Minggu, 13 Februari 2011

Pelajaran Berharga di Angkringan Bubur Ayam Mang Herman

Oleh: Rosyidah Purwo

Dalam rangka memenuhi hajat yang sudah lama terpendam, saya bersama sepeda baru berjalan-jalan menyusuri area “Free Car Day” di sekitar alun-alun Purwokerto. Pukul 05.30 wib, saya sudah bersiap-siap dengan pakaian kaos warna biru dan celana panjang parasut warna coklat dengan jilbab kaos warna coklat juga. Sebenarnya padu padan ini tidak cocok sama sekali, tapi nyaman sekali dipakai.

Dengan sepeda phoenix warna kuning yang sempat saya beli satu bulan lalu, saya pergi “goes-goes”, begitu istilah yang sempat saya dengar dari radio Dian Swara untuk menyebut istilah bersepeda santai. Perlahan saya kayuh sepeda. Sengaja tidak dikayuh cepat-cepat agar bisa menikmati sejuknya udara pagi hari. Memang benar, udara pagi hari itu benar-benar sangat segar. Rasa-rasanya kulit berubah menjadi lebih kencang dan segar.

Terlihat di sepanjang jalan, lalu lalang orang dengan berkostum kaos dan celana panjang serta sepatu olah raga. Terlihat pula lalu lalang pengguna sepeda mulai dari anak-anak sampai kakek-kakek. Benar-benar asyik sekali di Minggu pagi itu.

Waktu menunjukkan pukul 06.25 wib. Kegiatan “goes-goes” ternyata cukup menguras tenaga dan berhasil membuat perut lapar, maklum, sangat jarang saya lakukan. Terakhir kalinya adalah dua tahun lalu saat nimbrung belajar bahasa Inggris di kampung Inggris, Pare, nun jauh di Jawa Timur sana.

Sambil mengayuh sepeda, saya lirik sana lirik sini, mencari-cari penjual nasi rames. Maklumlah anak kost, nasi rames menjadi menu sarapan pagi setiap hari. Tiba-tiba mata saya tertuju pada bubur ayam angkringan di salah satu sudut jalan, tepatnya di trotoar jalan. Perlahan, sepeda saya kayuh menuju ke sana. Lalu saya parkir di pinggiran jalan dekat gerobak bubur ayam. Saya mengambil tempat duduk di sebelah utara menghadap ke badan jalan. Sengaja saya lakukan agar bisa mengawasi sepeda saya yang tak terkunci. Maklum, sepeda masih baru, jadi saya belum ingin kehilangan. Tentang masalah kunci, kuncinya sepeda saya rusak tepatnya pada bagian lobang kunci, pecah. Praktis, kunci sepeda yang juga masih baru tidak bisa dipakai.

Dua laki-laki dewasa, sepertinya adalah penjual dan pelayannya, tengah menyiapkan dua mangkok bubur ayam untuk dua ibu-ibu yang duduk di bawah pohon besar di depan gerobak bubur ayam.

“Pak, bubur ayam satu, tanpa kedelai”. Saya memesan satu mangkok. Sengaja saya meminta tidak dibubuhi kedelai, sebab menurut saya, jika makan bubur ayam dicampur dengan kedelai goreng, terlalu rumit untuk dikunyah. Mulut juga menjadi cepat lelah, meskipun kedelai goreng ini adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Sambil menunggu, saya duduk di salah satu kursi plastik tanpa sandaran yang disediakan di sana. Seperti biasa, jika ada sesuatu yang baru, mata ini tidak mau diam untuk melihat-lihat, maka sambil menunggu, saya menyapu bersih setiap apa yang ada di sana. Terlihat sebuah tulisan besar pada sebuah kain berwarna hijau pupus yang digunakan sebagai sekat sekaligus sebagai papan nama “Bubur Ayam Priyangan Mang Herman”. Oh, nama penjualnya Mang Herman. Begitu pikir saya setelah membaca tulisan itu.

Dalam hitungan detik, bapak penjual bubur ayam berhasil meracik bubur ayam yang saya pesan. Satu porsi bubur ayam tanpa kedelai siap disantap. Lengang. Hanya canda tawa anak-anak dan bisik-bisik orang-orang yang tengah asyik menikmati jalan-jalan pagi.

Satu dua tiga suap telah masuk ke mulut. Hmmm…sangat gurih dan lezat! Wah, sepertinya bisa juga untuk berlangganan, begitu batin saya merasakan enaknya bubur ayam Priyangan Mang Herman ini.

“Pak, dompet ketinggalan,” kata salah satu ibu yang memesan bubur ayam tapi memilih duduk di bawah pohon. Ia menyerahkan dompet warna coklat yang ditemukan. Kalau dari bentuknya, dompet itu seperti dompet laki-laki. “Coba kita buka dompetnya,” kata mang Herman. “Tidak ada KTP-nya,” katanya kemudian. “Disimpan di sini saja, pasti nanti ada yang mencari”.

Setelah kejadian itu macam-macam komentar muncul dari mulut ibu-ibu dan bapak-bapak yang kebetulan melihatnya. “Saya tidak pernah mengambil barang-barang yang saya temukan. Sebab kita akan kehilangan lebih dari yang diambil,” kata bapak penjual bubur yang saya panggil di dalam hati dengan Mang Herman sejak membaca tulisan di kain warna hijau pupus.

Subhanallah, di jaman yang serba sulit ini masih ada hati baik. Saya lambatkan ritme makan saya. Saya ingin menikmati dengan senikmat-nikmatnya. Saya tidak ingin melewati pagi ini, di angkringan bubur ayam Mang Herman ini, dengan sia-sia. Hati saya sedang berbahagia, baru saja mendapat petuah berharga dari seorang bapak penjual bubur ayam. Saya bulatkan niat untuk bersantap bubur ayam selalu di sini. Selang beberapa menit, seorang bapak berkaki pincang dengan anak kecil laki-lakinya yang tengah menangis dalam gendongan, datang tergopoh. Mang Herman bertanya, “mencari apa, Pak?”

“Dompet,” jawabnya dengan bingung dan gelisah.

Sebuah pelajaran berharga di angkringan Bubur Ayam Mang Herman!

(Purwokerto, 12 Februari 2011, 09.10 wib)

Kamis, 10 Februari 2011

PUSBUK Ganti Nama

Oleh: Rosyidah Purwo*)

Dalam rangka ikut meramaikan kegiatan tahunan yang diadakan oleh PUSBUK (Pusat Perbukuan) Kementrian Pendidikan Nasional saya iseng-iseng membuat sebuah tulisan. Tak terasa tulisan itu terkumpul menjadi 94 halaman. Dari jumlah tersebut saya beri judul, lalu saya print out lalu saya jilid.

Jumat 28 Januari 2011, pukul 10.00 wib, dengan meminjam sepeda milik teman, saya pergi ke sebuah tempat Foto Copy yang terletak di Jalan Masjid. Namanya adalah Angkasa. Tidak tahu mengapa dinamai Angkasa, barangkali ini seperti sebuah doa agar tempat foto copy tersebut bisa sukses sampai ke angkasa.

Saya kayuh sepeda dengan kecepatan penuh. Nafas megap-megap karenanya. Dalam lima menit sampai di sana. Saya serahkan naskah yang masih dalam bentuk print out dan belum dijilid kepada seorang bapak yang memiliki banyak senyum dan nada bicara yang kurang jelas.

