Rabu, 05 Januari 2011

Cerita Pewayangan yang Novel


Oleh: Narsiti

Resensi Buku
Judul Buku : Anak Bajang Menggiring Angin
Penulis : Sindhunata
Penerbit : Gramedia
Tebal Buku : 472 halaman
Cetekan ke IX : Agustus 2010
Harga : Rp 84.000,00

Ceritane Wayang Ramana
Neng Negara Alengka di Raja
...Rahwana Raja
Gawe Geger Nyolong Dewi Shinta

Anoman si Ketek Putih
Sowan Taman Shinta Dijak Mulih
Kewenangan Indrajit lan Patih
Ning Anoman Ora Wedi Getih

...
Lirik lagu di atas pernah popular di tahun 2000-an. Hampir semua kalangan mengenal lagu ini. Dari anak kecil sampai roang dewasa. Dengan lagu ini pula, saya menjadi paham sedikit tentang cerita wayang. Cerita tentang wayang yang menurut kebanyakan orang sangat membosankan dan menjenuhkan, bisa jadi menjadi sebuah cerita menarik dan asyik, tergantung pada penyajian dan pengemasan.

Ibarat sebuah produk, sebagus dan seenak apapun, jika cara penyajiannya kurang menarik, sudah pasti hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahui, menyukai, dan memilihnya. Tentu saja dalam dunia bisnis, orang tidak mau rugi hanya karena hal semacam ini. Maka muncullah orang-orang dengan ide kreatif menciptakan sebuah gaya baru cara pengemasan sebuah barang/produk. Dengan cara semenarik mungkin, orang-orang ini mencoba menawarkan dan mengenalkan kepada orang banyak agar mereka mengenal dan menggunakan.

Ibarat sebuah barang, sebuah cerita bagus, jika cara penayampaiannya kurang menarik, maka sudah pasti sangat sedikit orang yang mau mengetahui, atau mengenalnya.

Cerita pewayangan, jika dibaca secara seksama adalah sebuah cerita yang mengandung nilai luhur yang sangat tinggi. Sayangnya, cerita yang terlanjur dianggap rumit dan membosankan ini, kurang diminati oleh kalangan banyak. Akhirnya cerita ini hanya sekadar muncul pada acara-acara pentas wayang. Itu pun belum tentu orang mau melihat dan memerhatikan.

Sindhunata, dalam bukunya berjudul “Anak Bajang Menggiring Angin” mencoba menuturkna cerita pewayangan dengan cara yang sangat menarik. Melalui gaya tutur novel, ia mengurai cerita pewayangan ini dengan sangat menarik.

Saya pribadi, sebelumnya adalah orang yang kurang begitu mengerti tentang cerita pewayangan dengan tokoh-tokoh di dalamnya yang terlampau banyak. Namun setelah membaca buku karya Sindhunata ini, pikiran saya terbuka lebar-lebar tentang cerita pewayangan. Cerita Tentang Anoman Obong, Rama Tambak, dan lain-lain dikemas dalam sebuah cerita menarik dan menyenangkan.

Diawali dengan kisah tentang dua insan manusia bernama Wisrawa dan Dewi Sukesi, cerita pewayangan ini mengalir begitu indah sampai pada cerita tentang Rahwana menculik Dewi Shinta, Anoman yang membuat tambak sebagai jembatan untuk pasukannya mengantar ke kerajaan Alengka. Ditutup dengan meninggalnya Rahwana dalam perang melawan Rama dan bala tentaranya. Semua ini dikemas dalam sebuah cerita apik dan menarik. Runtut dan tidak membuat pusing. Dengan gaya bahasa novel, membuat keseluruhan dari cerita dalam pewayangan menjadi sebuah cerita yang ringan dan mudah untuk dimengerti.

Sidhunata muncul sebagai sosok kreatif yang menawarkan “produk” yang dianggap membosankan dan tidak menarik menjadi sebuah “produk” yang sangat indah dan menarik. Tertarik dengan ceritanya? Baca buku ini! Di dalamnya akan ditemukan nilai-nilai luhur dari cerita yang dituturkannya.

Selasa, 04 Januari 2011

Tiga Hari Bersama KPI


Oleh: Narsiti

Musik mengalun indah mengawali kegiatan hari itu. Terlihat sekitar 46 guru tengah serius mengerjakan soal. Tiga orang triner dari KPI duduk manis di depan sambil mengawasi peserta ujian. Kurang lebih 20 soal disajikan sebagai awal kegiatan.

“Sudah selesai?” tiba-tiba sebuah suara mengagetkan peserta yang tengah asyik mengerjakan test. Dalam waktu 15 menit, peserta diharuskan sudah selesai mengerjakan soal sebanyak 20. Tentu saja sebagian besar menjawab TIDAK. Untuk menciptakan suasana rileks dan menyenangkan, peserta diajak untuk melakukan senam otak bersama. Senam ini sempat membuat derai tawa peserta. Yah, itulah sekilas gambaran kegiatan SMART TEACHING yang diadakan oleh LPP dalam rangka meningkatkan kualitas guru-guru Al quran di seluruh unit sekolah.

Menjadi guru kreatif, inspiratif, dan professional bukanlah hal yang mudah, namun butuh proses, pengalaman, pelatihan, dan keberanian. Karena hal inilah LPP Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto mengundang KPI (Kualita Pendidikan Indonesia) dari Surabaya untuk menjadi trainer selama tiga hari.

Kegiatan yang digelar selama tiga hari di SD Al Irsyad Al Islamiyyah 02 Purwokerto lantai dua ini berjalan dengan asyik dan menyenangkan, terbukti dari 46 peserta, hanya satu peserta yang ijin, meskipun kegiatan dilaksanakan mulai dari pukul 17.30 wib sampai 17.00 wib. Sebagi penutup, peserta diminta untuk mengerjakan test dari materi pelatihan yang sudah diterima selama tiga hari.

Menikmati Libur Sekolah di Wisata Batur Agung, Banyumas, Jawa Tengah





Oleh: Narsiti*)

Udara pagi itu terasa sejuk. Cuaca juga cerah. Sekitar 40 kendaraan sepeda motor tertata rapi di sebuah halaman sekolah dasar. Terlihat sekitar 80 orang dengan pakaian olahraga, tengah siap di atas sepeda motor mereka dan di dalam mobil yang sudah disediakan.

Tak ingin kalah, saya juga ikut menanggalkan pakaian seragam mengajar, berganti dengan pakaian olahraga. Celana panjang parasut coklat sedikit ada warna merah di bagian saku, dipadu padan dengan kaos warna merah dan jilbab hitam, besepatu olahraga dan satu tas bekal dan pakaian ganti. Dengan dibonceng sepeda motor, saya meluncur menuju tempat lokasi.

Yah, rupa-rupanya hari itu seluruh guru dan karyawan SD Al Irsyad Al Islamiyyah 01 Purwokerto hendak mengadakan rekreasi bersama dalam rangka mengisi liburan semester. Guru-guru yang biasanya berkutat dengan kegiatan sekolah yang cukup padat dan melelahkan, kali ini diajak oleh kepala sekolah untuk menikmati liburan bareng. Tujan rekreasi kali ini adalah sebuah objek wisata yang masih terbilang baru di kabupaten Banyumas, tepatnya di desa Kebaseh, Kecamatan Kedung Banteng, Kota Purwokerto, Kabupaten Banyumas.

Lokawisata in tidak begitu jauh dari pusat kota, Purwokerto. Jarak tempuh dari pusat kota, kurang lebih sekitar 200 km. Jika ditempuh dengan menggunakan kendaraan bermotor hanya membutuhkan waktu 30 menit. Jika tidak memiliki kendaraan bermotor, jangan khawatair, sebab untuk menuju ke loka wisata alam ini juga tersedia transportasi umum.

Jika dari terminal Purwokerto, carilah angkutan kota warna orange jurusan Karang Lewas. Dari Karang Lewas cari saja angkutan pedesaan warna biru jurusan Kebaseh, Kedung Banteng. Cukup dengan 5 ribu rupiah saja, kita bisa sampai tujuan. Atau jika tidak ingin ribet bergonta-ganti kendaraan, ada juga armada TAXI. Cukup dengan 50 ribu rupiah saja, bisa diantar samai ujuan.

Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan alam yang maha indah. Di kanan kiri kami seperti sebuah lukisan alam yang luar biasa. Pegunungan dan pohon-pohon yang masih hijau dan udara yang belum terpolusi.

Selama 30 menit menempuh perjalanan, saya bersama mbak Umi, teman baik hati yang memberi tumpangan sepeda motor, sampai di lokasi. Di sana kami disambut oleh petugas yang sudah ditunjuk oleh sekolah. Motor diparkir di tempat parkir yang belum ditata dengan baik. Apa adanya dan ala kadarnya, mungkin karena masih baru, begitu pikir saya.

Sebuah lapangan yang biasa digunakan untuk kegiatan hiburan jika ada moment-moment tertentu, dan biasa digunakan untuk sepak bola oleh penduduk setempat jika lapangan sedang tidak digunakan. Di sebelah kiri lapangan ada wahana Out Bond. Hanya dengan 10 ribu rupiah bisa menikmati aneka macam out bond. Salah satunya adalah flaying fox.

Melepas lelah, saya dan rombongan duduk-duduk santai di depan sebuah warung kecil milik salah sau warga di sana. Merasa sudah hilang lelah, saya mengajak teman untuk menyusuri petilasan Batur Agung. Masuk ke dalamnya akan terlihat sebuah taman hijau yang mungil. Begitu masuk, akan disuguhi pemandangan yang sangat indah. Batu-batu bertahtakan tumbuhan lumut bercampur paku yang sudah puluhan tahun lamanya. Pohon-pohon Angsana besar-besar dan tinggi-tinggi. Berada di dalamnya, serasa berada di dalam ruangan ber-AC. Rimbun pohon-pohon yang masih menghiasi lokasi ini menciptakan udara sejuk dan sehat. Lumut bercampur tanaman paku membentuk permadani hijau yang menghiasi setiap jengkal tanah di petilasan ini.

Di sana ada sebuah bangunan rumah kecil, tepatnya seperti pos ronda. Di dalam bangunan ini terdapat batu-batu berbentuk aneh, yang konon adalah peninggalan Purbakala. Tempat ini sering dijadikan sebagai sarana untuk memanjatkan doa bagi semua agama yang ada di Indonesia.

Menurut sejarahnya, berdasarkan informasi yang saya dapat dari juru kunci Batur Agung, pak Sobirin, yang sudah bekerja sejak 18 tahun lalu, sekaligus juga berprofesi sebagai staff Purbakala Jawa Tengah, konon tempat ini dulunya adalah tempat para laki-laki pilihan. Tidak dijelaskan siapakah laki-laki pilihan yang disebut. Maka dari itu, tempat tersebut dinamakan Batur Agung. Batur berarti Tempat, Agung berarti Laki-Laki pilihan.

Di sini terdapat wahana Joging Track, cukup dengan 2 ribu rupiah dapat menikmati wahana ini sambil menikmati udara sejuk dan pohon-pohon hijau yang besar dan tinggi. Di sini juga disediakan ATV + Trail, namun tak ada satupun dari kami yang ingin mencoba. Maka hanya melihat-llihat dan memegang-megang saja, kami sudah cukup puas. Hanya dengan 5 ribu rupiah, ATV + Trail ini dapat dinikmai sepuasnya. Asal tidak takut dan tidak malu.

Merasa puas, saya dan beberapa teman menyewa Trans Animal, sebuah kendaraan milik Taman Safari yang dibeli untuk melengkapi fasilitas di objek wisata ini, untuk menuju ke lokasi Water Park. Kendaraan yang masih ber-plat B ini, kami gunakan sebagai sarana transportasi menuju lokasi water park.

Dengan membayar dua ribu rupiah, trans animal ini akan mengantar sampai ke lokasi water park yang berjarak tempuh 1 km dari tempat parkir. Di sini hanya ada dua buah trans animal yang berbentuk gajah dan harimau. Jadi, jika lokawisata ini sedang dibanjiri pengunjung, harus berani rebut-rebutan sebab tidak disediakan kartu antrian. Jadi, begitu membeli karcis, langsung saja naik.

Selama naik trans animal, kami disuguhi pemandangan alam yang luar biasa indah. Di sebelah kiri adalah pegunungan dan bentangan sawah yang hijau dan indah. Di sebelah kanan adalah bukit yang dipenuhi semak.

Sampai di wahana water park, rombongan mencoba beberapa paket wisata yang ada. Seperti anak-anak, kami bermain-main plorotan sambil bermain cipratan air di kolam renang. Jika ada yang memiliki anak-anak, di sana juga disediakan mainan anak-anak seperti mandi bola, ayunan, njot-njotan, dll.

Melepas rasa penasaran, saya dan teman-teman mencoba Arum Jeram. Hanya dengan 25 ribu, kami dapat menikamti arum jeram yang hanya berjarak 2,5 km. Jika merasa belum puas dengan jarak ini, dapat dilanjutkan pada jarak yang lebih jauh, namun harus menambah 75 ribu rupiah. Dari jembatan Cibun sampai Jembatan Gantung bawah. Sayangnya waktu tidak mencukupi, maka kami tidak menengok pada lokasi jembatan gantung yang dimaksud.

Merasa sudah puas, kami segera berkemas-kemas. Ganti pakaian dan makan siang. Ingin hati adalah menikmati menu Bakso yang dijajakan di sana, namun ternyata dari pihak sekolahan sudah menyediakan menu makan siang sendiri, dari pada boros-boros, saya urungkan niat untuk menikmati bakso buatan penduduk lokasi wisata Batur Agung.

