Minggu, 23 September 2007

Balajar Pada Embun

Cerpen : Narsiti Rosyidah

Udara pagi di kampung Silombe-lombe terasa sejuk dan segar. Embun pagi membasahi setiap tanaman yang tumbuh di kampung itu.
”Ahhh...segarnya aku di pagi hari ini,” kata Rumput, sambil menggerak-gerakkan tubuhnya, ”terima kasih Embun, kamu telah membuat tubuhku segar.”
Embun tersenyum bahagia mendengar pujian itu.
”Apa yang bisa Aku berikan untukmu, Embun?” Tanya Rumput pada Embun.
”Cukuplah kamu menjadi sandaran bagi keberadaanku, Rumput.”
”Oh, sungguh mulia sekali hatimu, Embun.”
”Sudah...sudah... kamu jangan memujiku terus.” Kata Embun malu-malu.
Pagi hari ini cuaca sepertinya cerah. Burung-burung berkicau indah, meramaikan kampung Silombe-lombe. Bunga-bunga bermekaran di kanan-kiri jalan. Manusia berlalu lalang untuk melakukan aktifitas mereka. Ada yang hendak pergi ke sawah, ke kebun, ke sungai untuk mencuci, ada juga yang sekadar duduk-duduk santai di tepi jalan untuk menikmati segarnya udara pagi.
Segerombolan domba putih dengan bulu-bulunya yang ikal, melewati padang rumput tempat Embun dan Rumput bercakap-cakap.
”Embun, lihatlah, sepertinya mereka bahagia sekali!” Kata Rumput.
”Ya, Aku juga ikut bahagia melihatnya.”
”Aku berharap, hari ini domba-domba itu tidak memakanku.” Kata Rumput cemas.
”Sepertinya kamu cemas sekali, Rumput. Biasanya kamu selalu siap sedia untuk menjadi makanan bagi mereka.” Tanya Embun heran.
”Entahlah, Embun, tiba-tiba saja hatiku menolak untuk dimakan oleh mereka. Aku juga takut kehilanganmu. Aku takut kehilangan sahabat baik sepertimu, Embun.”
Embun mengernyitkan kening. Udara pagi berhembus menyapa mereka.
”Hai... Embun, hai... Rumput. Aku datang lagi untuk kalian dan untuk semua yang ada di kampung ini?”
”Ya, terima kasih atas kebaikanmu. Aku tidak bisa membayangkan andaikan kamu tidak ada di kampung ini, Angin. Entah apa yang akan terjadi padaku, pada Rumput, dan pada mereka semua.” Kata Rumput.
”Kita semua saling mengisi dan melengkapi.” Kata Embun, lembut.
Matahari dari ufuk timur mulai menampakan sinarnya. Sinarnya yang keemasan menebar ke seluruh alam di kampung Silombe-lombe.
”Ini yang aku benci!” Kata Rumput kesal.
”Ada apa denganmu, Rumput?”
”Tidakkah kau tahu, Embun, dengan datangnya sang Matahari, menandakan pisahnya aku darimu. Sedangkan hari ini aku tidak mau berpisah denganmu.”
Embun tersenyum.
”Jangan begitu, Rumput. Begitulah daur hidup di alam ini. Ketahuilah, bila Aku tidak pergi saat Matahari datang, bisa jadi Kamu mati. Kamu belum ingin mati, bukan?”
”Ya.” Jawab Rumput, pendek.
”Aku saja tidak marah pada Matahari, walau Ia telah menjadikanku tiada. Masih ada hari esok untuk kita bertemu, Rumput.”
Seiring dengan panasnya sinar Matahari, satu persatu titik-titik Embun mulai meninggalkan Rumput. Rumput menangis, Angin juga bersedih.
”Angin, lihatlah tubuhku, sebentar lagi pasti layu. Tolong panggilkan Embun ke sini agar tubuhku tidak layu. Tolong katakan pada Matahari, agar Ia berhenti memancarkan sinarnya.”
Angin tidak menanggapi kata-kata Rumput. Ia berlalu begitu saja dari hadapan nya. Dari jauh Angin berkata, ”belajarlah pada Embun, Rumput. Ia tidak pernah marah pada Matahari, walau Matahari telah menjadikannya tiada!”
”Ya, aku tahu sekarang. Mengapa Engkau selalu bening dan jernih, Embun. Itu karena hatimu yang selalu baik.” Rumput berkata pada diri sendiri.
Itulah mengapa sampai saat ini Embun, muncul ke permukaan bumi dengan wujudnya yang selalu bening.