“Pak, ini di-copy. Terus yang ini dijilid,” saya tunjukkan naskah asli supaya dijilid.
“Tapi nanti ya, Mbak, yang tukang njilid mau sholat Jumat dulu”. Saya menyanggupinya dengan berkata, “baiklah, Pak”.
“Pukul berapa bisa saya ambil?”
“Jam dua-an sudah bisa”.
“Baiklah”. Waktu menunjukkan pukul 14.30 wib, saya kembali ke kos untuk mengambil sepeda. Dengan kayuhan yang ekstra cepat saya menuju ke tempat foto copy-an. Seorang laki-laki muda tengah sibuk melayani orang-orang yang memiliki hajat yang sama dengan saya, foto copy, jilid. Bapak pemilik senyum dan suara tidak jelas tidak tampak di sana. Muncul seorang bapak bermata juling tapi tidak juling-juling amat.
“Pak, mau ambil jilidan” kataku.

Bapak pemilik mata juling tapi tidak juling-juling amat mengambil sebuah tas kresek hitam agak besar. Ia menyodorkannya kepada saya. Saya cek isi di dalamnya barangkali saja salah. Busyet! Jilidannya salah!

“Pak, kok yang dijilid ini?” tanyaku pada bapak pemilik mata juling tapi tidak juling-juling amat sambil menunjukkan berkas naskah yang difoto copy.
“Tadi, Mbak-e sudah bilang ke Bapak-nya?”
“Sudah, Pak. Saya bilang yang asli yang dijilid,” kata saya agak sengit. Saya dikejar waktu, sebentar lagi harus mengikuti program sekolah yang bersifat wajib. Tempatnya kurang lebih 3 km dari rumah kos saya, padahal harus saya tempuh dengan sepeda ontel. Satu-satunya kendaraan praktis yang saya miliki saat ini ya sepeda ontel itu.
“Oh, semprul itu orang,” kata bapak pemilik mata juling tapi tidak juling-juling amat pada salah satu karyawan di sana.
“Terus ini bagaimana, Mbak?”
“Ya yang asli dijilid, Pak,” kataku semakin sengit.
“Nggak papa jilid dua kali?”
“Nggak papa, Pak,” semakin geregetan ini hati dibuatnya.

Waktu menunjukkan pukul 15.30 wib. Hujan turun dengan deras. Pukul 16.00 wib kegiatan wajib itu dimulai pukul 16.00 wib, tapi jika hari hujan dibolehkan telat 20 menit. Saya duduk termangu-mangu di depan rumah kos sambil menunggu hujan agak reda. Saya pegang berkas naskah lomba yang sebentar lagi akan masuk ke kantor pos.

Di dalam amplop tertulis alamat:
Kepada:
Yth. Panitia Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan Tahun 2011
Pusat Perbukuan Kementrian Pendidikan Nasional, Jalan Gunung Sahari Raya No. 4, Jakarta 10002

Dengan menggunakan lamat tersebut, saya kirimkan naskah tulisan yang sudah disusun rapi. Blung! Akhirnya pada tanggal 29 Januari 2011, naskah saya masukan ke kantor pos dengan menggunakan kilat khusus agar cepat sampai di sana.

Siang hari di hari Senin, 31 Januari 2011. Pukul 15.00 wib, saya pulang ke rumah kost. Tergeletak di atas meja setrika sebuah amplop coklat besar. Saya dekati amplop itu.
What??? Tulisan saya dikembalikan?!! Ada apa ini?!!! Begitu saya membatin begitu melihat stempel persegi empat dengan empat point pilihan di dalamnya:





Point yang ke-empat inilah yang diberi tanda centang di dalam kotaknya. Di bagian bawah kotak besar di bubuhi tulisan maha besar: BUBAR! Dengan tinta warna hitam.

Segera saya menghubungi kawan untuk melihat informasi lomba di internet, barangkali saja ada perubahan. Dua jam menunggu.
“Tidak ada perubahan apapun!” begitu kawan saya memberikan jawaban melalui pesan singkat SMS. Pasti ada yang tidak beres! Saya langsung menghubungi kawan di Jakarta yang kebetulan bekerja di perbukuan, barangkali saja tahu. Lama tidak ada jawaban.

Sebuah ide brilliant muncul! Saya SMS seorang yang baik hati yang saya kenal melalui tulisan-tulisannya di dunia maya, siapa lagi kalau bukan Om Jay. Saya SMS Om Jay dengan harapan ia dapat membantu. Saya diminta menghubungi langsung ke PUSBUK. Ah, mengapa tidak terpikirkan dari awal!
Tujuh hari berturut-turut saya hubungi PUSBUK. Tidak pernah ada yang mengangkat telepon. Hari terakhir, telepon saya diangkat oleh operator. Legaaa! Harapan untuk tetap mengikuti lomba masih ada.

Woro-woro! Woro-woro! Bagi siapa saja yang ingin ikut serta meramaikan lomba di PUSBUK, jangan lupa kirimkan karya anda ke:

Panitia Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan Tahun 2011
Pusat Perbukuan dan Kurikulum, Balitbang, DIKNAS
Jalan Gunung Sahari Raya No. 4, Jakarta 10002

Begitulah hasil ngobrol saya dengan pak Majid, orang yang memberikan keterangan mengenai PUSBUK yang telah ganti nama, melalui pesawat telepon pada Senin, 7 Februari 2011. Terimakasih, Pak.

Rabu, 05 Januari 2011

Cerita Pewayangan yang Novel


Oleh: Narsiti

Resensi Buku
Judul Buku : Anak Bajang Menggiring Angin
Penulis : Sindhunata
Penerbit : Gramedia
Tebal Buku : 472 halaman
Cetekan ke IX : Agustus 2010
Harga : Rp 84.000,00

Ceritane Wayang Ramana
Neng Negara Alengka di Raja
...Rahwana Raja
Gawe Geger Nyolong Dewi Shinta

Anoman si Ketek Putih
Sowan Taman Shinta Dijak Mulih
Kewenangan Indrajit lan Patih
Ning Anoman Ora Wedi Getih

...
Lirik lagu di atas pernah popular di tahun 2000-an. Hampir semua kalangan mengenal lagu ini. Dari anak kecil sampai roang dewasa. Dengan lagu ini pula, saya menjadi paham sedikit tentang cerita wayang. Cerita tentang wayang yang menurut kebanyakan orang sangat membosankan dan menjenuhkan, bisa jadi menjadi sebuah cerita menarik dan asyik, tergantung pada penyajian dan pengemasan.

Ibarat sebuah produk, sebagus dan seenak apapun, jika cara penyajiannya kurang menarik, sudah pasti hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahui, menyukai, dan memilihnya. Tentu saja dalam dunia bisnis, orang tidak mau rugi hanya karena hal semacam ini. Maka muncullah orang-orang dengan ide kreatif menciptakan sebuah gaya baru cara pengemasan sebuah barang/produk. Dengan cara semenarik mungkin, orang-orang ini mencoba menawarkan dan mengenalkan kepada orang banyak agar mereka mengenal dan menggunakan.

Ibarat sebuah barang, sebuah cerita bagus, jika cara penayampaiannya kurang menarik, maka sudah pasti sangat sedikit orang yang mau mengetahui, atau mengenalnya.

Cerita pewayangan, jika dibaca secara seksama adalah sebuah cerita yang mengandung nilai luhur yang sangat tinggi. Sayangnya, cerita yang terlanjur dianggap rumit dan membosankan ini, kurang diminati oleh kalangan banyak. Akhirnya cerita ini hanya sekadar muncul pada acara-acara pentas wayang. Itu pun belum tentu orang mau melihat dan memerhatikan.

Sindhunata, dalam bukunya berjudul “Anak Bajang Menggiring Angin” mencoba menuturkna cerita pewayangan dengan cara yang sangat menarik. Melalui gaya tutur novel, ia mengurai cerita pewayangan ini dengan sangat menarik.

Saya pribadi, sebelumnya adalah orang yang kurang begitu mengerti tentang cerita pewayangan dengan tokoh-tokoh di dalamnya yang terlampau banyak. Namun setelah membaca buku karya Sindhunata ini, pikiran saya terbuka lebar-lebar tentang cerita pewayangan. Cerita Tentang Anoman Obong, Rama Tambak, dan lain-lain dikemas dalam sebuah cerita menarik dan menyenangkan.