Yah, di lokawisata ini ada beberapa penjual makanan yang siap melayani. Berbagai menu makan ada di sini. Ada baso. Harga satu porsi baso hanya 7 ribu rupiah. Ada juga mie ayam, cukup dengan uang 5 ribu rupiah, kita sudah bisa mendapatkan satu mangkok mie ayam. Ada juga pedagang asongan yang menjajakan berbagai macam jajan anak dan aneka macam snack ringan.

Tentu saja harganya jauh lebih mahal. Jika menginginkan nasi rames, bisa juga dipesan melalui ibu penjual baso dan mie ayam. Tentu saja menunya tidak semenatik dan sebanyak di perkotaan, sebab penjual ini memang tidak menyediakan nasi rames. Hanya jika ada yang pesan saja.
Merasa sudah cukup, saya dan rombongan pulang dengan perasaan bahagia dan bersiap-siap menyongsong masuk sekolah.

Ingin liburan yang asyik tapi harga terjangkau? Datang saja di loka wisata ini. Dijamin asyik dan menyenangkan!

Jumat, 26 November 2010

Belajar Asyik Dengan ‘Reketek-Jegrek’


Oleh: Rosyidah Purwo*)

Siang itu, udara cukup panas. Di gedung bertingkat dua RSDBI Al Irsyad Al Islamiyyah 01 Purwokerto terlihat sepi. Jam pelajaran di masing-masing kelas tengah berlangsung.
Sebuah kelas tampak rapi dan hangat. Seorang ibu setengah tua sedang menyampaikan pelajaran. Sesekali tampak senyum dan tawa dari anak-anak.

Sebuah rumus matematika yang cukup rumit untuk usia anak-anak sekolah dasar ia ajarkan dengan semangat yang menggebu, totalitas, dan penuh percaya diri. Penampilannya selalu energik dan penuh senyum. Tegas dan disegani, kadang lucu, kadang menyeramkan.

Sebagaimana umumnya, anggapan bahwa pelajaran matematika adalah pelajaran yang menakutkan, membosankan, dan menyebalkan masih melekat erat pada anak-anak di jenjang sekolah dasar.

Seperti yang dialami pada sepupu saya. Suatu hari ia berkata, “aduh, aku pusing. Besok matematika”. Begitulah ungkapannya saat keesokan harinya ada pelajaran matematika. Bahkan pengalaman diri pribadi. Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, kerap kali mengalami pusing dan enggan mengikuti pelajaran yang satu ini. Ditambah dengan gurunya yang bermuka seram dan suaranya yang berat. Hiii…menakutkan!

Namun tidak bagi guru yang satu ini. Meskipun ia tegas orangnya, namun hampir setiap anak selalu menantikan dirinya dan pelajarannya. Meskipun sedikit tegang, namun anak-anak selalu merasa asyik dengan pelajarannya.

Dengan dua kata yang menjadi jurus andalannya, sekaligus menjadi bahan kesukaan anak-anak akan dirinya, ia menyampaikan materi itu. Kata itu adalah ‘Reketek-Jegrek’. Dengan ‘Reketek-Jegrek’ itu, pada UASBN 2009-2010 lalu, ia memecahkan rekor sebagai guru terbaik dengan perolehan angka 10 untuk mata pelajaran matematika pada sebanyak 31 anak!

Siapa dia? Endah Suminar

Minggu, 14 November 2010

Lagu Dolanan Anak; Kekayaan Budaya yang Kian Hilang (Catatan Lomba Guru Kreatif se-Indonesia 2010)

Oleh: Narsiti

Lomba membuat proposal yang diadakan oleh Unika yang bekerja sama dengan Marimas telah menyedot perhatian saya. Dalam rangka mengikuti lomba Guru Kreatif se-Indonesia, saya mencari data terkait dengan tema proposal yang saya ajukan.

Buku-buku, artikel-artikel terkait dengan tema, contoh-contoh proposal, saya cari dari perpustakaan, file-file lama tempo dulu saat masih menjadi mahasiswa, majalah, buku-buku, internet dll.

Dalam satu minggu, saya sibuk dengan wira-wiri, internernet-sekolah-kost-kampung halaman. Capek sekali rasanya. Malamnya dilanjutkan dengan kegiatan utak-atik tulisan. Maka jadilah sebuah proposal.

Untuk mengolah dan membuat proposal saya ng-lembur sampai dua malam full. Capek rasanya, namun melihat hasil saya sangat senang rasanya.

Untuk mendapatkan data itu, saya menanyai beberapa orang. Berikut Hasilnya: Tembang dan Dolanan Anak dari Banyumas (Hasil Survei dan Study Lapangan di Desa Banjarsari Wetan, Sumbang, Banyumas, Pada, 11 Juli 2010. Dengan informan adalah, Bapak Supri,–bukan nama sebenarnya, usia 55 tahun-, Ibu Salim-bukan nama sebenarnya-, usia 45 tahun, Ibu Supri-bukan nama sebenarnya- usia 48 tahun, Ibu Mini-bukan nama sebenarnya-, usia 39 tahun):

1. Dolanan Cing Coang
Dolanan Cing Coang
Ngendok neng alang-alang
Apa ora gatel, gatel adus
Adus atis, atis krodong
Krodong cokot tuma, tuma gugut
Gugut jeleh, jeleh mangan asem
Asem kecut, kecut cibleng

2. Jonjang Jeruk Keprok

Jonjang jeruk keprok
Dikawin batin tin
Tin wong ayu, mripate kerah
Mbukak klambu, bangsane lurah
Manuk manyar, mabure ngulon
Penganten anyar, benike ukon
Manuk emprit, mabure ngetan
Penganten cilik, njaluk pegatan

3. Jonjang Latar wetan

Jonjang Latar Wetan
Ana sapi udag-udagan
Biyung tulung
Tulung njikotna payung
e-payunge bodol, e-nggo sarap ondol
e-ondole mambu, e-nggo pangan asu
e-asune mati, e-de buang kali
e-kaline jero, e-iwake loro
e-njotna bendo, e-bendone gowang
e-nggo ator gedang, e-gedange mateng
e-nggo sumpel weteng, e-wetenge dadut
e-entute mbrubut

4. Enther-Enther Enong

Enther-Enther Enong
Nonggane nongga Sari
Rinjing, rinjinge teh
Tenong, tenonge tenong anyar
Nyar bong, wudel bodhong isi telepong
Pongge, ponggene wong karang jambe
Belot wedus gembel iwake a lot
Lot bang asu abang pinter ngendang
Dangkreng asu ireng turut galeng
Lenga, lengane sura bangsa
Salit, utang duit nyaur silit

5. Kupu Biru

Kupu biru
Mabur ke kalangan
Ngisep madu, milih ke kembangan
Kembang galas, kembang gadung
De oyak-oyak den bagus kuncung

6. Iwir-Iwir Menir

Iwir-iwir menir
Kebone kebo majir
Nyabende nyarukem
Esuk sore pada ndekem

7. Orong-Orong Bangkong

Orong-orong bangkong
Bangkonge aja rukun
Rukune manuk cabe
Beone agi ngendok
Endoke sanga likur
De dadar gari lima
Mao mablang ana dindang nabu kendang
Ana srintil nabu kendil
Nala gareng ngundang ronggeng
Ronggenge si Mariyah
De tanggap se rupiyah
Ora gelem latah-latah

8. Pak Jenggot
Pak Jenggot
Due anak siji
Anake nangis bae
Wedi karo anake
Cep meneng bae
Mengko sore tek cukure

9. Pitik Walik Jambul
Pitik Walik Jambul
Sega liwet jangan terong
Teronge kemlandingan
Omah doyong kemalingan
Teronge bunder-bunder
Bocah bodo ngagul pinter

10. Lindri
Lindri
Adang telung kathi
Lawuhe asem ayi
Adi tutul net net
Adi emplo’ plo’ plo’
Yo ma’ telep
Pancake kulo jinggring
Adu yayi sandal pancing
Adu dangklek klek dung
Adu dangklek klek dung

11. Jonjang Bekatul Mentah

Jonjang bekatul mentah
Aja ngambah ngambah lemah
Ngambahe watu bae
Breg ge dubreg cer

12. Jonjang Go Go Ligo
Jonjanh go go ligo
Pecak lele jangan jago
Go bang cabuk abang cara madu
Du lep sego liwet jangan nangka
Kanjeng, bocah gendheng mbakar uceng
Cenggeng, kaki kaki rabi ronggeng
Gengsot, kaki kaki bebede mesot
Sut thur anak-anak pitu likur
Kurwok, kukur-kukur nganti mlewok
Wo geng kala jengking agang egeng

13. Jonjang Dom Ketela
Jonjang dom ketela ramane lunga njala
Jalane jala sutra
Klembune klembu tembaga
Olihe iwak ancra
De goreng dadi sewaja
Wajane go tuku wedus weduse glembar glembor
De cancang ngisor klewih
Klewihe gigal siji sing nutur kaki-kaki
Sing nyeti nini-nini
Sing njangan prawan sunthi
Sing nyicipi perawan kembar
Kepedesen nggoar-nggoar

14. Gotri

Gotri ala gotri naga sari…
Iwul iwal iwul jwnang katul…
Bodem mbako enak mbako sedeng…
Dolan awan-awan sajak manten…
Eblok eblak eblok dadi kodok

15. Kembang-Kembang Pepe
Kembang-kembang pepe
Mindo Loyang
Engkat engkit engat ebrok
Kemul jarit karo nyiwit

Kemul kathok karo ngobrok
Bapa purun gegen gegen
Nini randa anake nangis
Dolanane cengkir legi
Blabage kayu jati
Masang wuwu de ludang
Olihe yuyu siji
Yuyune cucuk pitik
Pitike pidek kebo
Kebone tiban pelem

Pelem pelem kaniaya temen
Mangan gedhang kesereten
Klembi abang kebangeten

16. Pitik Tukung

Aku due pitik pitik tukung
Saben dina tak pakani jagung
Petok gogok petok keok
Ngendok lima tak anggremake netes telu
Kabeh trondol ndol tanpa wulu
megal megol gol gawe guyu

17. Topeng Si Laron
Topeng Si Laron…
Dadamu saking lebon
Angson-angson, di padamu
Siten si manggung
Ayam tulak ayam tukung
Klang klang dara dengklang
Thiut walang genjor

18. Kemalo-kemalo

Kemalo-kemalo
nggoletna kinjengkebo
Ora nyandang ora nganggo
Nganggone welulang kebo
Mblo-mblo i, mblo-mblo i mbo

19. Kidang Talun
Kidang talun (warna jenis kain jaman dulu, warnanya sepertikulit kerbau, due anak talun
Mil kethemil mil kethemil si kidang mangan lembayung
Tikus buntung
Due anak buntung
Cicit-cuit-cicit cuit
Si tikus saba neng lumbung

Wis jam pitu
Ayo podo mlebu
Mirengake bapak guru
ora pareng mloka-mlaku

20. Menthok-Menthok
menthok-mentok
tek kandani mung mlakumu angisin-isini
mbok yo ojo menthok ana kandang bae
enak-enak ngorok ora nyambut gawe
menthok-menthok mung
mlakumu megal megol gawe guyu

21. Tokung-Tokung (sapaan sayang seperti ndung, thole, gedug. Tokung sendiri nama ayam yang tidak punya ekor)
Tokung-tokung
Angon bebek, pinggir de langgung (sawah yang baru dipaneni lalu diisi air, nama lainnya Lalahan)
Sing ngindangi, kaki Mondro Guno
Sa ari ari (dijaga) bebek, sa tokung-tokung

22. Jamuran
Jamuran yo ge ge tok
Jamur opo? Yo ge ge tok
Jamur gajih/mrejijih (jamur gergaji; jamur kecil-kecil warnanya putih/tumbuh rapi)
Jamur gajih mrejijih
Jamure jamur gajih
mrejijih sa oro-oro (tumbuh rapi banyak sekali satu lahan yang sangat luas)
model permainannya, anak-anak membentuk lingkaran besar, sesuai dengan jumlah peserta. Lalu salah satu ada yang ditengah.
(penutup parade music)

23. Pitik Walik Buntung
Pitik walik buntung
Sega liwet jangan terong
Bibi soma mampir, pitik goreng lengo
Lengo kileng-kileng rambut brintik gelung kenceng
Kenceng kendonono bojomu meteng tunggonono

24. Ula-ula klabang

Ula-ula klabang
Ndi buntutmu, ndi endasmu?
Kaki Sura layang-layang
“nggeleti apa?” tanya pemimpin regu
Jawab Kaki Sura: “nggelet pangan”
Jawabe Pemimpin Regu: “kie ana sing neng mburi”
(kaki Sura mengejar yang dibelekang, pemimpin regu melindungi anggota/ekor yang di belakang dengan cara merentangkan ke dua tangan. Jika sampai kena, menjadi anggota Kaki Sura. Terus menyanyi lagi, begitu seterusnya, sampai habis/sampai kaki Sura capek, setelah itu antara grup kaki Sura dan Ula Klabang saling tarik menarik tangan)

25. Dem-Deman Wulung (kepalan tangan disebut Dem, wulung; hitam. Tidak diketahui apa hubungan antara Dem dengan Wulung)
Dem deman wulung
Sigar jambe woan (jambe) tanjung
Terambet (daun dadap yang warna kuning) brambang ketan (bawang putih)
Kari babu (menebak) kembang opo?
(permainannya: anak-anak saling mengepal telapak tangan sebagai Dem salah satu tangan teman (posisi masih terkepal) menyentuh kepalan tangan teman-teman.
Jawab: Kembang Mawar

Si Latri njaluk kembang Mawar
Emoh mawar kene, njaluk mawar kutoarjo
Emoh gelang kalung
Njaluk gelang sing melengkung
(ke dua tangan ditekuk dan disilangkan ke dada)
Andul-andul, emboke (ibu) adol (menjual)gandul (kates) de tukoni (dibeli) mandul mandul de thothok jekrek (dipukul berbunyi jekrek)
(tangan dipinggang)
Angkrek-angkrek mboke adol pethek (ibu menjual ikan asin) detukoni mangkrek-mangkrek the totok jekrup
(telapak tangan menutup muka)

Teman lain menanya
“iwake babat apa ati?” (daging babat atau hati?)
Jawab: Ati (hati)
“gamane landhep apa kodol?” (pisaunya tajam atau tumpul?)
Jawab: kodhol
(jika jawaban “kodhol”, maka tangan teman menggesek-gesek telapak tangan anak yang tertelungkup. Dan menggesek-geseknya lama, karena jawaban “kodol” pisau tumpul artinya sulit untuk mengiris/memotong sesautu, sehingga waktu memotongnya lama)
Siram-siram kembange pada megar (disiram-disiram, biar bunganya mekar)
(telapak tangan membuka masih menempel ke wajah)
Siram-siram kembange pada megar
(tangan terbentang lurus bahu)
Diberi pertanyaan: Kedunge jero apa chetek? (genangan airnya dalam atau dangkal)
Jika jawaban “jero”, maka tangan akan dipukul keras. Jika jawaban “cethek” maka tangan akan dipukul ringan.

