Tampilkan postingan dengan label CERITA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERITA. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Juli 2011

Duri Mawar dan Teguran

Oleh: Rosyidah Purwo*)
Pagi yang masih buta. Udara terasa begitu dingin dan menusuk. Dengan sepeda motor saya dibonceng pulang ke kost. Meskipun sudah mengenakan jaket tebal, satung tangan, dan masker, tetap saja udara masih terasa dingin. Dalam 25 menit, saya menempuh perjalanan dari rumah menuju kost.

Jam di HP saya (maklum, jam tangan cantik saya hilang, dan belum memiliki kesempatan untuk membeli, maka saya mengandalkan HP untuk melihat perjalanan waktu) menunjukkan pukul 05.54 wib. Jalanan masih sangat sepi, namun beberapa anak berseragam sekolah sudah terlihat di kanan-kiri jalanan. Menunggu angkot atau jemputan.

Di pinttu gerbang kost, satu hal yang sudah pasti saya cek lebih dulu adalah melihat gembok di pintu gerbang. Memastikan pintunya dikunci atau tidak. Karena pemilik pintu gerbang ini sedikit aneh. Ia tidak selalu mengunci pintu gerbanganya. Jadi kadang-kadang dikunci, kadang-kadang tidak.

Dan pagi itu, pintu gerbang dalam keadaan TERKUNCI! Ah, tentu saja bukan keberuntungan bagi saya. Sebab dengan begitu berarti saya harus repot dulu menghubungi ibu kost melalui telepon. Celakanya, pagi itu saya membawa HP yang tidak tertulis nomor telepon kost saya. Lebih parahnya lagi, pulsa di HP saya tinggal Rp 50,00!

Jam di HP menunjukkan pukul 06.00 wib. Sebab takut terlambat peri ke sekolah, saya mencoba mengucapkan salam dengan setengah berteriak. Tujuannya adalah agar si empunya pintu gerbang bisa mendengar suara saya . Ternyata usaha saya gagal dan sia-sia. Si empunya pintu gerbang tak kunjung muncul. Kecewa tentu saja. Sedikit umpatan muncul di hati saya (saya memiliki alasan mengapa saya sedikit mengumpat, suatu hari saya pernah meminta kunci serep agar tidak merepotkan ibu kost, namun permintaan saya ditolak. Berarti jika ada problem seperti ini, bukan kesalahan saya).

Mungkin Tuhan masih sayang dengan saya. Entah mendapat sinyal dari mana, ibu kost keluar dari rumahnya. “Sudah dibuka belum?” tanyanya. Dengan melambaikan tangan saya menjawabnya.
Segera Ia masuk kembali ke dalam. Dan keluar lagi dengan tangan kosong. Karena ternyata kunci gerbang dipegang oleh cucu tercintanya yang akhir-akhir ini suka sekali pulang di atas jam 9 malam. Lalu ia berjalan pelan menuju ke rumah pak RT yang tidak lain adalah adik dari suaminya. Kebetulan rumah pak RT ini bersebelahan dengan rumah bu kos saya.

Dengan menggunakan lonceng yang tombolnya adalah tali panjang yang harus ditarik saat membunyikannya, ia mengetuk pintu rumah pak RT. Beberapa saat ia menunggu. Tak ada orang keluar. Lalu ia masuk lagi. Saya merasa kasihan sebenarnya. Barangkali ia menghubungi rumah pak RT melalui pesawat telepon. Dalam beberapa menit, seorang gadis kecil keluar dengan membawa kunci.
“Mbak, lewat gerbang sebelah,” kata ibu kos saya. Saya menyetujuinya dengan segera berjalan ke sana. Gerbang sebelah ini adalah gerbang yang jarang sekali saya lewati. Sebab saya merasa lebih jauh jika harus melewatinya. Dalam keadaan yang sedikit dongkol saya masuk. “Ah, ribet sekali!” begitu saya berkata pada diri sendiri dengan sedikit ketus.
Dengan bercepat-cepat saya mengenakan seragam mengajar hari Senin. Dalam waktu 10 menit saya selesai berias diri. Waktu di jam dinding kamar menunjukkan pukul 06.25 wib. Masih ada waktu 15 menit untuk menuju ke sekolah (jam masuk bagi guru di sekolah saya adalah pukul 06.45 wib), namun saya berangkat lebih awal karena ini adalah ahri pertama masuk sekolah.
Di halaman kost, tepatnya di depan warung soto milik bu Harni (warung yang berdiri sejak Ramadhan tahun lalu namun tidak pernah ramai oleh pengunjung) saya berjalan cepat-cepat dengan lambaian tangan yang panjang.
Srek! Tak sengaja duri pohon mawar (yang tumbuh rimbun di sana) menancap di jari telunjuk tangan kiri saya. Rasanya, luar biasa sakit! Darah segar berwarna merah mengalir. Sepanjang jalan menuju sekolah saya mengaduh kesakitan.