Diawali dengan kisah tentang dua insan manusia bernama Wisrawa dan Dewi Sukesi, cerita pewayangan ini mengalir begitu indah sampai pada cerita tentang Rahwana menculik Dewi Shinta, Anoman yang membuat tambak sebagai jembatan untuk pasukannya mengantar ke kerajaan Alengka. Ditutup dengan meninggalnya Rahwana dalam perang melawan Rama dan bala tentaranya. Semua ini dikemas dalam sebuah cerita apik dan menarik. Runtut dan tidak membuat pusing. Dengan gaya bahasa novel, membuat keseluruhan dari cerita dalam pewayangan menjadi sebuah cerita yang ringan dan mudah untuk dimengerti.

Sidhunata muncul sebagai sosok kreatif yang menawarkan “produk” yang dianggap membosankan dan tidak menarik menjadi sebuah “produk” yang sangat indah dan menarik. Tertarik dengan ceritanya? Baca buku ini! Di dalamnya akan ditemukan nilai-nilai luhur dari cerita yang dituturkannya.

Selasa, 04 Januari 2011

Tiga Hari Bersama KPI


Oleh: Narsiti

Musik mengalun indah mengawali kegiatan hari itu. Terlihat sekitar 46 guru tengah serius mengerjakan soal. Tiga orang triner dari KPI duduk manis di depan sambil mengawasi peserta ujian. Kurang lebih 20 soal disajikan sebagai awal kegiatan.

“Sudah selesai?” tiba-tiba sebuah suara mengagetkan peserta yang tengah asyik mengerjakan test. Dalam waktu 15 menit, peserta diharuskan sudah selesai mengerjakan soal sebanyak 20. Tentu saja sebagian besar menjawab TIDAK. Untuk menciptakan suasana rileks dan menyenangkan, peserta diajak untuk melakukan senam otak bersama. Senam ini sempat membuat derai tawa peserta. Yah, itulah sekilas gambaran kegiatan SMART TEACHING yang diadakan oleh LPP dalam rangka meningkatkan kualitas guru-guru Al quran di seluruh unit sekolah.

Menjadi guru kreatif, inspiratif, dan professional bukanlah hal yang mudah, namun butuh proses, pengalaman, pelatihan, dan keberanian. Karena hal inilah LPP Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto mengundang KPI (Kualita Pendidikan Indonesia) dari Surabaya untuk menjadi trainer selama tiga hari.

Kegiatan yang digelar selama tiga hari di SD Al Irsyad Al Islamiyyah 02 Purwokerto lantai dua ini berjalan dengan asyik dan menyenangkan, terbukti dari 46 peserta, hanya satu peserta yang ijin, meskipun kegiatan dilaksanakan mulai dari pukul 17.30 wib sampai 17.00 wib. Sebagi penutup, peserta diminta untuk mengerjakan test dari materi pelatihan yang sudah diterima selama tiga hari.

Menikmati Libur Sekolah di Wisata Batur Agung, Banyumas, Jawa Tengah





Oleh: Narsiti*)

Udara pagi itu terasa sejuk. Cuaca juga cerah. Sekitar 40 kendaraan sepeda motor tertata rapi di sebuah halaman sekolah dasar. Terlihat sekitar 80 orang dengan pakaian olahraga, tengah siap di atas sepeda motor mereka dan di dalam mobil yang sudah disediakan.

Tak ingin kalah, saya juga ikut menanggalkan pakaian seragam mengajar, berganti dengan pakaian olahraga. Celana panjang parasut coklat sedikit ada warna merah di bagian saku, dipadu padan dengan kaos warna merah dan jilbab hitam, besepatu olahraga dan satu tas bekal dan pakaian ganti. Dengan dibonceng sepeda motor, saya meluncur menuju tempat lokasi.

Yah, rupa-rupanya hari itu seluruh guru dan karyawan SD Al Irsyad Al Islamiyyah 01 Purwokerto hendak mengadakan rekreasi bersama dalam rangka mengisi liburan semester. Guru-guru yang biasanya berkutat dengan kegiatan sekolah yang cukup padat dan melelahkan, kali ini diajak oleh kepala sekolah untuk menikmati liburan bareng. Tujan rekreasi kali ini adalah sebuah objek wisata yang masih terbilang baru di kabupaten Banyumas, tepatnya di desa Kebaseh, Kecamatan Kedung Banteng, Kota Purwokerto, Kabupaten Banyumas.

Lokawisata in tidak begitu jauh dari pusat kota, Purwokerto. Jarak tempuh dari pusat kota, kurang lebih sekitar 200 km. Jika ditempuh dengan menggunakan kendaraan bermotor hanya membutuhkan waktu 30 menit. Jika tidak memiliki kendaraan bermotor, jangan khawatair, sebab untuk menuju ke loka wisata alam ini juga tersedia transportasi umum.

Jika dari terminal Purwokerto, carilah angkutan kota warna orange jurusan Karang Lewas. Dari Karang Lewas cari saja angkutan pedesaan warna biru jurusan Kebaseh, Kedung Banteng. Cukup dengan 5 ribu rupiah saja, kita bisa sampai tujuan. Atau jika tidak ingin ribet bergonta-ganti kendaraan, ada juga armada TAXI. Cukup dengan 50 ribu rupiah saja, bisa diantar samai ujuan.

Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan alam yang maha indah. Di kanan kiri kami seperti sebuah lukisan alam yang luar biasa. Pegunungan dan pohon-pohon yang masih hijau dan udara yang belum terpolusi.

Selama 30 menit menempuh perjalanan, saya bersama mbak Umi, teman baik hati yang memberi tumpangan sepeda motor, sampai di lokasi. Di sana kami disambut oleh petugas yang sudah ditunjuk oleh sekolah. Motor diparkir di tempat parkir yang belum ditata dengan baik. Apa adanya dan ala kadarnya, mungkin karena masih baru, begitu pikir saya.

Sebuah lapangan yang biasa digunakan untuk kegiatan hiburan jika ada moment-moment tertentu, dan biasa digunakan untuk sepak bola oleh penduduk setempat jika lapangan sedang tidak digunakan. Di sebelah kiri lapangan ada wahana Out Bond. Hanya dengan 10 ribu rupiah bisa menikmati aneka macam out bond. Salah satunya adalah flaying fox.

Melepas lelah, saya dan rombongan duduk-duduk santai di depan sebuah warung kecil milik salah sau warga di sana. Merasa sudah hilang lelah, saya mengajak teman untuk menyusuri petilasan Batur Agung. Masuk ke dalamnya akan terlihat sebuah taman hijau yang mungil. Begitu masuk, akan disuguhi pemandangan yang sangat indah. Batu-batu bertahtakan tumbuhan lumut bercampur paku yang sudah puluhan tahun lamanya. Pohon-pohon Angsana besar-besar dan tinggi-tinggi. Berada di dalamnya, serasa berada di dalam ruangan ber-AC. Rimbun pohon-pohon yang masih menghiasi lokasi ini menciptakan udara sejuk dan sehat. Lumut bercampur tanaman paku membentuk permadani hijau yang menghiasi setiap jengkal tanah di petilasan ini.

Di sana ada sebuah bangunan rumah kecil, tepatnya seperti pos ronda. Di dalam bangunan ini terdapat batu-batu berbentuk aneh, yang konon adalah peninggalan Purbakala. Tempat ini sering dijadikan sebagai sarana untuk memanjatkan doa bagi semua agama yang ada di Indonesia.