Sepenggal Kisah

Cerpen: Narsiti Rosyidah

Seorang gadis remaja berambut ikal sedang menari-nari gembira di depan cermin. Sesekali ia senyum-senyum sendiri mengagumi kecantikan dirinya. Sesekali ia menatap lekat-lekat bayangan wajahnya di cermin itu. Sekilas tampak ekspresi bingung dan ragu.
Tentu saja ekspresi itu muncul, sebab orang tua yang selama ini hidup dengannya tidak memiliki kemiripan sama sekali dengan dirinya. Hal ini ia sadari beberapa hari yang lalu setelah ia menerima pelajaran mengenai gen dan faktor keturunan.
Setiap manusia yang terlahir ke dunia ini, sedikit banyak akan membawa gen kedua orang tuanya. Ciri fisik yang ada pada orang tuanya akan terbawa pula oleh keturunannya. Entah bentuk rambut, hidung, mulut gigi, mata, kulit atau yang lainnya. Anak akan mewarisi salah satu atau lebih ciri-ciri fisik yang melekat pada ayah atau ibu. Itulah sepenggal materi yang didapat dari guru biologinya.
Dua hari setelah menerima pelajaran itu, dirinya merasa menjadi manusia yang asing di rumah sendiri. Makan tidak enak, tidur, belajar, bermain, semuanya menjadi tidak nyaman. Barangkali karena beban pikiran yang membuatnya demikian.
Ditambah lagi dengan obrolan-obrolan teman-teman sekelasnya yang selalu membicarakan dirinya masing-masing terkait dengan ciri-ciri fisik mereka.
“Kalau hidungku mirip banget sama ayah.”
“Kalau rambutku mirip dengan mama.”
“Kalau bibirku mirip dengan ibu. Rambutku mirip dengan rambut ayah, dan...hidungku seperti hidung ayah.”
Begitulah celoteh teman-temannya yang selalu membuat ia merasa tidak nyaman bila berkumpul bersama dengan mereka.
“Put, kalau kamu apa yang mirip dengan kedua orang tuamu?” tanya Mimi suatu ketika. Pertanyaan semacam ini sudah diduga akan muncul.
Walaupun begitu tetap saja ia kerepotan untuk menjawabnya. Sehingga ia menjadi gelisah dan takut. Takut diejek dan ditertawakan teman-temannya. Takut dianggap anak luar nikah atau anak pungut.
Untuk menepisnya, ia sengaja berkelit dengan tidak memberi jawaban langsung ke point pertanyaan.
“Hmm...apakah penting membicarakan masalah itu.”
“Tentu penting, Put. Sebab ini akan berpengaruh terhadap kepribadian kita di masa mendatang. Kamu masih ingat kan dengan teman kita, Sisi. Ia tumbuh menjadi gadis yang tidak percaya diri, dan minder. Itu semua gara-gara dia beda banget sama orang tuanya. Ia menjadi bahan omongan teman-temannya. Dianggap anak pungut lah, anak panti asuhan lah, dan macem-macem deh.” Dengan kecentilannya ia berkata penuh semangat.
Ada benarnya juga kata-kata Mimi. Menjadi manusia yang berbeda dalam keluarga dapat mnimbulkan masalah. Seperti yang dialami Sisi. Sisi adalah anak panti asuhan. Kemudian sebuah keluarga yang tidak memiliki anak, mengangkatnya menjadi seorang anak.
Tentu saja Sisi tumbuh berbeda jauh sekali dengan orang tua angkatnya. Sisi berkulit putih, berambut pirang dan bertubuh tinggi. Sementara orang tua angkatnya bertubuh pendek, berambut hitam dan berkulit hitam. Sebuah perbedaan yang sangat kontras. Jelas saja Sisi menjadi minder karenanya.
“Mi, saya kira nggak penting deh bicara yang gitu-gituan.”
“Lho, kata siapa tidak penting. Dengerin nih,” Mimi memperbaiki posisi duduknya, “jika ada anak yang seperti Sisi hidup di tengah-tengah kita, sudah pasti ia akan jadi parno alias paranoid. Di saat teman-temannya asyik membicarakan siapa dan bagaimana orang tua kita, eh...dia malah diam kaya patung. Kaya tidak punya orang tua yang dapat dijadikan bahan pembicaraaan. Mengerikan kan.”
“Tidak juga, Mi.”
“Dasar keras kepala, lho! Atau....jangan-jangan kamu...”
“Sudahlah, Mi. Apa pentingnya ngomongin kaya gitu.” Putri memotong kata-kata Mimi.
Sebagai gadis remaja yang tumbuh dalam keluarga yang religius, Putri tidak suka jika kekurangan atau kejelekan orang lain dibicarakan di depan umum. Maka dari itu, ketika Mimi mengajak untuk lebih jauh membicarakan masalah Sisi, Putri pergi meninggalkan Mimi.
Akan tetapi sikapnya itu membawa efek buruk bagi dirinya. Sejak saat itu ia menjadi bahan omongan dan cemoohan teman-teman sekelasnya. Ada yang menganggap ia anak pelacur, anak kolong jembatan, anak tukang sampah, dan lain-lain. Rupa-rupanya cemoohan ini berpengaruh terhadap kehidupannya. Semangat belajarnya menjadadi turun.
Beruntung ia memiliki orang tua yang memahami masalah remaja, sehingga masalah ini tidak berlanjut. Orang tua Putri segera mencari tahu akar masalahnya.
Merupakan hal yang sangat berat bagi mereka untuk memecahkan masalah Putri. Akan tetapi, walupun bagaimana mereka tetap harus memberi tahu mengenai jati diri Putri yang sebenarnya.
* * *