Ini adalah teguran bagi saya. Mungkin Tuhan sedang berkata, “jangan emosi, dan jangan tergesa-gesa!”

*)Rosyidah Purwo. Staff Pengajar di RSDBI Al Irsyad Al Islamiyyah 01 Purwokerto.

Rabu, 29 Juni 2011

Sakit; Ujian atau Adzab Tuhan?



Oleh: Rosyidah Purwo*)

Ayat-ayat suci itu dilantunkan setiap habis maghrib dan selesai sholat subuh. Satu ayat tak pernah alpa ia hafalkan setiap pagi menjelang berangkat ke tempat kerja. Setiap harinya ia bacakan ayat-ayat suci Tuhan tak pernah telat dari satu juz.

Dari pukul 07.00-14.30 ia bagikan ilmu yang dimiliki bersama anak-anak kecil yang lucu dan imut. Di sore dan malam harinya, ia manfaatkan waktu luangnya untuk mendampingi anak-anak slow learn sebanyak 14 anak ditemani dengan dua kawan karib yang mendapat tugas dari sekolah di mana mereka mengajar. 

Suatu malam, datang seorang bapak setengah tua. Malam itu ia sedang duduk santai bersama nenek tua di rumah kostnya. Bapak itu datang dengan mengenakan setelan batik dan celana panjang hitam serta kopyah beludru warna hitam. Duduk santai mereka di teras rumah kost. Hujan turun rintik-rintik. Rumah kost yang luas dan tua terkesan lebih serem dari biasanya.

Cas cis cus, bapak setengah tua ini berkata dengan penuh semangat dan hati-hati sekali. Dengan keramah tamahan yang tidak dibuat-buat, bapak setengah tua ini mampu meluluhkan hatinya yang angkuh setinggi gunung dan sekeras es. 

“Hmm…saya tidak tahu, Le’. Saya masih bimbang dan bingung. Saya perlu konsultasi dulu” jawabnya setelah mengetahui dengan jelas maksud dan tujuan kedatangan bapak setengah tua itu.

Malam itu, adalah 25 Februari 2011. Setelah itu ia menderita sakit yang berkepanjangan dan berujung pada typhus yang sempat membuat ia terbaring di rumah selama 10 hari.

Kata-kata dari bapak setengah tua itu telah membuat dirinya jatuh sakit dan tak berdaya. Sakit yang membuat dirinya tak bisa maksimal berbagi ilmu bersama dengan anak-anak kecil yang lucu dan imut di sekolahnya.

Suatu hari di sebuah pengajian. Seorang guru ngaji berkata, “sakit adalah adzab dari Tuhan!” kata-katanya begitu tajam dan menusuk. Salah seorang kawan sesama peserta pengajian terkejut-kejut dengan kata-kata guru ngaji itu. Kebetulan kawan ini sesama penderita sakit. Satu orang kawan juga sama-sama senasib sepenanggungan, ia sakit batuk sudah lama tak kunjung sembuh.

Sedikit informasi ia peroleh dari seorang kawan lama, bahwa istri guru ngaji ini perrnah sakit selama tiga bulan sampai tulang-belulangnya bermunculan di sana-sini akibat typhus yang menggerogoti tubuhnya. Wah, istrinya guru ngaji ini berarti kena adzab juga! batinya berkata.