26. Pethet Susu

Pethet susu, cowet gempar
Disini mentol lagi, di sana mentol gempar

Keterangan:
(sambil menyanyikan lagu, sambil bermain)
(selesai lagu, lawan menebak tangan siapa yang isi batu. Begitu seterusnya sampai salah satu kelompok melewati garis kelompok yang lain. berarti kelompok itu menang).

27. Kacungan

Kacungan-kacungan
kembang galah (bunga bamboo)
kembang gadung (bunga Gadung)
gadunge se ura-ura (ronce)
semboar pucang (pancuran dari pohon jambe, jika dialiri air akan memancar, dan orang-orang mengekspresikannya dengan istilah “semboar”)
pucange di kaungan
bur-buran kae nduwur (beterbangan ke atas, maksudnya tangannya berpindah ke atas satu per satu)
(begitu seterusnya sampai semua jari pemain naik satu persatu)

28. Iwit-Iwit Indang
Iwit-iwit Indang
ninine adang ketan
Putune pathing krantong
De totok chenthong bolong
Koangan-koangan, bibis gembok cingkreng

Koangan-koangan (ramai) bibis gembok (binatang hidupnya di sawah di dalam air, warnanya hitam, bentuknya mirip seperti kecoa. Bibis Gembok, nama salah satu jenis Bibis dari dua jenis yang ada. Jika Bibis gembok bentuknya lebih bulat dan gemuk. Bibis Tetehan lebih ramping) cingkreng! (bibis memiliki kaki tapi selalu “nyingreng” tidak pernah lurus.

29. Cempe-Cempe

Cempe-cempe (hai anak kambing, hai anak kambing)
Ngundangna barat gede (panggilkan angin yang kencang)
Tek upaih banyu tape (akan diberi imbalan air tape)
Selodong, sepane (ember dari tanah yang besar untuk menampung air)
Karing kurang kae mbale (jika kurang, ambil di “mBale” emperan orang kaya)

30. Motor Mabur
Motor mabur, njaluk duwite (pesawat terbany, minta uangnya)
Godhong gandhul daning pahite (daun papaya, pahit rasanya)
Ora dewei sogok silite (tidak dikasih, ditusuk duburnya)

31. Lha Kae Pak Guru

Lha kae pak guru, rawuh ngasta buku
Karo mesem ngguyu
Tanda tresna karo aku

Pak guru sing gagah
Mulang bocah-bocah
Sing sregep sekolah
Tahun ngarep mesti munggah

32. Siji Loro Telu

Siji loro telu
Astane sedeku
Mirengake pak guru
Mengko yen di dangu

Papat nuli limo
Lenggahe sing toto
Ojo podo semboro
Mundak ora biso

33. Gajah-gajah
Gajah-gajah rene tak kandani, Jah
Moto koyo laron
Kuping gedhe siu loro
Kathik nganggo telale
Buntut cilik, tansah kopat-kapit pit
Sikil kaya bumbung, mung mlakune megal-megol

34. Aku duwe dolanan sing lucu
Aku duwe dolanan sing lucu
Prahu cilik
Kemambang neng banyu
Mbesuk gedhe dadi tukang prahu
Bayarane
Satus sewidak wolu

35. Kucingku Telu
Kucingku telu
Kabeh lemu-lemu
Sing siji abang
Sing loro klawu
Tek pakani lonthong
Kabeh meang meong
Aku seneng ndelo’
Aku nganthi ndomblo’

36. Kḕlek-kḕlek
Kḕlek-kḕlek /suara anak ayam
Biyung siro ana ngendi /indukmu di mana
Enggal tulungana /segeralah ditolong
Anakmu kecemplung kali /tenggelam di wajan
Wus glagepan /sudah terengah-engah di dalam air
Wus meh pejah /hampir mati

37. Kuning-Kuning
Kuning-kuning
Kawula gawe loro, gawe loro
Ngenteni si kodok lengking
Ndok siji ka pipilan
Ndok loro ka comberan

Do yok oyok tawon geni
Sisimbang melati
Kiwo mbang cempoko
Cabuk loro cinde luko/
Pung ketipung

Lembayung mentiyung
Ne blung
Ler jumpaler pyar
Tek gelung-gelung konde
Tek gelung-gelung malang
Ambune walang kudedes
Esuk sore kejoderan

/wanita yang buat tontonan
/laki-laki terhormat yang bikin sakit hati sama kuning
/sesuatu yang tidak mungkin terjadi sebab tidak mungkin ada kodok “lengking” kodok yang mengempiskan lehernya saat sedang bersuara. Contoh lain, seperti ibarat “beling
/kaca busuk”
/ayam baru bertelur satu, diambil
/bertelur dua, ada di comberan
/dikejar-kejar tawon baluh (lebah)
/satu sisi diobatai dengan bunga melati
/satau sisi diobati dengan bunga cempaka
/cabuk/otto: baju untuk bayi pada jaman dulu, digunakan untuk tatakan perut saat tengkurap, memiliki tali di bagian belakang dan leher. Bentuknya seperti sapu tangan dan memiliki enam sisi, cinde luko: selendang tanun pada jaman dahulu, selendang itu digunakan untuk membalut luka.


Mengibaratkan perempuan yang suka dandan/semacam ronggeng pada masa sekarang. Cinde adalah selendang yang sangat bagus pada jaman dulu. Saat orang masih memakai baju dari karung goni yang berkutu.

38. Jonjang Do Mino
Jonjang do mino, Solo
Babu londo momong sinyo
Sinyone nangis bae
Dolanane motor mabur
Motor mabur kepalu (macet) dara
Numpak sepur mudun neng kroya

Klambi paris kembang-kembang
Anake nangis kecemplung blumbang

39. Jonjang Rambat Kacang (lanjaran)
Jonjang rambat kacang mao cang
Cangkir wulung (gelas bamboo) mao lung
Lung kedele (pucuk pohon kedele) mao le
Lenggok sapi mao pi
Pindang asu mao su
Sugih utang mao tang
Tanggal siji mao ji
Jimantoro mao ro
Robas rabes mao bes
Besan teka mao ka
Kaji turu mao ru
Runtah akeh mao keh
Kendang keli kakine ngendang ninine keli

40. Onca-Onci
Onca onci
Brambang bawang
uyah trasi
Sejola-jola
temu giring mandalika
Adas pula waras
rasuk angin
kayu legi

Jungkat jungkit
Bawang merah bawang putih/garam trasi
……/temu berwarna hijau keungu-unguan/nama jenis kayu mandalika. Berbuah pahit, bisa dijadikan obat
Adas/kapolaga/kayu manis

Permainanya: dua anak duduk bertumpu pada ke dua kaki. masing-masing saling bergerak jungkat-jungkit

41. Unthul Uwuk
Unthul uwuk
Kembang jeruk
Jembual

Permainannya: dua anak masing-masing memegang ujung kain (jarit) lalu digoyang-goyangkan, ditengahnya diberi boneka, lalu di boneka dilempar tanpa melepas ujung kain

42. Parudan
Parudan-parudan
ko bamba nyong geni

Permainanya: dua anak masing-masing duduk membelakangi. Saling beradu punggung. Yang terjatuh berarti sebagai “geni”, yang masih tetap duduk berarti “bamba”. Jika merasa nyaman, permainan ini akan diteruskan sampai masing-masing merasa bosan dan capek.

43. Teng Teng Tut
Teng teng tut/
Sira sira sing ngentut/
Jejeli awu buntut/
Jemblang gatut/
Thiut jeprut/

Perut-perut kentutlah/siapa saja yang kentut/dikasih makan abu satu “buntut” bathok yang bentuk ceper diberi lobang yang banyak, dan digunakan sebagai “buntut” untuk menutup ujung “kusan” alat untuk memasak nasi terbuat dari bambu yang dianyam, berbentuk kerucut/jemblang: membuka, gatut: semacam catut jaman dulu digunakan untuk mencabut kumis dan jenggot/ thiut: bunyi kentut, jeprut: ekspresi untuk terlepasnya jenggot atau kumis.
Meskipun pada akhirnya tidak menang lomba, saya jadi tahu ternyata lagu dolanan anak yang pernah ada di masyarakat sangat banyak jumlahnya! Sayangnya, kekayaan budaya bangsa yang begit

Senin, 01 November 2010

Miskin = Objek Penderita!


RESENSI BUKU
Judul Buku : Yang Miskin Dilarang Maling…!
Penulis : Salman Rusydie Anwar
Penerbit : Laksana
Cetakan Pertama : Juli 2010
Tebal Buku : 357 halaman
Harga : Rp 44.000,00

Oleh: Narsiti*)

Hidup miskin bukanlah sebuah pilihan. Siapapun orangnya tidak akan ada yang mau untuk memilih hidup menjadi orang miskin. Nasib, barangkali itulah jawaban satu-satunya yang tepat. Sebagai negara yang statusnya masih terus berkembang ini, Indonesia masih memiliki banyak sekali orang-orang dengan taraf penghasilan tidak sesuai dengan standar UMR atau dengan kata lain “MISKIN”.

Namun jika jawabannya nasib, rasa-rasanya juga kurang tepat. Sebab, Indonesia ini adalah negara dengan kekayaan alam terbesar di dunia sesudah Brazil. Sangat tidak logis jika masih terjadi kemiskinan di sana-sini.

Jika demikian, pasti ada yang salah dengan pengelolaan kekayaan alam kita ini. Dengan alasan seperti itu, rasanya tidak mungkin jika kemiskinan terjadi di sana-sini. Hal ini berarti memang ada yang salah dengan pengelolaan sumber daya yang dimiliki.

Salman Rusydie Anwar, dalam bukunya “Yang Miskin Dilarang Maling…!” berkisah tentang kehidupan seorang buruh tani yang menjadi korban ketidak adilan hukum beserta dengan kisah pilu kehidupannya. Sebagai tokoh uatama adalah Sukasman, diceritakan sebagai orang miskin dengan penghasilan tidak tetap. Ia harus menanggung beban hutang yang begitu banyak kepada tetangga-tetangganya.

Dalam himpitan hidup yang sudah begitu menyiksanya, ia harus dihadapkan pada sebuah tuduhuan yang teramat sangat kejam. Ia dituduh sebagai pencuri. Tuduhan ini yang menyebabkan dirinya harus meringkuk di sel penjara. Belum lagi ia masih harus menerima image negative dari tetangga-tetangganya.

Beban hidup belum usai, ia masih dihadapkan pada sebuah kenyataan hidup yang teramat pahit dan sebuah hukum yang tidak adil. Suniati, yang ditokohkan sebagai istrinya, divonis mengidap kangker otak.

Sebab keadaan yang serba sulit, ia terpaksa mencuri ayam milik pak Lurah. Atas pencurian ini ia didakwa dengan hukuman 15 tahun penjara. Sementara, Anas, yang digambarkan sebagai tokoh terkaya di kampungnya, dinyatakan bebas atas korupsi terang-terangan yang ia lakukan.

Salman Rusydie ingin menuturkan fakta di lapangan tentang kacaunya Membaca novel ini, seperti disuguhi sebuah potret hidup keadaan masyarakat kita. Orang miskin sepertinya hanya dijadikan sebagai objek penderita bagi orang-orang yang lebih berkuasa. Bahwa uang, dianggap sebagai kuasa atas sebuah kehidupan. Sangat menarik untuk dibaca.

Jumat, 29 Oktober 2010

Ide itu Datang dari Sampul Buku

kisaOleh: Rosyidah Purwo

“Hi, pinjem bukunya dong!” begitu kata saya pada teman sebelah kamar. Buku itu adalah sebuah novel popular yang saya lupa judulnya. Di bagian sampulnya, tepatnya di sudut kanan atas ada sebuah tulisan tangan yang ditulis menggunakan bolpoint dengan tinta warna hitam, ‘Belajarlah pada embun yang tak mengutuk matahari meski telah menjadikannya tiada,” begitulah bunyi tulisan itu.

