Sabtu, 4 April 2009. Anak-anak kelas IV SD Al Irsyad Al-Islamiyyah I Purwokerto, mengadakan kunjungan ke pabrik tahu Kalisari, Cilongok.
Disertai dengan 8 guru pendamping, sejumlah 151 anak, melakukan out door study. Out door study kali ini mengusung tema “Cintai Produk dalam Negeri”.
Dengan menggunakan 24 mobil milik orang tua wali murid, rombongan berangkat pukul 07.30 wib. Selama kurang lebih 30 menit, rombongan tiba di lokasi.
Desa Kecil yang Produktif
Kalisari adalah desa kecil, bagian dari wilayah Banyumas. Letaknya tidak begitu jauh dengan objek wisata Curug Cipendok. Bagi yang sudah pernah berkunjung ke objek wisata Jurug Cipendok, tentunya akan melewati desa ini.
Meskipun dibilang kecil, desa ini terbilang produktif. Sebanyak 460 kelompok produsen tahu, berdiri di wilayah ini. Jumlah yang bisa dibilang cukup besar.
Bisa dibilang, industri tahu adalah nafas kehidupan wilayah ini. Sebab hampir sebagian warganya berkecimpung dalam kegiatan ini.
Tahu sudah mampu memberi penghidupan layak bagi beberapa warga di daerah ini. Adalah bapak Taruno. Salah satu produsen tahu di daerah ini yang sejak 1987 menggeluti profesi sebagai produsen tahu.
Dengan usahanya, ia sudah mampu menyekolahkan anak-anaknya sampai jenjang perguruan tinggi. Bahkan sudah mampu membeli mobil sendiri.
Tetap Semangat!
Meskipun di pabrik tahu udara terasa panas, tidak membuat anak-anak enggan untuk melakukan kegiatan ini.
Disebabkan rasa penasaran dan tuntutan tugas, mereka bersemangat mengamati proses pembuatan tahu dari awal sampai akhir.
Kami Cinta Produk Dalam Negeri
Dengan peluh bercucuran dan wajah merah merona, anak-anak melakukan kegiatan dengan penuh antusias.
Kurang lebih dua setengah jam anak-anak melakukan pengamatan, wawancara, dan mengerjakan tugas.
Setelah kegiatan selesai, acara dilanjutkan dengan ajang belanja dan menyantap tahu bersama. Siapa yang menyangka anak-anak begitu antusias membeli dan memakan produk dalam negeri ini? Yah, sebab kami mencintai produk dalam negeri.
Kamis, 16 Juli 2009
Kamus Bahasa “Gak-Guk”
“I am sorry. May I use your printer? Uridu an printout my file” (Maaf, bolehkah saya menggunakan printer kamu? Saya ingin…..)
“Yes. Tafadol.” (Ya, silakan).
“As al. Ustadz, are you know where is my mirsamah?” (Tanya. Ustad, apakah kamu tahu di mana penggaris saya?”
“La a’rif.” (Tidak tahu).
Siapa yang pernah mendengar percakapan semacam ini? Atau barangkali baru pernah membacanya?
Ini adalah percakapan yang terjadi antara saya dengan teman seprofesi. Orang yang belum tahu, mungkin akan memicingkan sebelah matanya terlebih dahulu atau mengerutkan dahi. Atau bertanya-tanya dalam hati, “orang ini ngomong apa?” Karena ini bahasa asing.
Bukan, ini sebenarnya bukan bahasa asing. Bahasa ini sudah sering kita jumpai. Bahsa Arab dan Inggris. Hanya saja penggunannya dicampur-campur. Kok bisa? Bisa saja. Kenyataannya di masyarakat ada.
Jangan bingung. Ini adalah perckapan bahasa inggris yang disisipi bahasa arab. Percakapan macam ini, terjadi antara guru-guru di salah satu sekolah dasar terbesar di Banyumas. Tepatnya di SD Al-Irsyad Al-Islamiyyah Purwokerto I.
Percakapan macam ini berlaku kepada semua staff pengajar mulai dari pukul 06.45 wib sampai jam sekolah selesai, 14.30 wib. Pemberlakuan ini terkait dengan peraturan dari sekolah yang mewajibkan bagi guru-gurunya untuk menggunakan dwilingual, bahasa inggris dan bahasa arab. Sebab bahasa Indonesia atau bahasa Jawa dianggap not allowed.
Pemberlakuan penggunaan dwilingual tersebut tentunya bukan karena sebab. Hal ini dilakukan dalam rangka meningkatkan mutu sumber daya manusia.Sebab sekolah dapat bermutu tentunya karena sumber daya manusianya juga bermutu. Salah satunya penguasaan bahasa asing.
Terlebih, apabila sekolah tersebut sudah memiliki nama sebagai sekolah standar internasional. Tentunya harus selalu didukung dengan segala sesuatu yang serba bermutu. Selain SDM, juga kurikulum, proses pembelajaran, fasilitas sekolah, administrasi, dan lain-lainnya.
Dipandang sekilas, sungguh luar biasa sekolah ini! Namun, jika ditengok lebih jauh (baca; grammer) sungguh kacau. Sepanjang sepengetahuan saya, belum pernah saya menemui bahasa macam ini.
Satu lagi, berhubung sebagian besar guru masih sedikit yang mampu menggunakan secara aktif dua bahasa ini, maka kerap terjadi “gak-guk” antar pengguna.
Maka jangan heran jika sering dijumpai guru bercakap-cakap dengan megeluarkan kata “eeee…, apa yah” yang diulang berkali-kali sambil megang kepala atau menggerak-gerakkan tangan. Tanda ia sedang berpikir dan berusaha keras untuk mengungkapkan kata yang ia tidak mampu diucapkan dengan bahasa asing.
Beruntung masih ada toleransi penggunaan bahasa Jawa atau Indonesia untuk menerjemah kata yang tidak dipahami. Sehingga “gak-guk” tidak perlu terjadi terlalu lama.
Apapun bentuknya, ini adalah sebuah model baru yang unik. So, perlu dijaga agar tidak hilang. Mungkin sekolah perlu membuatkan kamus bahasa unik. Kalau saya boleh usul, saya akan mengusulkan, “Kamus Bahasa Gak-Guk”.
“Yes. Tafadol.” (Ya, silakan).
“As al. Ustadz, are you know where is my mirsamah?” (Tanya. Ustad, apakah kamu tahu di mana penggaris saya?”
“La a’rif.” (Tidak tahu).
Siapa yang pernah mendengar percakapan semacam ini? Atau barangkali baru pernah membacanya?
Ini adalah percakapan yang terjadi antara saya dengan teman seprofesi. Orang yang belum tahu, mungkin akan memicingkan sebelah matanya terlebih dahulu atau mengerutkan dahi. Atau bertanya-tanya dalam hati, “orang ini ngomong apa?” Karena ini bahasa asing.
Bukan, ini sebenarnya bukan bahasa asing. Bahasa ini sudah sering kita jumpai. Bahsa Arab dan Inggris. Hanya saja penggunannya dicampur-campur. Kok bisa? Bisa saja. Kenyataannya di masyarakat ada.
Jangan bingung. Ini adalah perckapan bahasa inggris yang disisipi bahasa arab. Percakapan macam ini, terjadi antara guru-guru di salah satu sekolah dasar terbesar di Banyumas. Tepatnya di SD Al-Irsyad Al-Islamiyyah Purwokerto I.
Percakapan macam ini berlaku kepada semua staff pengajar mulai dari pukul 06.45 wib sampai jam sekolah selesai, 14.30 wib. Pemberlakuan ini terkait dengan peraturan dari sekolah yang mewajibkan bagi guru-gurunya untuk menggunakan dwilingual, bahasa inggris dan bahasa arab. Sebab bahasa Indonesia atau bahasa Jawa dianggap not allowed.
Pemberlakuan penggunaan dwilingual tersebut tentunya bukan karena sebab. Hal ini dilakukan dalam rangka meningkatkan mutu sumber daya manusia.Sebab sekolah dapat bermutu tentunya karena sumber daya manusianya juga bermutu. Salah satunya penguasaan bahasa asing.
Terlebih, apabila sekolah tersebut sudah memiliki nama sebagai sekolah standar internasional. Tentunya harus selalu didukung dengan segala sesuatu yang serba bermutu. Selain SDM, juga kurikulum, proses pembelajaran, fasilitas sekolah, administrasi, dan lain-lainnya.
Dipandang sekilas, sungguh luar biasa sekolah ini! Namun, jika ditengok lebih jauh (baca; grammer) sungguh kacau. Sepanjang sepengetahuan saya, belum pernah saya menemui bahasa macam ini.
Satu lagi, berhubung sebagian besar guru masih sedikit yang mampu menggunakan secara aktif dua bahasa ini, maka kerap terjadi “gak-guk” antar pengguna.
Maka jangan heran jika sering dijumpai guru bercakap-cakap dengan megeluarkan kata “eeee…, apa yah” yang diulang berkali-kali sambil megang kepala atau menggerak-gerakkan tangan. Tanda ia sedang berpikir dan berusaha keras untuk mengungkapkan kata yang ia tidak mampu diucapkan dengan bahasa asing.
Beruntung masih ada toleransi penggunaan bahasa Jawa atau Indonesia untuk menerjemah kata yang tidak dipahami. Sehingga “gak-guk” tidak perlu terjadi terlalu lama.
Apapun bentuknya, ini adalah sebuah model baru yang unik. So, perlu dijaga agar tidak hilang. Mungkin sekolah perlu membuatkan kamus bahasa unik. Kalau saya boleh usul, saya akan mengusulkan, “Kamus Bahasa Gak-Guk”.
Menjaga Tradisi Tidak Sekadar Biaya
Membaca artikel Chuby Tamansari berjudul “Karena Bangga juga Butuh Biaya” yang dimuat pada Radar Banyumas, edisi Minggu Wage, 27 Januari 2008, saya jadi teringat dengan artikel saya yang pernah dimuat di Suara Merdeka, edisi Senin, 07 Mei 2007, berjudul “Jankkis”. Kebetulan temanya sama, yiatu mengenai kebudayaan atau tradisi.
Dalam artikel tersebut, saya menulis mengenai musik tradisional “Jankkis”. Yaitu musik tradisional kentongan yang diciptakakan oleh sekolmpok anak muda dari Jalan Kissaran di salah satu wilayah di Banyumas.
Dari sebuah artikel yang saya unduh dari internet, munculnya musik ini berawal dari sebuah kebiasaan anak-anak muda bermain gitar sambil kongkow-kongkow tanpa ada tujuan yang jelas. Melihat hal demikian, seorang bapak yang merasa kasihan dengan mereka, mencetuskan ide untuk membuat paguyuban seni musik yang mana anggotanya adalah dari anak-anak muda tersebut.
Berawal dari modal yang sangat sederhana, maka berdirilah paguyban seni musik kentongan Jankkis. Seni musik ini dinamakan Jankiss, diambil dari nama jalan di mana anak-anak muda tersebut suka kongkow-kongkow. Yaitu Jalan Kissaran, yang kemudian disingkat menjadi Jankiss.
Perlahan-lahan, bulan demi bulan, paguyuban seni musik ini mulai unjuk gigi. Barangkali karena orang yang melihat merasa nyaman dan senang dengan musik ini, maka beberapa kali paguyuban seni musik ini dimintai untuk tampil dalam rangka meramaikan acara-acara resepsi.
Paguyuban seni musik ini juga berulang kali menjuarai berbagai macam lomba musik tradisional yang pernah diadakan di Banyumas. Bahkan dalam sebuah artikel disebutkan, paguyuban seni musik ini pernah diundang untuk meramaikan acara di beberapa hotel di Banyumas.
Paguyuban seni musik tradisional Jankiss boleh dikatakan sudah mulai mendapatkan tempat di sebagian hati masyarakat, khususnya Banyumas. Maka jangan sampai kesenian ini nantinya hilang sia-sia begitu saja. Maka perlu adanya pewarisan atau regenerasi.
Chuby mengatakan, bangga (baca=menjaga) membutuhkan biaya. Namun pendapat saya mengatakan, selain biaya, untuk melestarikan budaya termasuk paguyuban seni musik Jankiss, juga dibutuhkan adanya proses pewarisan kepada generasi yang akan datang.
Meskipun biaya ada, namun tidak ada proses regenerasi/pewarisan pada generasi selanjutnya, niscaya sebuah tradisi atau budaya dapat eksis keberadaannya. Lihatlah seperti tradisi Doger, Angguk, permainan anak Nini Thowok, sampai sekarang sudah tidak ada bekasnya.
Jika saya bertanya pada anak-anak di sekitar rumah saya, mereka hampir tidak mengenal istilah tersebut. Padahal dulunya Doger, Angguk, dan permainan anak Ninik Thowok pernah menjadi hal yang faforit di hati masyarakat.
Saya sendiri juga mengalaminya. Jika saya ditanya bagaimana bentuk dan cara memainkannya, pasti saya tidak tahu. Salah satu sebabnya karena saya tidak pernah dikenalkan oleh orang tua atau orang-orang sebelum saya.
Maka saya sependapat dengan seorang Antropolog Indonesia, Koentjaraningrat, yang mengatakan bahwa, kebudayaan itu perlu adanya sistem pewarisan. Jadi, satu hal yang menjadi penyebab hilangnya tradisi ini karena tidak adanya proses pewarisan budaya dari generasi sebelumnya ke generasi yang berikutnya.
Memang tidak dapat disalahkan, adanya globalisasi dan modernisasi, membuat masyarakat—Indonesia—lebih cenderung untuk lebih melirik pada budaya asing yang dianggap lebih “nendang” di kalangan generasi muda. Sedang sesuatu yang berbau masa alau dianggap kuno.
Padahal ketiga macam tradisi ini, jika diuri-uri keberadaannya bisa menjadi sesuatu yang sangat berharga. Dan dapat menjadi “harta karun” yang tiada duanya. Jika dijual sebagai aset wisata, bukan tidak mungkin banyak orang yang “meliriknya”.
Terutama di mancanegara yang sangat mengagumi kebudayaan Indonesia yang mereka katakan sebagai sesuatu yang unik dan “wah”.
Siapa sih orangnya yang mau kehilangan produk atau hasil karya sendiri? Tidak ada, kecuali orang-orang bodoh yang tidak dapat menghargai hasil karya sendiri. Atau barangkali masyarakat kita semakin bodoh?
So, bukan hanya biaya yang dapat melanggengkan sebuah tradisi atau budaya. Namun, perlu adanya sebuah pewarisan budaya.
Dalam artikel tersebut, saya menulis mengenai musik tradisional “Jankkis”. Yaitu musik tradisional kentongan yang diciptakakan oleh sekolmpok anak muda dari Jalan Kissaran di salah satu wilayah di Banyumas.
Dari sebuah artikel yang saya unduh dari internet, munculnya musik ini berawal dari sebuah kebiasaan anak-anak muda bermain gitar sambil kongkow-kongkow tanpa ada tujuan yang jelas. Melihat hal demikian, seorang bapak yang merasa kasihan dengan mereka, mencetuskan ide untuk membuat paguyuban seni musik yang mana anggotanya adalah dari anak-anak muda tersebut.
Berawal dari modal yang sangat sederhana, maka berdirilah paguyban seni musik kentongan Jankkis. Seni musik ini dinamakan Jankiss, diambil dari nama jalan di mana anak-anak muda tersebut suka kongkow-kongkow. Yaitu Jalan Kissaran, yang kemudian disingkat menjadi Jankiss.
Perlahan-lahan, bulan demi bulan, paguyuban seni musik ini mulai unjuk gigi. Barangkali karena orang yang melihat merasa nyaman dan senang dengan musik ini, maka beberapa kali paguyuban seni musik ini dimintai untuk tampil dalam rangka meramaikan acara-acara resepsi.
Paguyuban seni musik ini juga berulang kali menjuarai berbagai macam lomba musik tradisional yang pernah diadakan di Banyumas. Bahkan dalam sebuah artikel disebutkan, paguyuban seni musik ini pernah diundang untuk meramaikan acara di beberapa hotel di Banyumas.
Paguyuban seni musik tradisional Jankiss boleh dikatakan sudah mulai mendapatkan tempat di sebagian hati masyarakat, khususnya Banyumas. Maka jangan sampai kesenian ini nantinya hilang sia-sia begitu saja. Maka perlu adanya pewarisan atau regenerasi.
Chuby mengatakan, bangga (baca=menjaga) membutuhkan biaya. Namun pendapat saya mengatakan, selain biaya, untuk melestarikan budaya termasuk paguyuban seni musik Jankiss, juga dibutuhkan adanya proses pewarisan kepada generasi yang akan datang.
Meskipun biaya ada, namun tidak ada proses regenerasi/pewarisan pada generasi selanjutnya, niscaya sebuah tradisi atau budaya dapat eksis keberadaannya. Lihatlah seperti tradisi Doger, Angguk, permainan anak Nini Thowok, sampai sekarang sudah tidak ada bekasnya.
Jika saya bertanya pada anak-anak di sekitar rumah saya, mereka hampir tidak mengenal istilah tersebut. Padahal dulunya Doger, Angguk, dan permainan anak Ninik Thowok pernah menjadi hal yang faforit di hati masyarakat.
Saya sendiri juga mengalaminya. Jika saya ditanya bagaimana bentuk dan cara memainkannya, pasti saya tidak tahu. Salah satu sebabnya karena saya tidak pernah dikenalkan oleh orang tua atau orang-orang sebelum saya.
Maka saya sependapat dengan seorang Antropolog Indonesia, Koentjaraningrat, yang mengatakan bahwa, kebudayaan itu perlu adanya sistem pewarisan. Jadi, satu hal yang menjadi penyebab hilangnya tradisi ini karena tidak adanya proses pewarisan budaya dari generasi sebelumnya ke generasi yang berikutnya.
Memang tidak dapat disalahkan, adanya globalisasi dan modernisasi, membuat masyarakat—Indonesia—lebih cenderung untuk lebih melirik pada budaya asing yang dianggap lebih “nendang” di kalangan generasi muda. Sedang sesuatu yang berbau masa alau dianggap kuno.
Padahal ketiga macam tradisi ini, jika diuri-uri keberadaannya bisa menjadi sesuatu yang sangat berharga. Dan dapat menjadi “harta karun” yang tiada duanya. Jika dijual sebagai aset wisata, bukan tidak mungkin banyak orang yang “meliriknya”.
Terutama di mancanegara yang sangat mengagumi kebudayaan Indonesia yang mereka katakan sebagai sesuatu yang unik dan “wah”.
Siapa sih orangnya yang mau kehilangan produk atau hasil karya sendiri? Tidak ada, kecuali orang-orang bodoh yang tidak dapat menghargai hasil karya sendiri. Atau barangkali masyarakat kita semakin bodoh?
So, bukan hanya biaya yang dapat melanggengkan sebuah tradisi atau budaya. Namun, perlu adanya sebuah pewarisan budaya.
Kentongan, Kreatifitas Baru Mencari Rejeki
Kretivitas muncul manakala kesulitan menghadang. Minimnya jumlah lapangan kerja, menimbulkan banyaknya pengagguran.
Ironisnya, jumlah pengangguran yang ada, tidak hanya dari kalangan orang-orang usia senja, namun dari usia muda juga tak kalah banyaknya.
Sebagai daerah agraris, Banyumas memiliki banyak sekali pengangguran. Dikatakan oleh bupati Banyumas, bahwa jumlah pengangguran di Banyumas sudah mencapai 400 ribu jiwa.
Tentunya dengan jumlah pengangguran sebanyak ini, dapat menimbulkan dampak buruk bagi pemkab Banyumas. Bisa jadi angka kemiskinan dan kriminalitas meningkat. Sebab ini selalu berbanding lurus dengan jumlah pengangguran.
Melalui kreatifitas sekelompok pemuda di Banyumas, musik kentongan, dapat menjadi alternatif pengurangan angka pengangguran.
Musik Unik yang Menjadi Teman Ronda
Kesenian musik kentongan merupakan musik khas masyarakat Banyumas, Jawa Tengah. Musik ini dimainkan oleh 10 hingga 20 orang, dengan dipimpin seorang atau dua orang mayoret. Biasanya pertunjukkan musik ini dilakukan di tempat-tempat wisata, festival daerah Banyumasan dan juga pada acara-acara daerah.
Awal terbentuknya musik kentongan ini pada mulanya adalah dari ide beberapa orang yang menjaga malam (ronda) di suatu daerah Banyumas. Mereka biasanya membawa alat dari bambu untuk dibunyikan sebagai tanda penjagaan dan juga menunjukkan waktu.
Dalam pergelaran musik kentongan, biasanya disertakan alat yang menyerupai gitar. Namun suaranya bukan dihasilkan dari petikan senar, namun dari bambu yang digesek. Juga ditambah dengan angklung, samba, dan bas yang terbuat dari drum plastik yang dilapisi karet ban mobil.
Kemudian alat ini dibunyikan beraturan sehingga menimbulkan suara yang merdu, lalu mereka memainkan kentongan ini meniru lagu-lagu daerah Banyumasan dan juga musik lagu jaman sekarang.
Pada dasarnya ini untuk menghilangkan kejenuhan saat ronda, kemudian berkembang menjadi alat musik khas Banyumas. Kesenian kentongan ini dapat mengiringi semua jenis lagu, namun lebih pas lagi bila mengiringi lagu-lagu daerah atau lagu yang religius.
Musik Serba Guna
Musik kentongan tergolong musik yang sangat unik, sebab musik ini dapat digunakan dalam acara resmi maupun non resmi. Tak kalah hebatnya dengan musik-musik pop modern.
Kesenian ini dapat disewa, apabila menginginkannya. Misalkan pada acara pernikahan, khitanan, atau hanya ingin sekadar tahu saja. Kesenian ini cukup terkenal juga di wilayang Jawa Tengah, terbukti setiap festival kesenian kentongan di Banyumas pesertanya bukan hanya dari daerah Banyumas saja tetapi ada juga dari luar Banyumas.
Dalam sosialisasi pemilihan Gubernur Jawa Tengah, di kabupaten Banyumas diselenggarakan dengan menampilkan kesenian kentongan dengan berkeliling pasar dan pusat-pusat keramaian.
Dalam kesempatan lain, musik kentongan juga pernah menyambut atlet Banyumas dalam Porda Jateng 2005, yang keluar sebagai juara umum.
Tampil Nyrntrik
Saat tampil di depan public, dalam acara perlombaan atau pertunjukkan, grup kentongan ini akan tampil dengan nyentrik dengan dandanan dan pakaian seragam yang nentrik pula.
Ratusan kelompok kentongan telah ada di Banyumas. Dalam sebuah artikel on line disebutkan terdapat 300 kelompok musik kentongan.
Sarana Mengais Rejeki
Kentongan sudah bisa dijadikan sebagai saran mengais rejeki yang dikelola dengan kegiatan ngamen.
Pengamen bukan peminta-minta. Mereka adalah penjual suara, sama halnya dengan artis atau grup band yang menjual suaranya. Bedanya, pengamen tempatnya di pinggiran jalan, di bus-bus, di terminal, dan tempat-tempat keraiaman.
Grup band memiliki tempat khusus, di panggung-panggung hiburan, di karaoke, dan tempat-temapat yang lebih layak lainnya. Mereka sama-sama mendapat uang setelah “aksi” nyanyinya selesai.