Guru ngajinya pernah berkata bahwa orang sakit harus bersabar karena sedang diberi ujian dari Tuhan. Sakit adalah penghapus dosa dan kesalahan. Orang-orang yang beriman pasti akan diberi sakit oleh Tuhan. Fir’aun bukan orang beriman, maka sepanjang hidupnya tidak pernah sakit.

Nah, bagaimana? Sakit itu adzab atau ujian? Tergantung bagaimana latar belakang orang yang menderita sakit. Jika ia adalah seorang yang baik dan taat pada tuhannya, apakah sakit itu adalah adzab? Jika ia adalah orang yang tidak pernah taat pada Tuhannya, apakah sakit itu adzab atau ujian?

*)Rosyidah Purwo. Nama staff pengajar di RSDBI Al Irsyad Al Islamiyyah 01 Purwokerto

Senin, 27 Juni 2011

Allohu Akbar itu Jahat, Subhanallah itu Nyumpahin


Oleh: Rosyidah Purwo*)

Suatu hari di siang yang cukup panas. Sepulang dari berbagi ilmu dengan anak-anak, perasaan lelah sungguh terasa sekali. Segera saya pulang ke rumah kost. Ingin cepat-cepat berjumpa dengan bantal dan kasur agak empuk yang sudah satu tahun tak kunjung dijemur.

Saya rebahan di atas kasur agak empuk tanpa berganti pakaian terlebih dahulu. Lalu saya melakukan registrasi layanan obrol siang yang diberikan oleh Indosat kepada pelanggan GSM Mentari dengan tujuan supaya biaya telepon tidak terlalu mahal. Dengan membayar Rp 1000,00 saya dapat ngobrol selama 60 menit.

Hari itu ‘penyakit’ (kangen) saya sedang kambuh. Seperti biasa, jika sudah begitu, pasti saya akan menelpon mama lamaaa sekali. Maklum, saya dan mama terpisah dalam jarak yang cukup jauh. Jadi, sebagai obat pelepas rindu ya dengan telpon-teleponan itu.

Siang itu, saya melakukan regsitrasi ke operator 303 lalu saya kirim pesan seperti ini: SIANG. Dengan segera operator membalas SMS saya. Ah, bahagia rasanya. Saya langusung menyambar pesawat telepon dan ngobrol asyik bareng mama.

Setelah bertegur sapa, mama akan menanyakan kabar pekerjaan, kabar kesehatan, kabar jodoh saya (yang -mudah-mudahan- sebentar lagi datang), kabar cucu (khayalan) yang entah dari mana mama selalu bertanya seperti itu (he he he, mungkin saya dianggap sudah cukup umur dan sangat-sangat pantas untuk menimang anak), Mama akan mencari topik pembicaraan yang selalu saja menarik. Topik pembicaraan siang itu ada cerita tentang bosnya yang unik dan lucu.

“Saya punya cerita”, begitu mama memulai pembicaraan inti.

“Apa itu?” tanya saya.

“Kamu jangan tertawa ya…” kata Mama.

“Mudah-mudahan”, jawab saya.

Siang itu mama memulai pembicaraan tentang bosnya yang memiliki kesalahpahaman tentang sebuah kalimat. Kesalahpahaman yang sempat membuat mama harus ‘bekerja’ lebih ekstra.

Begini ceritanya, suatu hari mama dan bosnya mama menonton televis bersama-sama di ruang keluarga rumah milik bosnya mama. Ruang keluarga yang cukup sederhana untuk ukuran rumah yang sangat mewah di bilangan Pulau Matahari, Jakarta. Yah, saya bisa mengatakannya karena saya pernah berkunjung ke sana.

Di ruang keluarga itu, mama dan bos sama-sama menonton televisi. Mama memilih sebuah canal televise yang menyiarkan berita. Isi beritanya saat itu adalah tentang sebuah kerusuhan (dilihat dari kacamata orang kebanyakan) yang dilakukan oleh salah satu ormas Islam yang cukup sering disebut-sebut namanya di seluruh media massa yang ada di negeri saya tercinta Indonesia Raya.