Menurut sejarahnya, berdasarkan informasi yang saya dapat dari juru kunci Batur Agung, pak Sobirin, yang sudah bekerja sejak 18 tahun lalu, sekaligus juga berprofesi sebagai staff Purbakala Jawa Tengah, konon tempat ini dulunya adalah tempat para laki-laki pilihan. Tidak dijelaskan siapakah laki-laki pilihan yang disebut. Maka dari itu, tempat tersebut dinamakan Batur Agung. Batur berarti Tempat, Agung berarti Laki-Laki pilihan.

Di sini terdapat wahana Joging Track, cukup dengan 2 ribu rupiah dapat menikmati wahana ini sambil menikmati udara sejuk dan pohon-pohon hijau yang besar dan tinggi. Di sini juga disediakan ATV + Trail, namun tak ada satupun dari kami yang ingin mencoba. Maka hanya melihat-llihat dan memegang-megang saja, kami sudah cukup puas. Hanya dengan 5 ribu rupiah, ATV + Trail ini dapat dinikmai sepuasnya. Asal tidak takut dan tidak malu.

Merasa puas, saya dan beberapa teman menyewa Trans Animal, sebuah kendaraan milik Taman Safari yang dibeli untuk melengkapi fasilitas di objek wisata ini, untuk menuju ke lokasi Water Park. Kendaraan yang masih ber-plat B ini, kami gunakan sebagai sarana transportasi menuju lokasi water park.

Dengan membayar dua ribu rupiah, trans animal ini akan mengantar sampai ke lokasi water park yang berjarak tempuh 1 km dari tempat parkir. Di sini hanya ada dua buah trans animal yang berbentuk gajah dan harimau. Jadi, jika lokawisata ini sedang dibanjiri pengunjung, harus berani rebut-rebutan sebab tidak disediakan kartu antrian. Jadi, begitu membeli karcis, langsung saja naik.

Selama naik trans animal, kami disuguhi pemandangan alam yang luar biasa indah. Di sebelah kiri adalah pegunungan dan bentangan sawah yang hijau dan indah. Di sebelah kanan adalah bukit yang dipenuhi semak.

Sampai di wahana water park, rombongan mencoba beberapa paket wisata yang ada. Seperti anak-anak, kami bermain-main plorotan sambil bermain cipratan air di kolam renang. Jika ada yang memiliki anak-anak, di sana juga disediakan mainan anak-anak seperti mandi bola, ayunan, njot-njotan, dll.

Melepas rasa penasaran, saya dan teman-teman mencoba Arum Jeram. Hanya dengan 25 ribu, kami dapat menikamti arum jeram yang hanya berjarak 2,5 km. Jika merasa belum puas dengan jarak ini, dapat dilanjutkan pada jarak yang lebih jauh, namun harus menambah 75 ribu rupiah. Dari jembatan Cibun sampai Jembatan Gantung bawah. Sayangnya waktu tidak mencukupi, maka kami tidak menengok pada lokasi jembatan gantung yang dimaksud.

Merasa sudah puas, kami segera berkemas-kemas. Ganti pakaian dan makan siang. Ingin hati adalah menikmati menu Bakso yang dijajakan di sana, namun ternyata dari pihak sekolahan sudah menyediakan menu makan siang sendiri, dari pada boros-boros, saya urungkan niat untuk menikmati bakso buatan penduduk lokasi wisata Batur Agung.

Yah, di lokawisata ini ada beberapa penjual makanan yang siap melayani. Berbagai menu makan ada di sini. Ada baso. Harga satu porsi baso hanya 7 ribu rupiah. Ada juga mie ayam, cukup dengan uang 5 ribu rupiah, kita sudah bisa mendapatkan satu mangkok mie ayam. Ada juga pedagang asongan yang menjajakan berbagai macam jajan anak dan aneka macam snack ringan.

Tentu saja harganya jauh lebih mahal. Jika menginginkan nasi rames, bisa juga dipesan melalui ibu penjual baso dan mie ayam. Tentu saja menunya tidak semenatik dan sebanyak di perkotaan, sebab penjual ini memang tidak menyediakan nasi rames. Hanya jika ada yang pesan saja.
Merasa sudah cukup, saya dan rombongan pulang dengan perasaan bahagia dan bersiap-siap menyongsong masuk sekolah.

Ingin liburan yang asyik tapi harga terjangkau? Datang saja di loka wisata ini. Dijamin asyik dan menyenangkan!

Jumat, 26 November 2010

Belajar Asyik Dengan ‘Reketek-Jegrek’


Oleh: Rosyidah Purwo*)

Siang itu, udara cukup panas. Di gedung bertingkat dua RSDBI Al Irsyad Al Islamiyyah 01 Purwokerto terlihat sepi. Jam pelajaran di masing-masing kelas tengah berlangsung.
Sebuah kelas tampak rapi dan hangat. Seorang ibu setengah tua sedang menyampaikan pelajaran. Sesekali tampak senyum dan tawa dari anak-anak.

Sebuah rumus matematika yang cukup rumit untuk usia anak-anak sekolah dasar ia ajarkan dengan semangat yang menggebu, totalitas, dan penuh percaya diri. Penampilannya selalu energik dan penuh senyum. Tegas dan disegani, kadang lucu, kadang menyeramkan.

Sebagaimana umumnya, anggapan bahwa pelajaran matematika adalah pelajaran yang menakutkan, membosankan, dan menyebalkan masih melekat erat pada anak-anak di jenjang sekolah dasar.

Seperti yang dialami pada sepupu saya. Suatu hari ia berkata, “aduh, aku pusing. Besok matematika”. Begitulah ungkapannya saat keesokan harinya ada pelajaran matematika. Bahkan pengalaman diri pribadi. Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, kerap kali mengalami pusing dan enggan mengikuti pelajaran yang satu ini. Ditambah dengan gurunya yang bermuka seram dan suaranya yang berat. Hiii…menakutkan!

Namun tidak bagi guru yang satu ini. Meskipun ia tegas orangnya, namun hampir setiap anak selalu menantikan dirinya dan pelajarannya. Meskipun sedikit tegang, namun anak-anak selalu merasa asyik dengan pelajarannya.

Dengan dua kata yang menjadi jurus andalannya, sekaligus menjadi bahan kesukaan anak-anak akan dirinya, ia menyampaikan materi itu. Kata itu adalah ‘Reketek-Jegrek’. Dengan ‘Reketek-Jegrek’ itu, pada UASBN 2009-2010 lalu, ia memecahkan rekor sebagai guru terbaik dengan perolehan angka 10 untuk mata pelajaran matematika pada sebanyak 31 anak!

Siapa dia? Endah Suminar

Minggu, 14 November 2010

Lagu Dolanan Anak; Kekayaan Budaya yang Kian Hilang (Catatan Lomba Guru Kreatif se-Indonesia 2010)

Oleh: Narsiti

Lomba membuat proposal yang diadakan oleh Unika yang bekerja sama dengan Marimas telah menyedot perhatian saya. Dalam rangka mengikuti lomba Guru Kreatif se-Indonesia, saya mencari data terkait dengan tema proposal yang saya ajukan.

Buku-buku, artikel-artikel terkait dengan tema, contoh-contoh proposal, saya cari dari perpustakaan, file-file lama tempo dulu saat masih menjadi mahasiswa, majalah, buku-buku, internet dll.

Dalam satu minggu, saya sibuk dengan wira-wiri, internernet-sekolah-kost-kampung halaman. Capek sekali rasanya. Malamnya dilanjutkan dengan kegiatan utak-atik tulisan. Maka jadilah sebuah proposal.

Untuk mengolah dan membuat proposal saya ng-lembur sampai dua malam full. Capek rasanya, namun melihat hasil saya sangat senang rasanya.