Grup Mahatidana Budaya, salah satu dari sekian banyak brup kentongan yang sudah mampu menikmati hasil dari trampilan yang mereka miliki.
Dari hasil ngamen, mereka mamapu membuka berbagai unit usaha, yang terkadang tidak beralian dengan seni kentongan. Ini adalah asset besar bagi pemerintah Banyumas. Setidaknya mereka dapat meringankan beban pemkab Banumas dalam penyediaan lapangan kerja.
Jika dilakukan dengan serius, bukan tak mungkin lagi grup musik ini dapat membuka lapangan kerja. Membuka bengkel pelatihan untuk masyarakat di luar Banyumas yang berminat belajar musik kentongan.
Seperti yang dilakukan oleh grup musik kentongan Mahatidana. Dari keseriusan yang mereka lakukan, mereka mampu mengumpulkan uang lebih dari 20 juta rupiah.
Dari hasil tersebut, mereka sudah memiliki unit usaha seperti keterampilan menjahit, pembuatan paving blok. Dari berbagai hasil unit usaha ini, kelompok ini dapat mengaryakan anggotanya yang semula menganggur.
Jika main di dalam kota, sekali main mereka mamapu memeroleh pemasukan minimal 1.5 juta rupiah. Di wilayah pinggiran Banyumas sekitar 2.5 juta rupiah, sedangkan di luar Banyumas sampai 3 juta rupiah.
Bagi masyarakat yang menghendaki hiburan menarik tapi dananya sedikit, dapat juga menyaksiskan perunjukkan musik ini. Sebab dengan hanya memberi seribu rupiah, dapat menikmati musik ini selama kurang lebih 15 menit.
Tentunya, jika pertunjukkan musik ini eksis dan makin berkembang, pedagang bambu akan mengalami permintaan tinggi. Dengan begitu, masyarakat akan meproduksi bamboo yang cukup guna memenuhi kebutuhan pasar. Maka terbukalah sebuah peluang usaha baru yang tentunta mamapu menyerap tenaga kerja baru.
Segala sesuatau yang ada di masyarakat sifatnya tidak pernah langgeng. Tentunya keberadaan music ini suatu saat akan mengalami kemunduran. Mengingat music ini bukan jenis music pop modern yang banyak disukai oleh kalangan anak muda sekarang.
Barangkali musik ini dapat dijadikan dalam satu paket wisata BATURADEN apabila menghendaki keberadaannya tetap eksis, seperti halnya kuda lumping, dan lengger yang sampai sekarang masih tetap ekis di Banyumas meskipun usianya sudah sangat tua.
Alternatifnya lainnya adalah, pengelola harus pintar-pintar memberikan sentuhan lebih pada jenis musik ini agar masyarakat tetap melirik pada musik ini. Misalnya dengan memasukkan alat musik modern ke dalamnya namun tidak mnghilangkan jenis musik aslinya.
Untuk menghindari adanya hal demikain, barangkali pemerintah ahrus memberikan perhatian khusus terhadap keberadaan musik ini. Jangan sampai, karena kurang perhatian, kemudian musik ini hilang di tengah masyarakat.
Ironisnya, jumlah pengangguran yang ada, tidak hanya dari kalangan orang-orang usia senja, namun dari usia muda juga tak kalah banyaknya.
Sebagai daerah agraris, Banyumas memiliki banyak sekali pengangguran. Dikatakan oleh bupati Banyumas, bahwa jumlah pengangguran di Banyumas sudah mencapai 400 ribu jiwa.
Tentunya dengan jumlah pengangguran sebanyak ini, dapat menimbulkan dampak buruk bagi pemkab Banyumas. Bisa jadi angka kemiskinan dan kriminalitas meningkat. Sebab ini selalu berbanding lurus dengan jumlah pengangguran.
Melalui kreatifitas sekelompok pemuda di Banyumas, musik kentongan, dapat menjadi alternatif pengurangan angka pengangguran.
Musik Unik yang Menjadi Teman Ronda
Kesenian musik kentongan merupakan musik khas masyarakat Banyumas, Jawa Tengah. Musik ini dimainkan oleh 10 hingga 20 orang, dengan dipimpin seorang atau dua orang mayoret. Biasanya pertunjukkan musik ini dilakukan di tempat-tempat wisata, festival daerah Banyumasan dan juga pada acara-acara daerah.
Awal terbentuknya musik kentongan ini pada mulanya adalah dari ide beberapa orang yang menjaga malam (ronda) di suatu daerah Banyumas. Mereka biasanya membawa alat dari bambu untuk dibunyikan sebagai tanda penjagaan dan juga menunjukkan waktu.
Dalam pergelaran musik kentongan, biasanya disertakan alat yang menyerupai gitar. Namun suaranya bukan dihasilkan dari petikan senar, namun dari bambu yang digesek. Juga ditambah dengan angklung, samba, dan bas yang terbuat dari drum plastik yang dilapisi karet ban mobil.
Kemudian alat ini dibunyikan beraturan sehingga menimbulkan suara yang merdu, lalu mereka memainkan kentongan ini meniru lagu-lagu daerah Banyumasan dan juga musik lagu jaman sekarang.
Pada dasarnya ini untuk menghilangkan kejenuhan saat ronda, kemudian berkembang menjadi alat musik khas Banyumas. Kesenian kentongan ini dapat mengiringi semua jenis lagu, namun lebih pas lagi bila mengiringi lagu-lagu daerah atau lagu yang religius.
Musik Serba Guna
Musik kentongan tergolong musik yang sangat unik, sebab musik ini dapat digunakan dalam acara resmi maupun non resmi. Tak kalah hebatnya dengan musik-musik pop modern.
Kesenian ini dapat disewa, apabila menginginkannya. Misalkan pada acara pernikahan, khitanan, atau hanya ingin sekadar tahu saja. Kesenian ini cukup terkenal juga di wilayang Jawa Tengah, terbukti setiap festival kesenian kentongan di Banyumas pesertanya bukan hanya dari daerah Banyumas saja tetapi ada juga dari luar Banyumas.
Dalam sosialisasi pemilihan Gubernur Jawa Tengah, di kabupaten Banyumas diselenggarakan dengan menampilkan kesenian kentongan dengan berkeliling pasar dan pusat-pusat keramaian.
Dalam kesempatan lain, musik kentongan juga pernah menyambut atlet Banyumas dalam Porda Jateng 2005, yang keluar sebagai juara umum.
Tampil Nyrntrik
Saat tampil di depan public, dalam acara perlombaan atau pertunjukkan, grup kentongan ini akan tampil dengan nyentrik dengan dandanan dan pakaian seragam yang nentrik pula.
Ratusan kelompok kentongan telah ada di Banyumas. Dalam sebuah artikel on line disebutkan terdapat 300 kelompok musik kentongan.
Sarana Mengais Rejeki
Kentongan sudah bisa dijadikan sebagai saran mengais rejeki yang dikelola dengan kegiatan ngamen.
Pengamen bukan peminta-minta. Mereka adalah penjual suara, sama halnya dengan artis atau grup band yang menjual suaranya. Bedanya, pengamen tempatnya di pinggiran jalan, di bus-bus, di terminal, dan tempat-tempat keraiaman.
Grup band memiliki tempat khusus, di panggung-panggung hiburan, di karaoke, dan tempat-temapat yang lebih layak lainnya. Mereka sama-sama mendapat uang setelah “aksi” nyanyinya selesai.
Grup Mahatidana Budaya, salah satu dari sekian banyak brup kentongan yang sudah mampu menikmati hasil dari trampilan yang mereka miliki.
Dari hasil ngamen, mereka mamapu membuka berbagai unit usaha, yang terkadang tidak beralian dengan seni kentongan. Ini adalah asset besar bagi pemerintah Banyumas. Setidaknya mereka dapat meringankan beban pemkab Banumas dalam penyediaan lapangan kerja.
Jika dilakukan dengan serius, bukan tak mungkin lagi grup musik ini dapat membuka lapangan kerja. Membuka bengkel pelatihan untuk masyarakat di luar Banyumas yang berminat belajar musik kentongan.
Seperti yang dilakukan oleh grup musik kentongan Mahatidana. Dari keseriusan yang mereka lakukan, mereka mampu mengumpulkan uang lebih dari 20 juta rupiah.
Dari hasil tersebut, mereka sudah memiliki unit usaha seperti keterampilan menjahit, pembuatan paving blok. Dari berbagai hasil unit usaha ini, kelompok ini dapat mengaryakan anggotanya yang semula menganggur.
Jika main di dalam kota, sekali main mereka mamapu memeroleh pemasukan minimal 1.5 juta rupiah. Di wilayah pinggiran Banyumas sekitar 2.5 juta rupiah, sedangkan di luar Banyumas sampai 3 juta rupiah.
Bagi masyarakat yang menghendaki hiburan menarik tapi dananya sedikit, dapat juga menyaksiskan perunjukkan musik ini. Sebab dengan hanya memberi seribu rupiah, dapat menikmati musik ini selama kurang lebih 15 menit.
Tentunya, jika pertunjukkan musik ini eksis dan makin berkembang, pedagang bambu akan mengalami permintaan tinggi. Dengan begitu, masyarakat akan meproduksi bamboo yang cukup guna memenuhi kebutuhan pasar. Maka terbukalah sebuah peluang usaha baru yang tentunta mamapu menyerap tenaga kerja baru.
Segala sesuatau yang ada di masyarakat sifatnya tidak pernah langgeng. Tentunya keberadaan music ini suatu saat akan mengalami kemunduran. Mengingat music ini bukan jenis music pop modern yang banyak disukai oleh kalangan anak muda sekarang.
Barangkali musik ini dapat dijadikan dalam satu paket wisata BATURADEN apabila menghendaki keberadaannya tetap eksis, seperti halnya kuda lumping, dan lengger yang sampai sekarang masih tetap ekis di Banyumas meskipun usianya sudah sangat tua.
Alternatifnya lainnya adalah, pengelola harus pintar-pintar memberikan sentuhan lebih pada jenis musik ini agar masyarakat tetap melirik pada musik ini. Misalnya dengan memasukkan alat musik modern ke dalamnya namun tidak mnghilangkan jenis musik aslinya.
Untuk menghindari adanya hal demikain, barangkali pemerintah ahrus memberikan perhatian khusus terhadap keberadaan musik ini. Jangan sampai, karena kurang perhatian, kemudian musik ini hilang di tengah masyarakat.
Tembang Jawa ada di PAUD
Lha kae pak guru…
Rawuh ngasta buku
Karo mesem ngguyu, tanda tresna karo aku.
Pak guru sing gagah
Mulang bocah-bocah
Sing sregep sekolah tahun ngarep mesti munggah
Bait tulisan di atas bukanlah lagu macapat, bukan pangkur, bukan pula dandang gula. Tembang di atas adalah sebuah lagu anak daerah. Pada tahun 80-an, lagu ini masih kerap didendangkan di sekolah-sekolah dasar, di daerah Banyumas, terutama sekolah dasar yang ada dipedesaan. Lagu-lagu ini diajarkan saat anak-anak masih berada di lefel satu sampai tiga.
Syairnya sangat sederhana, namun bila dicermati, lagu ini mengandung nasihat yang luar biasa. Bertutur menenai nasehat orang tua kepada anaknya bahwa siapa yang rajin belajar pasti dapat naik kelas.
Sebagai individu yang pernah mengenyam pendidikan sekolah dasar selama enam tahun, saya mendapatkan materi lagu ini di kelas tiga. Di usianya yang sudah renta, guru saya mengajarkan dengan baik. Berkali-kali guru saya menyanyikannya, sampai akhirnya saya dan teman-teman dapat menghafal.
Setiap hari Sabtu, lagu ini dinyanyikan bersama-sama di kelas. Saat saya mengalami kesulitan menghafal, saya meminta kepada orang tua untuk mengajarkannya. Dengan bimbingan tambahan ini, dalam waktu dua hari, saya sudah mampu menghafalnya.
Dalam sebuah pembelajaran home schooling bahasa Inggris di rumah prestasi “Rumah Keong”, yang terletak di salah satu daerah di Banyumas, lagu ini digubah menjadi lagu berbahasa inggris dengan syairnya menunjukkan anggota tubuh. Tujuannya adalah agar anak-anak peserta home schooling lebih mudah menghafal anggota badan, tanpa harus dipusingkan dengan hafalan teks biasa.
Hasilnya memang luar biasa. Dengan cepat anak-anak mampu menghafal bagian tubuh yang jarang diucapkan. Seperti, siku, kening, pusar, tenggorokan, tengkuk, kuku, jari tengah, telunjuk, ibu jari, jari manis, jari kelingking, pantat, paha dan lain-lain.
Terlepas dari masalah materi menggubah lagu. Saat anak-anak ditanya, "pernah mendengar lagu ini ?" (sambil saya menyebutkan judul lagu serta lirik lagunya), serentak anak-anak menjawab, “tidak”. Tidak ada satu pun yang menjawab pernah.
Sungguh memprihatinkan! Jika anak-anak sekarang tidak mengetahui lagu-lagu tradisional masa lalu, bisa dipastikan, lambat laun lagu-lagu tradisional akan menghilang dari masyarakat. Tak ubahnya seperti dolanan anak yang semakin ditinggalkan oleh masyarakat.
Memang tidak bisa disalahkan, arus globalisasi menuntut semua orang harus berubah secara cepat, bergerak cepat, dan berpikir cepat, praktis, dan solutif. Jika tidak, maka akan tertinggal bahkan bisa jadi tidak diterima dalam kelompok masyarakat.
Barangkali hal inilah yang membentuk watak manusia sekarang semakin meninggalkan hal-hal yang dianggap kurang ngetrend, atau dengan kata lain, kuno. Sebab ada anggapan, yang kuno tidak memberi solusi, lamban, dan terkesan bertele-tele. Salah satunya adalah lagu-lagu tradisional daerah. Meskipun dalam lagu-lagu daerah terkandung nilai-nilai pendidikan.
Terkait dengan masalah PAUD yang akhir-akhir ini sedang marak dibicarakan, sepertinya tidak ada salahnya apabila kurikulum PAUD, di dalamnya disispkan materi lagu-lagu anak daerah. Meskipun dalam kurikulumnya, barang kali tidak ada materi lagu daerah, tidak ada salahnya apabila dari pihak pengajar sekali waktu menyisipkan lagu-lagu daerah.
Tujuannya, selain mengenalkan lebih dini nilai-nilai luhur tradisional, juga dapat menjadi antisipasi dini menghilangnya lagu tradisional (baca; tembang jawa) di masyarakat.
Permasalahnnya, mampukah PAUD melakukan yang demikian? Mengingat belum tentu semua pengajar di PAUD menguasai lagu-lagu tradisional. Bukan berarti mengabaikan kemampuan mereka, akan tetapi apakah mereka memiliki pengetahuan cukup terkait dengan materi budaya lokal seperti lagu-lagu daerah?
Ini menjadi PR bersama. Diharapkan tenaga pengajar PAUD di luar TPA/Q, memiliki kesadaran tinggi akan pentingnya nilai-nilai budaya masa lalu, sehingga dengan senang hati mengajarkan dan mengenalkannya.
Rawuh ngasta buku
Karo mesem ngguyu, tanda tresna karo aku.
Pak guru sing gagah
Mulang bocah-bocah
Sing sregep sekolah tahun ngarep mesti munggah
Bait tulisan di atas bukanlah lagu macapat, bukan pangkur, bukan pula dandang gula. Tembang di atas adalah sebuah lagu anak daerah. Pada tahun 80-an, lagu ini masih kerap didendangkan di sekolah-sekolah dasar, di daerah Banyumas, terutama sekolah dasar yang ada dipedesaan. Lagu-lagu ini diajarkan saat anak-anak masih berada di lefel satu sampai tiga.
Syairnya sangat sederhana, namun bila dicermati, lagu ini mengandung nasihat yang luar biasa. Bertutur menenai nasehat orang tua kepada anaknya bahwa siapa yang rajin belajar pasti dapat naik kelas.
Sebagai individu yang pernah mengenyam pendidikan sekolah dasar selama enam tahun, saya mendapatkan materi lagu ini di kelas tiga. Di usianya yang sudah renta, guru saya mengajarkan dengan baik. Berkali-kali guru saya menyanyikannya, sampai akhirnya saya dan teman-teman dapat menghafal.
Setiap hari Sabtu, lagu ini dinyanyikan bersama-sama di kelas. Saat saya mengalami kesulitan menghafal, saya meminta kepada orang tua untuk mengajarkannya. Dengan bimbingan tambahan ini, dalam waktu dua hari, saya sudah mampu menghafalnya.
Dalam sebuah pembelajaran home schooling bahasa Inggris di rumah prestasi “Rumah Keong”, yang terletak di salah satu daerah di Banyumas, lagu ini digubah menjadi lagu berbahasa inggris dengan syairnya menunjukkan anggota tubuh. Tujuannya adalah agar anak-anak peserta home schooling lebih mudah menghafal anggota badan, tanpa harus dipusingkan dengan hafalan teks biasa.
Hasilnya memang luar biasa. Dengan cepat anak-anak mampu menghafal bagian tubuh yang jarang diucapkan. Seperti, siku, kening, pusar, tenggorokan, tengkuk, kuku, jari tengah, telunjuk, ibu jari, jari manis, jari kelingking, pantat, paha dan lain-lain.
Terlepas dari masalah materi menggubah lagu. Saat anak-anak ditanya, "pernah mendengar lagu ini ?" (sambil saya menyebutkan judul lagu serta lirik lagunya), serentak anak-anak menjawab, “tidak”. Tidak ada satu pun yang menjawab pernah.
Sungguh memprihatinkan! Jika anak-anak sekarang tidak mengetahui lagu-lagu tradisional masa lalu, bisa dipastikan, lambat laun lagu-lagu tradisional akan menghilang dari masyarakat. Tak ubahnya seperti dolanan anak yang semakin ditinggalkan oleh masyarakat.
Memang tidak bisa disalahkan, arus globalisasi menuntut semua orang harus berubah secara cepat, bergerak cepat, dan berpikir cepat, praktis, dan solutif. Jika tidak, maka akan tertinggal bahkan bisa jadi tidak diterima dalam kelompok masyarakat.
Barangkali hal inilah yang membentuk watak manusia sekarang semakin meninggalkan hal-hal yang dianggap kurang ngetrend, atau dengan kata lain, kuno. Sebab ada anggapan, yang kuno tidak memberi solusi, lamban, dan terkesan bertele-tele. Salah satunya adalah lagu-lagu tradisional daerah. Meskipun dalam lagu-lagu daerah terkandung nilai-nilai pendidikan.
Terkait dengan masalah PAUD yang akhir-akhir ini sedang marak dibicarakan, sepertinya tidak ada salahnya apabila kurikulum PAUD, di dalamnya disispkan materi lagu-lagu anak daerah. Meskipun dalam kurikulumnya, barang kali tidak ada materi lagu daerah, tidak ada salahnya apabila dari pihak pengajar sekali waktu menyisipkan lagu-lagu daerah.
Tujuannya, selain mengenalkan lebih dini nilai-nilai luhur tradisional, juga dapat menjadi antisipasi dini menghilangnya lagu tradisional (baca; tembang jawa) di masyarakat.
Permasalahnnya, mampukah PAUD melakukan yang demikian? Mengingat belum tentu semua pengajar di PAUD menguasai lagu-lagu tradisional. Bukan berarti mengabaikan kemampuan mereka, akan tetapi apakah mereka memiliki pengetahuan cukup terkait dengan materi budaya lokal seperti lagu-lagu daerah?
Ini menjadi PR bersama. Diharapkan tenaga pengajar PAUD di luar TPA/Q, memiliki kesadaran tinggi akan pentingnya nilai-nilai budaya masa lalu, sehingga dengan senang hati mengajarkan dan mengenalkannya.
Senin, 06 Juli 2009
Mengajar Tak Sekadar Teori
Oleh: Rosyidah Purwo
Menjadi guru adalah cita-citaku sejak SMA. Maka ketika saya diterima sebagai tenaga pengajar di sebuah sekolah dasar di Purwokerto, saya senang luar biasa.
Dengan berbekal ijazah SI pendidikan Sosiologi Antropologi, saya mendaftarkan diri sebagai tenaga pengajar di sana.
Apabila dilihat, sebenarnya tidak nyambung sama sekali antara back ground pendidikan dengan pekerjaan. Mengingat Sosiologi dan Antropologi adalah ilmu yang dipakai di sekolah-sekolah menengah atas. Namun saya tetap saja percaya diri. Mengapa? Sebab ada embel-embel pendidikannya, jadi setidak-tidaknya pekerjaan saya tidak melenceng terlalu jauh.
Hari pertama mengajar, saya begitu percaya diri. Yah, memang harus ada rasa percaya diri, kalau tidak bagaimana dapat menghadapi anak-anak.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuhu!”
Saya begitu lantang menyampaikan salam. Tujuannya adalah agar semua anak dapat mendengar.
Namun apa yang terjadi? Anak-anak tidak menjawab salam saya. Bahkan terkesan ogah-ogahan menerima saya di dalam kelas. Saya mengulang salam sekali lagi. Anak-anak masih ogah-ogahan menjawabnya.
Seorang guru senior masuk ke dalam kelas.. Dengan sedikit kata-kata darinya, anak-anak langsung diam dan tenang. Gaya bahasanya, mimic mukanya, gerakannya, sungguh luar biasa. Seperti satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan. Luwes dan bersahaja.
Guru senior itu kemudian pergi meninggalkan kelas. Kemudian kelas saya pegang. Apa yang terjadi? Anak-anak kembali rebut.
Dari sini aku berpikir,”mengajar bukan hanya sekadar teori, namun butuh ketrampilan dan pelatihan.”
Jadi latar pendidikan apapun, untuk menghadapi sebuah kelas yang besar dibutuhkan sebiah ketrampilan. Pengkondisisan anak, penguasaan materi, dan ketrampilan.
Jangan bangga menjadi seorang guru, jika hanya teori yang dimiliki.
Menjadi guru adalah cita-citaku sejak SMA. Maka ketika saya diterima sebagai tenaga pengajar di sebuah sekolah dasar di Purwokerto, saya senang luar biasa.
Dengan berbekal ijazah SI pendidikan Sosiologi Antropologi, saya mendaftarkan diri sebagai tenaga pengajar di sana.
Apabila dilihat, sebenarnya tidak nyambung sama sekali antara back ground pendidikan dengan pekerjaan. Mengingat Sosiologi dan Antropologi adalah ilmu yang dipakai di sekolah-sekolah menengah atas. Namun saya tetap saja percaya diri. Mengapa? Sebab ada embel-embel pendidikannya, jadi setidak-tidaknya pekerjaan saya tidak melenceng terlalu jauh.
Hari pertama mengajar, saya begitu percaya diri. Yah, memang harus ada rasa percaya diri, kalau tidak bagaimana dapat menghadapi anak-anak.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuhu!”
Saya begitu lantang menyampaikan salam. Tujuannya adalah agar semua anak dapat mendengar.
Namun apa yang terjadi? Anak-anak tidak menjawab salam saya. Bahkan terkesan ogah-ogahan menerima saya di dalam kelas. Saya mengulang salam sekali lagi. Anak-anak masih ogah-ogahan menjawabnya.