Ciri khas unik dari ormas yang satu ini adalah selalu meneriakan kalimat Allahu Akbar! setiap kali hendak melancarkan aksinya. Perlahan namun pasti, karena terlalu sering melihat adegan yang demikian, kalimat dan aksi ini dipelajarai secara baik-baik oleh bosnya mama. Al hasil, diperoleh sebuah kesimpulan bahwa Allahu Akbar adalah sebuah kalimat yang ditujukan untuk sebuah hal yang jahat.

Bosnya mama kebetulan terlahir dari keluarga yang berbeda agama dengan mama. Ditambah dengan latar kehidupannya yang unik. Sejak kecil hidup di Amerika Serikat sampai selesai kuliah. Setelah menikah baru pindah ke Indonesia. Praktis, ia tidak memahami kultur yang ada di Indonesia.

“Sus,” begitu ia manyapa mama saya. Sus berarti suster. Yah, mama saya

adalah seorang suster . Sejak bergabung dengan sebuah lembaga pendidikan (kalau mama menyebutnya yayasan) perawatan anak, atau orang lebih sering menyebut suster, mama beralih profesi, dari ibu rumah tangga menjadi seorang suster.

Tugas seorang suster adalah khusus mengasuh anak mulai dari urusan A-Z. Menjadi suster bukanlah tugas yang ringan. Suster harus pinter segala-galanya. Pinter bahasa Inggris, pinter menguasai materi pelajaran anak-anak usia sekolah dasar, pinter mengasuh anak, harus mengetahui banyak lagu anak-anak, harus memahami keyakinan si empunya anak, bahkan jika di sekolah tempat anak yang diasuh ada materi asing, seperti bahasa Mandarin, misalnya, seorang suster dituntut untuk bisa. Jika tidak, jangan harap profesi sebagai suster mampu bertahan lama. Bisa-bisa hanya dalam hitungan jam didepak dari tempat kerja, tragisnya dikeluarkan dari yayasan.

Enaknya menjadi seorang suster adalah jika musim liburan anak tiba. Biasanya akan diajak menikmati liburan sekolah bersama ke mana pun sesuai keinginan si empunya anak alias bos. Pernah mama diajak pergi ke Amerika Serikat selama satu minggu. Pernah juga ke Hongkong, Singapore, Malaysia, Bali, Lombok, dan beberapa loka wisata di tanah air, mama pernah mengunjunginya. Bahkan ke Bali sudah bukan hal yang aneh lagi. Hampir setiap liburan mama ikut serta ke sana. Lumayan bukan? Itung-itung numpang liburan gratis J.

Enaknya lagi adalah jika sudah menjadi senior. Seorang suster tidak melulu mengurusi anak-anak, terkadang diikutsertakan dalam urusan bisnis si bos. Misalnya mengatur jadwal bos, mengatur kenaikan gaji karyawan, menentukan THR, menentukan menu makan sehari-hari si bos.

Jika sudah seperti ini, uang akan mengalir dengan mudah. Terlebih jika sudah menjadi suster kepercayaan bos, jangan khawatir kekurangan uang. Segalanya akan dipenuhi dan diperhatikan oleh bos. Mulai dari pakaian, uang jajan, uanga makan, uang untuk anak sendiri (jika seorang suster memiliki anak). Terlebih jika bosnya adalah orang baik hati, seorang suster bisa seperti ketiban rejeki untung beliung (hadiah Britama kali ya?).

Obrolan itu berlanjut seperti ini:

“Kemarin Mama dibilangin jahat?” kata Mama setengah tertawa.

“Kenapa?!” tanya saya terkejut, khawatir Mama jahat betulan.

“Mama kan bilang Allahu Akbar saat bos menjerit-jerit karena digigit semut. Lalu bos bilang, kok jahat, begitu, Ti…” katanya setengah tertawa. Saya ikut-ikutan tertawa.

“Terus, subhanallah itu katanya nyumpahin” kata Mama masih sambil tertawa.

“Lho kok bisa?” tanya saya.

“mama tidak tahu. Kan kemarin Mama bilang subhanallah saat bos dapat hadiah. Eh, bos marah-marah katanya Mama nyumpahin” kata mama sambil terkekeh-kekeh.