Sembilan belas tahun silam, seorang bayi orok ditemukan tergeletak di dekat selokan di depan rumah Yayah. Usut punya usut, bayi itu adalah anak seorang perempuan korban perkosaan. Perempuan itu tidak menghendaki bayinya lahir. Untuk itu, ketika ia melahirkan, ia membuang bayinya.
Merasa kasihan dengan keadaan bayi itu, keluarga Yayah mengambil bayi itu. Namun karena kondisi perekonomian mereka tidak mendukung untuk dapat merawatnya, keluarga Yayah menyerahkannya ke panti asuhan.
Nasib baik sepertinya berpihak padanya. Satu tahun setelah di panti asuhan, sebuah keluarga mengambilnya untuk dijadikan anak angkat. Dengan perawatan dan pengasuhan yang baik, ia tumbuh menjadi gadis remaja cantik dan energik. Tidak mudah menyerah dan mengeluh. Mandiri dan cerdas. Itulah Putri.
Mendengar penjelasan dari ayah, Putri menangis sesenggukan. Ia merasa saat ini dirinya adalah anak yang paling malang. Dalam hati Putri mengumpat seseorang yang memperkosa ibunya. Seseorang yang telah menjadikan dirinya terlahir ke dunia. Seseorang yang telah membuat dirinya hidup sebagai anak jadah. Tangisnya semakin meledak-ledak ketika ia mengingat ibunya yang telah tega membuangnya.
“Bunda yakin, kamu pasti sangat membenci ibumu atau orang yang telah memperkosanya. Itu adalah hakmu. Akan tetapi, alangkah baiknya apabila kamu memaafkan mereka. Sebagai seorang muslimah, tidak baik terlalu membenci.“
“Iya, Put. Bunda benar. Bagaimana pun, mereka adalah orang tuamu. Sebuah kesalahan jika kamu terlalu membenci mereka. Membenci boleh, akan tetapi ala kadarnya saja. Sebagai bentuk luapan emosi. Akan tetapi jika mengarah pada dendam, Ayah sarankan jangan.”
Putri tidak habis pikir dengan dua orang tua angkatnya. Begitu bijaksananya mereka itu.
“Ayah. Bunda. Putri malu pada teman-teman di sekolah. Karena perbedaan fisik yang aku miliki dengan ayah atau bunda, membuat Putri dicemooh. Dianggap anak jadah, anak pelacur, anak kolong jembatan. Putri benar-benar malu.” Putri berkata dengan sesekali disertai isak tangis.
“Wajar jika kamu malu. Akan tetapi bukan berarti karena kamu malu lantas kamu tidak mau belajar. Kamu jadi pemalas, suka menghabiskan waktu yang tidak ada gunanya. Jika kamu lemah seperti itu, lalu bagaimana dengan nasib orang-orang yang lebih menderita, orang-orang yang bernasib lebih buruk dari kamu. Mereka masih membuthkan uluran tanganmu. Untuk itu kamu harus kuat. Harus berani dan tegar.”
Mendengarnya, Putri jadi teringat anak-anak pemungut sampah di TPA Bantar Gebang. Demi sesuap nasi, mereka harus berjuang mati-matian memunguti sampah berebut dengan lalat-lalat hijau dan sapi-sapi.
“Aku harus bagaimana, Yah.”
“Kamu harus bangkit kembali. Jangan diambil hati omongan teman-temanmu. Tidak ada manfaatnya.”
Putri mengangguk pelan, membenarkan kata-kata ayahya. Ia memang harus bangkit. Tidak boleh terlalu terbawa oleh keadaan. Ia menjadi sadar, disesalipun tak ada gunanya. Toh semuanya memang benar-benar terjadi.
* * *
Dengan langkah gontai, Putri memasuki ruang kelas. Riuh rendah suara teman-temannya memenuhi ruang kelas. Masih seperti minggu kemarin, mereka mengejek dan mencemooh Putri. Barangkali mereka menganggap wajar saja apa yang mereka lakukan. Sebab mereka merasa dipermalukan dengan keberadaan Putri di sekolah.
Donatur terbesar di sekolah, tak lain adalah ayah angkat dari seorang anak yang tidak jelas asal-usulnya. Ini yang membuat mereka malu. Konon ceritanya, ini menjadi gengsi tersendiri bagi mereka. Semakin terhormat keberadaan seorang donatur di sekolah, semakin terpandang pula keberadaan siswa-siswinya di sekolah lain.