Seorang guru senior masuk ke dalam kelas.. Dengan sedikit kata-kata darinya, anak-anak langsung diam dan tenang. Gaya bahasanya, mimic mukanya, gerakannya, sungguh luar biasa. Seperti satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan. Luwes dan bersahaja.
Guru senior itu kemudian pergi meninggalkan kelas. Kemudian kelas saya pegang. Apa yang terjadi? Anak-anak kembali rebut.
Dari sini aku berpikir,”mengajar bukan hanya sekadar teori, namun butuh ketrampilan dan pelatihan.”
Jadi latar pendidikan apapun, untuk menghadapi sebuah kelas yang besar dibutuhkan sebiah ketrampilan. Pengkondisisan anak, penguasaan materi, dan ketrampilan.
Jangan bangga menjadi seorang guru, jika hanya teori yang dimiliki.
Kamis, 29 Januari 2009
Kritik itu Perlu
Oleh: Rosyidah Purwo
Suatu ketika, saya diminta untuk membuka blog milik kawan kerja. Setelah membukanya….aduuuuuh bagaimana ya? Menurut saya bolgnya itu masih kacau banget!
Meskipun begitu, aku saya penasaran juga. Mengobati rasa penasaran, saya menelusuri isinya. Buseeeet! Tulisanya, masih kacau. Bukan isinya yang kacau, tapi setingannya.
Setingan kacau, kaya’nya tidak jadi masalah, yang penting isinya, bo, “mak nyos!”. Nah, tulisan kawan kerja saya ini, bisa dibilang “mak nyos!”
Nah, karena isinya ini, membuat saya jadi ingin berlama-lama di depan computer. Apa coba? Wah, pokoknya sebuah tulisan yang sempat membuat hati dan kepalaku jadi “cekit-cekittttt! Cekit-cekiiiit!”
Memang isinya sederhana. Sekadar mengomentari rekan-rekan kerja barunya yang menurutnya masih kurang professional. Termasuk saya, barangkali. He, he, he.
Sedikit saya kutipkan isi tulisannya:
“…..Bagiamana sikap guru baru tersebut, apa yang akan ia kerjakan. Guru itu mengambil penggaris dan memukulkannya keras keras ke papan tulis sehingga suaranya melebihi suara murid yang sedang dihadapinya. Apakah demikian yang dibenarkan dalam mendidik dan mengajar murid ? apakah memang ini salah satu dari masalah yang sering timbul menghantui guru baru? jelas saat itu ia (guru) sedang berhadapan dengan murid kelas 4 SD).
Cara cara kuno kadang juga masih jitu untuk mengatasinya semisal perilaku guru diatas, tapi jika pada pertengahan kegiatan belajar mengajar timbul kegaduhan lagi akankah cara itu masih bisa diterapkan. Karena keseringan dengan memukulkan penggaris keras keras pada papan tulis, akan makin tidak jera murid mentaati gurunya denga berhenti dari kegaduhan. Karena hal tersebut sudah terbias didengar oleh telinga mereka. Malah kadang sebaliknya akan makin bertambath ramai karena beberapa murid meniru memukulkan penggaris pada masing masing mejanya untuk ikut berperan mengatasi kegaduhan…..”
Wah, benar-benar ngena’ banget! Sejak membaca tulisan itu, saya jadi berpikir, “ada benarnya juga memang”. Nah sedikit demi sedikit saya mulai merubah gaya mengajar saya. Sebab sedikit banyak saya termasuk guru baru yang demikian.
So, kawan, kritik itu perlu.
Suatu ketika, saya diminta untuk membuka blog milik kawan kerja. Setelah membukanya….aduuuuuh bagaimana ya? Menurut saya bolgnya itu masih kacau banget!
Meskipun begitu, aku saya penasaran juga. Mengobati rasa penasaran, saya menelusuri isinya. Buseeeet! Tulisanya, masih kacau. Bukan isinya yang kacau, tapi setingannya.
Setingan kacau, kaya’nya tidak jadi masalah, yang penting isinya, bo, “mak nyos!”. Nah, tulisan kawan kerja saya ini, bisa dibilang “mak nyos!”
Nah, karena isinya ini, membuat saya jadi ingin berlama-lama di depan computer. Apa coba? Wah, pokoknya sebuah tulisan yang sempat membuat hati dan kepalaku jadi “cekit-cekittttt! Cekit-cekiiiit!”
Memang isinya sederhana. Sekadar mengomentari rekan-rekan kerja barunya yang menurutnya masih kurang professional. Termasuk saya, barangkali. He, he, he.
Sedikit saya kutipkan isi tulisannya:
“…..Bagiamana sikap guru baru tersebut, apa yang akan ia kerjakan. Guru itu mengambil penggaris dan memukulkannya keras keras ke papan tulis sehingga suaranya melebihi suara murid yang sedang dihadapinya. Apakah demikian yang dibenarkan dalam mendidik dan mengajar murid ? apakah memang ini salah satu dari masalah yang sering timbul menghantui guru baru? jelas saat itu ia (guru) sedang berhadapan dengan murid kelas 4 SD).
Cara cara kuno kadang juga masih jitu untuk mengatasinya semisal perilaku guru diatas, tapi jika pada pertengahan kegiatan belajar mengajar timbul kegaduhan lagi akankah cara itu masih bisa diterapkan. Karena keseringan dengan memukulkan penggaris keras keras pada papan tulis, akan makin tidak jera murid mentaati gurunya denga berhenti dari kegaduhan. Karena hal tersebut sudah terbias didengar oleh telinga mereka. Malah kadang sebaliknya akan makin bertambath ramai karena beberapa murid meniru memukulkan penggaris pada masing masing mejanya untuk ikut berperan mengatasi kegaduhan…..”
Wah, benar-benar ngena’ banget! Sejak membaca tulisan itu, saya jadi berpikir, “ada benarnya juga memang”. Nah sedikit demi sedikit saya mulai merubah gaya mengajar saya. Sebab sedikit banyak saya termasuk guru baru yang demikian.
So, kawan, kritik itu perlu.
Selasa, 27 Januari 2009
Cerita Dari Jakarta
Menggagas Bank Pangan sebagai Upaya Perlindungan Sosial bagi Kaum Miskin
Oleh: Siti Nuryati*
Berbicara tentang perlindungan sosial bagi kaum miskin, beragam program pernah digulirkan pemerintah. Salah satunya adalah Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebagai tameng perlindungan terhadap dampak negatif kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
Namun jika kita coba evaluasi, kebijakan BLT ternyata menyimpan lubang-lubang persoalan. BLT bisa dikatakan sebagai kebijakan yang ”sekadar numpang lewat”. Teorinya, subsidi langsung yang dikucurkan pemerintah adalah suntikan energi baru atau penyangga agar penduduk miskin tidak jatuh ke jurang ”di bawah garis kemiskinan”. Namun kenyataan di lapangan ternyata bergeser dari teori yang ada. Hal ini tampak pada masyarakat yang tak hanya miskin, namun jauh-jauh hari mereka juga telah terjerat utang yang kronis.
BLT yang diharapkan dapat menjaga daya tahan masyarakat miskin, tak sedikit dari mereka yang ketika menerima BLT, menjadikan BLT sebagai dana untuk mencicil hutang. Jika demikian, bukan daya tahan si keluarga miskin yang hendak dijaga, melainkan ”kesempatan” bagi para rentenir untuk memaksa si miskin membayar hutang pada dirinya dari dana BLT tersebut. Akhirnya si miskin pun tetap menderita dalam kemiskinannya.
Studi dampak BLT bagi kesejahteraan keluarga yang pernah dilakukan Puspitawati, H dkk (Tim Peneliti dari Fakultas Ekologi Manusia IPB) pasca kenaikan BBM di Bogor Jawa Barat mengungkap pembelanjaan BLT oleh rumah tangga miskin sebagai berikut: pengeluaran untuk pangan (50,1%); bayar hutang (9,8%); pakaian (7,6%); kesehatan (7,4%); pendidikan (6,6%); modal (4,2%); transport (2,6%); zakat (2,2%); menabung (2,1%); listrik (1,5%); perumahan (1,4%); memberi ke anak (0,9%); memberi ke saudara (0,7%); rokok (0,5%); dan lain-lain (2,4%). Uang BLT yang diterima rata-rata habis dalam tempo 11 hari. Proporsi tertinggi responden (38,1%) dalam menghabiskan uang BLT adalah antara 2-7 hari. Bahkan yang habis dalam satu hari mencapai 28%.
Penelitian Khomsan dkk di desa-desa di Bogor (2008) menunjukkan rata-rata pengeluaran rumah tangga mencapai Rp 456.000. Persentase pengeluaran pangan dan non pangan hampir sebanding atau fifty-fifty dengan beberapa rincian sebagai berikut: rokok (7%), pendidikan (8%), kesehatan (12%), bahan bakar/penerangan (7%), lauk pauk (10%), dan beras (7%).
Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional 2003-2005 menunjukkan konsumsi rumah tangga miskin untuk tembakau 12,43%. Anggaran belanja tembakau ini 15 kali lipat dibandingkan belanja daging (0,85%), 5 kali lipat belanja susu dan telur (2,34%), 8 kali lipat belanja pendidikan (1,47%) dan 6 kali lipat belanja kesehatan (1,99%).
Dari berbagai studi di atas menunjukkan bahwa, alokasi belanja keluarga miskin untuk pangan hampir sama besar dengan alokasi belanja untuk rokok. Di beberapa rumah tangga miskin malah ditemui belanja rokok lebih besar dari belanja pangan. Hal ini menjadi salah satu koreksi terhadap program-program pengaman sosial yang diberikan dalam bentuk uang tunai semacam BLT ini. Akan menjadi sulit untuk mengontrol apakah bantuan uang tunai yang diberikan, oleh keluarga miskin betul-betul dialokasikan untuk kebutuhan-kebutuhan vital seperti pangan ataukah tidak.
Kebijakan pemberian BLT memang tak bisa dikatakan tak membawa manfaat apapun. Dalam situasi daya beli masyarakat terperosok begitu dalam, maka bagi keluarga-keluarga ”super miskin”, kehadiran BLT akan sangat membantu mereka dalam mempertahankan hidup. Dalam situasi seperti ini, keluarga ”super miskin” memang membutuhkan ”ikan”, tak sekedar kail. Namun agar kebijakan tersebut tetap memberikan manfaat yang optimal bagi keluarga miskin maka bentuk dan cara pemberiannya pun harus tepat.
Bank Pangan: Sebuah Alternatif
Di beberapa negara maju, salah satu program perlindungan sosial bagi kaum miskin yang cukup terkenal adalah apa yang disebut sebagai “Bank Pangan” (food bank). Bank pangan di negara-negara maju tersebut merupakan tempat di mana makanan ditawarkan kepada badan-badan nirlaba untuk dibagikan kepada orang tidak mampu secara cuma-cuma, biasanya dengan syarat kerja sukarela. Seperti di Belanda, keluarga miskin mendapat bantuan paket makanan dari apa yang dinamakan voedselbank.
Di Amerika Serikat (AS), krisis keuangan global telah menebar pemandangan di beberapa negara bagian dimana ada banyak organisasi nirlaba atau non-profit yang mengumpulkan donasi dan sudah mampu membangun Bank Pangan sendiri. Foodbank berasal dari kumpulan donasi yang didapat dari acara-acara amal, gereja, organisasi non-profit lainnya, maupun perusahaan ataupun perorangan. Pengurus foodbank mengelola hasil donasi tersebut dalam bentuk makanan, entah itu bahan pangan ataupun makanan kalengan dan disimpan dalam suatu gudang besar. Jika ada pihak yang membutuhkan pangan secara gratis karena masalah ekonomi ataupun masalah berat lainnya, pihak tersebut dapat menghubungi gereja atau badan-badan bantuan lainnya untuk mendapatkan pangan.
Dengan cara menunjukan dokumen tanda penduduk yang dalam bentuk Green Card dan nomor bantuan sosial (Social Security Number) ataupun surat keterangan pernah bekerja di perusahaan tertentu yang kemudian melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), seseorang bisa masuk dalam program penyelamatan sesama. Mereka akan mendapatkan bantuan suplai makanan setiap hari yang dibagikan setiap minggu sekali.
Mereka juga akan ikut dalam program-program kebersamaan seperti contoh konkritnya makan bersama pada hari Thanks Giving (salah satu perayaan nasional di negara AS dan Australia) tanpa perlu membayar sama sekali. Jadi meskipun seseorang menganggur, kebutuhan makanannya akan tetap tercukupi dengan layak. Hal yang sama juga ada di Hongkong, sebagai salah satu kota dengan biaya hidup tertinggi di Asia. Disana pun ada foodbank yang mekanismenya mirip dengan foodbank di AS.
Bank Pangan: Cocok Untuk Indonesia ?
Terhadap gagasan bank pangan ini di Indonesia , ternyata tak sedikit kalangan yang merasa pesimis. Hal itu mengingat jumlah orang miskin di Indonesia yang terbilang cukup besar, puluhan juta jiwa. Hal lainnya adalah hampir tak mungkinnya toko atau distributor yang berbaik hati memberikan produknya yang tidak terjual secara cuma-cuma ke sebuah yayasan setiap minggu. Kekhawatiran pun muncul, jika Bank Pangan ini berdiri di Indonesia, maka pemerintah akan menjadi malas untuk mencari jalan keluar.
Merespon kekhawatiran tersebut, kita bisa menawarkan sebuah keyakinan bahwa meski memang betul persoalan kemiskinan adalah masalah yang harus diselesaikan terutama oleh pemerintah, namun tak juga menutup peluang bagi munculnya peran dan partisipasi masyarakat sebagai sesama insan untuk menghidupkan budaya saling peduli, budaya saling menolong. Apalagi, untuk mendapat akses ke Bank Pangan, seseorang diminta untuk menjadi sukarelawan dalam membantu berbagai kegiatan, termasuk kegiatan sosial.
Adanya suasana kondusif untuk saling peduli serta adanya edukasi ke rumah tangga-rumah tangga untuk menyumbangkan kelebihan makanan yang dimilikinya pada hari tertentu adalah bagian dari upaya untuk membuat Bank Pangan ini mungkin hidup dan tumbuh di Indonesia.
Selain itu, pemerintah masih bisa menyusun regulasi yang menghimbau (bahkan jika mungkin mewajibkan/mandatory) kepada industri, supermarket, restoran dan pusat-pusat perbelanjaan lainnya untuk menyumbangkan produknya yang tak terjual (namun masih layak konsumsi) demi menghidupkan Bank-Bank Pangan yang ada, sehingga golongan miskin di wilayah tersebut aka banyak tertolong. Pemerintah juga bisa mendorong tumbuhnya lembaga-lembaga nirlaba untuk mengurusi Bank Pangan, atau bisa juga lembaga/organ pemerintah sendiri yang akan diberikan tanggung jawab untuk mengelola Bank Pangan tersebut.
Mengapa Bank Pangan Menjadi Pilihan?
Diakui banyak jalan untuk mengentaskan masyarakat dari jurang kemiskinan. Ketika Bank Pangan dijadikan sebagai salah satu pilihan, disamping pilihan-pilihan lain, tentu harus mengantongi argumentasi kuat.
Belajar dari pengalaman kebijakan BLT, yang berdasarkan studi ternyata banyak dibelanjakan untuk keperluan-keperluan lain yang bukan dalam rangka mempertahankan daya hidup orang miskin seperti untuk rokok, membayar hutang, membeli perabot rumah, dan lain-lain, maka kehadiran Bank Pangan merupakan bentuk perlindungan sosial yang langsung dapat diakses demi kelangsungan hidup seseorang.
Tak ada yang menolak bahwa pangan adalah urusan yang sifatnya mendesak, terkait dengan hidup matinya seseorang. Pangan yang bergizi sangat dibutuhkan seseorang untuk tetap hidup dengan sehat dan aktif. Dua hal ini jelas akan berpengaruh pada produktivitas seseorang. Sehingga upaya perlindungan sosial melalui Bank Pangan akan secara langsung berdampak bagi si miskin dalam mempertahankan kehidupannya yang sehat, aktif dan produktif.
Bank Pangan Terintegrasi
Dalam konteks pemenuhan pangan bagi kelompok miskin, terutama ketika disandingkan dengan fakta maraknya kasus gizi buruk yang menimpa balita miskin di tanah air, maka keberadaan Bank Pangan sesungguhnya sangat tepat disandingkan dengan konsep Dapur Gizi seperti yang ditemukan di banyak negara maju.
Di dalam Dapur Gizi, ibu-ibu balita akan belajar bagaimana mulai menyusun menu, menyiapkan masakan, cara memasak yang benar, menyuapi, cuci tangan sebelum dan sesudah makan memakai sabun, gosok gigi, juga pesan-pesan kesehatan lainnya. Bahan makanan yang dimasak merupakan kontribusi atau “urunan” masing-masing ibu atau bisa juga merupakan hasil donasi, baik dari individu maupun donasi industri, supermarket ataupun restoran. Di Dapur Gizi, menu dirancang dengan bervariasi, kemudian secara bersama-sama, ibu-ibu ini mempraktikkan cara memasak yang benar dengan pendampingan kader.
Keluarga yang terlibat dalam dapur Gizi, nantinya harus mempraktikkan pengetahuan dan ketrampilan yang telah diperolehnya di dapur mereka masing-masing di rumah untuk mencukupi kebutuhan gizi sehari-hari anggota keluarganya, terutama balitanya. Dapur Gizi ini juga untuk mengantisipasi munculnya masalah gizi buruk yang bukan disebabkan oleh kekurangan pangan, melainkan oleh pola makan, pola asuh, pola pelayanan kesehatan, serta pola kesehatan pribadi dan lingkungan.
Lebih dari itu, Dapur Gizi pun memberikan manfaat dalam memperbaiki interaksi sosial anak. Interaksi sosial yang terbangun karena anak dalam satu kawasan (Rukun Warga/RW) misalnya berkumpul dan berinteraksi dalam satu momen yakni Dapur Gizi, maka hal ini akan memberi dampak pada perkembangan mental si anak. Anak-anak bisa menjadi lebih aktif dan mampu berinteraksi dengan anak-anak lainnya. Di dalam Dapur Gizi juga dimungkinkan disusun berbagai program bersama seperti “kebun keluarga/home gardening”, pengembangan lahan pertanian, dan industri rumah tangga untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan dan meningkatkan pendapatan keluarga.
Dapur Gizi juga bisa menjadi ajang untuk menebar kepedulian dengan sesama. Orang-orang yang memiliki kelebihan harta dapat memberikan sumbangan bahan-bahan makanan yang bergizi untuk diolah di Dapur Gizi dan manfaatnya bisa dirasakan seluruh peserta Dapur Gizi yang rata-rata berasal dari golongan ekonomi lemah. Kita yakin bahwa adanya kepedulian dapat membantu mengatasi masalah rawan pangan di masyarakat. *
* Mahasiswi Pascasarjana Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia IPB.
Cerita Singkat Artikel Ini
Membaca artikel ini, saya teringat kenangan di Jakarta, pada Kamis, 08 Januari 2009. Adalah acara penyerahan hadiah menulis artikel oleh bapak MENKOKESRA, Aburizal Bakrie.
Meskipun meraih juara harapan dua, tidak menghalangiku untuk menikmati kegembiraan yang ada. Aku sungguh gembira. Bagaimana tidak?
Awalnya hanya iseng-iseng saja ikut-ikutan, eh ternyata aku masuk sebagai juara. Bukan itu saja, aku bertemu dengan pak Aburizal Bakrie. Bagi sebagian orang mungkin hal ini adalah biasa-biasa saja, namun bagi saya tidak. Masalahnya, pertemuan ini berada di moment yang penting bagi saya. Penyerahan hadiah.
Artikel ini saya minta langsung dari si empunya, Mbak Siti Nuryati. Tidak usah saya sebutkan identitasnya. Baca saja dalam *.
Merupakan kebanggaan tersendiri bagi saya. Saya dapat berkenalan degan orang pinter. Sayang sekali saya tidak sempat berkenalan dengan pemenang utamanya. Siapa dia? Adalah pak Joko Syaiban.
Melihatnya, tidak akan pernah ada yang menyangka kalau dalam sosok dirinya ada jiwa brilliant seorang penulis.
Penampilannya sungguh biasa-biasa saja. Bahkan sangaaaaat biasa. Karena inilah aku menjadi terkagum-kagum padanya. Dia seorang penulis buku, Men!
Aku berharap, suatu saat dapat dipertemuka kembali dengan mereka berdua. Dan saya dapat berkenalan langsung dengan pak Joko Syaiban. O ya, dia dari Solo, Jawa Tengah.
Oleh: Siti Nuryati*
Berbicara tentang perlindungan sosial bagi kaum miskin, beragam program pernah digulirkan pemerintah. Salah satunya adalah Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebagai tameng perlindungan terhadap dampak negatif kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
Namun jika kita coba evaluasi, kebijakan BLT ternyata menyimpan lubang-lubang persoalan. BLT bisa dikatakan sebagai kebijakan yang ”sekadar numpang lewat”. Teorinya, subsidi langsung yang dikucurkan pemerintah adalah suntikan energi baru atau penyangga agar penduduk miskin tidak jatuh ke jurang ”di bawah garis kemiskinan”. Namun kenyataan di lapangan ternyata bergeser dari teori yang ada. Hal ini tampak pada masyarakat yang tak hanya miskin, namun jauh-jauh hari mereka juga telah terjerat utang yang kronis.
BLT yang diharapkan dapat menjaga daya tahan masyarakat miskin, tak sedikit dari mereka yang ketika menerima BLT, menjadikan BLT sebagai dana untuk mencicil hutang. Jika demikian, bukan daya tahan si keluarga miskin yang hendak dijaga, melainkan ”kesempatan” bagi para rentenir untuk memaksa si miskin membayar hutang pada dirinya dari dana BLT tersebut. Akhirnya si miskin pun tetap menderita dalam kemiskinannya.
Studi dampak BLT bagi kesejahteraan keluarga yang pernah dilakukan Puspitawati, H dkk (Tim Peneliti dari Fakultas Ekologi Manusia IPB) pasca kenaikan BBM di Bogor Jawa Barat mengungkap pembelanjaan BLT oleh rumah tangga miskin sebagai berikut: pengeluaran untuk pangan (50,1%); bayar hutang (9,8%); pakaian (7,6%); kesehatan (7,4%); pendidikan (6,6%); modal (4,2%); transport (2,6%); zakat (2,2%); menabung (2,1%); listrik (1,5%); perumahan (1,4%); memberi ke anak (0,9%); memberi ke saudara (0,7%); rokok (0,5%); dan lain-lain (2,4%). Uang BLT yang diterima rata-rata habis dalam tempo 11 hari. Proporsi tertinggi responden (38,1%) dalam menghabiskan uang BLT adalah antara 2-7 hari. Bahkan yang habis dalam satu hari mencapai 28%.
Penelitian Khomsan dkk di desa-desa di Bogor (2008) menunjukkan rata-rata pengeluaran rumah tangga mencapai Rp 456.000. Persentase pengeluaran pangan dan non pangan hampir sebanding atau fifty-fifty dengan beberapa rincian sebagai berikut: rokok (7%), pendidikan (8%), kesehatan (12%), bahan bakar/penerangan (7%), lauk pauk (10%), dan beras (7%).
Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional 2003-2005 menunjukkan konsumsi rumah tangga miskin untuk tembakau 12,43%. Anggaran belanja tembakau ini 15 kali lipat dibandingkan belanja daging (0,85%), 5 kali lipat belanja susu dan telur (2,34%), 8 kali lipat belanja pendidikan (1,47%) dan 6 kali lipat belanja kesehatan (1,99%).
Dari berbagai studi di atas menunjukkan bahwa, alokasi belanja keluarga miskin untuk pangan hampir sama besar dengan alokasi belanja untuk rokok. Di beberapa rumah tangga miskin malah ditemui belanja rokok lebih besar dari belanja pangan. Hal ini menjadi salah satu koreksi terhadap program-program pengaman sosial yang diberikan dalam bentuk uang tunai semacam BLT ini. Akan menjadi sulit untuk mengontrol apakah bantuan uang tunai yang diberikan, oleh keluarga miskin betul-betul dialokasikan untuk kebutuhan-kebutuhan vital seperti pangan ataukah tidak.
Kebijakan pemberian BLT memang tak bisa dikatakan tak membawa manfaat apapun. Dalam situasi daya beli masyarakat terperosok begitu dalam, maka bagi keluarga-keluarga ”super miskin”, kehadiran BLT akan sangat membantu mereka dalam mempertahankan hidup. Dalam situasi seperti ini, keluarga ”super miskin” memang membutuhkan ”ikan”, tak sekedar kail. Namun agar kebijakan tersebut tetap memberikan manfaat yang optimal bagi keluarga miskin maka bentuk dan cara pemberiannya pun harus tepat.
Bank Pangan: Sebuah Alternatif
Di beberapa negara maju, salah satu program perlindungan sosial bagi kaum miskin yang cukup terkenal adalah apa yang disebut sebagai “Bank Pangan” (food bank). Bank pangan di negara-negara maju tersebut merupakan tempat di mana makanan ditawarkan kepada badan-badan nirlaba untuk dibagikan kepada orang tidak mampu secara cuma-cuma, biasanya dengan syarat kerja sukarela. Seperti di Belanda, keluarga miskin mendapat bantuan paket makanan dari apa yang dinamakan voedselbank.
Di Amerika Serikat (AS), krisis keuangan global telah menebar pemandangan di beberapa negara bagian dimana ada banyak organisasi nirlaba atau non-profit yang mengumpulkan donasi dan sudah mampu membangun Bank Pangan sendiri. Foodbank berasal dari kumpulan donasi yang didapat dari acara-acara amal, gereja, organisasi non-profit lainnya, maupun perusahaan ataupun perorangan. Pengurus foodbank mengelola hasil donasi tersebut dalam bentuk makanan, entah itu bahan pangan ataupun makanan kalengan dan disimpan dalam suatu gudang besar. Jika ada pihak yang membutuhkan pangan secara gratis karena masalah ekonomi ataupun masalah berat lainnya, pihak tersebut dapat menghubungi gereja atau badan-badan bantuan lainnya untuk mendapatkan pangan.
Dengan cara menunjukan dokumen tanda penduduk yang dalam bentuk Green Card dan nomor bantuan sosial (Social Security Number) ataupun surat keterangan pernah bekerja di perusahaan tertentu yang kemudian melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), seseorang bisa masuk dalam program penyelamatan sesama. Mereka akan mendapatkan bantuan suplai makanan setiap hari yang dibagikan setiap minggu sekali.
Mereka juga akan ikut dalam program-program kebersamaan seperti contoh konkritnya makan bersama pada hari Thanks Giving (salah satu perayaan nasional di negara AS dan Australia) tanpa perlu membayar sama sekali. Jadi meskipun seseorang menganggur, kebutuhan makanannya akan tetap tercukupi dengan layak. Hal yang sama juga ada di Hongkong, sebagai salah satu kota dengan biaya hidup tertinggi di Asia. Disana pun ada foodbank yang mekanismenya mirip dengan foodbank di AS.
Bank Pangan: Cocok Untuk Indonesia ?
Terhadap gagasan bank pangan ini di Indonesia , ternyata tak sedikit kalangan yang merasa pesimis. Hal itu mengingat jumlah orang miskin di Indonesia yang terbilang cukup besar, puluhan juta jiwa. Hal lainnya adalah hampir tak mungkinnya toko atau distributor yang berbaik hati memberikan produknya yang tidak terjual secara cuma-cuma ke sebuah yayasan setiap minggu. Kekhawatiran pun muncul, jika Bank Pangan ini berdiri di Indonesia, maka pemerintah akan menjadi malas untuk mencari jalan keluar.
Merespon kekhawatiran tersebut, kita bisa menawarkan sebuah keyakinan bahwa meski memang betul persoalan kemiskinan adalah masalah yang harus diselesaikan terutama oleh pemerintah, namun tak juga menutup peluang bagi munculnya peran dan partisipasi masyarakat sebagai sesama insan untuk menghidupkan budaya saling peduli, budaya saling menolong. Apalagi, untuk mendapat akses ke Bank Pangan, seseorang diminta untuk menjadi sukarelawan dalam membantu berbagai kegiatan, termasuk kegiatan sosial.
Adanya suasana kondusif untuk saling peduli serta adanya edukasi ke rumah tangga-rumah tangga untuk menyumbangkan kelebihan makanan yang dimilikinya pada hari tertentu adalah bagian dari upaya untuk membuat Bank Pangan ini mungkin hidup dan tumbuh di Indonesia.
Selain itu, pemerintah masih bisa menyusun regulasi yang menghimbau (bahkan jika mungkin mewajibkan/mandatory) kepada industri, supermarket, restoran dan pusat-pusat perbelanjaan lainnya untuk menyumbangkan produknya yang tak terjual (namun masih layak konsumsi) demi menghidupkan Bank-Bank Pangan yang ada, sehingga golongan miskin di wilayah tersebut aka banyak tertolong. Pemerintah juga bisa mendorong tumbuhnya lembaga-lembaga nirlaba untuk mengurusi Bank Pangan, atau bisa juga lembaga/organ pemerintah sendiri yang akan diberikan tanggung jawab untuk mengelola Bank Pangan tersebut.
Mengapa Bank Pangan Menjadi Pilihan?
Diakui banyak jalan untuk mengentaskan masyarakat dari jurang kemiskinan. Ketika Bank Pangan dijadikan sebagai salah satu pilihan, disamping pilihan-pilihan lain, tentu harus mengantongi argumentasi kuat.
Belajar dari pengalaman kebijakan BLT, yang berdasarkan studi ternyata banyak dibelanjakan untuk keperluan-keperluan lain yang bukan dalam rangka mempertahankan daya hidup orang miskin seperti untuk rokok, membayar hutang, membeli perabot rumah, dan lain-lain, maka kehadiran Bank Pangan merupakan bentuk perlindungan sosial yang langsung dapat diakses demi kelangsungan hidup seseorang.
Tak ada yang menolak bahwa pangan adalah urusan yang sifatnya mendesak, terkait dengan hidup matinya seseorang. Pangan yang bergizi sangat dibutuhkan seseorang untuk tetap hidup dengan sehat dan aktif. Dua hal ini jelas akan berpengaruh pada produktivitas seseorang. Sehingga upaya perlindungan sosial melalui Bank Pangan akan secara langsung berdampak bagi si miskin dalam mempertahankan kehidupannya yang sehat, aktif dan produktif.
Bank Pangan Terintegrasi
Dalam konteks pemenuhan pangan bagi kelompok miskin, terutama ketika disandingkan dengan fakta maraknya kasus gizi buruk yang menimpa balita miskin di tanah air, maka keberadaan Bank Pangan sesungguhnya sangat tepat disandingkan dengan konsep Dapur Gizi seperti yang ditemukan di banyak negara maju.
Di dalam Dapur Gizi, ibu-ibu balita akan belajar bagaimana mulai menyusun menu, menyiapkan masakan, cara memasak yang benar, menyuapi, cuci tangan sebelum dan sesudah makan memakai sabun, gosok gigi, juga pesan-pesan kesehatan lainnya. Bahan makanan yang dimasak merupakan kontribusi atau “urunan” masing-masing ibu atau bisa juga merupakan hasil donasi, baik dari individu maupun donasi industri, supermarket ataupun restoran. Di Dapur Gizi, menu dirancang dengan bervariasi, kemudian secara bersama-sama, ibu-ibu ini mempraktikkan cara memasak yang benar dengan pendampingan kader.
Keluarga yang terlibat dalam dapur Gizi, nantinya harus mempraktikkan pengetahuan dan ketrampilan yang telah diperolehnya di dapur mereka masing-masing di rumah untuk mencukupi kebutuhan gizi sehari-hari anggota keluarganya, terutama balitanya. Dapur Gizi ini juga untuk mengantisipasi munculnya masalah gizi buruk yang bukan disebabkan oleh kekurangan pangan, melainkan oleh pola makan, pola asuh, pola pelayanan kesehatan, serta pola kesehatan pribadi dan lingkungan.
Lebih dari itu, Dapur Gizi pun memberikan manfaat dalam memperbaiki interaksi sosial anak. Interaksi sosial yang terbangun karena anak dalam satu kawasan (Rukun Warga/RW) misalnya berkumpul dan berinteraksi dalam satu momen yakni Dapur Gizi, maka hal ini akan memberi dampak pada perkembangan mental si anak. Anak-anak bisa menjadi lebih aktif dan mampu berinteraksi dengan anak-anak lainnya. Di dalam Dapur Gizi juga dimungkinkan disusun berbagai program bersama seperti “kebun keluarga/home gardening”, pengembangan lahan pertanian, dan industri rumah tangga untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan dan meningkatkan pendapatan keluarga.
Dapur Gizi juga bisa menjadi ajang untuk menebar kepedulian dengan sesama. Orang-orang yang memiliki kelebihan harta dapat memberikan sumbangan bahan-bahan makanan yang bergizi untuk diolah di Dapur Gizi dan manfaatnya bisa dirasakan seluruh peserta Dapur Gizi yang rata-rata berasal dari golongan ekonomi lemah. Kita yakin bahwa adanya kepedulian dapat membantu mengatasi masalah rawan pangan di masyarakat. *
* Mahasiswi Pascasarjana Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia IPB.
Cerita Singkat Artikel Ini
Membaca artikel ini, saya teringat kenangan di Jakarta, pada Kamis, 08 Januari 2009. Adalah acara penyerahan hadiah menulis artikel oleh bapak MENKOKESRA, Aburizal Bakrie.
Meskipun meraih juara harapan dua, tidak menghalangiku untuk menikmati kegembiraan yang ada. Aku sungguh gembira. Bagaimana tidak?
Awalnya hanya iseng-iseng saja ikut-ikutan, eh ternyata aku masuk sebagai juara. Bukan itu saja, aku bertemu dengan pak Aburizal Bakrie. Bagi sebagian orang mungkin hal ini adalah biasa-biasa saja, namun bagi saya tidak. Masalahnya, pertemuan ini berada di moment yang penting bagi saya. Penyerahan hadiah.
Artikel ini saya minta langsung dari si empunya, Mbak Siti Nuryati. Tidak usah saya sebutkan identitasnya. Baca saja dalam *.
Merupakan kebanggaan tersendiri bagi saya. Saya dapat berkenalan degan orang pinter. Sayang sekali saya tidak sempat berkenalan dengan pemenang utamanya. Siapa dia? Adalah pak Joko Syaiban.
Melihatnya, tidak akan pernah ada yang menyangka kalau dalam sosok dirinya ada jiwa brilliant seorang penulis.
Penampilannya sungguh biasa-biasa saja. Bahkan sangaaaaat biasa. Karena inilah aku menjadi terkagum-kagum padanya. Dia seorang penulis buku, Men!
Aku berharap, suatu saat dapat dipertemuka kembali dengan mereka berdua. Dan saya dapat berkenalan langsung dengan pak Joko Syaiban. O ya, dia dari Solo, Jawa Tengah.
Minggu, 23 September 2007
Orasi Untuk Pertama Kali
Oleh: Rosyidah Purwo
Sesutu yang tidak pernah terbayangkan olehku adalah berbicara di depan massa yang banyak. Terlebih ketika harus melakukan orasi, mengajak dan memengaruhi orang banyak agar mereka tertarik dan memiliki niat untuk melakukan apa yang menjadi keinginan dan tujuan kita.
Suatu ketika, menjelang dilaksanakannya PILKADES di desa di mana aku tinggal, Banjarsari Wetan, dilaksanakan sebuah kampanye calon kepala desa. Tepatnya tanggal 24 Juni 2007. Waktu itu, jadwal kampanye adalah untuk calon kepala desa dengan lambang ketela dan padi.
Iseng-iseng, sebagai seorang yang bermimpi menjadi penulis lepas yang produktif, aku berniat untuk mengikuti kampanye tersebut. Tujuannya adalah untuk mengamati bagaimana kampanye calon kepala desa dilaksanakan. Barangkali dengan begitu muncul ide yang dapat dijadikan sebagai bahan tulisan.
Ini juga adalah kali pertamanya aku melihat dan mengetahui dengan jelas bagaimana situasi atau kondisi politik terkait dengan pemilihan kepala desa di desa di mana aku tinggal. Sebelumnya aku tidak pernah melihat, dan mengetahui secara jelas (sejak berumur 15 tahun sampai umur 23 tahun aku merantau ke luar daerah untuk belajar).
Di pagi hari menjelang dilaksanakan kampanye, tepatnya pukul 08.00 wib, aku berkunjung ke rumah salah satu calon kepala desa terkuat. Dengan membawa tape recorder, pen, dan blok note (perlengkapan yang selalu dibawa setiap bepergian).
Sampai di sana pukul 08.10 wib. Yah kebetulan jarak rumahku berdekatan.
Kampanye yang awalnya direncanakan start pukul 08.00 wib, diundur menjadi pukul 08.45 wib. Karena para simpatisan dari calon kepala desa dengan lambang ketela, belum selesai melakukan persiapan-persiapan untuk berkampanye.
Di sini berarti ada jeda waktu menunggu yang bisa dibilang lama. Untuk mengisi kekosongan waktu, aku merekam semua kegiatan yang berlangsung.
Di depanku, seorang laki-laki, salah satu dari simpatisan calon kepala desa dengan lambang ketela, tiba-tiba berkata demikian, “Bu, mbak ini dijadikan jurkam saja. Mewakili suara perempuan.” Kata-kata ini ditujukan kepada istri dari calon kepala desa yang ia dukung.
Ternyata kata-katanya mendapat sambutan hangat. Istri calon kepala desa itu berkata, ”ya, ndak papa. Itung-itung mempraktekan ilmu yang sudah didapat.” Untuk itu, ia menunjukku untuk menjadi jurukam (juru kampanye) mewakili suara perempuan. Tentu saja aku sangat terkejut dan bingung.
Terkejut, karena penunjukkan ini terlalu mendadak. Tidak ada persiapan sama sekali. Bingung, karena aku berada dalam dua pilihan. Menolak atau menerima.
Jika menolak, mau ditaruh di mana harga diriku. Mengingat aku adalah seorang mahasiswa. Di desa, biasanya seorang mahasiswa dianggap sebagai orang yang serba bisa. Sebagai orang yang dituntut mampu melakukan segala sesuatu. Apalah jadinya jika aku menolaknya.
Jika menerima, bagaimana aku melakukan kampanye atau orasi? Mengingat aku tidak pernah berorasi di depan massa yang sangat banyak.
Setelah melalui proses pemikiran yang cukup lama, dan meminta pertimbangan dari beberapa teman-teman, saudara, dan orang-orang kepercayaanku, akhirnya aku menerima tawaran tersebut.
Kampanye mulai berjalan. Satu, dua jurkam mulai melakukan orasinya. Dan akhirnya..... tibalah giliranku untuk berorasi.
Detik-detik menjelang orasi, muncul perasaan takut, was-was, gugup dan cemas. Jantung berdegup sangat kencang. Keringat dingin keluar, muka merah. Barangkali jika keadaanku saat itu dishow terlihat menggelikan.
Akhirnya aku melakukan orasi juga. Tak disangka ternyata aku bisa melakukannya. Memang bahasanya masih belepotan. Yah, inilah orasi pertama kaliku.
Sesutu yang tidak pernah terbayangkan olehku adalah berbicara di depan massa yang banyak. Terlebih ketika harus melakukan orasi, mengajak dan memengaruhi orang banyak agar mereka tertarik dan memiliki niat untuk melakukan apa yang menjadi keinginan dan tujuan kita.
Suatu ketika, menjelang dilaksanakannya PILKADES di desa di mana aku tinggal, Banjarsari Wetan, dilaksanakan sebuah kampanye calon kepala desa. Tepatnya tanggal 24 Juni 2007. Waktu itu, jadwal kampanye adalah untuk calon kepala desa dengan lambang ketela dan padi.
Iseng-iseng, sebagai seorang yang bermimpi menjadi penulis lepas yang produktif, aku berniat untuk mengikuti kampanye tersebut. Tujuannya adalah untuk mengamati bagaimana kampanye calon kepala desa dilaksanakan. Barangkali dengan begitu muncul ide yang dapat dijadikan sebagai bahan tulisan.
Ini juga adalah kali pertamanya aku melihat dan mengetahui dengan jelas bagaimana situasi atau kondisi politik terkait dengan pemilihan kepala desa di desa di mana aku tinggal. Sebelumnya aku tidak pernah melihat, dan mengetahui secara jelas (sejak berumur 15 tahun sampai umur 23 tahun aku merantau ke luar daerah untuk belajar).
Di pagi hari menjelang dilaksanakan kampanye, tepatnya pukul 08.00 wib, aku berkunjung ke rumah salah satu calon kepala desa terkuat. Dengan membawa tape recorder, pen, dan blok note (perlengkapan yang selalu dibawa setiap bepergian).
Sampai di sana pukul 08.10 wib. Yah kebetulan jarak rumahku berdekatan.
Kampanye yang awalnya direncanakan start pukul 08.00 wib, diundur menjadi pukul 08.45 wib. Karena para simpatisan dari calon kepala desa dengan lambang ketela, belum selesai melakukan persiapan-persiapan untuk berkampanye.
Di sini berarti ada jeda waktu menunggu yang bisa dibilang lama. Untuk mengisi kekosongan waktu, aku merekam semua kegiatan yang berlangsung.
Di depanku, seorang laki-laki, salah satu dari simpatisan calon kepala desa dengan lambang ketela, tiba-tiba berkata demikian, “Bu, mbak ini dijadikan jurkam saja. Mewakili suara perempuan.” Kata-kata ini ditujukan kepada istri dari calon kepala desa yang ia dukung.
Ternyata kata-katanya mendapat sambutan hangat. Istri calon kepala desa itu berkata, ”ya, ndak papa. Itung-itung mempraktekan ilmu yang sudah didapat.” Untuk itu, ia menunjukku untuk menjadi jurukam (juru kampanye) mewakili suara perempuan. Tentu saja aku sangat terkejut dan bingung.
Terkejut, karena penunjukkan ini terlalu mendadak. Tidak ada persiapan sama sekali. Bingung, karena aku berada dalam dua pilihan. Menolak atau menerima.
Jika menolak, mau ditaruh di mana harga diriku. Mengingat aku adalah seorang mahasiswa. Di desa, biasanya seorang mahasiswa dianggap sebagai orang yang serba bisa. Sebagai orang yang dituntut mampu melakukan segala sesuatu. Apalah jadinya jika aku menolaknya.
Jika menerima, bagaimana aku melakukan kampanye atau orasi? Mengingat aku tidak pernah berorasi di depan massa yang sangat banyak.
Setelah melalui proses pemikiran yang cukup lama, dan meminta pertimbangan dari beberapa teman-teman, saudara, dan orang-orang kepercayaanku, akhirnya aku menerima tawaran tersebut.
Kampanye mulai berjalan. Satu, dua jurkam mulai melakukan orasinya. Dan akhirnya..... tibalah giliranku untuk berorasi.
Detik-detik menjelang orasi, muncul perasaan takut, was-was, gugup dan cemas. Jantung berdegup sangat kencang. Keringat dingin keluar, muka merah. Barangkali jika keadaanku saat itu dishow terlihat menggelikan.
Akhirnya aku melakukan orasi juga. Tak disangka ternyata aku bisa melakukannya. Memang bahasanya masih belepotan. Yah, inilah orasi pertama kaliku.
Perkuat Social Control
Oleh: Rosyidah Purwo
Kasus penganiayaan terhadap praja junior di IPDN, menjadi sorotan media massa elektronik maupun cetak. Kematian Wahyu Hidayat pada tahun 2003, disusul dengan kasus meninggalnya Cliff Muntu secara tidak wajar, dan beberapa kasus kekerasan lain, menghentak banyak kalangan.
Tidak hanya itu, kasus free sex dan obat-obatan terlarang pun masuk juga di dalam tubuh IPDN. Tentunya ini menjadi pukulan bagi berat bagi kampus pencetak calon pegawai negeri sipil ini.
Melihat hal ini, persiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), memberikan sebuah putusan untuk memberhentikan selama satu tahun penerimaan praja baru di IPDN. Dengan alasan untuk melakukan penataan ulang sistem pendidikan di IPDN.
Hal ini belum bisa menjamin adanya perubahan di tubuh IPDN, pasalnya budaya kekerasan sudah mengakar kuat di tubuh IPDN. Waktu satu tahun bukanlah waktu yang tepat untuk melakukan pembenahan dan penataan ulang.
Dilakukan pembubaran pun tidak bisa menjamin hilangnya budaya kekerasan pada setiap diri mahasiswa IPDN. Pasalnya, mereka sudah terbiasa hidup dengan budaya kekerasan selama berada di dalam kampus. Tidak mudah untuk mengembalikan mereka dalam kehidupan yang lebih dinamis tanpa kekerasan.
Barangkali inilah saatnya untuk kembali mengaktifkan masyarakat sebagai bagian dari steak holder pendidikan untuk melakukan social control atau kontrol sosial secara lebih ketat. Munculnya kekerasan yang terjadi di IPDN bisa jadi karena kurangnya kontrol sosial dari masyarakat.
Dalam dunia pendidikan, kontrol sosial dari masyarakat sangat dibutuhkan sebab dapat meng
Dalam kontrol sosial ini mencakup segala proses, baik yang direncanakan atau tidak, yang bersifat mendidik, mengajak atau bahkan memaksa warga-warga masyarakat (mahasiswa IPDN) agar mau mematuhi kaidah-kaidah dan nilai sosial masyarakat yang berlaku.
Kontrol sosial ini dapat dilakukan oleh siapa saja yang menjadi bagian steak holder pendidikan. Jadi, tidak melulu dilakukan oleh instansi terkait atau pemerintah. Namun, masyarakat pun dapat berpartisipasi di dalamnya. Termasuk orang tua siswa atau mahasiswa.
Kasus penganiayaan terhadap praja junior di IPDN, menjadi sorotan media massa elektronik maupun cetak. Kematian Wahyu Hidayat pada tahun 2003, disusul dengan kasus meninggalnya Cliff Muntu secara tidak wajar, dan beberapa kasus kekerasan lain, menghentak banyak kalangan.