Kalimat itu membuat saya merenung semalaman. Saya berpikir tentang matahari, embun, rumput, angin, kabut, dan pagi hari. Bahkan saya sampai menggigil membayangkan dinginnya pagi hari dengan embun, kabut, dan angin, meskipun udara di kamar saya malam itu panas. Entah sadar atau tidak, saya berjalan menuju rental komputer milik pesantren di mana saya belajar ilmu agama dan bahasa arab.

Jam menunjukkan pukul 21.00wib. Saya nyalakan computer. Di sana ada beberapa teman-teman perempuan yang tengah berpusing ria membuat skripsi. “Tugas apa, Mbak?” tanya salah seorang teman. Karena saya bingung hendak menjawab apa, saya hanya nyengir. Sebab, jika saya menjawab tugas kampus, apa yang akan saya tulis tidak ada kaitannya sama sekali dengan tugas kuliah. Jika saya jawab dengan jawaban, ‘bukan tugas apa-apa,’ teman akan menganggap aneh. Terpaksa, senyum, saya ambil sebagai jawaban paling efektif, efesien.

Saya duduk di depan komputer. Lama saya tidak menulis apa-apa. “Ojo ngalamun, Mbak,” kata teman saya usil. “He he he, lagi mikir koh,” jawab saya bergurau. Tiba-tiba sebuah kalimat berjalan-jalan di benak saya. Saya tuliskan kalimat itu,

Pagi hari yang cerah, di kampung Silombe-lombe…(baca lengkap tulisannya di blog saya, www.rosyidahpurwo.blogspot.com dengan judul Belajar Pada Embun). Tulisan itu iseng-iseng saya kirim ke sebuah harian Yunior Suara Merdeka.

Suatu hari, sebuah kabar mengejutkan datang dari teman saya yang kebetulan aktif di BP2M, sebuah PKM yang mendedikasikan diri dalam bidang tulis-menulis di kampus. “Mbak, tulisannya dimuat!” Uang sebanyak Rp 97.500,00 saya terima dari redaksi.

Ah, tak kusangaka. Dari tulisan tangan biasa, berubah menjadi tulisan yang luar biasa! Ide itu datang dari sampul buku.

Purwokerto, 24 Oktober 2010
Sudut Jalan Pungkuran

Jumat, 15 Oktober 2010

Toilet yang Selalu Ada “Pup”-nya dan Belajar Ketulusan dari Abah

Oleh: Rosyidah Purwo

Delapan tahun silam. Adalah masa di mana saya baru saja selesai menuntut ilmu dari Madrasah Tsanawiyah Negeri sekaligus saya juga baru saja selesai menututu ilmu di sebuah pesantren di Purwokerto. Mengenangnya, saya teringat akan masa lalu yang menyedihkan, menyenangkan, dan mengharukan!

Malam hari harus bergelut dengan pelajaran di sekolah sekaligus pelajaran di pesantren. Puluhan anak mendapat bimbingan spiritual, akhlak, kemandirian, kepribadian dari seorang public centre di sana. Sosoknya begitu indah dipandang dan begitu nyaman dirasakan. Rendah hati, lucu, tegas, cerdas, ulet dan luar biasa sabar. Satu lagi, meskipun memegang posisi sebagai pengajar di perguruan tinggi, namun tetap merakyat.

Setiap subuh hari, dan setiap selesai melaksanakan sholat maghrib, ia menyediakan waktunya untuk berbagi ilmu dengan bapak-bapak tua, ibu-ibu tua, bahkan mbah-mbah, dan anak-anak di sebuah musholla kecil. Dengan telaten dan sabar, ia mangajarkan satu persatu huruf-huruf Al Quran. Sampai menjelang waktunya tiba, mereka mampu mengkhatamkan 30 juz Al Quran. Bahkan satu juz dalam al Quran, mampu dihafal.

Namanya mbah Hasan (allohummarhamhu), mbah Prayit (Allohummarhamhu), mbah Warni (penjual jajan di pasar wage, dan daerah sekitar SPN) adalah salah tiga di antara puluhan orang yang belajar kepadanya. Usia mereka saat saya masih belajar membaca Al Quran bersama adalah kepala lima. Sampai saya lulus, mereka sudah mempu membaca Al Quran dengan baik. Mbah Warni mampu mengenali bacaan sholat dengan baik.

Bisa dibayangkan, betapa sulitnya mengajar orang banyak yang sudah memiliki usia kepala lima. Jika bukan karena ketulusan dan keuletan serta kesabaran, orang-orang ini sampai hari ini tidak akan mampu mengenal huruf-huruf yang bagi kebanyakan orang adalah huruf asing dan aneh.

Saat itu, saya teringat masa di mana saya sedang tidak memiliki uang sama sekali. Tiba-tiba saya sakit. Muntah-muntah, dan badan rasanya tidak enak. Dengan bantuan seorang teman, saya dibawa ke poliklinik Unsoed menggunakan becak. Dalam keadaan sakit itu, kepala saya dipenuhi pikiran tentang “ongkos becak dan biaya obat”, sebab tidak mungkin saya dibantu oleh teman saya ini, sebab saya tahu, ia juga sama-sama seperti saya, tidak memiliki uang.

Di sana saya diperiksa, dan diberi resep obat. Saat hendak menyerahkan uang yang saya miliki, Rp. 10000,00, ibu penjaga kasir mengatakan, “sudah dibayar oleh bu Ulfah,” subhanalloh. Saya tahu Bu Ulfah adalah istri dari bapak ini. Ia sama-sama orang tulus, baik hati, lembut, penuh kasih sayang, jujur, dan tegas!

Pagi hari ini, saya berbincang-bincang dengan bu kost. Pagi hari yang dingin dan cerah. Saya mengambil sebuah setrika tua milik bua kost. Saya setrika baju seragam yang kemarin saya cuci.
“Ibu, kok masih seperti kemarin ya, toiletnya?” tanya saya membuka percakapan pagi itu.
“Masih ada pup-nya?” tanya bu kost.
“Iya,”

Toilet penuh PUP. Itulah kejadian yang sudah hampir terjadi selama kurang lebih satu setengah tahun, namun baru saya ungkapkan satu minggu yang lalu.

Setiap pulang dari mengajar, sering sekali saya menjumpai toilet di kost saya masih ada PUP menunggu di sana. Baunya tidak karuan! Bisa dirasakan sendiri deh kalau penasaran! Dan ini sudah terjadi selama kurang lebih satu setengah tahun.

Lalu saya tanyakan kepada ibu kost. Apakah ada orang lain yang memakai toilet di belakang selain saya? itulah bunyi pertanyaannya. Ternyata jawaban ibu kost adalah “ya”. Usut punya usut yang memakai toilet adalah pembantu bu kost dan suaminya yang setiap pagi dan sore hari datang untuk merawat suaminya ibu kost yang sedang menderita stroke sejak tiga tahun lalu.

Mbak Yani namanya, dan Pak Jumadi, nama suaminya. Mereka adalah sepasang suami istri yang memiliki profesi sebagai buruh rumah tangga, dan sebagai pekerjaan sampingan suaminya dalah sebagai tukang parkir. Dari hasil ini, mereka belum mampu mencukupi kebutuhan hidup rumah tangga mereka. Apalagi diperkotaan yang menuntut stiap orang harus mandiri dan bekerja.

“Wah, kalau besok lagi diperingatkan nggak nurut, ya….tidak boleh memakai toilet dong, Bu.” Kata saya bercanda. “Terus bagaimana, dong?” timpal bu kost saya, serius. “Nggak tahu, Bu,” jawab saya. Meskipun pertanyaan saya adalah guyonan namun dalam hati, serius banget. Mudah-mudahan…mudah-mudahan…tragedi “PUP di Toilet segera berakhir…”. Begitulah keseriusannya.

Satu setengah tahun batin saya selalu menderita. Menyiram dan membersihkan toilet yang ada “PUP-nya” namun bukan PUP sendiri, meskipun tidak setiap hari, namun lumayan sering. Bau dan jijik rasanya.

Dalam hati saya berkata, ah, rugi amat. Bayar kos mahal kok menjadi tukang buang PUP orang di toilet sendiri! Sakit hati rasanya. Belajar tulus dari Abah dong, Sayang! begitu hibur hati saya.

Purwokerto, 14 Oktober 2010

Toilet yang Selalu Ada “Pup”-nya dan Belajar Ketulusan dari Abah

Oleh: Rosyidah Purwo

Delapan tahun silam. Adalah masa di mana saya baru saja selesai menuntut ilmu dari Madrasah Tsanawiyah Negeri sekaligus saya juga baru saja selesai menututu ilmu di sebuah pesantren di Purwokerto. Mengenangnya, saya teringat akan masa lalu yang menyedihkan, menyenangkan, dan mengharukan!

Malam hari harus bergelut dengan pelajaran di sekolah sekaligus pelajaran di pesantren. Puluhan anak mendapat bimbingan spiritual, akhlak, kemandirian, kepribadian dari seorang public centre di sana. Sosoknya begitu indah dipandang dan begitu nyaman dirasakan. Rendah hati, lucu, tegas, cerdas, ulet dan luar biasa sabar. Satu lagi, meskipun memegang posisi sebagai pengajar di perguruan tinggi, namun tetap merakyat.

Setiap subuh hari, dan setiap selesai melaksanakan sholat maghrib, ia menyediakan waktunya untuk berbagi ilmu dengan bapak-bapak tua, ibu-ibu tua, bahkan mbah-mbah, dan anak-anak di sebuah musholla kecil. Dengan telaten dan sabar, ia mangajarkan satu persatu huruf-huruf Al Quran. Sampai menjelang waktunya tiba, mereka mampu mengkhatamkan 30 juz Al Quran. Bahkan satu juz dalam al Quran, mampu dihafal.

Namanya mbah Hasan (allohummarhamhu), mbah Prayit (Allohummarhamhu), mbah Warni (penjual jajan di pasar wage, dan daerah sekitar SPN) adalah salah tiga di antara puluhan orang yang belajar kepadanya. Usia mereka saat saya masih belajar membaca Al Quran bersama adalah kepala lima. Sampai saya lulus, mereka sudah mempu membaca Al Quran dengan baik. Mbah Warni mampu mengenali bacaan sholat dengan baik.

Bisa dibayangkan, betapa sulitnya mengajar orang banyak yang sudah memiliki usia kepala lima. Jika bukan karena ketulusan dan keuletan serta kesabaran, orang-orang ini sampai hari ini tidak akan mampu mengenal huruf-huruf yang bagi kebanyakan orang adalah huruf asing dan aneh.

Saat itu, saya teringat masa di mana saya sedang tidak memiliki uang sama sekali. Tiba-tiba saya sakit. Muntah-muntah, dan badan rasanya tidak enak. Dengan bantuan seorang teman, saya dibawa ke poliklinik Unsoed menggunakan becak. Dalam keadaan sakit itu, kepala saya dipenuhi pikiran tentang “ongkos becak dan biaya obat”, sebab tidak mungkin saya dibantu oleh teman saya ini, sebab saya tahu, ia juga sama-sama seperti saya, tidak memiliki uang.

Di sana saya diperiksa, dan diberi resep obat. Saat hendak menyerahkan uang yang saya miliki, Rp. 10000,00, ibu penjaga kasir mengatakan, “sudah dibayar oleh bu Ulfah,” subhanalloh. Saya tahu Bu Ulfah adalah istri dari bapak ini. Ia sama-sama orang tulus, baik hati, lembut, penuh kasih sayang, jujur, dan tegas!

Pagi hari ini, saya berbincang-bincang dengan bu kost. Pagi hari yang dingin dan cerah. Saya mengambil sebuah setrika tua milik bua kost. Saya setrika baju seragam yang kemarin saya cuci.
“Ibu, kok masih seperti kemarin ya, toiletnya?” tanya saya membuka percakapan pagi itu.
“Masih ada pup-nya?” tanya bu kost.
“Iya,”

Toilet penuh PUP. Itulah kejadian yang sudah hampir terjadi selama kurang lebih satu setengah tahun, namun baru saya ungkapkan satu minggu yang lalu.

Setiap pulang dari mengajar, sering sekali saya menjumpai toilet di kost saya masih ada PUP menunggu di sana. Baunya tidak karuan! Bisa dirasakan sendiri deh kalau penasaran! Dan ini sudah terjadi selama kurang lebih satu setengah tahun.

Lalu saya tanyakan kepada ibu kost. Apakah ada orang lain yang memakai toilet di belakang selain saya? itulah bunyi pertanyaannya. Ternyata jawaban ibu kost adalah “ya”. Usut punya usut yang memakai toilet adalah pembantu bu kost dan suaminya yang setiap pagi dan sore hari datang untuk merawat suaminya ibu kost yang sedang menderita stroke sejak tiga tahun lalu.

Mbak Yani namanya, dan Pak Jumadi, nama suaminya. Mereka adalah sepasang suami istri yang memiliki profesi sebagai buruh rumah tangga, dan sebagai pekerjaan sampingan suaminya dalah sebagai tukang parkir. Dari hasil ini, mereka belum mampu mencukupi kebutuhan hidup rumah tangga mereka. Apalagi diperkotaan yang menuntut stiap orang harus mandiri dan bekerja.

“Wah, kalau besok lagi diperingatkan nggak nurut, ya….tidak boleh memakai toilet dong, Bu.” Kata saya bercanda. “Terus bagaimana, dong?” timpal bu kost saya, serius. “Nggak tahu, Bu,” jawab saya. Meskipun pertanyaan saya adalah guyonan namun dalam hati, serius banget. Mudah-mudahan…mudah-mudahan…tragedi “PUP di Toilet segera berakhir…”. Begitulah keseriusannya.