Untuk mendapatkan data itu, saya menanyai beberapa orang. Berikut Hasilnya: Tembang dan Dolanan Anak dari Banyumas (Hasil Survei dan Study Lapangan di Desa Banjarsari Wetan, Sumbang, Banyumas, Pada, 11 Juli 2010. Dengan informan adalah, Bapak Supri,–bukan nama sebenarnya, usia 55 tahun-, Ibu Salim-bukan nama sebenarnya-, usia 45 tahun, Ibu Supri-bukan nama sebenarnya- usia 48 tahun, Ibu Mini-bukan nama sebenarnya-, usia 39 tahun):

1. Dolanan Cing Coang
Dolanan Cing Coang
Ngendok neng alang-alang
Apa ora gatel, gatel adus
Adus atis, atis krodong
Krodong cokot tuma, tuma gugut
Gugut jeleh, jeleh mangan asem
Asem kecut, kecut cibleng

2. Jonjang Jeruk Keprok

Jonjang jeruk keprok
Dikawin batin tin
Tin wong ayu, mripate kerah
Mbukak klambu, bangsane lurah
Manuk manyar, mabure ngulon
Penganten anyar, benike ukon
Manuk emprit, mabure ngetan
Penganten cilik, njaluk pegatan

3. Jonjang Latar wetan

Jonjang Latar Wetan
Ana sapi udag-udagan
Biyung tulung
Tulung njikotna payung
e-payunge bodol, e-nggo sarap ondol
e-ondole mambu, e-nggo pangan asu
e-asune mati, e-de buang kali
e-kaline jero, e-iwake loro
e-njotna bendo, e-bendone gowang
e-nggo ator gedang, e-gedange mateng
e-nggo sumpel weteng, e-wetenge dadut
e-entute mbrubut

4. Enther-Enther Enong

Enther-Enther Enong
Nonggane nongga Sari
Rinjing, rinjinge teh
Tenong, tenonge tenong anyar
Nyar bong, wudel bodhong isi telepong
Pongge, ponggene wong karang jambe
Belot wedus gembel iwake a lot
Lot bang asu abang pinter ngendang
Dangkreng asu ireng turut galeng
Lenga, lengane sura bangsa
Salit, utang duit nyaur silit

5. Kupu Biru

Kupu biru
Mabur ke kalangan
Ngisep madu, milih ke kembangan
Kembang galas, kembang gadung
De oyak-oyak den bagus kuncung

6. Iwir-Iwir Menir

Iwir-iwir menir
Kebone kebo majir
Nyabende nyarukem
Esuk sore pada ndekem

7. Orong-Orong Bangkong

Orong-orong bangkong
Bangkonge aja rukun
Rukune manuk cabe
Beone agi ngendok
Endoke sanga likur
De dadar gari lima
Mao mablang ana dindang nabu kendang
Ana srintil nabu kendil
Nala gareng ngundang ronggeng
Ronggenge si Mariyah
De tanggap se rupiyah
Ora gelem latah-latah

8. Pak Jenggot
Pak Jenggot
Due anak siji
Anake nangis bae
Wedi karo anake
Cep meneng bae
Mengko sore tek cukure

9. Pitik Walik Jambul
Pitik Walik Jambul
Sega liwet jangan terong
Teronge kemlandingan
Omah doyong kemalingan
Teronge bunder-bunder
Bocah bodo ngagul pinter

10. Lindri
Lindri
Adang telung kathi
Lawuhe asem ayi
Adi tutul net net
Adi emplo’ plo’ plo’
Yo ma’ telep
Pancake kulo jinggring
Adu yayi sandal pancing
Adu dangklek klek dung
Adu dangklek klek dung

11. Jonjang Bekatul Mentah

Jonjang bekatul mentah
Aja ngambah ngambah lemah
Ngambahe watu bae
Breg ge dubreg cer

12. Jonjang Go Go Ligo
Jonjanh go go ligo
Pecak lele jangan jago
Go bang cabuk abang cara madu
Du lep sego liwet jangan nangka
Kanjeng, bocah gendheng mbakar uceng
Cenggeng, kaki kaki rabi ronggeng
Gengsot, kaki kaki bebede mesot
Sut thur anak-anak pitu likur
Kurwok, kukur-kukur nganti mlewok
Wo geng kala jengking agang egeng

13. Jonjang Dom Ketela
Jonjang dom ketela ramane lunga njala
Jalane jala sutra
Klembune klembu tembaga
Olihe iwak ancra
De goreng dadi sewaja
Wajane go tuku wedus weduse glembar glembor
De cancang ngisor klewih
Klewihe gigal siji sing nutur kaki-kaki
Sing nyeti nini-nini
Sing njangan prawan sunthi
Sing nyicipi perawan kembar
Kepedesen nggoar-nggoar

14. Gotri

Gotri ala gotri naga sari…
Iwul iwal iwul jwnang katul…
Bodem mbako enak mbako sedeng…
Dolan awan-awan sajak manten…
Eblok eblak eblok dadi kodok

15. Kembang-Kembang Pepe
Kembang-kembang pepe
Mindo Loyang
Engkat engkit engat ebrok
Kemul jarit karo nyiwit

Kemul kathok karo ngobrok
Bapa purun gegen gegen
Nini randa anake nangis
Dolanane cengkir legi
Blabage kayu jati
Masang wuwu de ludang
Olihe yuyu siji
Yuyune cucuk pitik
Pitike pidek kebo
Kebone tiban pelem

Pelem pelem kaniaya temen
Mangan gedhang kesereten
Klembi abang kebangeten

16. Pitik Tukung

Aku due pitik pitik tukung
Saben dina tak pakani jagung
Petok gogok petok keok
Ngendok lima tak anggremake netes telu
Kabeh trondol ndol tanpa wulu
megal megol gol gawe guyu

17. Topeng Si Laron
Topeng Si Laron…
Dadamu saking lebon
Angson-angson, di padamu
Siten si manggung
Ayam tulak ayam tukung
Klang klang dara dengklang
Thiut walang genjor

18. Kemalo-kemalo

Kemalo-kemalo
nggoletna kinjengkebo
Ora nyandang ora nganggo
Nganggone welulang kebo
Mblo-mblo i, mblo-mblo i mbo

19. Kidang Talun
Kidang talun (warna jenis kain jaman dulu, warnanya sepertikulit kerbau, due anak talun
Mil kethemil mil kethemil si kidang mangan lembayung
Tikus buntung
Due anak buntung
Cicit-cuit-cicit cuit
Si tikus saba neng lumbung

Wis jam pitu
Ayo podo mlebu
Mirengake bapak guru
ora pareng mloka-mlaku

20. Menthok-Menthok
menthok-mentok
tek kandani mung mlakumu angisin-isini
mbok yo ojo menthok ana kandang bae
enak-enak ngorok ora nyambut gawe
menthok-menthok mung
mlakumu megal megol gawe guyu

21. Tokung-Tokung (sapaan sayang seperti ndung, thole, gedug. Tokung sendiri nama ayam yang tidak punya ekor)
Tokung-tokung
Angon bebek, pinggir de langgung (sawah yang baru dipaneni lalu diisi air, nama lainnya Lalahan)
Sing ngindangi, kaki Mondro Guno
Sa ari ari (dijaga) bebek, sa tokung-tokung

22. Jamuran
Jamuran yo ge ge tok
Jamur opo? Yo ge ge tok
Jamur gajih/mrejijih (jamur gergaji; jamur kecil-kecil warnanya putih/tumbuh rapi)
Jamur gajih mrejijih
Jamure jamur gajih
mrejijih sa oro-oro (tumbuh rapi banyak sekali satu lahan yang sangat luas)
model permainannya, anak-anak membentuk lingkaran besar, sesuai dengan jumlah peserta. Lalu salah satu ada yang ditengah.
(penutup parade music)