Tidak hanya itu, kasus free sex dan obat-obatan terlarang pun masuk juga di dalam tubuh IPDN. Tentunya ini menjadi pukulan bagi berat bagi kampus pencetak calon pegawai negeri sipil ini.
Melihat hal ini, persiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), memberikan sebuah putusan untuk memberhentikan selama satu tahun penerimaan praja baru di IPDN. Dengan alasan untuk melakukan penataan ulang sistem pendidikan di IPDN.
Hal ini belum bisa menjamin adanya perubahan di tubuh IPDN, pasalnya budaya kekerasan sudah mengakar kuat di tubuh IPDN. Waktu satu tahun bukanlah waktu yang tepat untuk melakukan pembenahan dan penataan ulang.
Dilakukan pembubaran pun tidak bisa menjamin hilangnya budaya kekerasan pada setiap diri mahasiswa IPDN. Pasalnya, mereka sudah terbiasa hidup dengan budaya kekerasan selama berada di dalam kampus. Tidak mudah untuk mengembalikan mereka dalam kehidupan yang lebih dinamis tanpa kekerasan.
Barangkali inilah saatnya untuk kembali mengaktifkan masyarakat sebagai bagian dari steak holder pendidikan untuk melakukan social control atau kontrol sosial secara lebih ketat. Munculnya kekerasan yang terjadi di IPDN bisa jadi karena kurangnya kontrol sosial dari masyarakat.
Dalam dunia pendidikan, kontrol sosial dari masyarakat sangat dibutuhkan sebab dapat meng
Dalam kontrol sosial ini mencakup segala proses, baik yang direncanakan atau tidak, yang bersifat mendidik, mengajak atau bahkan memaksa warga-warga masyarakat (mahasiswa IPDN) agar mau mematuhi kaidah-kaidah dan nilai sosial masyarakat yang berlaku.
Kontrol sosial ini dapat dilakukan oleh siapa saja yang menjadi bagian steak holder pendidikan. Jadi, tidak melulu dilakukan oleh instansi terkait atau pemerintah. Namun, masyarakat pun dapat berpartisipasi di dalamnya. Termasuk orang tua siswa atau mahasiswa.
Emoh Susah
Oleh: Rosyidah Purwo
Hari gini cari yang susah. Ke laut aja deeeh!
Barangkali ungkapan semacam inilah yang tepat dipakai untuk menghadapi keadaan hidup seperti sekarang ini.
Banyak orang yang mengatakan bahwa jaman sekarang adalah jaman serba sulit. Segala sesuatu membutuhkan duit. Tak ada duit berarti koid alias mati. Betulkah? Ada benarnya juga. Lihat saja, betapa sulitnya orang mencari pekerjaan. Lapangan pekerjaan semakin sempit, praktis mencari uang juga pasti sangat sulit.
Jaman sekarang, siapa orangnya yang mau hidup dalam keadaan susah. Jujur saja, tak satupun orangnya yang menjawab “saya”, kecuali orang-orang bodoh, barangkali.
Orang hidup di dunia bukan untuk hal-hal yang menyusahkan. Tuhan saja memerintahkan agar umat manusia tidak mempersulit diri untuk menghadapi hidup. Bahkan Tuhan mengancam, jika manusia suka mempersulit diri maka Tuhan tak segan-segan untuk mencabut rahmat-Nya.
Kalam Tuhan itu betul adanya. Sebab Tuhan menciptakan manusia bukan untuk bersusah-susah, melainkan untuk menikmati segala sesuatu yang sudah Tuhan ciptakan di dunia. Rugi sekali jika apa yang ada di dunia ini dibiarkan saja. Apalagi Indonesia yang Tuhan ciptakan dengan begitu indah dan makmurnya.
Bayangkan saja, segala sesuatu bisa tumbuh walau ditanam tanpa perawatan. Kekayaan alam sangat melimpah ruah. Bodoh benar orang-orang yang menyia-nyiakannya.
Permasalahannya adalah kekayaan alam yang begitu banyaknya hanya dinikmati oleh segelintir orang saja. Bahkan tak jarang asset-aset berharga milik Negara yang seharusnya dapat dinikmati bersama, menjadi hak milik atas perseorangan.
Sisanya, orang yang jumlahnya beribu-ribu, bahkan berjuta-juta barangkali, hanya gigit bisa jari saja. Alhasil, mereka hidup dalam keadaan tak berdaya. Persaingan hidup yang tidak sehat akhirnya muncul. Tidak di kalangan elit ataupun cilik. Mereka sama-sama berebut “rizki” untuk menghindari hidup yang susah alias sulit.
Segala hal dilakukan guna untuk tetap survive hidup tanpa harus bersusah-susah. Itulah mengapa di jaman sekarang kejujuran sangat sulit sekali ditemukan. Jika dengan jujur—yang pada dasarnya merupakan sikap hidup yang baik—akhirnya hanya akan membawa pada keadaan hidup yang susah.
Maka tak heran jika dalam Ujian Nasional 2007 kemarin, sejumlah guru yang ingin mengungkapkan kasus kecurangan dalam Ujian Nasional, justru menuai kegetiran. Bukannya mendapat pembelaan.
Emoh susah itulah barangkali yang menjadikan kejujuran sangat sulit ditemukan di jaman sekarang. Jika dengan korupsi bisa hidup dengan nyaman dan enak, ngapain pake jujur-jujuran segala.
Hari gini cari yang susah. Ke laut aja deeeh!
Barangkali ungkapan semacam inilah yang tepat dipakai untuk menghadapi keadaan hidup seperti sekarang ini.
Banyak orang yang mengatakan bahwa jaman sekarang adalah jaman serba sulit. Segala sesuatu membutuhkan duit. Tak ada duit berarti koid alias mati. Betulkah? Ada benarnya juga. Lihat saja, betapa sulitnya orang mencari pekerjaan. Lapangan pekerjaan semakin sempit, praktis mencari uang juga pasti sangat sulit.
Jaman sekarang, siapa orangnya yang mau hidup dalam keadaan susah. Jujur saja, tak satupun orangnya yang menjawab “saya”, kecuali orang-orang bodoh, barangkali.
Orang hidup di dunia bukan untuk hal-hal yang menyusahkan. Tuhan saja memerintahkan agar umat manusia tidak mempersulit diri untuk menghadapi hidup. Bahkan Tuhan mengancam, jika manusia suka mempersulit diri maka Tuhan tak segan-segan untuk mencabut rahmat-Nya.
Kalam Tuhan itu betul adanya. Sebab Tuhan menciptakan manusia bukan untuk bersusah-susah, melainkan untuk menikmati segala sesuatu yang sudah Tuhan ciptakan di dunia. Rugi sekali jika apa yang ada di dunia ini dibiarkan saja. Apalagi Indonesia yang Tuhan ciptakan dengan begitu indah dan makmurnya.
Bayangkan saja, segala sesuatu bisa tumbuh walau ditanam tanpa perawatan. Kekayaan alam sangat melimpah ruah. Bodoh benar orang-orang yang menyia-nyiakannya.
Permasalahannya adalah kekayaan alam yang begitu banyaknya hanya dinikmati oleh segelintir orang saja. Bahkan tak jarang asset-aset berharga milik Negara yang seharusnya dapat dinikmati bersama, menjadi hak milik atas perseorangan.
Sisanya, orang yang jumlahnya beribu-ribu, bahkan berjuta-juta barangkali, hanya gigit bisa jari saja. Alhasil, mereka hidup dalam keadaan tak berdaya. Persaingan hidup yang tidak sehat akhirnya muncul. Tidak di kalangan elit ataupun cilik. Mereka sama-sama berebut “rizki” untuk menghindari hidup yang susah alias sulit.
Segala hal dilakukan guna untuk tetap survive hidup tanpa harus bersusah-susah. Itulah mengapa di jaman sekarang kejujuran sangat sulit sekali ditemukan. Jika dengan jujur—yang pada dasarnya merupakan sikap hidup yang baik—akhirnya hanya akan membawa pada keadaan hidup yang susah.
Maka tak heran jika dalam Ujian Nasional 2007 kemarin, sejumlah guru yang ingin mengungkapkan kasus kecurangan dalam Ujian Nasional, justru menuai kegetiran. Bukannya mendapat pembelaan.
Emoh susah itulah barangkali yang menjadikan kejujuran sangat sulit ditemukan di jaman sekarang. Jika dengan korupsi bisa hidup dengan nyaman dan enak, ngapain pake jujur-jujuran segala.
HARUS ADA BATAS MAKSIMAL
Oleh: Rosyidah Purwo
“Lebaran sebentar lagi...., hari yang dinanti-nanti....” itulah dua bait lirik lagu yang pernah dinyanyikan oleh penyanyi cilik Dhea Ananda. Lagu tersebut bukan sekedar lagu biasa yang keluar dari mulut seorang penyanyi cilik, namun lagu tersebut mengandung makna, barangkali untuk mengungkapkan kebahagiaan menyambut lebaran.
Ya, lebaran atau Idul Fitri merupakan moment yang paling ditunggu-tunggu oleh umat islam di dunia. Lebaran bagi sebagian besar orang boleh jadi merupakan moment yang paling menggembirakan, sebab disinilah saat-saat dimana melakukan ”pesta” setelah satu bulan lamanya melaksanakan puasa ramadhan. Banyak cara yang dilakukan orang untuk mengungkapkan kegembiraan mereka. Salah satunya adalah dengan memberikan parsel.
Mengirim parsel sepertinya sudah menjadi budaya bagi sebagian besar orang, pun dengan para pejabat pemerintah. Tanpa parsel sepertinya lebaran menjadi hampa.
Mengirim parsel sebenarnya bukan sekadar pengungkapan rasa bahagia semata, namun banyak tujuan lainnya, boleh jadi sebagai pengikat tali silaturahim, pengikat tali persaudaraan, ucapan terima kasih, permintaan maaf dan lain sebagainya. Apapun makna dari pemberian parsel itu tidak menjadi masalah, yang menjadi masalah adalah bagaimana bila pemberian parsel yang dilakukan itu menggunakan uang rakyat?
Sekarang sedikit kita menggunakan ilmu hitung, bila jumlah pejabat yang ada sebanyak dua ratus ribu orang, dan harga satu paket parsel senilai satu setengah juta rupiah. Berapa uang yang akan dikeluarkan? Harus diingat, Indonesia baru saja mendapat bencana alam yang tidak bisa dibilang kecil.
Berapa jumlah korbannya? Bagaimana nasib mereka? Dari pada uang dihamburkan untuk memberikan parsel pada orang yang barangkali sudah lebih dari cukup kebutuhan hidupnya, lebih baik berikan saja pada mereka yang sekarang benar-benar membutuhkan uluran tangan, toh akan lebih bermanfaat.
Barangkali tidak menjadi masalah bila semua pejabat pemerintah memiliki inisiatif seperti yang dilakukan oleh bupati Kebumen. Dengan iuran bersama teman-teman, Rustriningsih membagikan parsel untuk beberapa tukang becak di Kabupatennya. Namun sayangnya masih sedikit pejabat yang memiliki inisiatif seperti yang dilakukan olehnya.
Atau bila tidak ada inisiatif seperti itu, mari gunakan standar maksimal, seperti yang dilakukan pemerintah Malaysia. Bila Malaysia, negara yang sedikit lebih kaya dari Indonesia memberikan batasan di bawah satu koma dua juta rupiah maka, di Indonesia harus lebih kecil lagi, mengingat perekonomian Indonesia sekarang sedang terpuruk.
Dengan begitu, budaya memberikan parsel yang konon katanya memiliki makna ikatan silaturahim tetap dapat dilaksanakan, sehingga ”nyawa” di hari lebaran tetap ada, walaupun dengan bingkisan parsel yang lebih sederhana. Perlu diingat, sesuatu yang sudah membudaya, tidak bisa dihilangkan sama sekali. Barangkali bisa, namun kemungkinannya sangat kecil.
“Lebaran sebentar lagi...., hari yang dinanti-nanti....” itulah dua bait lirik lagu yang pernah dinyanyikan oleh penyanyi cilik Dhea Ananda. Lagu tersebut bukan sekedar lagu biasa yang keluar dari mulut seorang penyanyi cilik, namun lagu tersebut mengandung makna, barangkali untuk mengungkapkan kebahagiaan menyambut lebaran.
Ya, lebaran atau Idul Fitri merupakan moment yang paling ditunggu-tunggu oleh umat islam di dunia. Lebaran bagi sebagian besar orang boleh jadi merupakan moment yang paling menggembirakan, sebab disinilah saat-saat dimana melakukan ”pesta” setelah satu bulan lamanya melaksanakan puasa ramadhan. Banyak cara yang dilakukan orang untuk mengungkapkan kegembiraan mereka. Salah satunya adalah dengan memberikan parsel.
Mengirim parsel sepertinya sudah menjadi budaya bagi sebagian besar orang, pun dengan para pejabat pemerintah. Tanpa parsel sepertinya lebaran menjadi hampa.
Mengirim parsel sebenarnya bukan sekadar pengungkapan rasa bahagia semata, namun banyak tujuan lainnya, boleh jadi sebagai pengikat tali silaturahim, pengikat tali persaudaraan, ucapan terima kasih, permintaan maaf dan lain sebagainya. Apapun makna dari pemberian parsel itu tidak menjadi masalah, yang menjadi masalah adalah bagaimana bila pemberian parsel yang dilakukan itu menggunakan uang rakyat?
Sekarang sedikit kita menggunakan ilmu hitung, bila jumlah pejabat yang ada sebanyak dua ratus ribu orang, dan harga satu paket parsel senilai satu setengah juta rupiah. Berapa uang yang akan dikeluarkan? Harus diingat, Indonesia baru saja mendapat bencana alam yang tidak bisa dibilang kecil.
Berapa jumlah korbannya? Bagaimana nasib mereka? Dari pada uang dihamburkan untuk memberikan parsel pada orang yang barangkali sudah lebih dari cukup kebutuhan hidupnya, lebih baik berikan saja pada mereka yang sekarang benar-benar membutuhkan uluran tangan, toh akan lebih bermanfaat.
Barangkali tidak menjadi masalah bila semua pejabat pemerintah memiliki inisiatif seperti yang dilakukan oleh bupati Kebumen. Dengan iuran bersama teman-teman, Rustriningsih membagikan parsel untuk beberapa tukang becak di Kabupatennya. Namun sayangnya masih sedikit pejabat yang memiliki inisiatif seperti yang dilakukan olehnya.
Atau bila tidak ada inisiatif seperti itu, mari gunakan standar maksimal, seperti yang dilakukan pemerintah Malaysia. Bila Malaysia, negara yang sedikit lebih kaya dari Indonesia memberikan batasan di bawah satu koma dua juta rupiah maka, di Indonesia harus lebih kecil lagi, mengingat perekonomian Indonesia sekarang sedang terpuruk.
Dengan begitu, budaya memberikan parsel yang konon katanya memiliki makna ikatan silaturahim tetap dapat dilaksanakan, sehingga ”nyawa” di hari lebaran tetap ada, walaupun dengan bingkisan parsel yang lebih sederhana. Perlu diingat, sesuatu yang sudah membudaya, tidak bisa dihilangkan sama sekali. Barangkali bisa, namun kemungkinannya sangat kecil.
Istighosah
Oleh: Rosyidah Purwo
Istighosah, merupakan sesuatu yang asing bagi orang kebanyakan. Istighosah pada awalnya berkembang pada masyarakat santri. Lambat laun istighosah merambah pada masyarakat umum, khususnya yang berlatar belakang NU (Nahdlatul Ulama).
Istighosah merupakan sebuah ritual orang muslim. Yaitu berdoa bersama-sama orang banyak dalam suatu tempat yang luas, biasanya lapangan atau masjid besar. Tujuannya adalah meminta pertolongan kepada tuhan agar diberi keselamatan dan kebaikan dalam hidup.
Istighosah biasanya dipimpin oleh seorang ulama, kiai, atau orang yang dianggap masih memiliki keturunan dengan nabi Muhammad saw. Atau biasa disebut dengan istilah habib atau habaib. Mereka akan membacakan doa-doa yang panjang dan lama.
Peserta yang hadir dalam kegiatan itu biasanya menggunakan atribut pakaian warna putih-putih dengan mengenakan jilbab/penutup kepala. Dalam proses pelaksanaannya, peserta diharapakan untuk khusu dalam mendengarkan doa-doa yang dibacakan itu. Tidak jarang peserta yang mengikutinya menitikkan air mata.
Konon ceritanya, dengan istihgosah seseorang dapat merasa lebih dekat kepada tuhan. Hati menjadi merasa lebih tentram, nyaman, dan damai. Beban hidup seolah-olah hilang, perasaan was-was dan khawatir juga dapat hilang. Inti dari istighosah adalah mendekatkan diri kepada tuhan.
Dalam kurun waktu terkhir ini, istighosah menjadi sebuah trend baru dalam dunia pendidikan, khususnya sekolah menengah yang berbasis agama (baca: madrasah aliyah). Dengan proses yang sama, beberapa sekolah mengadakan istighosah bersama-sama siswa dan guru, ada juga yang mengundang orang tua wali murid. Dengan harapan akan mendapat pertolongan dari tuhan.
Fenomena ini muncul terkait dengan sistem ujian nasional yang dianggap memberikan banyak kesulitan bagi siswa ataupun orang tua siswa. Sistem penilaian yang menyulitkan bagi siswa membuat sebagian besar guru, siswa dan orang tua siswa merasa was-was, khawatir, cemas dan takut, kalau-kalau tidak dapat lulus sekolah.
Memang benar, sistem ujian yang menyulitkan telah banyak membawa efek buruk bagi kondisi kejiwaan siswa. Bisa dilihat berapa banyak siswa yang stres bahkan ada yang bunuh diri akibat sistem ujian nasional 2006 kemarin.
Bertolak dari masalah tersebut, barangkali sekolah-sekolah yang telah berani mengadakan kegiatan istighosah, memiliki harapan yang besar kepada tuhan agar diberi kemudahan dalam menghadapai ujian, atau setidaknya diberi ketenangan.
Memang belum ada sebuah data yang mengungkapkan mengenai efektifitas atau manfaat istighosah terhadap nilai ujian. Namun, barangkali istighosah dapat memberi efek positif terhadap kondisi kejiwaan siswa. Jika memang demikian, perlu juga tradisi ini terus dikembangkan. Mengapa tidak?
Istighosah, merupakan sesuatu yang asing bagi orang kebanyakan. Istighosah pada awalnya berkembang pada masyarakat santri. Lambat laun istighosah merambah pada masyarakat umum, khususnya yang berlatar belakang NU (Nahdlatul Ulama).
Istighosah merupakan sebuah ritual orang muslim. Yaitu berdoa bersama-sama orang banyak dalam suatu tempat yang luas, biasanya lapangan atau masjid besar. Tujuannya adalah meminta pertolongan kepada tuhan agar diberi keselamatan dan kebaikan dalam hidup.
Istighosah biasanya dipimpin oleh seorang ulama, kiai, atau orang yang dianggap masih memiliki keturunan dengan nabi Muhammad saw. Atau biasa disebut dengan istilah habib atau habaib. Mereka akan membacakan doa-doa yang panjang dan lama.
Peserta yang hadir dalam kegiatan itu biasanya menggunakan atribut pakaian warna putih-putih dengan mengenakan jilbab/penutup kepala. Dalam proses pelaksanaannya, peserta diharapakan untuk khusu dalam mendengarkan doa-doa yang dibacakan itu. Tidak jarang peserta yang mengikutinya menitikkan air mata.
Konon ceritanya, dengan istihgosah seseorang dapat merasa lebih dekat kepada tuhan. Hati menjadi merasa lebih tentram, nyaman, dan damai. Beban hidup seolah-olah hilang, perasaan was-was dan khawatir juga dapat hilang. Inti dari istighosah adalah mendekatkan diri kepada tuhan.
Dalam kurun waktu terkhir ini, istighosah menjadi sebuah trend baru dalam dunia pendidikan, khususnya sekolah menengah yang berbasis agama (baca: madrasah aliyah). Dengan proses yang sama, beberapa sekolah mengadakan istighosah bersama-sama siswa dan guru, ada juga yang mengundang orang tua wali murid. Dengan harapan akan mendapat pertolongan dari tuhan.
Fenomena ini muncul terkait dengan sistem ujian nasional yang dianggap memberikan banyak kesulitan bagi siswa ataupun orang tua siswa. Sistem penilaian yang menyulitkan bagi siswa membuat sebagian besar guru, siswa dan orang tua siswa merasa was-was, khawatir, cemas dan takut, kalau-kalau tidak dapat lulus sekolah.
Memang benar, sistem ujian yang menyulitkan telah banyak membawa efek buruk bagi kondisi kejiwaan siswa. Bisa dilihat berapa banyak siswa yang stres bahkan ada yang bunuh diri akibat sistem ujian nasional 2006 kemarin.
Bertolak dari masalah tersebut, barangkali sekolah-sekolah yang telah berani mengadakan kegiatan istighosah, memiliki harapan yang besar kepada tuhan agar diberi kemudahan dalam menghadapai ujian, atau setidaknya diberi ketenangan.
Memang belum ada sebuah data yang mengungkapkan mengenai efektifitas atau manfaat istighosah terhadap nilai ujian. Namun, barangkali istighosah dapat memberi efek positif terhadap kondisi kejiwaan siswa. Jika memang demikian, perlu juga tradisi ini terus dikembangkan. Mengapa tidak?
Jankiss
Oleh: Rosyidah Purwo
Di tengah hingar-bingarnya musik pop atau modern, keberadaan musik tradisional semakin menghilang alias mati. Sangat jarang masyarakat yang mau untuk mempertahankan atau melestarikan musik tradisional. Namun tidak untuk di Banyumas.
Banyumas, sebagai salah satu kabupaten di Jawa Tengah masih memiliki komunitas paguyuban seni kentongan Jankiss. Dengan keterbatasannya paguyuban ini berusaha untuk mempertahankan jenis musik tradisional yang sekarang sudah sangat jarang dilirik oleh masyarakat kebanyakan.
Jankiss merupakan jenis musik tradisional yang muncul baru-baru ini di daerah Banyumas. Berawal dari keprihatinan seorang warga Banyumas bernama
Yiyiet, terhadap para pemuda di sekitar rumahnya yang tidak memiliki pekerjaan tetap, yang hobinya hanya bermain gitar dan nongkrong di warung tanpa tujuan hidup yang tak pasti, muncullah musik tradisional ini.
Para pemuda tersebut dikumpulkan untuk lebih dioptimalkan naluri berkesenian dan berkreasi sebatas kemampuan mereka. Maka terbetiklah ide membuat paguyuban seni kentongan yang tidak terlalu memerlukan modal besar.
Untuk memainkan Jankiss tidak dibutuhkan keterampilan yang khusus. Mereka cukup diberi bekal ketrampilan memukul kentongan dan pelatihan pernafasan. Sebab modal utama kesenian ini adalah nafas.