Satu setengah tahun batin saya selalu menderita. Menyiram dan membersihkan toilet yang ada “PUP-nya” namun bukan PUP sendiri, meskipun tidak setiap hari, namun lumayan sering. Bau dan jijik rasanya.

Dalam hati saya berkata, ah, rugi amat. Bayar kos mahal kok menjadi tukang buang PUP orang di toilet sendiri! Sakit hati rasanya. Belajar tulus dari Abah dong, Sayang! begitu hibur hati saya.

Purwokerto, 14 Oktober 2010

Jumat, 08 Oktober 2010

Mulut Lalat itu “Bip-Bip-Bip”

Oleh: Rosyidah Purwo

Doa

Oleh: Rosyidah Purwo

Bahwa kemauan dan keinginan yang kuat dan uasaha yang sungguh-sungguh akan membawa pada keberhasilan sejati.

Iringan doa itu sebagai penguat atas usaha. Sebagai dinding yang kokoh atas kegagalan. Maka aku selipkan doa ini untuk diriku, "Tuhan, selipkan sedikit keberanian untuk mengarungi dan menapaki perjalanan hidup ini. Hanya Engkau yang mampu memberikannya. Tidak ada yang lain."

Dan kesabaran itu akan menjadi pelindungku. Maka aku selipkan doa ini, "Tuhan, berikan setetes kesabaran-Mu untukku. Karena hanya Engkau yang memilikinya! Tidak ada yang lain!"

Saya persembahkan doa ini untuk rumah mungil orang tua saya. Dan untuk saya tentunya.
Purwokerto, 200910
Oleh: Rosyidah Purwo

Bahwa kemauan dan keinginan yang kuat dan uasaha yang sungguh-sungguh akan membawa pada keberhasilan sejati.

Iringan doa itu sebagai penguat atas usaha. Sebagai dinding yang kokoh atas kegagalan. Maka aku selipkan doa ini untuk diriku, "Tuhan, selipkan sedikit keberanian untuk mengh

Minggu, 03 Oktober 2010

Kasur-pun Punya Hati

Oleh: Rosyidah Purwo

Hari Minggu yang biasanya saya gunakan untuk mencicipi segarnya udara kampung halaman, kali ini saya gunakan untuk tetap beradu di balik kamar kost yang indah nan sempit.

Sudah lama sekali badan rasanya pegel-pegel setiap habis bangun tidur. Selepas kerja, tidur-tiduran malas rasanya tidak nyaman. Gelalang-geleleng juga rasanya tidak enak. Setiap kali selesai melakukan aktifitas itu, rasanya tengkuk kaku dan tegang.

Suatu ketika, teman berkunjung ke kos-kosan saya. Ia hendak numpang sholat dzuhur. Selesai sholat, teman saya tidur-tiduran.

“Buset, bantalnya keras banget!” begitu katanya dengan ekspresi terkejut yang sempat membuat saya terkejut pula. Saya nyengir kuda setelahnya. “Maklumlah, orang sibuk,” begitu tanggapan saya atas kata-katanya.

Teman, ternyata tak hanya benda hidup saja yang memiliki hati. Benda mati pun juga memilikinya, seperti kasur di kamar kost saya. karena sudah hampir satu setengah tahun, tidak mendapat perhatian dari si empunya, ia ngemuk sejadi-jadinya. Pembalasan itu lebih kejam! Begitu mungkin ia akan berkata andaikan saja bisa.

Kasur yang biasanya empuk, kini berubah keras hampir seperti batu. Aduh rasanya jika dipakai buat tidur. Seperti tidur di atas batu! Bangun tidur dijamin, badan rasanya pegel-pegel nggak karuan!

Sedikit tips untuk teman-teman yang doyan banget kerja. Jika tidak ingin benda-benda kesayangan atau alat-alat yang dibutuhkan ngamuk, diperhatikan, yuk!

Purwokerto, 041010
04.45wib

Inspirasi Pagi Bukan IMELDA

Oleh: Rosyidah Purwo

Saya menulis pagi-pagi sekali. Hari itu, Minggu, 4 September 2010, pukul 03.45 wib. Saya selesai menunaikan sholat subuh. Betul kata teman-teman, bahwa untuk dapat memeroleh ide, lalu menorehkannya dalam tulisan maka, harus banyak membaca dan menulis. Seperti siang hari kemarin.

Bergegas saya membuka laptop dan mulai mengutak-atiknya. Satu persatu huruf saya susun rapih membentuk sebuah kata, lalu kalimat, lalu paragraph. Ini saya peroleh sebab siang harinya saya membuka-buka tulisan di dalam sebuah blog milik para bloger yang rajin menulis. Salah satunya adalah milik Om Jay.

Perasaan kagum dan jatuh cinta muncul secara tiba-tiba pada sosok bertubuh gendut, berpicis putih dan sedikit berewok, serta selalu mengenakan kacamata.

Awal mula saya mengenalnya melalui sebuah kegiatan yang sempat membuat saya kecewa sekaligus bangga, sekaligus jadi pinter. Sebuah lomba tahunan yang diadakan oleh kemendiknas, yaitu lomba cipta buku pengayaan.

Saat itu tahun 2008. Untuk kali pertamanya saya iseng-iseng mengikuti lomba cipta buku pengayaan. Maka tulisan-tulisan yang sudah pernah saya tulis sejak duduk di bangku kuliah, saya buka-buka ulang, saya edit-edit lagi, lalu saya tambahkan beberapa halaman, dan saya print out.

Wow, spektakuler! Ternyata tulisan-tulisan itu sudah membentuk tumpukan-tumpukan kertas yang kemudian saya anggap sebagai sebuah buku. Lalu saya perbaiki susunannya, saya jilid, dan saya kirimkan ke PUSBUK.

Berawal dari membuka kata “PUSBUK’ ini, saya melihat sebuah blog yang waktu itu saya anggap sepele. Namun begitu di dalamnya saya lihat ada sebuah nama yang tidak asing bagi saya, Agus Sampurno, saya tertarik untuk membukanya lebih dalam dan lebih jauh. Wow, blog ini sangat bagus! Begitu komentar saya dalam hati.

Suatu hari, setelah saya memelajari blog nya lagi, saya tertarik untuk mengirimkan sebuah tulisan, lalu saya kirimkan sebuah tulisan, kurang lebih bunyinya begini, “Om, saya sudah pernah mengikuti lomba cipta buku pengayaan tapi belum menang. Bolehkah saya diberikan contoh bukunya?”

Tak ku sangkaaa… tak ku duuuuga (baca dengan gaya lagu dangdut Ona Sutra), tulisan saya mendapat respon. Saya dikirim sebuah buku ciptaannya yang sangat bagus. Sejak saat itu, saya selalu membuka blog miliknya jika sedang membutuhkan informasi, ide, refresing, dan macam-macam yang lain. Sejak saat itu pula saya mulai membuat kembali sebuah karya. Rencananya akan saya ikutkan kembali dalam lomba cipta buku pengayaan tahun 2011. Mudah-mudahan masih ada. Om Jay jadi inspirasi pagi saya, hari ini.

Purwokerto, 041010
(04.10wib)

Jumat, 01 Oktober 2010

Cerita yang Terlambat (Jakarta, Hotel Borobudur, Kamar Mandi, KEMENKOKESRA, Wartawan, dan Rebutan Es Krim)

Oleh: Rosyidah Purwo*)

Membeli Koran
Pengumuman lomba menulis artikel telah diumumkan. Dengan tergesa, saya membeli koran REPUBLIKA sore hari sepulang dari bekerja, di sebuah agen penjual koran di salah satu sudut Jl. Masjid.

Saya segera membuka halaman yang memuat tentang pengumuman pemenang lomba menulis artikel. Deg! Di sana terpampang sebuah nama, sebagai salah satu pemenangnya. Rosyidah Purwo, dari Purwokerto. begitulah tulisan itu.

Adrenalin bekerja dengan giat. Darah mengalir ke seluruh otak, wajah menjadi panas, dan keringat bahagia mengalir. Tangan gemetar. Itulah ekspresi saya saat membaca nama itu. malam hari, saya berbincang-bincang dengan ibu kost. Dan memeluk dengan giat tubuh tua bu kost saya. Senyum bahagia mengembang di bibir tuanya yang merah dan tipis.

Tanggal ditetapkan pembagian hadiah datanglah. Saya meminta ijin kepada atasan saya untuk bolos bekerja karena ada keperluan mengambil hadiah di ibu kota Indonesia, Jakarta.

Saya tidak mau ambil resiko, maka untuk mencegah nyasar di jalan, saya memesan agen travel jurusan Purwokerto-Jakarta. Karuna Travel, saya hubungi satu hari sebelum tanggal pemberangkatan.

Berangkat dari Purwokerto pukul 19.00wib. Sampai di Jakarta pukul 07.30wib. Setelah ber-SMS ria dengan paniatia pelaksana lomba menulis artikel —Ia menyebut dirinya dengan nama Moenir HC— saya masuk ke dalam sebuah hotel yang telah ditetapkan oleh panitia, hotel Borobudur, namanya.

Hotel Borobudur, O la la
Hotel itu terlihat sangat mewah, besar, dan tinggi. Di pintu masuk, saya disambut oleh dua orang petugas security. Saking gugup dan tegang melihat bangunan tinggi, indah, mewah, dan sebentar lagi akan saya masuki, buru-buru saya bertanya pada dua petugas security, “maaf, Pak, kalau bagian lomba menulis artikel di sebelah mana, ya?” Saya tidak berpikir apakah security itu paham atau tidak tentang tempat yang saya maksud.

Dasar lola, saya baru teringat kalau saya masih memiliki panitia yang siap sedia menjawab SMS kalau ditanya. Saya tersenyum sendiri setelah menyadarai betapa bodohnya bertanya pada security. Saya bertanya kepada panitia, sekali lagi kepada orang yang menyebut namanya dengan Moenir HC.

Ternyata saya sudah ditunggu di lobi utama hotel. Saya masuk setelah melalui pemeriksaan tas terlebih dahulu. Petugas itu seperti tim GEGANA dari keplosisan Republik Indonesia bagian penjinak bom. Tas diperiksa dengan menggunakan alat yang bersinar. Lalu dibuka-buka isi di dalamnya.

Melihatnya, saya sempat was-was. Rasa was-was itu bukan karena saya membawa bom, karena pikiran saya masih sehat wal afiat, tentu saja tidak membawa bom. Rasa was-was saya tak lain dan tak bukan dikarenakan takut ditertawakan oleh petugas pemeriksa barang. Sebab isi tas saya adalah celana dalam, BH, dan beberapa kosmetik sederhana —minyak wangi merek Vitalis, pelembab Sari Ayu, dan bedak Marcks’— serta satu stel baju ganti hasil pinjaman dari teman. Ada juga peralatan mandi —sabun cair biore, handuk kecil, sikat gigi formula warna merah hati, dan pasta gigi Ciptadent ukuran sedang—. Semuanya saya masukkan jadi satu di dalam tas punggung warna hitam. Tas punggung bertuliskan SHARP POINT di bawah tulisan ada gambar, seperti kertas persegi empat dilipat menjadi dua —membentuk gambar pesawat terbang dari kertas yang sedang terbang dilihat dari samping—berwarna biru laut dan biru langit, di bawah gambar tertulis Prime Quality dengan font italic.

Tahap pemeriksaan barang selesai. Saya langsung menuju ke ruang lobi utama. Tentu saja saya tidak tahu di mana ruang lobi utama, sebab ini adalah kali pertama saya masuk ke sana. Jadi, sudah barang tentu pengalaman belum ada.

Saya bertanya kepada seorang gadis penjaga pintu masuk. Gadis itu cantik sekali. Kulitnya putih bersih, senyumnya selalu mengembang, giginya kecil-kecil, bersih, dan rapi. Pakaiannya sangat serasi dengan bentuk tubuhnya yang ramping dan singset –mungkin minum jamu singset— saya sempat bepikir begitu. Tubuhnya harum dan gerakannya lembut, seperti bulu yang sedang terbang, begitu saya merasakannya.

Saya diantarkan ke sana, sampai saya duduk. Terlihat seorang bapak berkepala agak botak dan berambut tipis serta berbaju batik dan bercelana panjang hitam telah duduk di atas kursi sofa yang kelihatanannya mahal dan empuk.

Dengan gaya sok kenal sok dekat, saya langsung bertanya, “maaf, kalau yang bagian lomba menulis artikel di mana, ya?” pertanyaan saya langsung dijawab tepat sasaran! “Mbak Rosyidah Purwo?” begitu jawabannya yang sekaligus menjadi sebuah pertanyaan. Senyum bahagia mengembang. “Iya, Pak,” jawab saya.

“Oh, perkenalkan,” kata bapak itu ramah dan terlihat baik. “Munir,” sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Setelah ngobrol sedikit tentang perjalanan dan mengenai diri pribadi, saya langsung diantar menuju salah satu kamar di hotel itu. Bingung, takut, malu. Itulah saya saat melewati lorong-lorong dan ruangan-ruangan indah di hotel itu. saya tidak paham apapun tentang hotel itu.

Pak Moenir memencet nomor di dalam lift, di belakang mengekor beberapa orang. Ternyata mereka hendak menuju pada lantai yang sama dengan saya dan pak Moenir.