Beruntung salah pengertian itu tidak berlangsung lama sebab mama saya segera menjelaskan dengan baik sekali akan makna dua kata tersebut. Kata mama, Allahu Akbar adalah lafal sebuah doa agar Tuhan selalu memberi perlindungan. Subhanallah adalah memuji kepada Tuhan agar selalu diberi kebaikan.

“Bos, maksudnya adalah mereka berdoa agar Tuhan melindungi. Artinya bukan jahat. Yah, seperti bos berdoa pada Tuhan agar diberi perlindungan…bos pernah kan mau jahil sama suami atau anak, atau sama saya, terus berdoa dulu sama Tuhan?”

Begitu mama mengakhiri pembicaraan siang itu. Kami tertawa bersama-sama.

*) Rosyidah Purwo. Staf pengajar di RSDBI Al Irsyad Al Islamiyyah 01 Purwokerto.

Jumat, 29 April 2011

Just 5 Second


Oleh: Rosyidah Purwo*)

Apa yang dicari dalam kehidupan ini? Mari kita berpikir sejenak. Sambil berpikir, mari baca list berikut ini:

- Mencari kekayaan yang banyak

- Mencari calon suami/istri yang tampan/cantik

- Mencari calon menantu/mertua yang kaya

- Memiliki title yang sebanyak-banyaknya

- Sekolah yang setinggi-tingginya

- Memiliki mobil banyak

- Memiliki rumah yang indah dan mewah

- Hidup sederhana tapi bahagia

- Hidup kaya tapi menderita

- Hidup kaya tapi bahagia

Setelah membacanya, silakan pilih sesukanya. Boleh memilih yang mana saja tak ada paksaan tak ada ajakan. Siapapun berhak memilih yang manapun sesuai dengan tujuan dan keinginan hidupnya. Ya, sebab hidup itu adalah pilihan, kata kawan saya, pada dua tahun yang lalu. Dan, setiap pilihan pastilah memiliki resiko yang menunggu di depan. Resiko ini sudah wajib untuk ditanggung dan tentu saja dirasakan dan dinikmati.

Adalah cerita dari seorang kawan. Ia pernah bercerita kepada saya bahwa ia memiliki keinginan menjadi seorang editor di sebuah Koran terbesar di Indonesia. Karena keinginannya itu, kawan saya belajar apapun tanpa kenal lelah. Tentu saja belajaranya adalah segala hal ihwal yang terkait dengan edit mengedit. Memebaca, hunting berita, menulis, rapat redaksi, membeli Koran, dll. Setiap kantor (besar atau kecil) yang bergerak dibidang tulis menulis ia datangi. Meskipun sekadar diminta memindah menuliskan tulisan anak-anak ke dalam layar komputer tanpa diberi imbalan uang, ia lakukan.

Setiap tempat yang memiliki ‘harta karun’ ia datangi. TPA, kehidupan anak-anak jalanan, mbok-mbok bakul di pasar, pejabat di lingkungan kampus, dll. Tak kenal lelah, teriknya matahari tak ia hiraukan, bahkan di bawah guyuran hujan, ia lakukan.

Akibat kerja kerasanya ini, suatu hari ia diterima di sebuah kantor Koran harian terbesar di Jawa Tengah. Ia diterima di editor bagian iklan. Lumayan, untuk sebuah langkah awal. Lalu ia belajar lebih keras lagi sebab merasa belum tercapai cita-citanya. Suatu hari saya mendengar kabar burung-nya, bahwa ia sudah di Jakarta bekerja pada sebuah Koran harian yang saya belum tahu ceritanya hingga sekarang.

Sebuah cerita lagi datang dari kawan saya. Ia seorang karyawan di salah satu bank di Jakarta. Orangnya sangat baik, cukup cantik, dan otaknya sangat brilliant, pendidikannya tinggi, uangnya cukup banyak untuk ukuran seorang gadis single. Karena hal ini, ia membuat target yang cukup besar tentang pendamping hidupnya.

“Saya menginginkan seorang laki-laki yang baik, pendidikannya baik, pekerjaannya juga baik. Setidaknya seperti saya, lah” begitu ia bercerita. Pada masa menjelang tuanya, Tuhan tak kunjung mendatangkan seorang laki-laki sesuai dengan pilihannya.