Kentongan ini dipukul beraturan sehingga memunculkan nada-nada indah untuk mengiringi lagu-lagu jawa atau pun lagu-lagu Indonesia modern. Dalam memainkan musik ini, dibutuhkan minimal 10 orang pemain. Semakin banyak pemain akan semakin baik, sebab dapat memengaruhi bagus tidaknya bunyi perpaduan kentongan yang dihasilkan.
Dalam memainkan musik ini biasanya dipimpin oleh seorang dirigen. Sambil menari dengan gerakan-gerakan lincah, dirigen mengatur irama, dan gerakan. Semua personil tidak melulu memainkan alat musik saja, namun sambil memainkan musik mereka sambil menyanyi dan berjoget.
Mengingat personilnya adalah mereka yang tidak memiliki uang yang cukup, maka untuk mencari modal untuk pengembangan keberadaan musik Jankiss, personil Jankiss sering mengamen di tempat-tempat umum. Kemudian uang dari hasil mengamen itu dipergunakan untuk membeli seragam dan memperbaiki alat kentongan yang sudah tidak layak pakai.
Kegigihan dan rasa optimis dijadikan modal dasar ditengah keterbatasan modal finansial yang mereka miliki. Sampai sekarang, kesenian ini masih bertahan. Berkat kegigihan dan keuletan mereka, keberadaan musik ini semakin melambung.
Sudah sering musik tradisional ini mengisi acara-acara resmi, seperti pernikahan, khitanan. Bahkan peringatan hari besar agama. Bebrapa kali mereka diundang untuk mengisi acara di hotel-hotel yang ada di Banyumas. Beberapa kali Jankiss juga menjuarai lomba kentongan se Banyumas.
Pantas untuk diacungi jempol cara mereka untuk lebih bisa menghasilkan dan mempertahankan karya seni tradisional yang dipadu asrikan dengan lagu-lagu jaman di tengah derasnya arus bentuk kesenian dari barat yang menghantam jiwa kita sekarang.
Di tengah hingar-bingarnya musik pop atau modern, keberadaan musik tradisional semakin menghilang alias mati. Sangat jarang masyarakat yang mau untuk mempertahankan atau melestarikan musik tradisional. Namun tidak untuk di Banyumas.
Banyumas, sebagai salah satu kabupaten di Jawa Tengah masih memiliki komunitas paguyuban seni kentongan Jankiss. Dengan keterbatasannya paguyuban ini berusaha untuk mempertahankan jenis musik tradisional yang sekarang sudah sangat jarang dilirik oleh masyarakat kebanyakan.
Jankiss merupakan jenis musik tradisional yang muncul baru-baru ini di daerah Banyumas. Berawal dari keprihatinan seorang warga Banyumas bernama
Yiyiet, terhadap para pemuda di sekitar rumahnya yang tidak memiliki pekerjaan tetap, yang hobinya hanya bermain gitar dan nongkrong di warung tanpa tujuan hidup yang tak pasti, muncullah musik tradisional ini.
Para pemuda tersebut dikumpulkan untuk lebih dioptimalkan naluri berkesenian dan berkreasi sebatas kemampuan mereka. Maka terbetiklah ide membuat paguyuban seni kentongan yang tidak terlalu memerlukan modal besar.
Untuk memainkan Jankiss tidak dibutuhkan keterampilan yang khusus. Mereka cukup diberi bekal ketrampilan memukul kentongan dan pelatihan pernafasan. Sebab modal utama kesenian ini adalah nafas.
Kentongan ini dipukul beraturan sehingga memunculkan nada-nada indah untuk mengiringi lagu-lagu jawa atau pun lagu-lagu Indonesia modern. Dalam memainkan musik ini, dibutuhkan minimal 10 orang pemain. Semakin banyak pemain akan semakin baik, sebab dapat memengaruhi bagus tidaknya bunyi perpaduan kentongan yang dihasilkan.
Dalam memainkan musik ini biasanya dipimpin oleh seorang dirigen. Sambil menari dengan gerakan-gerakan lincah, dirigen mengatur irama, dan gerakan. Semua personil tidak melulu memainkan alat musik saja, namun sambil memainkan musik mereka sambil menyanyi dan berjoget.
Mengingat personilnya adalah mereka yang tidak memiliki uang yang cukup, maka untuk mencari modal untuk pengembangan keberadaan musik Jankiss, personil Jankiss sering mengamen di tempat-tempat umum. Kemudian uang dari hasil mengamen itu dipergunakan untuk membeli seragam dan memperbaiki alat kentongan yang sudah tidak layak pakai.
Kegigihan dan rasa optimis dijadikan modal dasar ditengah keterbatasan modal finansial yang mereka miliki. Sampai sekarang, kesenian ini masih bertahan. Berkat kegigihan dan keuletan mereka, keberadaan musik ini semakin melambung.
Sudah sering musik tradisional ini mengisi acara-acara resmi, seperti pernikahan, khitanan. Bahkan peringatan hari besar agama. Bebrapa kali mereka diundang untuk mengisi acara di hotel-hotel yang ada di Banyumas. Beberapa kali Jankiss juga menjuarai lomba kentongan se Banyumas.
Pantas untuk diacungi jempol cara mereka untuk lebih bisa menghasilkan dan mempertahankan karya seni tradisional yang dipadu asrikan dengan lagu-lagu jaman di tengah derasnya arus bentuk kesenian dari barat yang menghantam jiwa kita sekarang.
Berwisata ke Dermaga Wisata Waduk Mrica di Banjarnegara
Oleh: Rosyidah Purwo
Setalah otak dipress untuk menyelesaikan soal-soal ujian, tentunya butuh hiburan dong. Enaknya kemana ya…? Bingung? Nggak usah bingung. Datang aja ke Banjarnegara. Sebuah daerah yang terkenal dengan Dawet Ayu-nya. Dah tahu bukan? Yah, di Banjarnegara, ternyata menyajikan sebuah objek wisata yang tak kalah menariknya dengan objek wisata yang terdapat di daerah lain.
Kenal dengan nama PLTA Panglima Besar Jendral Soedirman? Atau nama Waduk Mrica? Ya, itu dia! Objek wisata Dermaga Wisata namanya. Objek wisata ini berupa pemandangan alam asri yang dipadu asrikan dengan danau buatan atau bendungan. Waduk ini merupakan waduk terbesar di ASIA Tenggara lho. Wow, besar sekali!
Di sini kita dapat menikmati indahnya pemandangan alam dan udara segar pegunungan. Yang menjadi objek wisata utama di Dermaga Wisata adalah Pemandangan alamdan pemandangan air bendungan yang membentang luas sekali seperti danau.
Pada hari libur, objek wisata ini dipenuhi pengunjung. Biasanya adalah mereka para remaja SMA. Untuk masuk ke objek wisata ini, cukup membeli tiket mausuk sebesar Rp. 2000, 00. Murah meriah bukan?
Waduk ini dibangun pada tahun 1982 dan selesai 1987. Lama banget bukan? Dengan memiliki kedalaman 230 meter. Huuu dalam sekaliiii. Nama sebenarnya dari PLTA ini adalah PLTA Panglima Besar Jendral Soedirman. Namun, karena letaknya di desa Mrica, PLTA ini lebih sering disebut dengan PLTA Waduk Mrica
.Pada mulanya tujuan dibangunnya PLTA ini adalah untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat Banjarnegara namun, seiring dengan berjalannya waktu, PLTA ini dijadikan sebagai objek wisata selain juga masih digunakan sebagai sumber tenaga listrik di daerah Banjarnegara.
Objek wisata Dermaga Wisata dibuka pada tahun 1989. Bersamaan dengan diresmikannya lapangan Golf yang berada di bagian barat waduk Mrica.
Mengingat luasnya objek wisata ini, alangkah baiknya apabila hendak berkunjung ke lokasi ini menggunakan sepeda motor atau kendaraan pribadi. Dengan menggunakan kendaraan pribadi, dapat mengurangi lelah sekaligus juga dapat berkeliling mengitari waduk.
Jangan takut kecewa, sebab disepanjang waduk disajikan pemandangan alam yang sangat indah dan asri. Kita juga dapat melihat indahnya pemandangan kaki bukit Lawe.
Jika tidak ada kendaraan sendiri, di objek wisata ini juga disediakan jasa angkutan berupa ojek dan becak. Tapi biasanya meraka hanya mengantar dari pintu masuk sampai ke objek wisatanya saja. Untuk menggunakan jasa ini dikenai biaya sebesar Rp. 5000, 00 per orang.
Pintu masuk menuju ke lokasi ini dibagi menjadi dua yaitu pintu masuk utara dan selatan. Sangat mudah untuk menemukan kedua pintu masuk ini sebab letaknya di tepi jalan raya.
Di objek wisata ini juga disediakan spead boat dan perahu bagi mereka yang ingin berkeliling waduk Mrica melalui jalan air. Cukup dengan membeli tiket sebesar Rp. 10.000, 00 untuk spead boat dan Rp. 1000, 00 untuk perahu. Tinggal pilih sesuai selera.
Mengingat besarnya bendungan ini, tentunya kita berpikir, dari mana sumber airnya? Ternyata bendungan ini mengambil airnya dari sungai Serayu. Itu lho, sungai terpanjang di Jawa Tengah. Ada juga sih yang mengatakan mengambil airnya dari mata air di daerah Mrica yang berasal dari lereng pegunungan Dieng. Konon ceritanya mata air ini tidak pernah mengering, meskipun kemarau panjang melanda.
Lapangan Golf dan Hutan Pinus
Berkunjung ke objek wisata ini rasa-rasanya kurang puas jika tidak mencicipi bermain golf. Ya, di objek wisata ini juga terdapat lapangan golf. Lapangan ini dibuka untuk umum. Jadi, siapa saja dapat menggunakannya.
Dengan membayar uang sewa lapangan sebesar Rp. 30.000, 00 kita dapat menikmati bagaimana rasanya bermain golf. Tapi harus membawa peralatan main sendiri sebab pihak pengelola wisata tidak menyediakan.
Di objek wisata ini juga terdapat hutan pinus. Hutan pinus ini sengaja dibuat oleh pihak pengelola PLTA dengan tujuan untuk menghindari terjadinya erosi tanah di sekitar waduk. Pada awalnya, daerah hutan pinus ini berupa lahan pertanian penduduk yang kebanyakan ditanami palawija.
Lelah berkeliling di objek wisata ini, kita dapat menikmati suguhan makanan yang sudah disediakan dikantin-kantin. Ada Bakso, Mi Ayam, Mi Rebus dan lain-lain. Makanan ringan juga disediakan juga di sini.
Jangan kaget jika harganya lebih mahal dengan makanan yang dijual di luar objek wisata ini. Tapi jangan khawatir, meskipun harganya sedikit lebih mahal kita masih tetep bisa kok menikmati makanan di kantin. Tidak sampai mencapai ratusan ribu. Nah, bagaimana? Siap untuk berlibur?
Setalah otak dipress untuk menyelesaikan soal-soal ujian, tentunya butuh hiburan dong. Enaknya kemana ya…? Bingung? Nggak usah bingung. Datang aja ke Banjarnegara. Sebuah daerah yang terkenal dengan Dawet Ayu-nya. Dah tahu bukan? Yah, di Banjarnegara, ternyata menyajikan sebuah objek wisata yang tak kalah menariknya dengan objek wisata yang terdapat di daerah lain.
Kenal dengan nama PLTA Panglima Besar Jendral Soedirman? Atau nama Waduk Mrica? Ya, itu dia! Objek wisata Dermaga Wisata namanya. Objek wisata ini berupa pemandangan alam asri yang dipadu asrikan dengan danau buatan atau bendungan. Waduk ini merupakan waduk terbesar di ASIA Tenggara lho. Wow, besar sekali!
Di sini kita dapat menikmati indahnya pemandangan alam dan udara segar pegunungan. Yang menjadi objek wisata utama di Dermaga Wisata adalah Pemandangan alamdan pemandangan air bendungan yang membentang luas sekali seperti danau.
Pada hari libur, objek wisata ini dipenuhi pengunjung. Biasanya adalah mereka para remaja SMA. Untuk masuk ke objek wisata ini, cukup membeli tiket mausuk sebesar Rp. 2000, 00. Murah meriah bukan?
Waduk ini dibangun pada tahun 1982 dan selesai 1987. Lama banget bukan? Dengan memiliki kedalaman 230 meter. Huuu dalam sekaliiii. Nama sebenarnya dari PLTA ini adalah PLTA Panglima Besar Jendral Soedirman. Namun, karena letaknya di desa Mrica, PLTA ini lebih sering disebut dengan PLTA Waduk Mrica
.Pada mulanya tujuan dibangunnya PLTA ini adalah untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat Banjarnegara namun, seiring dengan berjalannya waktu, PLTA ini dijadikan sebagai objek wisata selain juga masih digunakan sebagai sumber tenaga listrik di daerah Banjarnegara.
Objek wisata Dermaga Wisata dibuka pada tahun 1989. Bersamaan dengan diresmikannya lapangan Golf yang berada di bagian barat waduk Mrica.
Mengingat luasnya objek wisata ini, alangkah baiknya apabila hendak berkunjung ke lokasi ini menggunakan sepeda motor atau kendaraan pribadi. Dengan menggunakan kendaraan pribadi, dapat mengurangi lelah sekaligus juga dapat berkeliling mengitari waduk.
Jangan takut kecewa, sebab disepanjang waduk disajikan pemandangan alam yang sangat indah dan asri. Kita juga dapat melihat indahnya pemandangan kaki bukit Lawe.
Jika tidak ada kendaraan sendiri, di objek wisata ini juga disediakan jasa angkutan berupa ojek dan becak. Tapi biasanya meraka hanya mengantar dari pintu masuk sampai ke objek wisatanya saja. Untuk menggunakan jasa ini dikenai biaya sebesar Rp. 5000, 00 per orang.
Pintu masuk menuju ke lokasi ini dibagi menjadi dua yaitu pintu masuk utara dan selatan. Sangat mudah untuk menemukan kedua pintu masuk ini sebab letaknya di tepi jalan raya.
Di objek wisata ini juga disediakan spead boat dan perahu bagi mereka yang ingin berkeliling waduk Mrica melalui jalan air. Cukup dengan membeli tiket sebesar Rp. 10.000, 00 untuk spead boat dan Rp. 1000, 00 untuk perahu. Tinggal pilih sesuai selera.
Mengingat besarnya bendungan ini, tentunya kita berpikir, dari mana sumber airnya? Ternyata bendungan ini mengambil airnya dari sungai Serayu. Itu lho, sungai terpanjang di Jawa Tengah. Ada juga sih yang mengatakan mengambil airnya dari mata air di daerah Mrica yang berasal dari lereng pegunungan Dieng. Konon ceritanya mata air ini tidak pernah mengering, meskipun kemarau panjang melanda.
Lapangan Golf dan Hutan Pinus
Berkunjung ke objek wisata ini rasa-rasanya kurang puas jika tidak mencicipi bermain golf. Ya, di objek wisata ini juga terdapat lapangan golf. Lapangan ini dibuka untuk umum. Jadi, siapa saja dapat menggunakannya.
Dengan membayar uang sewa lapangan sebesar Rp. 30.000, 00 kita dapat menikmati bagaimana rasanya bermain golf. Tapi harus membawa peralatan main sendiri sebab pihak pengelola wisata tidak menyediakan.
Di objek wisata ini juga terdapat hutan pinus. Hutan pinus ini sengaja dibuat oleh pihak pengelola PLTA dengan tujuan untuk menghindari terjadinya erosi tanah di sekitar waduk. Pada awalnya, daerah hutan pinus ini berupa lahan pertanian penduduk yang kebanyakan ditanami palawija.
Lelah berkeliling di objek wisata ini, kita dapat menikmati suguhan makanan yang sudah disediakan dikantin-kantin. Ada Bakso, Mi Ayam, Mi Rebus dan lain-lain. Makanan ringan juga disediakan juga di sini.
Jangan kaget jika harganya lebih mahal dengan makanan yang dijual di luar objek wisata ini. Tapi jangan khawatir, meskipun harganya sedikit lebih mahal kita masih tetep bisa kok menikmati makanan di kantin. Tidak sampai mencapai ratusan ribu. Nah, bagaimana? Siap untuk berlibur?
Kekerasan Pada Perempuan dalam Poligami
Oleh: Rosyidah Purwo
Akhir-akhir ini marak pemberitaan seputar pemberian anugrah “Poligami Award” terhadap para suami yang dinilai “sukses” berpoligami. Wacana yang dikembangkan adalah adanya dikotomi poligami yang baik dan benar atau sesuai dengan 'ajaran' Islam dan sebaliknya poligami yang tidak baik atau tidak murni sesuai syariat.
Wacana ini disatu sisi hanya mengekspos bagaimana poligami dilakukan oleh mereka yang berpoligami, tanpa sama sekali mempertimbangkan perspektif perempuan sebagai korban poligami.
Disisi lain dikotomisasi baik-buruk, benar-salah dalam berpoligami mengaburkan masalah mendasar dari institusi poligami itu sendiri sebagai praktek diskriminasi dan kekerasan terhadap salah satu kelompok atas dasar perbedaan jenis kelaminnya.
Pada dasarnya poligami diperbolehkan baik dalam agama ataupun budaya tertentu. Beberapa agama membenarkan dilakukannya poligami. Hal itu dikuatkan pula dengan ketentuan yang kemudian dijadikan dasar pembenaran (legitimasi) bagi laki-laki untuk melakukan poligami dan bahkan dijadikan penguatan bagi perempuan untuk menerima suaminya berpoligami.
Ketentuan tersebut adalah UU No. 7 tahun 1974 tentang Perkawinan pasal 3 ayat 2 yang menyatakan: Pengadilan dapat memberi ijin kepada seorang suami untuk beristeri lebih dari seorang apabila dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Artinya seorang suami boleh memiliki istri lebih dari seorang.
Namun bukan berarti poligami diperbolehkan untuk semua orang, dalam artian yang tidak memenuhi syarat-syarat untuk melakukan poligami. Akan tetapi ketentuan ini telah banyak disalah gunakan bagi kaum laki-laki.
Alasan yang digunakan lebih banyak pada masalah yang tidak prinsipil. Menyelamatkan perempuan dari kemaksiatan, alasan memperoleh pahala dari tuhan dan yang lainnya.
Jika demikian, maka poligami akan lebih banyak menindas dan menganiaya kaum perempuan. Padahal Nabi Muhammad SAW saja sangat selektif dalam melakukan poligami. Artinya, ketika Nabi akan berpoligami, maka dirinya melihat dulu bagaimana kondisi permpuannya. Ia seorang yang teraniaya, rendah derajatnya, janda mati, yatim piatu atau justru sebaliknya.
Mekanisme beristeri lebih dari satu wanita yang diterapkan Nabi adalah strategi untuk meningkatkan kedudukan perempuan dalam tradisi feodal Arab pada abad ke-7 Masehi. Saat itu, nilai sosial seorang perempuan dan janda sedemikian rendah sehingga seorang laki-laki dapat beristri sebanyak mereka suka.
Pada kasus pernikahan lebih dari satu wanita yang dilakukan Nabi SAW, sedang mengejawantahkan Ayat An-Nisa 2-3 mengenai perlindungan terhadap janda mati dan anak-anak yatim. Namun menikahi wanita lebih dari satu hanya dibenarkan secara syar’i dalam keadaan darurat sosial, seperti perang, dengan syarat tidak menimbulkan kerusakan dan kezaliman.
Dalam Pasal 3, 4 dan 5 UU Perkawinan No. 1 Tahun 1974, pada pokoknya menyebutkan bahwa seorang suami boleh beristri lebih dengan izin Pengadilan. Izin ini dikeluarkan bila istri yang bersangkutan sakit dan tidak dapat melayani suami, tidak dapat memiliki keturunan atau tidak mampu menjalankan tugasnya sebagai istri karena alasan lain. Ini berbeda sekali dengan apa yang talah dilakukan oleh Nabi.
Pernyataan pasal tersebut mencerminkan bahwa perkawinan semata-mata ditujukan untuk memenuhi kepentingan biologis dan kepentingan mendapatkan ahli waris/keturunan dari salah satu jenis kelamin, dan diiringi dengan asumsi bahwa salah satu pihak tersebut selalu siap sedia atau tidak akan pernah bermasalah dengan kemampuan fisik/biologisnya.
Hal ini menunjukkan bahwa poligami pada hakekatnya merupakan bentuk pengunggulan kaum laki-laki dan penegasan bahwa fungsi istri dalam perkawinan adalah hanya untuk melayani suami.
Ini bisa terlihat dari alasan yang dapat dipakai oleh Pengadilan Agama untuk memberi izin suami melakukan poligami (karena istri cacat badan, tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai istri dan tidak dapat melahirkan keturunan).
Jika demikian alasan yang digunakan, jelas poligami lebih banyak membawa kerugian bagi perempuan sebab, perempuan menjadi merasa inferior, menyalahkan diri sendiri, istri merasa tindakan suaminya berpoligami adalah akibat dari ketidakmampuan dirinya memenuhi kebutuhan biologis suaminya.
Hal ini sudah mengarah pada bentuk rindak kekerasan pada perempuan yaitu adanya kekerasan secara seksual dan psikologis.
Pilihan monogami-poligami bukanlah sesuatu yang prinsip. Yang prinsip adalah keharusan untuk selalu merujuk pada prinsip-prinsip dasar syariah, yaitu keadilan, membawa kemaslahatan dan tidak mendatangkan mudarat atau kerusakan (mafsadah).
Dan manakala diterapkan, maka untuk mengidentifikasi nilai-nilai prinsipal dalam kaitannya dengan praktik poligami ini, semestinya perempuan diletakkan sebagai subyek penentu keadilan. Ini prinsip karena merekalah yang secara langsung menerima akibat poligami.
Akhir-akhir ini marak pemberitaan seputar pemberian anugrah “Poligami Award” terhadap para suami yang dinilai “sukses” berpoligami. Wacana yang dikembangkan adalah adanya dikotomi poligami yang baik dan benar atau sesuai dengan 'ajaran' Islam dan sebaliknya poligami yang tidak baik atau tidak murni sesuai syariat.
Wacana ini disatu sisi hanya mengekspos bagaimana poligami dilakukan oleh mereka yang berpoligami, tanpa sama sekali mempertimbangkan perspektif perempuan sebagai korban poligami.
Disisi lain dikotomisasi baik-buruk, benar-salah dalam berpoligami mengaburkan masalah mendasar dari institusi poligami itu sendiri sebagai praktek diskriminasi dan kekerasan terhadap salah satu kelompok atas dasar perbedaan jenis kelaminnya.
Pada dasarnya poligami diperbolehkan baik dalam agama ataupun budaya tertentu. Beberapa agama membenarkan dilakukannya poligami. Hal itu dikuatkan pula dengan ketentuan yang kemudian dijadikan dasar pembenaran (legitimasi) bagi laki-laki untuk melakukan poligami dan bahkan dijadikan penguatan bagi perempuan untuk menerima suaminya berpoligami.
Ketentuan tersebut adalah UU No. 7 tahun 1974 tentang Perkawinan pasal 3 ayat 2 yang menyatakan: Pengadilan dapat memberi ijin kepada seorang suami untuk beristeri lebih dari seorang apabila dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Artinya seorang suami boleh memiliki istri lebih dari seorang.