Dalam hitungan detik, saya sudah sampai di lantai 9 hotel Borobudur. Saya langsung dipersilakan masuk. Nyess…hawa dingin AC langsung menyeruak ke wajah dan kepalaku. Segeeeer….begitu kata hatiku saat itu. Di sana sudah menunggu dua anak perempuan dan satu orang ibu yang memerkenalkan dirinya sebagai istri pak Moenir dan anak-anaknya pak Moenir.

Bahagia hati saya. Saya disambut dengan keramah tamahan dan pelukkan hangat. Saya dipersilakkan untuk istirahat dan mandi, serta ganti baju. Namun rasa lelah memaksa saya harus mencicipi tempat tidur empuk terlebih dahulu. Tiga puluh menit saya tidur-tiduran sambil ngobrol dengan istri dan anak-anaknya pak Moenir.

“Beliau seorang wartawan, suka sekali dengan kegiatan sosial,” sedikit penjelasan tentang pak Moenir dari istrinya yang cantik, ramah, dan baik.

Saya dipersilakkan untuk mandi karena sebentar lagi pembagian hadiah akan dilaksanakan. Lalu saya mandi.

Kamar Mandi

Peralatan mandi saya keluarkan. Pintu kamar mandi saya buka. Ckrek! begitulah bunyinya. Gek! Begitulah nafas saya. Hampir saja tertahan ditenggorokan. Saya cepat-cepat bangun dari setengah sadar saya.

Bath tub besar berwarna putih tergeletak cantik di depan saya. Saya mencari-cari gayung, tidak ada di sana. Mencari gantungan baju, tidak ada juga. Saya bercermin sebentar untuk memastikan saya masih sadar. Di sebelah kanan bath tub, agak ke atas sedikit, hampir menempel di tembok, terpasang tombol-tombol yang banyak sekali.

Saya berdiri agak lama sambil mulut komat-kamit membaca doa. Tangan sedikit gemetar sambil memegangi peralatan mandi yang sebenarnya tidak perlu saya bawa. Di dalam kamar mandi sudah tersedia sabun-sabun, pasta gigi, handuk, dan lain-lainnya yang saya tidak paham.

Saya pelajari setiap detail apa yang ada di sana. Tombol-tombol saya pencet-pencet. Cuuur…keluar air hangat, saya kaget. Saya matikan tombol. Saya nyalakan tombol lain, cuuur…keluar air dingin, saya kaget. Lima belas menit berlalu, saya belum melakukan apa-apa. Masih ketakutan dengan pakaian lengkap plus jilbab yang rapat.

Sebab takut tertinggal dengan teman-teman, saya langsung saja menampung air sebanyak-banyaknya di dalam bath tub besar berwarna putih. Saya tutup bagian pembuangan airnya. Lalu saya masuk ke dalamnya.

Duduk diam berendam di dalam air. Teringat kenangan masa lalu saat berendam di kali bersama teman-teman. Membendung aliran air sungai agar menjadi dalam, lalu berendam sambil timbul tenggelam.

Di sini saya terbengong, sebab tidak tahu apa yang harus dilakukan. Mau bermain “timbul tenggelam” sepertinya tidak mungkin. Ini bukan sungai.

Dengan inisiatif yang cerdas, saya keluar dari dalam air, saya ambil sabun mandi yang saya bawa dari kota tecinta, Purwokerto. Saya masuk lagi ke dalam tub, lalu menggosok tubuh saya dengan sabun. Sabun kecil-kecil nan cantik, saya biarkan berjejr rapih ditempatnya. “Ah, cantik-cantik tak berguna,” begitu kata saya memaki-maki sabun-sabun yang pamer sekali di depan saya.

Air penuh dengan sabun, tubuh menjadi licin dan tak kunjung bersih. Rasa bingung menyerang lagi. Sebuah inisiatif cerdas muncul kambali. Saya buka tutup bath tub bagian pembuangan air. Saya biarkan air mengalir sampai kosong, saya duduk diam di sana, lalu saya pencet tombol air dingin, saya guyur tubuh saya yang penuh dengan sabun seperti mbok-mbok yang sedang mandi di pancuran. Tentu saja saya tidak berdiri, sebab keran tidak tinggi.

Penghibur lara, saya bermain-main dengan shower. Membayangkan menjadi bintang iklan sabun mandi yang sedang melakukan adegan mandi seperti di TV, saya guyur-guyurkan air dari shower supaya membasahi tubuh saya. Lembuuut….rasanya. Terimakasih Shower, telah menjadi penghibur derita dari kamar mandi aneh!

Legaaaa! Akhirnya tragedi mandi mewah yang menyengsarakan menyengsarakan selesai sudah. Perut tiba-tiba merasa mules. Saya kenakan handuk putih besar barbau harum yang tergantung rapi di besi putih bersih dan kinclong. Sepertinya besi itu terbuat dari aluminium yang bagus sekali. Terlihat kuat. Saya tarik kuat-kuat handuk putih itu.

Saya perhatikan closet cantik, tinggi, dan bersih yang duduk diam di depan saya. Sekali lagi saya celingukan mencari gayung dan ember penampung air. Tentu saja tidak ada, sebab closet tidak didesain untuk memiliki gayung dan ember penampung air. Saya bingung lagi. Perut tambah mules.

Saya teringat pada kloset di kamar mandi di kost-kostan saya yang mirip sekali dengan kloset di kamar mandi ini. Namun kloset di kamar mandi di kost-kostan saya tetap ada gayung dan penampungan air.

Saya langsung duduk di atasnya. Tentu saja saya berpikir keras bagaimana cara membersihkan, maaf, dubur, dari kotoran. Sambil bingung, mata saya lincah melihat ke mana-mana. Seonggok tissue gulung menyapa di depan saya. Ah….akhirnya!

Dengan giat saya ambil tissue sebanyak-banyaknya. Saya bersihkan dengan sebersih-bersihnya. Kali pertamanya tissue saya pakai untuk membersihkan kotoran. Mual, itu kesan pertama! Akhirnya, bersih sudah anggota tubuhku yang tidak akan saya perbolehkan siapapun melihatnya kecuali orang-orang yang berhak atas diri saya.

Plong! Tragedi kloset selesai sudah. Segera saya berganti pakaian dan siap-siap mengikuti arahan dari dua anak gadis pak Moenir tang sebenarnya tidak ada dalam daftar pikiran saya sebelumnya.

Segera saya mengambil alat-alat keperluan untuk pengambilan hadiah. Sebuah kamera digital pinjaman dari tempat saya bekerja, pen, dan sebuah buku kecil. Uang tentu saja. Itu adalah alat-alat yang menurut saya sangat diperlukan.

Kamera saya bawa untuk mengambil gambar, barangkali saja ada moment-moment penting, pen dan buku kecil saya bawa untuk mencatat, barangkali saja ada hal yang perlu dicacat.

Saya segera keluar dari kamar dengan didampingi oleh dua anak dan istrinya pak Moenir. Kami keluar dengan dandanan rapi. Kecuali dua anak pak Moenir. Dengan baju tidurnya, mereka santai saja keluar dari kamar dan menuju ruang makan, serta mengambil sarapan lalu makan.

Saya melihat kaki mereka. Anak yang terbesa mengenakan sandal selop putih tipis. Di sana ada tulisan nama hotel tempat saya beistirahat—menginap seharusnya—. Tulisan itu warnanya hijau daun. Asem, ik! Sandal itu adalah hak saya! Hatiku mengumpat. Merasa kamar yang saya tempati, namun sekadar numpang lewat ini, sebenarnya adalah hak saya. Teringat petuah sakti pak Moenir, umpatan itu saya tarik kembali. “Maaf, berhubung kamar ini tidak ada yang menempati, dan jika dibiarkan kosong maka akan mubadzir, maka saya kirim anak dan istri saya untuk menempatinya”. Ya ya ya, saya mengerti semengerti mengertinya. Jurus pak Moenir sungguh jitu melunakkan hati saya.

Anak tertua pak Moenir mengambil sebuah kartu. Kartu itu dimasukkan ke dalam lobang yang ada di bagian pintu kamar. Pintu itu terkunci. Satu pengalaman baru lagi untuk saya. Saya penasaran, ingin hati meminta kartu itu, lalu mencoba memasukannya sendiri, lalu membukanya, lalu menguncinya lagi, namun perasaan takut —takut pintu rusak dan tidak bisa memperbaiki—mengurungkan niat saya untuk mencoba teknologi canggih itu. Maka rasa penasaran saya bawa sampai di meja makan.

Kami menuju ruang makan. Orang-orang menyebutnya kafe. Dai lantai kamar, saya melihat di bawah sana terbentang kolam renang warna dengan air berwarna biru laut. Lebar dan sejuk, sepertinya, sebab pohon-pohon cukup besar masih tumbuh di sekelilingnya. Kursi santai berjejer rapi. Warnanya putih. Seorang laki-laki bercelana dalam dan berkaca matam hitam duduk, lebih tepatnya duduk yang setengah tidur, di sana. Ia memegang sebuah buku dan HP.

“Kakak, saya mau renang,” salah seorang anak terkecil pak Moenir berkata begitu kepada gadis yang dipanggilnya kakak. “Yan ntar. Kamu bawa saja sekalian bajunya,” begitu jawabannya. Saya berdiri lama di jendela koridor lantai kamar saya. Saya menatap terpaku ke bawah sana. Semuanya telihat kecil-kecil sekali. “E…Mbak, mau renang?” Tanya anak pak Moenir yang tertua. Saya menjawabnya dengan singkat, padat, dan jelas, “TIDAK”.

Saya tidak bisa berenang, saya tidak berpikir sama sekali tentang renang, saya tidak punya uang untuk renang, saya tidak bawa baju renang
. Begitu pikiran saya atas pertanyaan anak gadis tertua pak Moenir. “Nggak apa-apa, Mbak. Gratis kok”. Seperti mengetahui rahasia di dalam hati saya yang paling dalam dan rahasia yang sangat memalukan sekali jika diungkapkan.

Hah, gratis? Batin saya bertanya sekaligus kaget. Saya memandang sekali lagi ke arah kolam renang itu berada. Biru…luas…indah…Rasa menyesal karena tidak dapat menggunakan kolam renang yang konon ceritanya gratis tumbuh di lubuk hati saya yang paling dalam. Saya lemes!

Nasi Goreng dan Air Putih
Dengan menggunakan setelan celana panjang lusuh warna hitam, sepatu merek Spotty warna coklat, dan baju pinjaman warna biru berkotak-kotak, saya melenggang ke ruang makan. Di sana saya diperkenalkan dengan seorang bapak tua dengan seorang istri dan anaknya. Bapak itu adalah yang nantinya saya kenal sebagai juara pertama dalam lomba ini. Seorang laki-laki tua asal Solo, Jawa Tengah.

Di sudut pojok ruang makan, tepat di depan saya, duduk bergerombol bule-bule yang gendut. Seorang bule perempuan mengenakan kaos tengtop warna hitam dan celana pendek di atas lutut warna coklat. Kacamata hitam bertengger di atas kepalanya. Sebatang okok terselip di sela-sela bibir tipisnya. Seorang bule laki-laki bertubuh besar dan bongsor duduk di sebelahnya, dan tiga yang lainnya duduk di depan mereka. Membentuk posisi duduk melingkar. Masing-masing menghadap secangkir—entah kopi atau teh atau minuman yang lain—cangkir itu berwarna putih dengan tatakan piring-piring kecil berwarna serupa.

Di sudut yang lainnya ada dua bule sedang duduk mesra. Raut wajahnya seperti baru bangun dari tidur. Di sudut yang lainnya, masih ada bule juga. Di sudut lainnya bergerombol laki-laki perempuan dengan pakaian perlente ala orang kantoran. Berdasi rapih, berjas rapi, dan yang perempuan menggunakan setelan kantor dengan sepatu high hill sewarna dengan bajunya.

Suara piring beradu dengan sendok ramai terdengar. Sendok sayur beradu dengan tempat sayur, suara wajan panas beradu dengan minyak. Ramai sekali suasananya! Suara orang banyak yang setengah berbisik terdengar seperti lebah madu.

Berbagai menu sarapan pagi tersaji di sana. Banyak sekali, seperti sebuah warung makan yang sangat besar namun bersih dan indah. Berbagai menu minuman pagi tersedi lengkap, jus, susu, kopi, koktail, teh, air putih dan lain-lain.

Saya mengambil satu piring nasi goreng dan segelas air putih. Wah, pasti mahal harganya, batinku. Begitulah alasan saya hanya mengambil nasi goreng dan air putih. Saya makan dengan malu-malu di depan seorang bapak bertubuh agak pendek, berperut gendut hampir menyerupai buncit, berkulit hitam, dan bermata agak kecoklatan. Rambutnya hampir setengah botak.

Di sebelah kiri saya dua anak gadis pak Moenir lahap sekali menyantap menu sarapan paginya. Satu piring nasi putih dan lauk-pauknya. Satu gelas susu. Lalu mengambil lagi satu porsi kue dan orange juice. Lalu mengambil lagi segelas kopi. Lalu mengambil lagi entah menu makanan apa, yang jelas aneh dan saya baru pertama kali melihatnya. Peralatannya pun aneh-ameh. Saya memerhatikan saja. Berapa harga makan sebegitu banyaknya? batinku.

“Makan yang banyak ya, Nak.” Katanya pada dua anak gadis pak Moenir. Suaranya nge-bass dan besar. Saya merasa stress dengan keadaan saya. Lokasi dan suasana, serta hal-hal yang benar-benar baru bagi saya, membuat otak dan perut saya bekerja lebih keras. Maka masuk angin dan diare menyambut hari bahagiaku di hotel mewah itu.