Setiap orang berhak memiliki keinginan dan cita-cita serta target hidup sebanyak-banyaknya. Namun, saat Tuhan tidak hendak mendengar dan melihat akan apa yang dimimpikan, tentu saja tidak boleh protes.

Konsekuensinya adalah menerima apa adanya pemberian Tuhan. Atau silakan mengelak pemberian-Nya, namun harus siap sedia dengan resiko hidup- yang- barangkali lebih menyakitkan.

Adalah saya pada tiga tahun yang lalu. Dengan segala rencana dan target yang telah dibuat dengan sebaik-baiknya, dalam masa tiga tahun setelah saya diterima bekerja sebagai staff pengajar di sebuah sekolah dasar, berubah total hanya dalam waktu lima menit.

Suatu malam, tepatnya Kamis, 24 Februari 2011. Seorang laki-laki setengah tua mendatangi tempat kost saya. Ia adalah paman saya. Persisnya adalah adik dari bapak. Ia mengenakan pakaian batik warna orange, celana panjang hitam, dan kopyah beludru warna hitam.

Saya dan paman duduk santai di teras rumah ibu kost. Hujan gerimis turun rintik-rintik.

Setelah bertegur sapa dan berbasa-basi sedikit, paman memulai mengutarakan maksud dan tujuan kedatangannya.

“Nak,” begitu ia menyapa saya, “Paman, datang kesini karena ada hal penting dan mendesak untuk saya utarakan”. Lalu ia menjelaskan sedemikan rupa sehingga mau tidak mau saya harus bisa memberi keputusan.

“Tapi saya tidak bisa menjawab sekarang. Saya ada orang tua. Saya harus berdiskusi dulu” begitu saya memberi jawaban atas kata-kata paman.

“Tidak masalah. Tidak harus tergesa-gesa, tidak harus dalam waktu dekat” begitu jawaban paman.

“Kalau, Paman, sendiri setuju atau tidak ?” tanya saya.

“Saya setuju sekali” jawabnya mantap.

Satu malam itu saya tidak bisa tidur. Saya menelpon mama, saya berdiskusi dengannya, panjang lebar dan lama. Ternyata jauh hari, satu tahun yang lalu, mama sudah menginginkan laki-laki itu untuk menjadi pendamping hidupku. Maka pada hari itu, Sabtu 6 Maret 2011, pukul 20.00 wib, sebuah cincin pertunangan telah melingkar di jari manis saya. Hanya lima detik saja proses memakainya. Lima detik itu, cincin cantik sudah terpasang di jari manis saya.

Begitulah, jika Tuhan sudah berkata ‘Kun’, hanya dalam satu kejap mata, mimpi hidup yang sudah disusun matang-matang sejak puluhan tahun silam, bisa berubah secara total! Bisa jadi lebih buruk, bisa jadi lebih baik, atau bisa-biasa saja.

Malam itu adalah malam terakhir saya berhenti berpikir yang 'aneh-aneh' tentang seorang laki-laki calon pendamping hidup. Dengan sebuah cincin yang melingkar di jari manis saya, maka sudah tidak boleh lagi bagi saya untuk menerima laki-laki lain yang barangkali suatu saat akan datang dengan kriteria yang saya inginkan.

Just 5 Second!

*)Rosyidah Purwo. Staf pengajar di RSDBI Al Irsyad Al Islamiyyah 01 Purwokerto.

Kamis, 10 Februari 2011

PUSBUK Ganti Nama

Oleh: Rosyidah Purwo*)

Dalam rangka ikut meramaikan kegiatan tahunan yang diadakan oleh PUSBUK (Pusat Perbukuan) Kementrian Pendidikan Nasional saya iseng-iseng membuat sebuah tulisan. Tak terasa tulisan itu terkumpul menjadi 94 halaman. Dari jumlah tersebut saya beri judul, lalu saya print out lalu saya jilid.