Namun bukan berarti poligami diperbolehkan untuk semua orang, dalam artian yang tidak memenuhi syarat-syarat untuk melakukan poligami. Akan tetapi ketentuan ini telah banyak disalah gunakan bagi kaum laki-laki.
Alasan yang digunakan lebih banyak pada masalah yang tidak prinsipil. Menyelamatkan perempuan dari kemaksiatan, alasan memperoleh pahala dari tuhan dan yang lainnya.
Jika demikian, maka poligami akan lebih banyak menindas dan menganiaya kaum perempuan. Padahal Nabi Muhammad SAW saja sangat selektif dalam melakukan poligami. Artinya, ketika Nabi akan berpoligami, maka dirinya melihat dulu bagaimana kondisi permpuannya. Ia seorang yang teraniaya, rendah derajatnya, janda mati, yatim piatu atau justru sebaliknya.
Mekanisme beristeri lebih dari satu wanita yang diterapkan Nabi adalah strategi untuk meningkatkan kedudukan perempuan dalam tradisi feodal Arab pada abad ke-7 Masehi. Saat itu, nilai sosial seorang perempuan dan janda sedemikian rendah sehingga seorang laki-laki dapat beristri sebanyak mereka suka.
Pada kasus pernikahan lebih dari satu wanita yang dilakukan Nabi SAW, sedang mengejawantahkan Ayat An-Nisa 2-3 mengenai perlindungan terhadap janda mati dan anak-anak yatim. Namun menikahi wanita lebih dari satu hanya dibenarkan secara syar’i dalam keadaan darurat sosial, seperti perang, dengan syarat tidak menimbulkan kerusakan dan kezaliman.
Dalam Pasal 3, 4 dan 5 UU Perkawinan No. 1 Tahun 1974, pada pokoknya menyebutkan bahwa seorang suami boleh beristri lebih dengan izin Pengadilan. Izin ini dikeluarkan bila istri yang bersangkutan sakit dan tidak dapat melayani suami, tidak dapat memiliki keturunan atau tidak mampu menjalankan tugasnya sebagai istri karena alasan lain. Ini berbeda sekali dengan apa yang talah dilakukan oleh Nabi.
Pernyataan pasal tersebut mencerminkan bahwa perkawinan semata-mata ditujukan untuk memenuhi kepentingan biologis dan kepentingan mendapatkan ahli waris/keturunan dari salah satu jenis kelamin, dan diiringi dengan asumsi bahwa salah satu pihak tersebut selalu siap sedia atau tidak akan pernah bermasalah dengan kemampuan fisik/biologisnya.
Hal ini menunjukkan bahwa poligami pada hakekatnya merupakan bentuk pengunggulan kaum laki-laki dan penegasan bahwa fungsi istri dalam perkawinan adalah hanya untuk melayani suami.
Ini bisa terlihat dari alasan yang dapat dipakai oleh Pengadilan Agama untuk memberi izin suami melakukan poligami (karena istri cacat badan, tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai istri dan tidak dapat melahirkan keturunan).
Jika demikian alasan yang digunakan, jelas poligami lebih banyak membawa kerugian bagi perempuan sebab, perempuan menjadi merasa inferior, menyalahkan diri sendiri, istri merasa tindakan suaminya berpoligami adalah akibat dari ketidakmampuan dirinya memenuhi kebutuhan biologis suaminya.
Hal ini sudah mengarah pada bentuk rindak kekerasan pada perempuan yaitu adanya kekerasan secara seksual dan psikologis.
Pilihan monogami-poligami bukanlah sesuatu yang prinsip. Yang prinsip adalah keharusan untuk selalu merujuk pada prinsip-prinsip dasar syariah, yaitu keadilan, membawa kemaslahatan dan tidak mendatangkan mudarat atau kerusakan (mafsadah).
Dan manakala diterapkan, maka untuk mengidentifikasi nilai-nilai prinsipal dalam kaitannya dengan praktik poligami ini, semestinya perempuan diletakkan sebagai subyek penentu keadilan. Ini prinsip karena merekalah yang secara langsung menerima akibat poligami.
Kurikulum Sekolah Memuaskan, Tapi…..
Oleh: Rosyidah Purwo
Ngomong-ngomong mengenai kurikulum sekolah…., bagaimana ya….? jika dipikir-pikir, kurikulum sekolah sekarang sangat bagus. Sebab sudah mulai memperhitungkan adanya perbedaan budaya kita.
Kurikulum sekarang juga lebih menyenangkan, sebab siswa dituntut untuk lebih kreatif. Dengan begitu berarti prestasi siswa tidak dipandang hanya dari segi satu aspek saja, namun tiga aspek sekaligus. Kognitif, psikomotorik, dan afektif.
Tapi sayang, saat ujia tiba, mengapa kelulusan siswa hanya diambil dari satu aspek saja ya…jika begitu, sia-sia dong siswa mengikuti kurikulum selama tiga tahun lamanya, kalau pada akhirnya kelulusan hanya ditentukkan oleh satu aspek saja. Bagaimana nih…
Ngomong-ngomong mengenai kurikulum sekolah…., bagaimana ya….? jika dipikir-pikir, kurikulum sekolah sekarang sangat bagus. Sebab sudah mulai memperhitungkan adanya perbedaan budaya kita.
Kurikulum sekarang juga lebih menyenangkan, sebab siswa dituntut untuk lebih kreatif. Dengan begitu berarti prestasi siswa tidak dipandang hanya dari segi satu aspek saja, namun tiga aspek sekaligus. Kognitif, psikomotorik, dan afektif.
Tapi sayang, saat ujia tiba, mengapa kelulusan siswa hanya diambil dari satu aspek saja ya…jika begitu, sia-sia dong siswa mengikuti kurikulum selama tiga tahun lamanya, kalau pada akhirnya kelulusan hanya ditentukkan oleh satu aspek saja. Bagaimana nih…
Laporan Perjalanan Semarang, Nusakambangan, Kebumen
By: Rosyidah Purwo
Tujuan wisata jama’ah Arridlo yang diketuai oleh mbah Gito mengadakan kunjungan wisata atau lebih sopannya adalah kunjungan ziarah ke petilasan Syekh Subakir di Goa Ratu Cilacap.
Berangkat dari Semarang tepat pukul 00.00 wib. Pada pukul 04.30 wib rombongan sampai di hotel Graha Baru di Kebumen. Di sana rombongan melakukan sholat subuh berjamaah, mandi, dan makan pagi. Makan pagi dengan menu adalah mi goreng, ayam goreng Kentucky, dan sop. Ditambah dengan minum teh hangat. Selama satu jam lamanya rombongan beristirahat di sana.
Rombongan melakukan perjalanan kembali tepat pukul 07.00 wib dan sampai di dermaga Wijayapura pada pukul 11.15 wib. Dermaga Wijayapura adalah pintu masuk pertama untuk menuju ke Nusakambangan.
Sampai di sana kami tidak dapat masuk ke nusakambangan, dengan alasan sudah ditutup untuk umum semenjak ada tsunami. Jika hendak ke sana memerlukan surat ijin terlebih dahulu.
Kemudian sebagai gantinya, kami mengalihkan tujuan objek wisata ke wisata Bahari Cilacap. Bagi saya tidak ada ruginya sebab saya dapat memperoleh banyak pengetahuan dari wisata Bahari ini. Dengan menggunakan kapal Mentari yang berlantai dua dengan jumlah kursi kurang lebih lima puluh, kami menyususri wisata bahari kurang lebih selama satu jam.
Dengan dipandu oleh guid yang berupa suara kaset, kami menikmati wisata ini sambil serius mengdengarkan petunjuk atau keterangan-keterangan yang diberikan oleh guid. Agak kecewa memang sebab, terkadang keterangan-keterangan tersebut tidak pas atau tidak tepat dengan objek yang dilihat.
Di wisata Bahari ini kita akan melihat dermaga Sodong. Yaitu pintu masuk ke dua menuju pulau Nusakambangan. Dermaga Sodong ini dapat dicapai dengan menggunakan kapal verry atau kapal kecil macam Mentari. Di dermaga Sodong ini dapat ditemukan beberapa toko-toko kecil penjual makanan, minuman, makanan kecil, tanaman hias.
Bagi yang hendak masuk ke Nusakambangn, namun belum memiliki bekal yang cukup, diharapkan membeli bekal di dermaga Sodong, sebab jika sudah masuk ke Nusakambangan tidak akan bisa ditemui took-toko penjual makanan.
Di wisata Bahari kami dapat melihat penambangan pasir, kilang minyak terbesar di Asia Tenggara, perahu-perahu besar pengangkut barang-barang ekspor impor (beras, gula, ikan, kayu, pasir, minyak dll).
Diperlihatkan pula mengenai bahan baku / mentah dari pembuat semen yang diproduksi di Indonesia. Hampir 87% bahan baku tersebut diambilkan dari pulau Nusakambangan. Bahan pokok pembuat semen ini berwarna kuning.
Nusakambanan sebagai pulau yang memiliki potensi alam berupa bahan baku pembuat semen telah dikontrak selama 200 tahun oleh pabrik semen. Diperlihatkan juga mengenai mesin penghancur batu-batu untuk dijadikan semen.
Diperlihatkan pula mengenai perumahan yang digunakan sebagai tempat untuk menampung siswa-siswa dari…….yang mana nantinya jika mereka hampir mendekati masa lulus mereka akan diuji di pulau Nusakambangan selama tiga hari tiga malam tanpa dibekali apapun. Hanya korek api, minyak gas, dan tali.
Di sana mereka disuruh membebaskan sandera. Yaitu seorang petugas keamanan di Nusakambangan yang disekap di suatu ruangan LP dengan berbagai macam rintangan.
Kami menemukan istilah baru terkait dengan kelautan yaitu bui yaitu berupa menara pendek berwana merah dan hijau yang mana jika waktu malam akan menyalakan lampu sesuai dengan warna dari menara itu. Jika di darat alat tersebut dinamakan rambu-rambu. Ini berfungsi sebagai rambu-rambu bagi kapal pada waktu mala.
Dengan hanya membayar Rp 9000, 00 - Rp. 10000, 00 per orang, kita dapat menikmati wisata ini dengan santai dan nyaman. Ber 35 kami menikmati wisata Bahari ini. Setelah selama satu jam kami berkeliling menikmati wisata Bahari dengan kapal Mentari, kami melanjutkan perjalanan ke Benteng Pendem.
Benteng Pendem
Benteng Pendem merupakan benteng peninggalan Belanda yang digunakan sebagai benteng pertahanan pada masa perang. Dikatakan benteng Pendem karena benteng ini terpendam di bawah tanah. Luasnya bias mencapai……km.
Melihat dari dekat keadaan benteng Pendem sungguh memprihatinkan, sebab benteng ini terlihat tidak terawat. Dinding-dindingnya terlihat mulai menghijau karena lumut. Juga adanya goresan-goresan tangan jahil pengunjung.
Benteng pendem sekarang lebih banyak dijadikan sebagai objek wisata alam, bukan sebagai objek wisata sejarah.
Memang masih adanya beberapa pohon-pohon besar, dan beberapa tanaman-tanaman perdu membuat lokasi benteng Pendem sangat nyaman untuk dijadikan objek wisata. Taman bermain, gazebo, sekarang dapat dijumpai di sini.
Melihatnya membuat kepala berpikir bahwa betapa kuat dan kokohnya pasukan belanda saat itu. Betapa moderennya orang-orang Belanda pada masa itu. Ya, sebab beberapa barak yang ditemui menunnjukkan adanya hal itu.
Barak pengobatan,………..
Andaikan wisata bersejarah ini endapat perhatian yang cukup dari pemerintah, mungkin nasib benteng Pendem tidak seperti sekarang. Kusam, berlumut, dan tak terawat.
Memang jika dilihat ke dalam-dalamnya kelihatan bersih, namun, sepertinya bersihnya ini adalah karena adanya pengujung yang masuk secara berkala dan berganti-ganti sepanjang tahun.
Di loka wisata ini dapat ditemui wisata belanja barang-barang antik dari kerang. Sepanjang jalan masuk menuju ke benteng pendem terdapat banyak sekali toko-toko yang menjual barang-barang antic yang terbuat dari kerang. Gorden, gantingankunci, guci, bros, manik-manik, kalung gelang, boneka dan masih banyak lagi yang lainnya.
Di loka wisata ini kita dapat melihat keberadaan teluk penyu yang terlihat kotor. Di sini kita dapat dapat menikmati pemandangan alam berupa laut lepas dengan berdiri kokoh di sebelah kananya, pulau Nusakambangan. Jika kita melihat ke arah kiri, maka kita dapat menikmati leut lepas yang hanya disekat oleh langit putih. Melihatnya, mata kita seperti dibius untuk tetap melihat ke sana.
Di pantainya di dapati beberapa perahu-perahu kecil penangkap ikan milik nelayan.
Jangan Takut Kelaparan
Berbeda dengan di Nusakambangan. Bagi pengunjung yang kehabisan bekal, jangan takut kelaparan sebab di loka wisata ini tersedia banyak sekali penjual makanan baik yang keliling maupun berupa warung makan.
Sayangnya untuk menuju ke loka wisata ini kita harus emebawa kendaraan sediri sebab tidak ada kendaraan yang menuju ke objek wisata ini. Ada kendaraan satu-satunya yaitu becak. Dengan naik becak kita hanya ditarik ongkos sebesar Rp. 5000, 00. Jika tidak igin naik becak, dapat ditepuh dengan cara berjalan kakai. Namun dapat cukup melelahkan.
Akan tetapi jangan khwatir, sebab disepanjang jalan menuju ke loka wisata ini kita disuguhi pemandangan yang cukup menarik yaitu bentangan laut yang luas, kilang minyak, penjual-penjual souvenir.
Diobjek wisata ini, kami menghabiskan waktu kurang lebih selama 1 ½ jam. Setelah berkeliling mengitari benteng Pendem, rombongan melanjutkan perjalanan ke objek wisata Goa Jatijajar di Kebumen. Mebutuhkan waktu kurang lebih 2 jam. Di tengah perjalanan rombongan berhanti untuk melaksanakan sholat ashar dan dzuhur berjamaah.
Goa Jatijajar
Sampai di objek wisata ini kurang lebih pukul 16.30 wib. Sampai di sini hari sudah mulai gelap.Maka niat untuk mengambil gambar-gambar yang berada di luar goa, saya urungkan. Sebab menurut informasi salah satu dari teman kami, gambar yang diambil bisa jelek karena pencahayaannya tidak mendukung.
Goa Jatijajar terletak di Kebumen. Terletak 21 kilometer ke arah selatan Gombong, atau 42 kilometer arah barat Kebumen. Gua Jatijajar berada di kaki pegunungan kapur. Objek wisata ini sungguh sangat menarik. Pegunungan kapur ini memanjang dari utara dan ujungnya di selatan menjorok ke laut berupa sebuah tanjung.
Folklor
Gua Jatjajar ini pada jaman dahulu merupakan tempat bersemedi Raden Kamandaka, yang kemudian mendapat wangsit. Cerita Raden Kamandaka ini kemudian dikenal dengan legenda Lutung Kasarung. Visualisasi dari legenda tersebut dapat kita lihat dalam diorama yang ada di dalam goa itu.
Goa ini telah ada sejak tahun….ada mitos atau cerita bersejarah pada masa ………….
Sampai di mulut goa, kami disuguhi pemandangan yang cukup menakjubakan.
Untuk masuk ke dalam goa terlebih dahulu harus menyususri jalan setepak yang cukup menanjak. Mulut goa yang menganga lebar sepertinya sudah siap-siap untuk menerkam dan melumat kita. Sebagai fenomena alam, goa ini tidak kalah menariknya dengan goa-goa lainnya yang memiliki stalagmite dan stalagtit.
Setelah mendengar cerita dari guide kami berdoa memuji keagungan tuhan dengan kuasanya yang telah membuat sebuah keajaiban alam, goa Jatijajar. Sambil melihat stalagtit yang berdiri kokoh di depanku, aku mengucap tasbih dan tahlil berulang-ulang. Memuji keagungan Tuhan.
Melihat kokohnya stalagtit dan stalagmite yang berdiri kokoh aku berpikir bahwa ‘otak manusia yang bodoh jika belajar terus menerus maka lama kelamaan dia akan seperti stalagtit atau stalakmit. Hanya dari tetesan-tetesan air kecil-kecil bias menjadi sebuah gundukan batu yang besar dan kuat. Begitupun dengan manusia. Atau dengan diriku. Suatua saat jika aku terus menerus belajar untuk menulis dan istiqomah serta disiplin, aku pasti bias menjadi seperti sstalagmit dan stalaktit. Tumbuh besar, dipuji orang, dikagumi, dan diburu. Itulah aku suatu saat yang akan dipuji, dikagumi, dan diburu sebagai seprang penulis jika aku belajar terus menerus.’
Di dalam goa ini terdapat dua sendang yaitu sendang mawar dan sendang Kantil. Menurut kepercayaan masyarakat, kedua sendang ini memiliki kelebihan. Sendang mawar, konon ceritanya dapat membuat awet muda. Sedangkan sendang Kanthil dapat membuat seseorang cepat dapat jodoh.
Kedua sendang ini merupakan sumber mata air yang sangat potensial karena tidak pernah mengalami kekeringan walau musim kemarau sekalipun. Sumber mata air ini adalah berasal dari Puserbumi untuk sendang Mawar dan untuk sendang Kanthil berasal dari sumber Jombor.
Air yang mengalir dari kedua sendang ini mengalir menjadi satu aliran menuju pada sebuah kolam besar yang mana sekarang kolam tersebut tidak lagi menunjukkan bahwa itu adalah sebuah kolam. Namun tidak lebih seperti sebuah sungai yang menglir dengan airnya yang jernih.
Di objek wisata ini kita disuguhi pemandangan alam yang damai dan nyaman. Udara gunung yang segar masih dapat dinikmati di objek wisata ini. Tapi hati-hati di objek wisata ini, jika penerangan sedang tidak ada alias mati lampu maka bersiap-siaplah untuk menelusuri jalan dengan gelap mata. Apalagi jika tidak dibantu dengan penerangan sinar dari senter.
Panjang goa ini kurang lebih 25 km. Dan dalamnya 40 meter. Untuk menyusurinya membutuhkan sedikitnya waktu 1 jam. Di objek wisata ini kami dibantu oleh seorang guide yang siap menemani dan memberikan cerita-cerita seputar goa Jatijajar.
Sampai di luar goa waktu sudah menunjukkan mahgrib Maka kami bercepat-cepat untuk melaksanakan sholat maghrib yang dijamak dengan isya setelah sebelumnya kami berwudlu di sendang Mawar dan sendang Kanthil. Setelah melaksanakan sholat jamaah bersama kami melanjutkan perjalanan untuk pulang.
Dalam perjalanan pulang hujan besar mengguyur bus yang kami naiki. Suasana hening menjadi teman perjalanan setelah hamir sehari penuh melakukan perjalanan wisata. Maka masing-masing berada dalam dunia mimpinya.
Pukul 19.30 rombongan sampai di hotel Graha Baru. Di hotel Graha Baru kami makan malam dan istirahat. Di sana kami disuguhi menu yang cukup membuat perut menjadi lapar. Mi goreng, guramih goreng, capcai, tumis tahu ayam. Ditambah dengan minuman teh hangat dan pencuci mulut yaitu semangka. Di tengah hujan besar, dengan ditemani lagu-lagu jawa, masing-masing terlena dengan makanan dan suguhan musik-musiknya.
Setelah perut kenyang, pikiran tenang, dan tentunya dengan badan yang lelah kami melanjutkan perjalanan menuju rumah masing-masing. Dengan membawa perut yang kenyang, pikiran tenang, dan tubuh yang lelah ditambah dengan suasana bus yang tenang, kami terlena dalam tidur. Tak terasa sudah sampai di rumah.
Jam 02.00 wib kami sampai di pondok.
Aku menulis ini tanggal 07 April 2007 jam 02.30 sampai jam 04.18 wib.
Selesai!
Tujuan wisata jama’ah Arridlo yang diketuai oleh mbah Gito mengadakan kunjungan wisata atau lebih sopannya adalah kunjungan ziarah ke petilasan Syekh Subakir di Goa Ratu Cilacap.
Berangkat dari Semarang tepat pukul 00.00 wib. Pada pukul 04.30 wib rombongan sampai di hotel Graha Baru di Kebumen. Di sana rombongan melakukan sholat subuh berjamaah, mandi, dan makan pagi. Makan pagi dengan menu adalah mi goreng, ayam goreng Kentucky, dan sop. Ditambah dengan minum teh hangat. Selama satu jam lamanya rombongan beristirahat di sana.
Rombongan melakukan perjalanan kembali tepat pukul 07.00 wib dan sampai di dermaga Wijayapura pada pukul 11.15 wib. Dermaga Wijayapura adalah pintu masuk pertama untuk menuju ke Nusakambangan.
Sampai di sana kami tidak dapat masuk ke nusakambangan, dengan alasan sudah ditutup untuk umum semenjak ada tsunami. Jika hendak ke sana memerlukan surat ijin terlebih dahulu.
Kemudian sebagai gantinya, kami mengalihkan tujuan objek wisata ke wisata Bahari Cilacap. Bagi saya tidak ada ruginya sebab saya dapat memperoleh banyak pengetahuan dari wisata Bahari ini. Dengan menggunakan kapal Mentari yang berlantai dua dengan jumlah kursi kurang lebih lima puluh, kami menyususri wisata bahari kurang lebih selama satu jam.
Dengan dipandu oleh guid yang berupa suara kaset, kami menikmati wisata ini sambil serius mengdengarkan petunjuk atau keterangan-keterangan yang diberikan oleh guid. Agak kecewa memang sebab, terkadang keterangan-keterangan tersebut tidak pas atau tidak tepat dengan objek yang dilihat.
Di wisata Bahari ini kita akan melihat dermaga Sodong. Yaitu pintu masuk ke dua menuju pulau Nusakambangan. Dermaga Sodong ini dapat dicapai dengan menggunakan kapal verry atau kapal kecil macam Mentari. Di dermaga Sodong ini dapat ditemukan beberapa toko-toko kecil penjual makanan, minuman, makanan kecil, tanaman hias.
Bagi yang hendak masuk ke Nusakambangn, namun belum memiliki bekal yang cukup, diharapkan membeli bekal di dermaga Sodong, sebab jika sudah masuk ke Nusakambangan tidak akan bisa ditemui took-toko penjual makanan.
Di wisata Bahari kami dapat melihat penambangan pasir, kilang minyak terbesar di Asia Tenggara, perahu-perahu besar pengangkut barang-barang ekspor impor (beras, gula, ikan, kayu, pasir, minyak dll).
Diperlihatkan pula mengenai bahan baku / mentah dari pembuat semen yang diproduksi di Indonesia. Hampir 87% bahan baku tersebut diambilkan dari pulau Nusakambangan. Bahan pokok pembuat semen ini berwarna kuning.
Nusakambanan sebagai pulau yang memiliki potensi alam berupa bahan baku pembuat semen telah dikontrak selama 200 tahun oleh pabrik semen. Diperlihatkan juga mengenai mesin penghancur batu-batu untuk dijadikan semen.
