu. Ya, sebab beberapa barak yang ditemui menunnjukkan adanya hal itu.
Barak pengobatan,………..

Andaikan wisata bersejarah ini endapat perhatian yang cukup dari pemerintah, mungkin nasib benteng Pendem tidak seperti sekarang. Kusam, berlumut, dan tak terawat.

Memang jika dilihat ke dalam-dalamnya kelihatan bersih, namun, sepertinya bersihnya ini adalah karena adanya pengujung yang masuk secara berkala dan berganti-ganti sepanjang tahun.

Di loka wisata ini dapat ditemui wisata belanja barang-barang antik dari kerang. Sepanjang jalan masuk menuju ke benteng pendem terdapat banyak sekali toko-toko yang menjual barang-barang antic yang terbuat dari kerang. Gorden, gantingankunci, guci, bros, manik-manik, kalung gelang, boneka dan masih banyak lagi yang lainnya.

Di loka wisata ini kita dapat melihat keberadaan teluk penyu yang terlihat kotor. Di sini kita dapat dapat menikmati pemandangan alam berupa laut lepas dengan berdiri kokoh di sebelah kananya, pulau Nusakambangan. Jika kita melihat ke arah kiri, maka kita dapat menikmati leut lepas yang hanya disekat oleh langit putih. Melihatnya, mata kita seperti dibius untuk tetap melihat ke sana.

Di pantainya di dapati beberapa perahu-perahu kecil penangkap ikan milik nelayan.

Jangan Takut Kelaparan
Berbeda dengan di Nusakambangan. Bagi pengunjung yang kehabisan bekal, jangan takut kelaparan sebab di loka wisata ini tersedia banyak sekali penjual makanan baik yang keliling maupun berupa warung makan.

Sayangnya untuk menuju ke loka wisata ini kita harus emebawa kendaraan sediri sebab tidak ada kendaraan yang menuju ke objek wisata ini. Ada kendaraan satu-satunya yaitu becak. Dengan naik becak kita hanya ditarik ongkos sebesar Rp. 5000, 00. Jika tidak igin naik becak, dapat ditepuh dengan cara berjalan kakai. Namun dapat cukup melelahkan.

Akan tetapi jangan khwatir, sebab disepanjang jalan menuju ke loka wisata ini kita disuguhi pemandangan yang cukup menarik yaitu bentangan laut yang luas, kilang minyak, penjual-penjual souvenir.

Diobjek wisata ini, kami menghabiskan waktu kurang lebih selama 1 ½ jam. Setelah berkeliling mengitari benteng Pendem, rombongan melanjutkan perjalanan ke objek wisata Goa Jatijajar di Kebumen. Mebutuhkan waktu kurang lebih 2 jam. Di tengah perjalanan rombongan berhanti untuk melaksanakan sholat ashar dan dzuhur berjamaah.

Goa Jatijajar
Sampai di objek wisata ini kurang lebih pukul 16.30 wib. Sampai di sini hari sudah mulai gelap.Maka niat untuk mengambil gambar-gambar yang berada di luar goa, saya urungkan. Sebab menurut informasi salah satu dari teman kami, gambar yang diambil bisa jelek karena pencahayaannya tidak mendukung.

Goa Jatijajar terletak di Kebumen. Terletak 21 kilometer ke arah selatan Gombong, atau 42 kilometer arah barat Kebumen. Gua Jatijajar berada di kaki pegunungan kapur. Objek wisata ini sungguh sangat menarik. Pegunungan kapur ini memanjang dari utara dan ujungnya di selatan menjorok ke laut berupa sebuah tanjung.

Folklor
Gua Jatjajar ini pada jaman dahulu merupakan tempat bersemedi Raden Kamandaka, yang kemudian mendapat wangsit. Cerita Raden Kamandaka ini kemudian dikenal dengan legenda Lutung Kasarung. Visualisasi dari legenda tersebut dapat kita lihat dalam diorama yang ada di dalam goa itu.

Goa ini telah ada sejak tahun….ada mitos atau cerita bersejarah pada masa ………….

Sampai di mulut goa, kami disuguhi pemandangan yang cukup menakjubakan.
Untuk masuk ke dalam goa terlebih dahulu harus menyususri jalan setepak yang cukup menanjak. Mulut goa yang menganga lebar sepertinya sudah siap-siap untuk menerkam dan melumat kita. Sebagai fenomena alam, goa ini tidak kalah menariknya dengan goa-goa lainnya yang memiliki stalagmite dan stalagtit.