Jumat 28 Januari 2011, pukul 10.00 wib, dengan meminjam sepeda milik teman, saya pergi ke sebuah tempat Foto Copy yang terletak di Jalan Masjid. Namanya adalah Angkasa. Tidak tahu mengapa dinamai Angkasa, barangkali ini seperti sebuah doa agar tempat foto copy tersebut bisa sukses sampai ke angkasa.

Saya kayuh sepeda dengan kecepatan penuh. Nafas megap-megap karenanya. Dalam lima menit sampai di sana. Saya serahkan naskah yang masih dalam bentuk print out dan belum dijilid kepada seorang bapak yang memiliki banyak senyum dan nada bicara yang kurang jelas.

“Pak, ini di-copy. Terus yang ini dijilid,” saya tunjukkan naskah asli supaya dijilid.
“Tapi nanti ya, Mbak, yang tukang njilid mau sholat Jumat dulu”. Saya menyanggupinya dengan berkata, “baiklah, Pak”.
“Pukul berapa bisa saya ambil?”
“Jam dua-an sudah bisa”.
“Baiklah”. Waktu menunjukkan pukul 14.30 wib, saya kembali ke kos untuk mengambil sepeda. Dengan kayuhan yang ekstra cepat saya menuju ke tempat foto copy-an. Seorang laki-laki muda tengah sibuk melayani orang-orang yang memiliki hajat yang sama dengan saya, foto copy, jilid. Bapak pemilik senyum dan suara tidak jelas tidak tampak di sana. Muncul seorang bapak bermata juling tapi tidak juling-juling amat.
“Pak, mau ambil jilidan” kataku.

Bapak pemilik mata juling tapi tidak juling-juling amat mengambil sebuah tas kresek hitam agak besar. Ia menyodorkannya kepada saya. Saya cek isi di dalamnya barangkali saja salah. Busyet! Jilidannya salah!

“Pak, kok yang dijilid ini?” tanyaku pada bapak pemilik mata juling tapi tidak juling-juling amat sambil menunjukkan berkas naskah yang difoto copy.
“Tadi, Mbak-e sudah bilang ke Bapak-nya?”
“Sudah, Pak. Saya bilang yang asli yang dijilid,” kata saya agak sengit. Saya dikejar waktu, sebentar lagi harus mengikuti program sekolah yang bersifat wajib. Tempatnya kurang lebih 3 km dari rumah kos saya, padahal harus saya tempuh dengan sepeda ontel. Satu-satunya kendaraan praktis yang saya miliki saat ini ya sepeda ontel itu.
“Oh, semprul itu orang,” kata bapak pemilik mata juling tapi tidak juling-juling amat pada salah satu karyawan di sana.
“Terus ini bagaimana, Mbak?”
“Ya yang asli dijilid, Pak,” kataku semakin sengit.
“Nggak papa jilid dua kali?”
“Nggak papa, Pak,” semakin geregetan ini hati dibuatnya.

Waktu menunjukkan pukul 15.30 wib. Hujan turun dengan deras. Pukul 16.00 wib kegiatan wajib itu dimulai pukul 16.00 wib, tapi jika hari hujan dibolehkan telat 20 menit. Saya duduk termangu-mangu di depan rumah kos sambil menunggu hujan agak reda. Saya pegang berkas naskah lomba yang sebentar lagi akan masuk ke kantor pos.

Di dalam amplop tertulis alamat:
Kepada:
Yth. Panitia Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan Tahun 2011
Pusat Perbukuan Kementrian Pendidikan Nasional, Jalan Gunung Sahari Raya No. 4, Jakarta 10002

Dengan menggunakan lamat tersebut, saya kirimkan naskah tulisan yang sudah disusun rapi. Blung! Akhirnya pada tanggal 29 Januari 2011, naskah saya masukan ke kantor pos dengan menggunakan kilat khusus agar cepat sampai di sana.

Siang hari di hari Senin, 31 Januari 2011. Pukul 15.00 wib, saya pulang ke rumah kost. Tergeletak di atas meja setrika sebuah amplop coklat besar. Saya dekati amplop itu.
What??? Tulisan saya dikembalikan?!! Ada apa ini?!!! Begitu saya membatin begitu melihat stempel persegi empat dengan empat point pilihan di dalamnya:





Point yang ke-empat inilah yang diberi tanda centang di dalam kotaknya. Di bagian bawah kotak besar di bubuhi tulisan maha besar: BUBAR! Dengan tinta warna hitam.