23. Pitik Walik Buntung
Pitik walik buntung
Sega liwet jangan terong
Bibi soma mampir, pitik goreng lengo
Lengo kileng-kileng rambut brintik gelung kenceng
Kenceng kendonono bojomu meteng tunggonono

24. Ula-ula klabang

Ula-ula klabang
Ndi buntutmu, ndi endasmu?
Kaki Sura layang-layang
“nggeleti apa?” tanya pemimpin regu
Jawab Kaki Sura: “nggelet pangan”
Jawabe Pemimpin Regu: “kie ana sing neng mburi”
(kaki Sura mengejar yang dibelekang, pemimpin regu melindungi anggota/ekor yang di belakang dengan cara merentangkan ke dua tangan. Jika sampai kena, menjadi anggota Kaki Sura. Terus menyanyi lagi, begitu seterusnya, sampai habis/sampai kaki Sura capek, setelah itu antara grup kaki Sura dan Ula Klabang saling tarik menarik tangan)

25. Dem-Deman Wulung (kepalan tangan disebut Dem, wulung; hitam. Tidak diketahui apa hubungan antara Dem dengan Wulung)
Dem deman wulung
Sigar jambe woan (jambe) tanjung
Terambet (daun dadap yang warna kuning) brambang ketan (bawang putih)
Kari babu (menebak) kembang opo?
(permainannya: anak-anak saling mengepal telapak tangan sebagai Dem salah satu tangan teman (posisi masih terkepal) menyentuh kepalan tangan teman-teman.
Jawab: Kembang Mawar

Si Latri njaluk kembang Mawar
Emoh mawar kene, njaluk mawar kutoarjo
Emoh gelang kalung
Njaluk gelang sing melengkung
(ke dua tangan ditekuk dan disilangkan ke dada)
Andul-andul, emboke (ibu) adol (menjual)gandul (kates) de tukoni (dibeli) mandul mandul de thothok jekrek (dipukul berbunyi jekrek)
(tangan dipinggang)
Angkrek-angkrek mboke adol pethek (ibu menjual ikan asin) detukoni mangkrek-mangkrek the totok jekrup
(telapak tangan menutup muka)

Teman lain menanya
“iwake babat apa ati?” (daging babat atau hati?)
Jawab: Ati (hati)
“gamane landhep apa kodol?” (pisaunya tajam atau tumpul?)
Jawab: kodhol
(jika jawaban “kodhol”, maka tangan teman menggesek-gesek telapak tangan anak yang tertelungkup. Dan menggesek-geseknya lama, karena jawaban “kodol” pisau tumpul artinya sulit untuk mengiris/memotong sesautu, sehingga waktu memotongnya lama)
Siram-siram kembange pada megar (disiram-disiram, biar bunganya mekar)
(telapak tangan membuka masih menempel ke wajah)
Siram-siram kembange pada megar
(tangan terbentang lurus bahu)
Diberi pertanyaan: Kedunge jero apa chetek? (genangan airnya dalam atau dangkal)
Jika jawaban “jero”, maka tangan akan dipukul keras. Jika jawaban “cethek” maka tangan akan dipukul ringan.

26. Pethet Susu

Pethet susu, cowet gempar
Disini mentol lagi, di sana mentol gempar

Keterangan:
(sambil menyanyikan lagu, sambil bermain)
(selesai lagu, lawan menebak tangan siapa yang isi batu. Begitu seterusnya sampai salah satu kelompok melewati garis kelompok yang lain. berarti kelompok itu menang).

27. Kacungan

Kacungan-kacungan
kembang galah (bunga bamboo)
kembang gadung (bunga Gadung)
gadunge se ura-ura (ronce)
semboar pucang (pancuran dari pohon jambe, jika dialiri air akan memancar, dan orang-orang mengekspresikannya dengan istilah “semboar”)
pucange di kaungan
bur-buran kae nduwur (beterbangan ke atas, maksudnya tangannya berpindah ke atas satu per satu)
(begitu seterusnya sampai semua jari pemain naik satu persatu)

28. Iwit-Iwit Indang
Iwit-iwit Indang
ninine adang ketan
Putune pathing krantong
De totok chenthong bolong
Koangan-koangan, bibis gembok cingkreng

Koangan-koangan (ramai) bibis gembok (binatang hidupnya di sawah di dalam air, warnanya hitam, bentuknya mirip seperti kecoa. Bibis Gembok, nama salah satu jenis Bibis dari dua jenis yang ada. Jika Bibis gembok bentuknya lebih bulat dan gemuk. Bibis Tetehan lebih ramping) cingkreng! (bibis memiliki kaki tapi selalu “nyingreng” tidak pernah lurus.

29. Cempe-Cempe

Cempe-cempe (hai anak kambing, hai anak kambing)
Ngundangna barat gede (panggilkan angin yang kencang)
Tek upaih banyu tape (akan diberi imbalan air tape)
Selodong, sepane (ember dari tanah yang besar untuk menampung air)
Karing kurang kae mbale (jika kurang, ambil di “mBale” emperan orang kaya)

30. Motor Mabur
Motor mabur, njaluk duwite (pesawat terbany, minta uangnya)
Godhong gandhul daning pahite (daun papaya, pahit rasanya)
Ora dewei sogok silite (tidak dikasih, ditusuk duburnya)

31. Lha Kae Pak Guru

Lha kae pak guru, rawuh ngasta buku
Karo mesem ngguyu
Tanda tresna karo aku

Pak guru sing gagah
Mulang bocah-bocah
Sing sregep sekolah
Tahun ngarep mesti munggah

32. Siji Loro Telu

Siji loro telu
Astane sedeku
Mirengake pak guru
Mengko yen di dangu

Papat nuli limo
Lenggahe sing toto
Ojo podo semboro
Mundak ora biso

33. Gajah-gajah
Gajah-gajah rene tak kandani, Jah
Moto koyo laron
Kuping gedhe siu loro
Kathik nganggo telale
Buntut cilik, tansah kopat-kapit pit
Sikil kaya bumbung, mung mlakune megal-megol

34. Aku duwe dolanan sing lucu
Aku duwe dolanan sing lucu
Prahu cilik
Kemambang neng banyu
Mbesuk gedhe dadi tukang prahu
Bayarane
Satus sewidak wolu

35. Kucingku Telu
Kucingku telu
Kabeh lemu-lemu
Sing siji abang
Sing loro klawu
Tek pakani lonthong
Kabeh meang meong
Aku seneng ndelo’
Aku nganthi ndomblo’

36. Kḕlek-kḕlek
Kḕlek-kḕlek /suara anak ayam
Biyung siro ana ngendi /indukmu di mana
Enggal tulungana /segeralah ditolong
Anakmu kecemplung kali /tenggelam di wajan
Wus glagepan /sudah terengah-engah di dalam air
Wus meh pejah /hampir mati

37. Kuning-Kuning
Kuning-kuning
Kawula gawe loro, gawe loro
Ngenteni si kodok lengking
Ndok siji ka pipilan
Ndok loro ka comberan

Do yok oyok tawon geni
Sisimbang melati
Kiwo mbang cempoko
Cabuk loro cinde luko/
Pung ketipung

Lembayung mentiyung
Ne blung
Ler jumpaler pyar
Tek gelung-gelung konde
Tek gelung-gelung malang
Ambune walang kudedes
Esuk sore kejoderan

/wanita yang buat tontonan
/laki-laki terhormat yang bikin sakit hati sama kuning
/sesuatu yang tidak mungkin terjadi sebab tidak mungkin ada kodok “lengking” kodok yang mengempiskan lehernya saat sedang bersuara. Contoh lain, seperti ibarat “beling
/kaca busuk”
/ayam baru bertelur satu, diambil
/bertelur dua, ada di comberan
/dikejar-kejar tawon baluh (lebah)
/satu sisi diobatai dengan bunga melati
/satau sisi diobati dengan bunga cempaka
/cabuk/otto: baju untuk bayi pada jaman dulu, digunakan untuk tatakan perut saat tengkurap, memiliki tali di bagian belakang dan leher. Bentuknya seperti sapu tangan dan memiliki enam sisi, cinde luko: selendang tanun pada jaman dahulu, selendang itu digunakan untuk membalut luka.