Waktu menunjukkan pukul 09… (lebihnya saya lupa). Saya diminta menuju ke halaman hotel. Saya mengenakkan baju batik warna coklat, dan rok warna coklat, serta kerudung warna coklat. Saya PD sekali tentunya, sebab baju batik itu adalah baju batik terindah yang saya miliki saat itu. Sepatu merek sppoty warna coklat menambah serasi dan anggunannya saya waktu itu. Begitu pikiran saya.

Mobil indah warna merah membawa kami ke gedung KEMENKOKESRA. Mobil itu harusnya berkapasitas 5 orang dengan ditambah satu orang sopir. Namun, kami berangakat ber Sembilan. Sangat sesak dan panas tentunya.

“Pak, ini yang saya ceritakan waktu itu,” kata pak Moenir kepada seorang bapak bertubuh gendut, berrambut sedikit memutih, berkulit cukup putih, dan berkacamata. Di lain waktu saya mengenal bapak ini dengan nama……..Pak Moenir menunjuk ke arah saya, sambil meminta saya menjabat tangan bapak itu.

“Oh, saya yang dimaksud?” begitu pikir saya. Saya menjabat tangannya. Saya, pak Moenir, dan beberapa teman lain berjalan beriringan menuju ke sebuah ruangan. Ruangan itu adalah salah satu begian dari gedung KEMENKOKESRA. Aula, sepertinya.

Kursi tertata rapi. Saya mengambil tempat duduk di deret paling depan. Di sebelah kanan saya duduk seorang laki-laki kecil. Salah satu wartawan dari media mana saya lupa. Di sebelah kiri saya duduk seorang ibu muda. Ia memerkenalkan diri sebagai staff pengajar di salah satu universitas negeri di Jakarta.

Di belakang saya duduk sepasang suami istri berpakaian batik seragam. Batik itu didominasi warna ungu. Meeka sangat serasi dan anggun. Yang laki-laki bertubuh subur dan berkulit putih, yang perempuan berbadan langsing, rambt lurus, dan berkulit putih. Yang laki-laki diperkenalkan sebagai wartawan surat kabar KOMPAS.

Di sebelah kiri saya, setelah dosen, adalah seorang mahasiswa S2 dari IPB. Ia yang kemudian saya kenal dengan nama Siti Nuryati. Seorang mahasiswa pasca sarjana yang menyandang juara dua. Bersama dengan suaminya, ia duduk manis dan anggun dengan jilbab besarnya. Dek, begitulah ia menyapa saya. Hangat dan lembut suaranya.

Di depan saya duduk beberapa orang, laki-laki dan perempuan, berpakaian perlente. “Gaya orang-orang berdasi,” begitu pikirku. Batiknya bagus-bagus. Make up-nya bagus. Tatanan rambutnya aneh-aneh. Sepatunya unik-unik.

Aburizal Bakrie. Ia ada di sana. Teman di sebelah saya, memanggilnya, Om Ical. Saya berpikir, wah, pasti orang ini sudah begitu akrab dengan pak Aburizal.

Kegiatan buka tutup acara selesai. Kami, sebagai penerima hadiah, diminta berfoto bersama pak Aburizal Bakrie. Lalu dilanjut dengan ritual makan bareng.

Sebagai penerima penghargaan, kami diminta menuju ke lantai atas. Jalan menuju ke sana agak rumit. Namun sebenarnya tidak, karena jalan itu hanya sebuah jalan-jalan kecil namun beliku. Berhubung pikiran saya sedang berbunga-bunga, terheran-heran, dan bahagia, maka jalan itu menjadi rumit.

Kami diberi pidato sedikit. Intinya adalah ucapan terimakasih. Dilanjutkan dengan serah terima uang. Lalu kami turun. Mengambil makan, dan…mencari tempat duduk.

Lama saya mencari-cari tempat duduk. “Di mana ruang makannya?” begitu tanya saya pada diri sendiri. Sambil memegang satu porsi makan siang, saya mondar-mandir mencari-cari tempat duduk. Tentu saja yang dicari tidak ada, sebab acara makannya adalah stunding party. Ini saya ketahui setelah saya menikmati makan siang saya di aula. Saya memilih di sana sebab di sana yang ada kursinya.

“He, es krimnya masih ada?” seorang anak SMU bertanya kepada temannya. Saya mendengarnya. Makanan kesukaannku! Buru-buru saya menuju tempat di mana saya mengambil makan siang. Mencari-carinya, tak kunjung ketemu.

Salah satu sudut tempat makan dikerumuni orang. Orang-orang berpakaian bagus dan indah sedang menunggu sesuatu. Sedikit ribut dan ramai. Saya ke sana. Mataku melotot dan dadaku berdebar! Satu persatu orang keluar dengan membawa es krim. Senang atau gembira. Itulah perasaan saya. Es krimnya di sini! Asyiiik ketemu!!! saya mengantri dengan taat. Sementara yang lain berdesakan. Desakkan itu akhirnya selesai. Sudut itu menjadi sepi. “Mas, minta es krim,” kataku. “Habis, Mbak,” jawabnya. Saya mengambil air putih. Satu-satunya air minum yang masih ada di sana. Dan gelas itu adalah gelas terakhir.

Saya menuju aula. Duduk-duduk sebentar sambil menunggu makanan di perut turun. Saya keluar. “Woi, lihat kamera dan tas saya nggak?!” seorang perempuan seksi, montok, dan gagah perkasa bertanya dengan panic. Kulitnya sawo matang, rambutnya agak ikal, dan tatapan matanya keras. Bola matanya bulat dan besar.

Entah bertanya pada siapa. Ia mengambil sebatang rokok, lalu menyalakannya dan menghisapnya. Gaya merokok orang yang gugup dan khawatir. Ia berjalan mondar-mandir. “Bangsat!!!” katanya sambil menendang.

Ia mengenakan pakaian dengan dominasi warna merah. Di beberapa bagian berwana putih. Di salah satu sudutnya tertulis, Metro TV. “Aduh, itu liputan berita saya!” begitu katanya.

Purwokerto
Sudut Sekolah, 30-09-10
(14.22)

Minggu, 19 September 2010

Kebiasaan

Oleh: Rosyidah Purwo

Siapa yang menyangka, dari sebuah kebiasaan ternyata dapat membawa keberuntungan. Memang sih..tidak semua kebiasaan dapat membawa hoki, kebiasaan buruk mislnya.
Eit, jangan salah. Kebiasaan buruk-pun sewaktu-waktu dapat membawa keberuntungan juga. Mau tahu contohnya apa? Seorang ibu di belakang rumah saya memiliki seorang anak laki-laki yang doyan mabok-mabokan. Nah, suatu saat si Ibunya anak ini dongkol banget dengan anak laki-laki pertamanya.

Konon ceritanya, si anak sudah kebelet untuk menikah. Bukannya ia bekerja penuh semangat, penuh rasa tanggung jawab, berdisiplin, dan hemat. Eh, si anak malah enak-enakan mabok dan kongkow-kongkow di jalan bareng sama teman satu geng-nya. Kontan saja, Si Ibu berkata, “bocah kaya kue angger mati bae lha jujur, ora gawe beban wong tua!” (artinya: anak seperti ini, mati saja sana! Bikin beban orang tua saja!) Si Ibu ini sudah tidak tahan lagi rupanya dengan tingkah laku anaknya. Maka si Ibu ini kepengin anaknya mati.

Nah lo, mau tahu apa keuntungannya apa? Jika anak ini mati, mungkin tidak jadi beban orang tua kali ya? He he he, dan satu lagi mengurangi jumlah pengangguran dan kepadatan penduduk Indonesia Raya tercinta, tanah iar kita.

Nah, kaitannya dengan kebiasaan, ada sebuah cerita menarik. Ada seorang perempuan yang memiliki kebiasaan unik. Kebiasaan itu adalah hal yang sangat sepele. Ia selalu meletakan gayung mandinya dengan posisi gagang (pegangan) berada pada arah luar. Artinya, bagian pegangan itu mengarah pada luar bagian bak mandi.

Suatu pagi, perempuan ini mandi pagi-pagi sekali. Dengan giat, perempuan ini menyiapkan segala perlengkapan mandinya. Sabun cair merek Biore, pasta gigi Pepsodent, sikat gigi dan sabun muka merek Nivea. Handuk dan baju ganti tentunya ia bawa serta ke kamar mandi.

Sebelum mulai mengguyur dirinya dengan air yang teramat dingin pagi itu, permpuan ini menggosok gigi, menyikat jari-jari, dan menyabun mukanya. O iya, tentunya ia tidak melakukan rutinitas gosok gigi dan cuci mukanya di atas wastafel karena memang tidak ada.

Saat sedang khusyu’ dan asyiknya menyabun muka, tiba-tiba matanya kemasukan sesuatu yang membuat perih dan pedas. Ia memejamkan mata sekuat-kuatnya sambil tangannya mencari-cari gayung yang ia letakkan saat sebelum mandi.

Meskipun dalam keadaan gelap gulita karena mata terpejam, perempuan ini dengan sangat cekatan mengambil gayung mandinya. Nah, di sini ni untungnya...karena sudah terbiasa meletakan gayung dalam posisi yang sudah saya ceritakan tadi, maka perempuan tidak perlu terlalu panic dan bingung mencari-cari gayungnya. Justru sambil berdendang ria dan senyum selebar-lebarnya, perempuan ini mencari-cari gayungnya yang sudah sangat diketahui keberadaan dan posisinya.

Mau tahu keuntungannya apa? Coba bayangkan, apabila perempuan ini meletakkan gayung dengans embarangan, bisa jadi air satu bak mandi besar kotor semua gara-gara terkena sabun cuci muka yang menempel di tangannya. Apajadinya bila sudah demikian? Gagal mandi deh. Terus...jadi boros deh. Airnya dibuang sayang tanpa dimanfaatkan.
Nah lo, sudah tahu bukan apa keuntungannya memiliki kebiasaan?

Wisma Pereng
Beside of Purwokerto Central Jail
050610, 06.40wib

Oleh-Oleh dari Yogyakarta “Drs. Sidik Jatmika, Tertawa, dan Air Mata”

Oleh: Rosyidah Purwo

Perjalanan Purwokerto-Yogyakarta memang cukup melelahkan. Apalagi jika kendaraan yang ditumpangi kurang nyaman. So pasti, lelah itu bakalan nempel terus sampai tempat tujuan.

Namun lelah itu bisa terobati dengan suguhan pemandangan Yogyakarta yang eksotis dan nyentrik. Meskipun di bebarapa sudut jalan utama masih terlihat kesemrawutan dan bau pesing masih menghiasi sepanjang Jalan Malioboro-Taman Pintar.

Hari itu, Minggu, 08 Agustus 2010. Jam menunjukkan pukul 05.30wib. Sebanyak 10 bus pariwisata telah berjejer rapi di sepanjang jalan Gatot Soebroto, Purwokerto. Terlihat hiruk-pikuk peserta tour Jogjakarta-Purwokerto.

Bus melaju perlahan. Segera, dinginnya AC menembus sampai ke pori-pori kulit. Bersama teman satu kursi, saya ngobrol ngalor-ngidul. Sekadar bersenda gurau dan beramah-tamah.

Saya melontarkan sebuah pertanyaan, “apa hebatnya Taman Pintar?” lalu disusul dengan pertanyaan berikutnya, “bisa hanya dalam hitungan bulan, objek wisata ini cepat terdengar gaungnya sampai luar kota.

Berawal dari pertanyaan itu, kami ngobrol ngalor ngidul seputar Taman Pintar dan Jogjakarta. Bahkan sampai hal sepele yang sepertinya tidak perlu untuk dibicarakan. Yaitu mengenai sebuah tulisan milik seorang mantan pelawak yang konon sekarang mengaku dirinya sudah taubatan nashuha dari profesi nge-lawaknya.

“Saya penasaran dengan tempat-tempat pipis strategis mbok-mbok bakul yang diceritakan itu, lhoh. Di mana ya?” saya melontarkan kalimat itu kepada teman saya . Sepertinya teman saya kurang respek dengan pertanyaan itu. Maka jurus “caper” saya keluarkan. Saya tertawa terbahak dengan buku di tangan. Berhasil! Yes, yes, yes! Begitu batin saya sambil nyengir kuda. Teman saya me-respek "aksi" saya.

“Ada apa, Mbak?” tanya teman di sebelah saya, sambil tersenyum penasaran. “Nggak ada apa-apa. Ini ceritanya lucu sekali.” Sambil memasang ekspresi muka tak butuh dengan teman di sebelah saya. Lalu saya tertawa lagi. “Ih, Mbak. Lucu ya…?” saya mengangguk sambil matanya lurus ke buku yang sebenarnya tidak saya baca. “Pinjem dong…” katanya.

Yes, yes, yes! Berhasil, berhasil, berhasil, batin saya girang. Ehem, ehem, saya mengambil suara. Mulailah saya bercerita tentang buku yang saya baca enam bulan silam. “Waaah, bagus banget. Pinjam bukunya dong!” segera saja saya berikan buku itu.

Saya perhatikan mimik muka teman sebelah saya. Ah…tak jauh beda dengan saya, batin saya. Setiap kali senyumnya mengembang, bahkan tak jarang ia mengeluarkan suara cekikikan, alias tertawa kecil-kecil dengan tulus dan ikhlas dan lepas.