Segera saya menghubungi kawan untuk melihat informasi lomba di internet, barangkali saja ada perubahan. Dua jam menunggu.
“Tidak ada perubahan apapun!” begitu kawan saya memberikan jawaban melalui pesan singkat SMS. Pasti ada yang tidak beres! Saya langsung menghubungi kawan di Jakarta yang kebetulan bekerja di perbukuan, barangkali saja tahu. Lama tidak ada jawaban.

Sebuah ide brilliant muncul! Saya SMS seorang yang baik hati yang saya kenal melalui tulisan-tulisannya di dunia maya, siapa lagi kalau bukan Om Jay. Saya SMS Om Jay dengan harapan ia dapat membantu. Saya diminta menghubungi langsung ke PUSBUK. Ah, mengapa tidak terpikirkan dari awal!
Tujuh hari berturut-turut saya hubungi PUSBUK. Tidak pernah ada yang mengangkat telepon. Hari terakhir, telepon saya diangkat oleh operator. Legaaa! Harapan untuk tetap mengikuti lomba masih ada.

Woro-woro! Woro-woro! Bagi siapa saja yang ingin ikut serta meramaikan lomba di PUSBUK, jangan lupa kirimkan karya anda ke:

Panitia Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan Tahun 2011
Pusat Perbukuan dan Kurikulum, Balitbang, DIKNAS
Jalan Gunung Sahari Raya No. 4, Jakarta 10002

Begitulah hasil ngobrol saya dengan pak Majid, orang yang memberikan keterangan mengenai PUSBUK yang telah ganti nama, melalui pesawat telepon pada Senin, 7 Februari 2011. Terimakasih, Pak.

Jumat, 26 November 2010

Belajar Asyik Dengan ‘Reketek-Jegrek’


Oleh: Rosyidah Purwo*)

Siang itu, udara cukup panas. Di gedung bertingkat dua RSDBI Al Irsyad Al Islamiyyah 01 Purwokerto terlihat sepi. Jam pelajaran di masing-masing kelas tengah berlangsung.
Sebuah kelas tampak rapi dan hangat. Seorang ibu setengah tua sedang menyampaikan pelajaran. Sesekali tampak senyum dan tawa dari anak-anak.

Sebuah rumus matematika yang cukup rumit untuk usia anak-anak sekolah dasar ia ajarkan dengan semangat yang menggebu, totalitas, dan penuh percaya diri. Penampilannya selalu energik dan penuh senyum. Tegas dan disegani, kadang lucu, kadang menyeramkan.

Sebagaimana umumnya, anggapan bahwa pelajaran matematika adalah pelajaran yang menakutkan, membosankan, dan menyebalkan masih melekat erat pada anak-anak di jenjang sekolah dasar.

Seperti yang dialami pada sepupu saya. Suatu hari ia berkata, “aduh, aku pusing. Besok matematika”. Begitulah ungkapannya saat keesokan harinya ada pelajaran matematika. Bahkan pengalaman diri pribadi. Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, kerap kali mengalami pusing dan enggan mengikuti pelajaran yang satu ini. Ditambah dengan gurunya yang bermuka seram dan suaranya yang berat. Hiii…menakutkan!

Namun tidak bagi guru yang satu ini. Meskipun ia tegas orangnya, namun hampir setiap anak selalu menantikan dirinya dan pelajarannya. Meskipun sedikit tegang, namun anak-anak selalu merasa asyik dengan pelajarannya.

Dengan dua kata yang menjadi jurus andalannya, sekaligus menjadi bahan kesukaan anak-anak akan dirinya, ia menyampaikan materi itu. Kata itu adalah ‘Reketek-Jegrek’. Dengan ‘Reketek-Jegrek’ itu, pada UASBN 2009-2010 lalu, ia memecahkan rekor sebagai guru terbaik dengan perolehan angka 10 untuk mata pelajaran matematika pada sebanyak 31 anak!

Siapa dia? Endah Suminar