Mengibaratkan perempuan yang suka dandan/semacam ronggeng pada masa sekarang. Cinde adalah selendang yang sangat bagus pada jaman dulu. Saat orang masih memakai baju dari karung goni yang berkutu.

38. Jonjang Do Mino
Jonjang do mino, Solo
Babu londo momong sinyo
Sinyone nangis bae
Dolanane motor mabur
Motor mabur kepalu (macet) dara
Numpak sepur mudun neng kroya

Klambi paris kembang-kembang
Anake nangis kecemplung blumbang

39. Jonjang Rambat Kacang (lanjaran)
Jonjang rambat kacang mao cang
Cangkir wulung (gelas bamboo) mao lung
Lung kedele (pucuk pohon kedele) mao le
Lenggok sapi mao pi
Pindang asu mao su
Sugih utang mao tang
Tanggal siji mao ji
Jimantoro mao ro
Robas rabes mao bes
Besan teka mao ka
Kaji turu mao ru
Runtah akeh mao keh
Kendang keli kakine ngendang ninine keli

40. Onca-Onci
Onca onci
Brambang bawang
uyah trasi
Sejola-jola
temu giring mandalika
Adas pula waras
rasuk angin
kayu legi

Jungkat jungkit
Bawang merah bawang putih/garam trasi
……/temu berwarna hijau keungu-unguan/nama jenis kayu mandalika. Berbuah pahit, bisa dijadikan obat
Adas/kapolaga/kayu manis

Permainanya: dua anak duduk bertumpu pada ke dua kaki. masing-masing saling bergerak jungkat-jungkit

41. Unthul Uwuk
Unthul uwuk
Kembang jeruk
Jembual

Permainannya: dua anak masing-masing memegang ujung kain (jarit) lalu digoyang-goyangkan, ditengahnya diberi boneka, lalu di boneka dilempar tanpa melepas ujung kain

42. Parudan
Parudan-parudan
ko bamba nyong geni

Permainanya: dua anak masing-masing duduk membelakangi. Saling beradu punggung. Yang terjatuh berarti sebagai “geni”, yang masih tetap duduk berarti “bamba”. Jika merasa nyaman, permainan ini akan diteruskan sampai masing-masing merasa bosan dan capek.

43. Teng Teng Tut
Teng teng tut/
Sira sira sing ngentut/
Jejeli awu buntut/
Jemblang gatut/
Thiut jeprut/

Perut-perut kentutlah/siapa saja yang kentut/dikasih makan abu satu “buntut” bathok yang bentuk ceper diberi lobang yang banyak, dan digunakan sebagai “buntut” untuk menutup ujung “kusan” alat untuk memasak nasi terbuat dari bambu yang dianyam, berbentuk kerucut/jemblang: membuka, gatut: semacam catut jaman dulu digunakan untuk mencabut kumis dan jenggot/ thiut: bunyi kentut, jeprut: ekspresi untuk terlepasnya jenggot atau kumis.
Meskipun pada akhirnya tidak menang lomba, saya jadi tahu ternyata lagu dolanan anak yang pernah ada di masyarakat sangat banyak jumlahnya! Sayangnya, kekayaan budaya bangsa yang begit

Senin, 01 November 2010

Miskin = Objek Penderita!


RESENSI BUKU
Judul Buku : Yang Miskin Dilarang Maling…!
Penulis : Salman Rusydie Anwar
Penerbit : Laksana
Cetakan Pertama : Juli 2010
Tebal Buku : 357 halaman
Harga : Rp 44.000,00

Oleh: Narsiti*)

Hidup miskin bukanlah sebuah pilihan. Siapapun orangnya tidak akan ada yang mau untuk memilih hidup menjadi orang miskin. Nasib, barangkali itulah jawaban satu-satunya yang tepat. Sebagai negara yang statusnya masih terus berkembang ini, Indonesia masih memiliki banyak sekali orang-orang dengan taraf penghasilan tidak sesuai dengan standar UMR atau dengan kata lain “MISKIN”.

Namun jika jawabannya nasib, rasa-rasanya juga kurang tepat. Sebab, Indonesia ini adalah negara dengan kekayaan alam terbesar di dunia sesudah Brazil. Sangat tidak logis jika masih terjadi kemiskinan di sana-sini.

Jika demikian, pasti ada yang salah dengan pengelolaan kekayaan alam kita ini. Dengan alasan seperti itu, rasanya tidak mungkin jika kemiskinan terjadi di sana-sini. Hal ini berarti memang ada yang salah dengan pengelolaan sumber daya yang dimiliki.

Salman Rusydie Anwar, dalam bukunya “Yang Miskin Dilarang Maling…!” berkisah tentang kehidupan seorang buruh tani yang menjadi korban ketidak adilan hukum beserta dengan kisah pilu kehidupannya. Sebagai tokoh uatama adalah Sukasman, diceritakan sebagai orang miskin dengan penghasilan tidak tetap. Ia harus menanggung beban hutang yang begitu banyak kepada tetangga-tetangganya.

Dalam himpitan hidup yang sudah begitu menyiksanya, ia harus dihadapkan pada sebuah tuduhuan yang teramat sangat kejam. Ia dituduh sebagai pencuri. Tuduhan ini yang menyebabkan dirinya harus meringkuk di sel penjara. Belum lagi ia masih harus menerima image negative dari tetangga-tetangganya.

Beban hidup belum usai, ia masih dihadapkan pada sebuah kenyataan hidup yang teramat pahit dan sebuah hukum yang tidak adil. Suniati, yang ditokohkan sebagai istrinya, divonis mengidap kangker otak.

Sebab keadaan yang serba sulit, ia terpaksa mencuri ayam milik pak Lurah. Atas pencurian ini ia didakwa dengan hukuman 15 tahun penjara. Sementara, Anas, yang digambarkan sebagai tokoh terkaya di kampungnya, dinyatakan bebas atas korupsi terang-terangan yang ia lakukan.

Salman Rusydie ingin menuturkan fakta di lapangan tentang kacaunya Membaca novel ini, seperti disuguhi sebuah potret hidup keadaan masyarakat kita. Orang miskin sepertinya hanya dijadikan sebagai objek penderita bagi orang-orang yang lebih berkuasa. Bahwa uang, dianggap sebagai kuasa atas sebuah kehidupan. Sangat menarik untuk dibaca.

Jumat, 29 Oktober 2010

Ide itu Datang dari Sampul Buku

kisaOleh: Rosyidah Purwo

“Hi, pinjem bukunya dong!” begitu kata saya pada teman sebelah kamar. Buku itu adalah sebuah novel popular yang saya lupa judulnya. Di bagian sampulnya, tepatnya di sudut kanan atas ada sebuah tulisan tangan yang ditulis menggunakan bolpoint dengan tinta warna hitam, ‘Belajarlah pada embun yang tak mengutuk matahari meski telah menjadikannya tiada,” begitulah bunyi tulisan itu.

Kalimat itu membuat saya merenung semalaman. Saya berpikir tentang matahari, embun, rumput, angin, kabut, dan pagi hari. Bahkan saya sampai menggigil membayangkan dinginnya pagi hari dengan embun, kabut, dan angin, meskipun udara di kamar saya malam itu panas. Entah sadar atau tidak, saya berjalan menuju rental komputer milik pesantren di mana saya belajar ilmu agama dan bahasa arab.