“Nanti kita nyari tempatnya ya?” kata saya. “Tempat apa?” tanyanya. “Tempat pipis mbok-mbok bakul,” jawab saya. Saya perhatikan ekspresinya, ternyata teman saya tersenyum. Berarti sudah membaca bagian “si Mbok-Mbok Bakul yang Pipis Sembarangan”.

Pukul 13.45wib, bus kami sampai di objek wisata Taman Pintar. Percaya tidak percaya, hidung saya mendengus sepanjang perjalanan menuju taman pintar, sebab jalanan yang berbau sesuai dengan yang diceritakan di buku itu adalah, sepanjang jalan menuju taman pintar. Andaikan ada kamera pengintai, barangkali saya seperti orang sinthing yang kurang kerjaan, tapi melakukan itu sungguh mengasyikan. Membuat awet muda. Ini bukan karena pengaruh bau pesing air kencing yang sudah mengering sebab terkena sengatan mpanasnya matahari, namun geli dengan apa yang saya lakukan dan heran dengan si pengarang buku.

Drs. Sidik Jatmika, M.Si. Itulah sebuah nama yang tulisannya membuat saya tertawa terpingkal-pingkal saat pertama kali membacanya, dan terpingkal-pingkal ke dua kali saat membaca bersama teman satu bangku di bus pariwisata Queen yang bernomor urut 4.

Buku ini pula yang memberiku segudang pengetahuan remeh namun bermanfaat besar sekali. “Urip Mung Mampir Ngguyu” itulah judul bukunya, menulis ini saya jadi ingin berpendapat, menurut saya buku ini wajib di baca oleh setiap orang yang hendak berkunjung ke Jokjakarta! Jika tidak, cilaka 12! Penasaran? Baca saja sendiri bukunya dech!

Tentang pertanyaan saya yang diajukan ke teman mengenai Taman Pintar terjawab sudah saat saya menginjakkan kaki di sana. Sebuah suguhan ilmu pengetahuan modern, tradisional, kimia, fisika, bahasa, biologi, dll, disajikan dalam bentuk yang luar biasa hebat! Fantastis!

Menghilangkan rasa penasaran, saya mencoba beberapa peraga ilmu pengetahuan yang disajikan di sana. Salah satunya mengenai enegri listrik dan cahaya. Saat tengah asyik mencoba-coba, seorang teman mendekat. Ia memberikan uang sejumlah 300 ribu rupiah. Sebagai uang arisan yang tertunda pembayarannya. “Bener ya, Mbak?” saya menganggukan kepala dan menerimanya dengan senang hati tanpa beban perasaan apapun. Sebab tak terlintas sedikitpun pikiran aneh-aneh. Saya berpikir praktis saja. Dengan begini, saya tidak perlu mencari-carinya lagi saat di sekolah. Sebab saya yang akan kelelahan sendiri, naik turun tangga, mencari ke sana kemari. Mengirim SMS atau mencegatnya saat di jalan. Begitu pikir saya waktu itu.

2 jam, Taman Pintar habis diaduk-aduk, diputar-putar dari satu sudut ke sudut lain, dari satu sisi ke sisi lain, dari satu tempat ke tempat lain. Merasa sudah cukup, saya dan teman keluar melewati Gedung Kotak. Mencari jalan keluar cukup sulit rupanya, muter sana, muter sini, akhirnya ketemu setelah beberapa kali nyasar.

Saya dan teman bertemu teman tengah duduk-duduk di tamannya Taman Pintar, saya dan teman ikut gabung bersama mereka. menyempatkan diri berfoto ria dengan mengambil sejuta gaya meskipun hanya kena gambarnya lima buah saja.

Dari Taman Pintar, saya dan teman menuju pasar Bring Harjo. Kami melihat-lihat aneka macam batik yang cantik nan indah. Dari berbagai macam jenis dan ukuran, model dan warnanya sungguh indah. Hampir setipa kiso kami hampiri meskipun sekadar melihat-lihat. Setelah merasa cukup, saya akhirnya mengambil dua potong celana panjang batik dan satu daster lengan pendek. Pesanan adik tercinta dan mama tercinta. Sementara untuk saya sendiri, tak ada satu pun barang yang dibeli.

Merasa lelah dan lapar, saya dan teman mampir ke warung baso di salah satu sudut Jalan Malioboro. Rupa-rupanya kegiatan memilih, menawar, melihat, memegang, mencium, telah menguras banyak energy dan pikiran. Untuk mengganjal perut, saya dan teman membeli satu mangkok baso rasa aneh. Meskipun begitu tetap saja nikmat sebab perut terasa sangat lapar.

Perut kenyang, Jajan, dan Belanja sudah dapat, sepertinya istirahat cocok sekali. Kami memutuskan untuk beristirahat di masjid Agung Yogyakarta. Di pintu gerbang masjid, saya berpapasan dengan teman yang memberi uang arisan dengan dua anaknya. Satu digendong, sementara yang satunya dituntun. Di tangan mereka tak terlihat barang belanjaan.

Deg!
Ya, Alloh! Mungkinkah mereka tidak membeli satu barang pun? Itu pikir saya. Saya tidak berani menatap mereka. Saya mengajak cepat-cepat teman untuk bersegera menuju masjid. Saya duduk di salah satu sudut masjid. Pikiranku melayang pada teman di pintu gerbang. Sedikit sesal menggelayut di benak saya. Mengapa tak terpikirkan sama sekali olehku akan hal ini? Air mataku menitik.

Purwokerto, 09 Agustus 2010
(00.50wib)

Selasa, 08 Juni 2010

Ibu Gendut dan Seekor Kambing Jantan

Oleh: Rosyidah Purwo*)
Memang yang namanya kreatif itu tidak ada batasannya. Apapun itu, jika dilihat mampu mendatangkan uang, pasti akan dibuat sebuah kreatifitas (model baru) yang orang lain belum pernah merasakannya. Model baru jadi, masyarakat mau mengkonsumsi(pakai/beli), uang-pun datang.

Yah, barangkali adanya jaman yang semakin edan ini memang mengharuskan orang untuk selalu berpikir kreatif dan mandiri. Sebab jika tidak, hanya akan menjadi tontotan dan bahan tertawaan. Bahkan bahan ejekan dan gunjingan.

Ada sebuah cerita menarik tentang “kreatif” ini. Suatu sore menjelang malam. Karena ada hal yang harus saya penuhi, saya bergegas menuju minimarket Alfa Mart. Dengan gaya berjalan seperti biasa, tergesa dan cepat, saya meyusuri komplek jalan Masjid, di Alun-alun.

Alfa Mart sudah di depan mata. Sebelum masuk ke dalam, saya tebarkan pandangan di sepanjang Alun-alun Purwokerto. What?! Begitu batinku. Antara heran, kaget, kagum, nek, dan…bingung campur aduk jadi satu. Aku melihat sebuah pemandangan yang unik.

Terlihat seekor kambing bertanduk indah, dituntun oleh seorang bapak-bapak setengah tua. Wajahnya terlihat lelah dan letih. Jenggot hitam pendeknya terlihat kotor dan semrawut. Ah, pemandangan yang tidak perlu dilihat!

Seekor kambing menarik sebuah kendaraan mirip dengan delman hanya bentuknya lebih kecil dan lebih pendek. Terlihat di dalamnya ada seorang ibu yang tengah asyik menikmati tubuhnya ditarik oleh seekor kambing jantan kecil dan renta. Sambil kepalanya manggut-manggut mengikuti irama musik yang berdendang. Idih, ini orang. Gak punya otak apa, ya? Batinku saat itu, sebab merasa kasihan melihat kambing renta menarik seorang ibu muda yang aduhai gendutnya.

Sebab rasa penasaran yang tinggi, saya memerhatikan dengan seksama perihal delman yang tidak mirip delman. Dari roda sampai kusirnya, bahkan sampai kambing dan jenggot kambingnya.

Aku sempat geleng-geleng kepala melihatnya. Di depan bagian bawah terdapat tulisan “DELDOMB”. Aku tidak tahu apa artinya. Aku hanya menerka-nerka saja, Delman Domba kali ya, begitu kataku lirih pada diri sendiri.

Ada-ada saja orang jaman sekarang…ingin mendapat uang segalanya dilakukan. Ya…kreatif si kreatif…tapi yang manusiawi dong. Masa kambing dijadikan kendaraan. Kasihan kambingnya. Kalau yang naik anak kecil ya, lumrah. La ini ibu-ibu gendut. Aduh, si ibu ini tidak punya perasaan kali, ya?!

Pojok Sekolah, Purwokerto City
09 Juni 2010, 11.22wib.

Senin, 07 Juni 2010

Romantisme yang Menyiksa

Oleh: Rosyidah Purwo*)
Di mana-mana tidak ada yang namanya romantisme menyiksa. Yang ada, romantisme adalah hal yang menyenangkan dan mengasyikan. Itu si kata di buku-buku novel yang pernah saya baca. Terus menurut beberapa teman juga demikian.

Temanku yang pernah mengalami romantisme dengan mantan pacarnya alias suami tercintanya, juga pernah bercerita kepada saya tentang hal itu. Romantisme itu hasilnya ya...menyenangkan. Begitu katanya. Tapi...ternyata ada lhoh romantisme yang menyakitakan. Tidak percaya? Simak cerita berikut ini.

Suatu siang di sudut kota Purwokerto. Kost-kostanku yang begitu sejuk dan damai kedatangan seorang tamu jauh. Ia adalah seorang laki-laki yang baru-baru ini melepas status kelajangannya. Alias baru saja melangsungkan pernikahan. Laki-laki ini ceritanya hendak ngapelin si istri yang kebetulan tinggal bareng satu atap dengan saya.

Sebuah kejadian unik terjadi. Dengan langkah bergegas aku pulang menuju kost. Dengan harapan segera dapat melepas penat yang telah mendera seharian. Terlebih panas matahari siang itu terasa sangat menyengat. Pintu rumah aku buka. Terlihat ibu kost sedang asyik ngobrol dengan laki-laki ini.

“Oh, Pak Slamet. Kapan datang?” kataku saat aku sudah mulai mengingat wajah laki-laki yang sedang duduk di kursi ruang makan milik ibu kost ku. Sambil melebarkan senyum, sekadar untuk beramah tamah dengan tamu. “Monggo...” begitu kataku saat aku hendak masuk ke dalam kamar.

Aku masuk kamar istirahatku yang super nyaman dan supeeeerrrr....sejuk. Segera aku buka jilbab besar dan panjang. Hmh...wuuus....udara sejuk langsung masuk ke pori-pori kulit. Udara sejuk aku nikmati betul-betul saiang itu. Sebentar aku rebahan di atas kasur mini empukku. Sambil memeluk bantal guling kesayangan.

Untuk menambah rileks, aku putar music instrumental Romeo and Juliet Love Theme. Music mengalun begitu indah dan syahdu. Angin semilir masuk melalui jendela kamar. Ah....benar-benar istirahat siang yang sangat menyenangkan.Tiga puluh menit aku menikmati istirahat siang. Nyamaaaaaan...! Mataku hampir terpejam saking nyamannya.

Krek! Terdengar pintu dibuka. Aku sangat paham ini adalah suara pintu kamar teman sebelah kamarku. Sayup-sayup terdengar sebuah suara laki-laki.

#*&^%$%$)(*&^&%^%*&^%$@#!!#$%&@^&@.!*&%^$$() &*&^%^$%%)@&@%hg@$^%)&^%#%#!!$%$^#$#(*&%*^$$% #@#!#@!@$%^%)(*&&^%^&#$%*^^%^%$$##@#&*^$%^#^$@$%#

#*&^%$%$)(*&^&%^%*&^%$@#!!#$%&@^&@.!*&%^$$() &*&^%^$%%)@&@%hg@$^%)&^%#%#!!$%$^#$#(*&%*^$$% #@#!#@!@$%^%)(*&&^%^&#$%*^^%^%$$##@#&*^$%^#^$@$%# Toeng! Toeng! Toeng!

Entahlah suara-suara apa yang terdengar. Pokoknya munculnya begitu dalam tulisan saya. Sepertinya kepalaku menjadi pusing mendnegarnya. Sabar...sabar...sabar...kamu harus memahami, Say, begitu batinku sambil menyapa diriku dengan sebutan Sayang.

Yah, namanya pengantin baru, di mana-mana selalu menebar romantisme dan kemesraan, serta kebahagiaan. Percaya tidak percaya, harus percaya! Terlebih pengantin baru yang satu ini adalah satu pasangan pengantin baru yang unik.

Si Istri adalah orang yang unik. Dalam pandangan saya, ia adalah gadis lugu nan lucu. Ini menurut pendapat saya. Tapi pendapat saya ini juga ada kuat-kuatnya sedikit lhoh. Sebab si empunya juga mengakui. Malah lebih parah lagi, ia menyebut dirinya aneh.

Kebetulan kamar ku dan kamar teman hanya bersekat triplek tipis yang dicat warna putih. Jika orang tidak jeli melihatnya, pasti akan mengira sekat itu adalah sebuah tembok tebal. Yah, si Tukang cat dan tukang membuat sekat sangat trampil mengelabuhi mata orang. Sehingga tripleks tipis mampu disulap menjadi tembok yang tebal.

Dengan kondisi seperti ini, sudah barang tentu setiap sedikit saja suara yang muncul dari kamar sebelah pasti akan terdengar dengan jelas, bahkan suara kecoa yang sedang asyik E-ok pun, dapat terdengar dengan jelas. Maka tentang teman saya itu, jangan ditanya dech!

Aduuuuuh, kalau begini se romantisme bukanya indah, tapi menyiksaaaaaaa!
Behind of Purwokerto Central Jail
Juni, 2010
20.27