Diperlihatkan pula mengenai perumahan yang digunakan sebagai tempat untuk menampung siswa-siswa dari…….yang mana nantinya jika mereka hampir mendekati masa lulus mereka akan diuji di pulau Nusakambangan selama tiga hari tiga malam tanpa dibekali apapun. Hanya korek api, minyak gas, dan tali.
Di sana mereka disuruh membebaskan sandera. Yaitu seorang petugas keamanan di Nusakambangan yang disekap di suatu ruangan LP dengan berbagai macam rintangan.
Kami menemukan istilah baru terkait dengan kelautan yaitu bui yaitu berupa menara pendek berwana merah dan hijau yang mana jika waktu malam akan menyalakan lampu sesuai dengan warna dari menara itu. Jika di darat alat tersebut dinamakan rambu-rambu. Ini berfungsi sebagai rambu-rambu bagi kapal pada waktu mala.
Dengan hanya membayar Rp 9000, 00 - Rp. 10000, 00 per orang, kita dapat menikmati wisata ini dengan santai dan nyaman. Ber 35 kami menikmati wisata Bahari ini. Setelah selama satu jam kami berkeliling menikmati wisata Bahari dengan kapal Mentari, kami melanjutkan perjalanan ke Benteng Pendem.
Benteng Pendem
Benteng Pendem merupakan benteng peninggalan Belanda yang digunakan sebagai benteng pertahanan pada masa perang. Dikatakan benteng Pendem karena benteng ini terpendam di bawah tanah. Luasnya bias mencapai……km.
Melihat dari dekat keadaan benteng Pendem sungguh memprihatinkan, sebab benteng ini terlihat tidak terawat. Dinding-dindingnya terlihat mulai menghijau karena lumut. Juga adanya goresan-goresan tangan jahil pengunjung.
Benteng pendem sekarang lebih banyak dijadikan sebagai objek wisata alam, bukan sebagai objek wisata sejarah.
Memang masih adanya beberapa pohon-pohon besar, dan beberapa tanaman-tanaman perdu membuat lokasi benteng Pendem sangat nyaman untuk dijadikan objek wisata. Taman bermain, gazebo, sekarang dapat dijumpai di sini.
Melihatnya membuat kepala berpikir bahwa betapa kuat dan kokohnya pasukan belanda saat itu. Betapa moderennya orang-orang Belanda pada masa itu. Ya, sebab beberapa barak yang ditemui menunnjukkan adanya hal itu.
Barak pengobatan,………..
Andaikan wisata bersejarah ini endapat perhatian yang cukup dari pemerintah, mungkin nasib benteng Pendem tidak seperti sekarang. Kusam, berlumut, dan tak terawat.
Memang jika dilihat ke dalam-dalamnya kelihatan bersih, namun, sepertinya bersihnya ini adalah karena adanya pengujung yang masuk secara berkala dan berganti-ganti sepanjang tahun.
Di loka wisata ini dapat ditemui wisata belanja barang-barang antik dari kerang. Sepanjang jalan masuk menuju ke benteng pendem terdapat banyak sekali toko-toko yang menjual barang-barang antic yang terbuat dari kerang. Gorden, gantingankunci, guci, bros, manik-manik, kalung gelang, boneka dan masih banyak lagi yang lainnya.
Di loka wisata ini kita dapat melihat keberadaan teluk penyu yang terlihat kotor. Di sini kita dapat dapat menikmati pemandangan alam berupa laut lepas dengan berdiri kokoh di sebelah kananya, pulau Nusakambangan. Jika kita melihat ke arah kiri, maka kita dapat menikmati leut lepas yang hanya disekat oleh langit putih. Melihatnya, mata kita seperti dibius untuk tetap melihat ke sana.
Di pantainya di dapati beberapa perahu-perahu kecil penangkap ikan milik nelayan.
Jangan Takut Kelaparan
Berbeda dengan di Nusakambangan. Bagi pengunjung yang kehabisan bekal, jangan takut kelaparan sebab di loka wisata ini tersedia banyak sekali penjual makanan baik yang keliling maupun berupa warung makan.
Sayangnya untuk menuju ke loka wisata ini kita harus emebawa kendaraan sediri sebab tidak ada kendaraan yang menuju ke objek wisata ini. Ada kendaraan satu-satunya yaitu becak. Dengan naik becak kita hanya ditarik ongkos sebesar Rp. 5000, 00. Jika tidak igin naik becak, dapat ditepuh dengan cara berjalan kakai. Namun dapat cukup melelahkan.
Akan tetapi jangan khwatir, sebab disepanjang jalan menuju ke loka wisata ini kita disuguhi pemandangan yang cukup menarik yaitu bentangan laut yang luas, kilang minyak, penjual-penjual souvenir.
Diobjek wisata ini, kami menghabiskan waktu kurang lebih selama 1 ½ jam. Setelah berkeliling mengitari benteng Pendem, rombongan melanjutkan perjalanan ke objek wisata Goa Jatijajar di Kebumen. Mebutuhkan waktu kurang lebih 2 jam. Di tengah perjalanan rombongan berhanti untuk melaksanakan sholat ashar dan dzuhur berjamaah.
Goa Jatijajar
Sampai di objek wisata ini kurang lebih pukul 16.30 wib. Sampai di sini hari sudah mulai gelap.Maka niat untuk mengambil gambar-gambar yang berada di luar goa, saya urungkan. Sebab menurut informasi salah satu dari teman kami, gambar yang diambil bisa jelek karena pencahayaannya tidak mendukung.
Goa Jatijajar terletak di Kebumen. Terletak 21 kilometer ke arah selatan Gombong, atau 42 kilometer arah barat Kebumen. Gua Jatijajar berada di kaki pegunungan kapur. Objek wisata ini sungguh sangat menarik. Pegunungan kapur ini memanjang dari utara dan ujungnya di selatan menjorok ke laut berupa sebuah tanjung.
Folklor
Gua Jatjajar ini pada jaman dahulu merupakan tempat bersemedi Raden Kamandaka, yang kemudian mendapat wangsit. Cerita Raden Kamandaka ini kemudian dikenal dengan legenda Lutung Kasarung. Visualisasi dari legenda tersebut dapat kita lihat dalam diorama yang ada di dalam goa itu.
Goa ini telah ada sejak tahun….ada mitos atau cerita bersejarah pada masa ………….
Sampai di mulut goa, kami disuguhi pemandangan yang cukup menakjubakan.
Untuk masuk ke dalam goa terlebih dahulu harus menyususri jalan setepak yang cukup menanjak. Mulut goa yang menganga lebar sepertinya sudah siap-siap untuk menerkam dan melumat kita. Sebagai fenomena alam, goa ini tidak kalah menariknya dengan goa-goa lainnya yang memiliki stalagmite dan stalagtit.
Setelah mendengar cerita dari guide kami berdoa memuji keagungan tuhan dengan kuasanya yang telah membuat sebuah keajaiban alam, goa Jatijajar. Sambil melihat stalagtit yang berdiri kokoh di depanku, aku mengucap tasbih dan tahlil berulang-ulang. Memuji keagungan Tuhan.
Melihat kokohnya stalagtit dan stalagmite yang berdiri kokoh aku berpikir bahwa ‘otak manusia yang bodoh jika belajar terus menerus maka lama kelamaan dia akan seperti stalagtit atau stalakmit. Hanya dari tetesan-tetesan air kecil-kecil bias menjadi sebuah gundukan batu yang besar dan kuat. Begitupun dengan manusia. Atau dengan diriku. Suatua saat jika aku terus menerus belajar untuk menulis dan istiqomah serta disiplin, aku pasti bias menjadi seperti sstalagmit dan stalaktit. Tumbuh besar, dipuji orang, dikagumi, dan diburu. Itulah aku suatu saat yang akan dipuji, dikagumi, dan diburu sebagai seprang penulis jika aku belajar terus menerus.’
Di dalam goa ini terdapat dua sendang yaitu sendang mawar dan sendang Kantil. Menurut kepercayaan masyarakat, kedua sendang ini memiliki kelebihan. Sendang mawar, konon ceritanya dapat membuat awet muda. Sedangkan sendang Kanthil dapat membuat seseorang cepat dapat jodoh.
Kedua sendang ini merupakan sumber mata air yang sangat potensial karena tidak pernah mengalami kekeringan walau musim kemarau sekalipun. Sumber mata air ini adalah berasal dari Puserbumi untuk sendang Mawar dan untuk sendang Kanthil berasal dari sumber Jombor.
Air yang mengalir dari kedua sendang ini mengalir menjadi satu aliran menuju pada sebuah kolam besar yang mana sekarang kolam tersebut tidak lagi menunjukkan bahwa itu adalah sebuah kolam. Namun tidak lebih seperti sebuah sungai yang menglir dengan airnya yang jernih.
Di objek wisata ini kita disuguhi pemandangan alam yang damai dan nyaman. Udara gunung yang segar masih dapat dinikmati di objek wisata ini. Tapi hati-hati di objek wisata ini, jika penerangan sedang tidak ada alias mati lampu maka bersiap-siaplah untuk menelusuri jalan dengan gelap mata. Apalagi jika tidak dibantu dengan penerangan sinar dari senter.
Panjang goa ini kurang lebih 25 km. Dan dalamnya 40 meter. Untuk menyusurinya membutuhkan sedikitnya waktu 1 jam. Di objek wisata ini kami dibantu oleh seorang guide yang siap menemani dan memberikan cerita-cerita seputar goa Jatijajar.
Sampai di luar goa waktu sudah menunjukkan mahgrib Maka kami bercepat-cepat untuk melaksanakan sholat maghrib yang dijamak dengan isya setelah sebelumnya kami berwudlu di sendang Mawar dan sendang Kanthil. Setelah melaksanakan sholat jamaah bersama kami melanjutkan perjalanan untuk pulang.
Dalam perjalanan pulang hujan besar mengguyur bus yang kami naiki. Suasana hening menjadi teman perjalanan setelah hamir sehari penuh melakukan perjalanan wisata. Maka masing-masing berada dalam dunia mimpinya.
Pukul 19.30 rombongan sampai di hotel Graha Baru. Di hotel Graha Baru kami makan malam dan istirahat. Di sana kami disuguhi menu yang cukup membuat perut menjadi lapar. Mi goreng, guramih goreng, capcai, tumis tahu ayam. Ditambah dengan minuman teh hangat dan pencuci mulut yaitu semangka. Di tengah hujan besar, dengan ditemani lagu-lagu jawa, masing-masing terlena dengan makanan dan suguhan musik-musiknya.
Setelah perut kenyang, pikiran tenang, dan tentunya dengan badan yang lelah kami melanjutkan perjalanan menuju rumah masing-masing. Dengan membawa perut yang kenyang, pikiran tenang, dan tubuh yang lelah ditambah dengan suasana bus yang tenang, kami terlena dalam tidur. Tak terasa sudah sampai di rumah.
Jam 02.00 wib kami sampai di pondok.
Aku menulis ini tanggal 07 April 2007 jam 02.30 sampai jam 04.18 wib.
Selesai!
Lemahnya Hukum di Indonesia
Oleh: Rosyidah Purwo
Lemahnya hukum terhadap program acara televisi, telah membuat beberapa stasiun televisi swasta, dengan semaunya sendiri menayangkan program-program acara yang dinilai kurang pas untuk dikonsumsi masyarakat. Smack Down, misalnya.
Smack Down, merupakan salah satu program acara televisi swasta, Lativi. Program ini merupakan program unggulan, sebab perolehan ratingnya cukup tinggi. Namun dengan adanya acara ini banyak kasus tindak kekerasan muncul di kalangan anak-anak. Karena acara tersebut, banyak siswa selalu mempraktekkan gerakan smack down.
Adanya kasus-kasus kekerasan yang muncul pada anak-anak, mengundang banyak reaksi dari berbagai kalangan masyarakat dan LSM. Komisi Perlindungan Anak Indonesia, salah satunya.
Ibarat nasi telah menjadi bubur. Reaksi mereka telah terlambat, sebab kasus kekerasan di kalangan anak-anak telah banyak muncul. Walaupun dari pihak KPAI sudah sering memberikan himbauan kepada stasiun-stasiun televisi agar tidak menayangkan program acara yang tidak mendidik anak-anak, tetap saja pihak satasiun televisi menayangkannya. Upaya untuk mengejar rating serta mendapat keuntungan, dijadikan alasan bagi mereka. Namun sayang, himbauan itu telah terlambat.
Tayangan ini jelas telah melanggar Undang-Undang (UU) No 32/2002 tentang Penyiaran pasal 36 karena mengumbar kekerasan. Pasal tersebut antara lain menyebutkan, isi siaran dilarang menonjolkan kekerasan.
Sementara itu, pasal 57 mengatur bahwa pelanggaran pasal tersebut dikenai sanksi lima tahun penjara dan atau denda Rp10 miliar untuk penyiaran televisi. Walaupun begitu, pihak stasiun televisi sepertinya tidak mau tahu. Mereka tetap saja menayangkan acara-acara semacam itu.
Seharusnya stasiun televisi tidak hanya mengejar rating tayangan namun juga memiliki kepedulian sosial, khususnya dalam melindungi anak-anak agar tidak memiliki imajinasi pornografi dan melakukan kekerasan kepada orang lain. Jika demikian itu sama artinya mereka tidak peduli terhadap masa depan bangsa Indonesia. Sebab mereka telah mencekoki generasi penerusnya dengan tayangan-tayangan yang tidak edukatif sama sekali.
Hendaknya Lativi mencabut dan menghentikan tayangan smack down. Selain sudah banyak korban yang berjatuhan, tayangan itu sama sekali tidak memiliki nilai mendidik bagi pemirsanya. Acara tersebut jelas-jelas berdampak buruk terhadap perilaku anak-anak di tanah air
Kini, sudah tidak ada alasan untuk tidak menghentikan tayangan-tayangan yang tidak mendidik tersebut karena sudah ada jatuh korban, yakni anak-anak yang seharusnya membutuhkan tayangan yang mencerahkan jiwanya.
Lemahnya hukum terhadap program acara televisi, telah membuat beberapa stasiun televisi swasta, dengan semaunya sendiri menayangkan program-program acara yang dinilai kurang pas untuk dikonsumsi masyarakat. Smack Down, misalnya.
Smack Down, merupakan salah satu program acara televisi swasta, Lativi. Program ini merupakan program unggulan, sebab perolehan ratingnya cukup tinggi. Namun dengan adanya acara ini banyak kasus tindak kekerasan muncul di kalangan anak-anak. Karena acara tersebut, banyak siswa selalu mempraktekkan gerakan smack down.
Adanya kasus-kasus kekerasan yang muncul pada anak-anak, mengundang banyak reaksi dari berbagai kalangan masyarakat dan LSM. Komisi Perlindungan Anak Indonesia, salah satunya.
Ibarat nasi telah menjadi bubur. Reaksi mereka telah terlambat, sebab kasus kekerasan di kalangan anak-anak telah banyak muncul. Walaupun dari pihak KPAI sudah sering memberikan himbauan kepada stasiun-stasiun televisi agar tidak menayangkan program acara yang tidak mendidik anak-anak, tetap saja pihak satasiun televisi menayangkannya. Upaya untuk mengejar rating serta mendapat keuntungan, dijadikan alasan bagi mereka. Namun sayang, himbauan itu telah terlambat.
Tayangan ini jelas telah melanggar Undang-Undang (UU) No 32/2002 tentang Penyiaran pasal 36 karena mengumbar kekerasan. Pasal tersebut antara lain menyebutkan, isi siaran dilarang menonjolkan kekerasan.
Sementara itu, pasal 57 mengatur bahwa pelanggaran pasal tersebut dikenai sanksi lima tahun penjara dan atau denda Rp10 miliar untuk penyiaran televisi. Walaupun begitu, pihak stasiun televisi sepertinya tidak mau tahu. Mereka tetap saja menayangkan acara-acara semacam itu.
Seharusnya stasiun televisi tidak hanya mengejar rating tayangan namun juga memiliki kepedulian sosial, khususnya dalam melindungi anak-anak agar tidak memiliki imajinasi pornografi dan melakukan kekerasan kepada orang lain. Jika demikian itu sama artinya mereka tidak peduli terhadap masa depan bangsa Indonesia. Sebab mereka telah mencekoki generasi penerusnya dengan tayangan-tayangan yang tidak edukatif sama sekali.
Hendaknya Lativi mencabut dan menghentikan tayangan smack down. Selain sudah banyak korban yang berjatuhan, tayangan itu sama sekali tidak memiliki nilai mendidik bagi pemirsanya. Acara tersebut jelas-jelas berdampak buruk terhadap perilaku anak-anak di tanah air
Kini, sudah tidak ada alasan untuk tidak menghentikan tayangan-tayangan yang tidak mendidik tersebut karena sudah ada jatuh korban, yakni anak-anak yang seharusnya membutuhkan tayangan yang mencerahkan jiwanya.
Lahan Subur
Oleh: Rosyidah Purwo
Suatu ketika, saat mudik liburan akhir semester, di Terminal Bus Purwokerto, terlihat seorang anak kecil, kurang lebih berumur tujuh tahun, merengek-rengek kepada ibunya.
“Ibu, belikan aku baju sekolah, buku, sepatu. Besok aku mau sekolah!” Rupa-rupanya sang anak meminta dibelikan tas sekolah, baju sekolah dan buku. Sebab dia akan masuk sekolah setelah libur semesteran.
Ini adalah sebuah permintaan yang sangat wajar dan lumrah bagi seorang anak kepada orang tuanya. Sayangnya permintaan tersebut tidak mendapat respon baik oleh ibunya. Alasannya adalah hal yang sangat klasik, tidak memiliki uang.
Barangkali sang anak merasa takut keinginannya tidak dipenuhi. Dengan enteng dan wajah tanpa dosa si anak kecil berkata, ”jadi babi ngepet saja seperti yang di TV, nanti ibu cepet kaya. Uangnya banyak.”
Melihat kasus di atas, rasa-rasanya kita perlu berpikir seribu kali, mengapa di dalam pikiran anak sekecil itu sudah terbesit pikiran semacam itu? Barangkali jika dijawab, itulah korban
Sinetron religi sedang menjamur dalam dunia pertelevisian Indonesia. Bak cendawan di musim hujan.
Menjamurnya sinetron religi ini merupakan nilai positif tersendiri bagi dunia persinetronan. Ini berarti industri persinetronan mengalami perkembangan.
Hampir di setiap chanel, ditemukan penayangan sinetron yang berbau religius. Sepertinya setiap stasiun televisi, swasta ataupun milik pemerintah, tidak pernah alpa untuk menayangkannya.
Munculnya sinetron religius ini, di satu sisi memiliki nilai positif. Karena dapat dijadikan sebagai media untuk menyadarkan kembali (keberadaan Tuhan) kepada masyarakat yang barangkali selama ini telah terlalu lama terlena dalam hingar-bingar kehidupan dunia.
Di sisi lain, sinetron ini meberikan dampak buruk. Kasus mistisisme dan kekerasan dalam sinetron teramat banyak. Ini bisa menjadi semacam media sosialisasi terselubung terhadap pelestarian mistisisasi dan tindak kekerasan.
Misalnya, karena terlalu sering melihat bagaimana para aktor atau aktris dalam sinetron religi, begitu mudahnya menyelesaiakn persoalan, dengan mendatangi dukun, atau didatangi dewa penolong, masalah selesai.
Atau, melihat bagaimana para aktor atau aktris yang memerankan tokoh teraniaya diperlakukan dengan kasar dan aniaya oleh pemeran yang lebih kuat. Konsumen (penonton) jadi ikut-ikutan meniru hal yang demikian.
Bagaimanapun hal-hal semacam itu harus segera diatasi. Jika tidak, bisa jadi akan memunculkan berbagai dampak negatif. Sedikit atau banyak, konsumen atau pemirsa akan menyerap pesan-pesan yang disampaiakan melalui sinetron. Baik itu hal yang baik atau buruk.
Melihat hal semacam itu, sinetron religi seolah-olah menjadi semacam lahan subur terhadap penanaman nilai-nilai mistis dan kekrasan dalam masyarakat.
Suatu ketika, saat mudik liburan akhir semester, di Terminal Bus Purwokerto, terlihat seorang anak kecil, kurang lebih berumur tujuh tahun, merengek-rengek kepada ibunya.
“Ibu, belikan aku baju sekolah, buku, sepatu. Besok aku mau sekolah!” Rupa-rupanya sang anak meminta dibelikan tas sekolah, baju sekolah dan buku. Sebab dia akan masuk sekolah setelah libur semesteran.
Ini adalah sebuah permintaan yang sangat wajar dan lumrah bagi seorang anak kepada orang tuanya. Sayangnya permintaan tersebut tidak mendapat respon baik oleh ibunya. Alasannya adalah hal yang sangat klasik, tidak memiliki uang.
Barangkali sang anak merasa takut keinginannya tidak dipenuhi. Dengan enteng dan wajah tanpa dosa si anak kecil berkata, ”jadi babi ngepet saja seperti yang di TV, nanti ibu cepet kaya. Uangnya banyak.”
Melihat kasus di atas, rasa-rasanya kita perlu berpikir seribu kali, mengapa di dalam pikiran anak sekecil itu sudah terbesit pikiran semacam itu? Barangkali jika dijawab, itulah korban
Sinetron religi sedang menjamur dalam dunia pertelevisian Indonesia. Bak cendawan di musim hujan.
Menjamurnya sinetron religi ini merupakan nilai positif tersendiri bagi dunia persinetronan. Ini berarti industri persinetronan mengalami perkembangan.
Hampir di setiap chanel, ditemukan penayangan sinetron yang berbau religius. Sepertinya setiap stasiun televisi, swasta ataupun milik pemerintah, tidak pernah alpa untuk menayangkannya.
Munculnya sinetron religius ini, di satu sisi memiliki nilai positif. Karena dapat dijadikan sebagai media untuk menyadarkan kembali (keberadaan Tuhan) kepada masyarakat yang barangkali selama ini telah terlalu lama terlena dalam hingar-bingar kehidupan dunia.
Di sisi lain, sinetron ini meberikan dampak buruk. Kasus mistisisme dan kekerasan dalam sinetron teramat banyak. Ini bisa menjadi semacam media sosialisasi terselubung terhadap pelestarian mistisisasi dan tindak kekerasan.
Misalnya, karena terlalu sering melihat bagaimana para aktor atau aktris dalam sinetron religi, begitu mudahnya menyelesaiakn persoalan, dengan mendatangi dukun, atau didatangi dewa penolong, masalah selesai.
Atau, melihat bagaimana para aktor atau aktris yang memerankan tokoh teraniaya diperlakukan dengan kasar dan aniaya oleh pemeran yang lebih kuat. Konsumen (penonton) jadi ikut-ikutan meniru hal yang demikian.
Bagaimanapun hal-hal semacam itu harus segera diatasi. Jika tidak, bisa jadi akan memunculkan berbagai dampak negatif. Sedikit atau banyak, konsumen atau pemirsa akan menyerap pesan-pesan yang disampaiakan melalui sinetron. Baik itu hal yang baik atau buruk.
Melihat hal semacam itu, sinetron religi seolah-olah menjadi semacam lahan subur terhadap penanaman nilai-nilai mistis dan kekrasan dalam masyarakat.
Langganan:
Postingan (Atom)