Jam menunjukkan pukul 21.00wib. Saya nyalakan computer. Di sana ada beberapa teman-teman perempuan yang tengah berpusing ria membuat skripsi. “Tugas apa, Mbak?” tanya salah seorang teman. Karena saya bingung hendak menjawab apa, saya hanya nyengir. Sebab, jika saya menjawab tugas kampus, apa yang akan saya tulis tidak ada kaitannya sama sekali dengan tugas kuliah. Jika saya jawab dengan jawaban, ‘bukan tugas apa-apa,’ teman akan menganggap aneh. Terpaksa, senyum, saya ambil sebagai jawaban paling efektif, efesien.

Saya duduk di depan komputer. Lama saya tidak menulis apa-apa. “Ojo ngalamun, Mbak,” kata teman saya usil. “He he he, lagi mikir koh,” jawab saya bergurau. Tiba-tiba sebuah kalimat berjalan-jalan di benak saya. Saya tuliskan kalimat itu,

Pagi hari yang cerah, di kampung Silombe-lombe…(baca lengkap tulisannya di blog saya, www.rosyidahpurwo.blogspot.com dengan judul Belajar Pada Embun). Tulisan itu iseng-iseng saya kirim ke sebuah harian Yunior Suara Merdeka.

Suatu hari, sebuah kabar mengejutkan datang dari teman saya yang kebetulan aktif di BP2M, sebuah PKM yang mendedikasikan diri dalam bidang tulis-menulis di kampus. “Mbak, tulisannya dimuat!” Uang sebanyak Rp 97.500,00 saya terima dari redaksi.

Ah, tak kusangaka. Dari tulisan tangan biasa, berubah menjadi tulisan yang luar biasa! Ide itu datang dari sampul buku.

Purwokerto, 24 Oktober 2010
Sudut Jalan Pungkuran

Jumat, 15 Oktober 2010

Toilet yang Selalu Ada “Pup”-nya dan Belajar Ketulusan dari Abah

Oleh: Rosyidah Purwo

Delapan tahun silam. Adalah masa di mana saya baru saja selesai menuntut ilmu dari Madrasah Tsanawiyah Negeri sekaligus saya juga baru saja selesai menututu ilmu di sebuah pesantren di Purwokerto. Mengenangnya, saya teringat akan masa lalu yang menyedihkan, menyenangkan, dan mengharukan!

Malam hari harus bergelut dengan pelajaran di sekolah sekaligus pelajaran di pesantren. Puluhan anak mendapat bimbingan spiritual, akhlak, kemandirian, kepribadian dari seorang public centre di sana. Sosoknya begitu indah dipandang dan begitu nyaman dirasakan. Rendah hati, lucu, tegas, cerdas, ulet dan luar biasa sabar. Satu lagi, meskipun memegang posisi sebagai pengajar di perguruan tinggi, namun tetap merakyat.

Setiap subuh hari, dan setiap selesai melaksanakan sholat maghrib, ia menyediakan waktunya untuk berbagi ilmu dengan bapak-bapak tua, ibu-ibu tua, bahkan mbah-mbah, dan anak-anak di sebuah musholla kecil. Dengan telaten dan sabar, ia mangajarkan satu persatu huruf-huruf Al Quran. Sampai menjelang waktunya tiba, mereka mampu mengkhatamkan 30 juz Al Quran. Bahkan satu juz dalam al Quran, mampu dihafal.

Namanya mbah Hasan (allohummarhamhu), mbah Prayit (Allohummarhamhu), mbah Warni (penjual jajan di pasar wage, dan daerah sekitar SPN) adalah salah tiga di antara puluhan orang yang belajar kepadanya. Usia mereka saat saya masih belajar membaca Al Quran bersama adalah kepala lima. Sampai saya lulus, mereka sudah mempu membaca Al Quran dengan baik. Mbah Warni mampu mengenali bacaan sholat dengan baik.

Bisa dibayangkan, betapa sulitnya mengajar orang banyak yang sudah memiliki usia kepala lima. Jika bukan karena ketulusan dan keuletan serta kesabaran, orang-orang ini sampai hari ini tidak akan mampu mengenal huruf-huruf yang bagi kebanyakan orang adalah huruf asing dan aneh.

Saat itu, saya teringat masa di mana saya sedang tidak memiliki uang sama sekali. Tiba-tiba saya sakit. Muntah-muntah, dan badan rasanya tidak enak. Dengan bantuan seorang teman, saya dibawa ke poliklinik Unsoed menggunakan becak. Dalam keadaan sakit itu, kepala saya dipenuhi pikiran tentang “ongkos becak dan biaya obat”, sebab tidak mungkin saya dibantu oleh teman saya ini, sebab saya tahu, ia juga sama-sama seperti saya, tidak memiliki uang.

Di sana saya diperiksa, dan diberi resep obat. Saat hendak menyerahkan uang yang saya miliki, Rp. 10000,00, ibu penjaga kasir mengatakan, “sudah dibayar oleh bu Ulfah,” subhanalloh. Saya tahu Bu Ulfah adalah istri dari bapak ini. Ia sama-sama orang tulus, baik hati, lembut, penuh kasih sayang, jujur, dan tegas!

Pagi hari ini, saya berbincang-bincang dengan bu kost. Pagi hari yang dingin dan cerah. Saya mengambil sebuah setrika tua milik bua kost. Saya setrika baju seragam yang kemarin saya cuci.
“Ibu, kok masih seperti kemarin ya, toiletnya?” tanya saya membuka percakapan pagi itu.
“Masih ada pup-nya?” tanya bu kost.
“Iya,”

Toilet penuh PUP. Itulah kejadian yang sudah hampir terjadi selama kurang lebih satu setengah tahun, namun baru saya ungkapkan satu minggu yang lalu.

Setiap pulang dari mengajar, sering sekali saya menjumpai toilet di kost saya masih ada PUP menunggu di sana. Baunya tidak karuan! Bisa dirasakan sendiri deh kalau penasaran! Dan ini sudah terjadi selama kurang lebih satu setengah tahun.

Lalu saya tanyakan kepada ibu kost. Apakah ada orang lain yang memakai toilet di belakang selain saya? itulah bunyi pertanyaannya. Ternyata jawaban ibu kost adalah “ya”. Usut punya usut yang memakai toilet adalah pembantu bu kost dan suaminya yang setiap pagi dan sore hari datang untuk merawat suaminya ibu kost yang sedang menderita stroke sejak tiga tahun lalu.

Mbak Yani namanya, dan Pak Jumadi, nama suaminya. Mereka adalah sepasang suami istri yang memiliki profesi sebagai buruh rumah tangga, dan sebagai pekerjaan sampingan suaminya dalah sebagai tukang parkir. Dari hasil ini, mereka belum mampu mencukupi kebutuhan hidup rumah tangga mereka. Apalagi diperkotaan yang menuntut stiap orang harus mandiri dan bekerja.

“Wah, kalau besok lagi diperingatkan nggak nurut, ya….tidak boleh memakai toilet dong, Bu.” Kata saya bercanda. “Terus bagaimana, dong?” timpal bu kost saya, serius. “Nggak tahu, Bu,” jawab saya. Meskipun pertanyaan saya adalah guyonan namun dalam hati, serius banget. Mudah-mudahan…mudah-mudahan…tragedi “PUP di Toilet segera berakhir…”. Begitulah keseriusannya.

Satu setengah tahun batin saya selalu menderita. Menyiram dan membersihkan toilet yang ada “PUP-nya” namun bukan PUP sendiri, meskipun tidak setiap hari, namun lumayan sering. Bau dan jijik rasanya.

Dalam hati saya berkata, ah, rugi amat. Bayar kos mahal kok menjadi tukang buang PUP orang di toilet sendiri! Sakit hati rasanya. Belajar tulus dari Abah dong, Sayang! begitu hibur hati saya.

Purwokerto, 14 Oktober 2010