Setelah mendengar cerita dari guide kami berdoa memuji keagungan tuhan dengan kuasanya yang telah membuat sebuah keajaiban alam, goa Jatijajar. Sambil melihat stalagtit yang berdiri kokoh di depanku, aku mengucap tasbih dan tahlil berulang-ulang. Memuji keagungan Tuhan.

Melihat kokohnya stalagtit dan stalagmite yang berdiri kokoh aku berpikir bahwa ‘otak manusia yang bodoh jika belajar terus menerus maka lama kelamaan dia akan seperti stalagtit atau stalakmit. Hanya dari tetesan-tetesan air kecil-kecil bias menjadi sebuah gundukan batu yang besar dan kuat. Begitupun dengan manusia. Atau dengan diriku. Suatua saat jika aku terus menerus belajar untuk menulis dan istiqomah serta disiplin, aku pasti bias menjadi seperti sstalagmit dan stalaktit. Tumbuh besar, dipuji orang, dikagumi, dan diburu. Itulah aku suatu saat yang akan dipuji, dikagumi, dan diburu sebagai seprang penulis jika aku belajar terus menerus.’


Di dalam goa ini terdapat dua sendang yaitu sendang mawar dan sendang Kantil. Menurut kepercayaan masyarakat, kedua sendang ini memiliki kelebihan. Sendang mawar, konon ceritanya dapat membuat awet muda. Sedangkan sendang Kanthil dapat membuat seseorang cepat dapat jodoh.

Kedua sendang ini merupakan sumber mata air yang sangat potensial karena tidak pernah mengalami kekeringan walau musim kemarau sekalipun. Sumber mata air ini adalah berasal dari Puserbumi untuk sendang Mawar dan untuk sendang Kanthil berasal dari sumber Jombor.

Air yang mengalir dari kedua sendang ini mengalir menjadi satu aliran menuju pada sebuah kolam besar yang mana sekarang kolam tersebut tidak lagi menunjukkan bahwa itu adalah sebuah kolam. Namun tidak lebih seperti sebuah sungai yang menglir dengan airnya yang jernih.

Di objek wisata ini kita disuguhi pemandangan alam yang damai dan nyaman. Udara gunung yang segar masih dapat dinikmati di objek wisata ini. Tapi hati-hati di objek wisata ini, jika penerangan sedang tidak ada alias mati lampu maka bersiap-siaplah untuk menelusuri jalan dengan gelap mata. Apalagi jika tidak dibantu dengan penerangan sinar dari senter.

Panjang goa ini kurang lebih 25 km. Dan dalamnya 40 meter. Untuk menyusurinya membutuhkan sedikitnya waktu 1 jam. Di objek wisata ini kami dibantu oleh seorang guide yang siap menemani dan memberikan cerita-cerita seputar goa Jatijajar.

Sampai di luar goa waktu sudah menunjukkan mahgrib Maka kami bercepat-cepat untuk melaksanakan sholat maghrib yang dijamak dengan isya setelah sebelumnya kami berwudlu di sendang Mawar dan sendang Kanthil. Setelah melaksanakan sholat jamaah bersama kami melanjutkan perjalanan untuk pulang.

Dalam perjalanan pulang hujan besar mengguyur bus yang kami naiki. Suasana hening menjadi teman perjalanan setelah hamir sehari penuh melakukan perjalanan wisata. Maka masing-masing berada dalam dunia mimpinya.


Pukul 19.30 rombongan sampai di hotel Graha Baru. Di hotel Graha Baru kami makan malam dan istirahat. Di sana kami disuguhi menu yang cukup membuat perut menjadi lapar. Mi goreng, guramih goreng, capcai, tumis tahu ayam. Ditambah dengan minuman teh hangat dan pencuci mulut yaitu semangka. Di tengah hujan besar, dengan ditemani lagu-lagu jawa, masing-masing terlena dengan makanan dan suguhan musik-musiknya.

Setelah perut kenyang, pikiran tenang, dan tentunya dengan badan yang lelah kami melanjutkan perjalanan menuju rumah masing-masing. Dengan membawa perut yang kenyang, pikiran tenang, dan tubuh yang lelah ditambah dengan suasana bus yang tenang, kami terlena dalam tidur. Tak terasa sudah sampai di rumah.

Jam 02.00 wib kami sampai di pondok.
Aku menulis ini tanggal 07 April 2007 jam 02.30 sampai jam 04.18 wib.
Selesai!