Putri tidak habis pikir. Ia menjadi heran sendiri dengan mereka.
Ejekan dan cemoohan masih terdengar samar-samar dari beberapa mulut mereka. Putri tak ambil peduli. Dengan santai dan tenang, Putri mengambil posisi duduk paling depan. Ia datang ke sekolah untuk belajar. Bukan untuk mendengarkan cemooh yang tak ada artinya.
Tipa-tiba saja sesuatu terjadi di luar dugannya. Jilbab putihnya ditarik paksa oleh Mimi. Sampai rambut ikalnya menjadi berantakan. Sontak suara tawa memenuhi ruangan.
“Lihat rambutnya. Ini sudah jelas-jelas membuktikan dia anak jadah. Anak pelacur barangkali. Memalukan sekali, masa sekolah kita yang terhormat, dikotori oleh anak pelacur. Nggak level dong!”
Putri merasa sakit hati. Dadanya seperti terbakar, mukanya merah. Barangkali kalau sekadar cemooh tidak menjadi maslah, akan tetapi kali ini Mimi sudah keterlaluan. Ia telah membuka aurat Putri di hadapan teman-temannya. Kemudian ia pergi ke ruang guru. Ia menghadap langsung ke kepala sekolah.
“Pak aku tidak terima dengan perlakukan Mimi. Aku memang anak jadah, salahkah jika aku ikut belajar di sini. Apa bedanya anak seorang jadah dengan anak seorang kepala sekolah, tapi sukanya menggunjing dan mencemooh?”
Kepala sekolah terkejut, sekaligus sedih. Ia menatap Putri seperti seorang ayah yang baru bertemu dengan anaknya.
“Ada apa, Put?”
“Mimi selalu menghina dan mencemoohku, tapi Bapak tidak pernah melakukan tindakan apa-apa padanya. Mulai hari ini aku keluar dari sekolah ini. Aku akan mencari sekolah yang dapat menerima keberadaanku.“ Ia berkata dengan tegas.
Kepala sekolah paham, keluarnya Putri sama artinya dengan hancurnya sekolah. Karena sudah pasti ayah Putri akan mencabut sumbangannya untuk selama-lamanya. Ini memang terjadi, ayah Putri mengundurkan diri sebagai donatur tetap di sekolah itu.
“Mengapa ayah mengundurkan diri menajdi donatur?”
“Hmmm...menurutmu, ayah salah?” Putri mengangguk.
“Tidak, Put. Ayah tidak salah. Sudah terlalu lama ayah menjadi donatur di sana. Sekarang ayah ingin memberikan sumbangan ke tempat lain yang lebih membutuhkan. Lagi pula, kepala sekolah di tempatmu, sepertinya tidak pernah ambil peduli dengan permasalahan-permasalahan kecil yang muncul.”
“Apa benar, Yah.”
“Menurutmu bagaimana?”
“Sepengetahuan Putri, tidak begitu. Ia perhatian banget sama Putri.”
“Lalu mengapa perselisihan antara kamu dan Mimi dibiarkan saja.”
“Mimi kan...anaknya. Barangkali karena alasan itu, pak kepala sekolah membiarkannya.”
Tidakkah kamu tahu, Put. Begitu banyak kemiripan antara kamu dan Mimi. Rambutmu, hidungmu, matamu. Tidakkah kau sadar, mengapa kepala sekolah sangat perhatian padamu, itu semua karena ia adalah ayahmu.
“Ayah, kok menatap Putri begitu. Kaya orang nggak pernah ketemu saja.”



Semarang, April 2007

Jika Matahari di Atas Bumi

Cerpen: Rosyidah Purwo

Di langit, Matahari bersinar dengan terang. Awan merasa bangga memiliki teman seperti Matahari yang selalu menerangi Langit.
”Awan, apakah selain di Langit masih ada kehidupan?” Tanya Matahari.
Awan terkekeh mendengar pertanyaan konyolnya.
”Tentu ada.”
”Di mana itu?”
”Di Bumi. Letaknya sangat jauh dari sini.”
”Apakah aku bisa ke sana, Awan?”
”Tentu bisa. Tapi kamu tidak boleh terlalu dekat dengan Bumi.”
”Mengapa?”
”Karena kamu terlalu panas. Sedang Bumi tidak terbiasa dengan panas Matahari langsung. Bumi bisa rusak karenanya.”
Matahari jengkel mendengar penjelasan Awan. Ia terbang jauh sekali meninggalkan Awan. Tak terasa ia sudah jauh meninggalakan Langit.
”Wauwww...indah sekali! Apakah ini yang disebut dengan Bumi? Jika begini aku akan tinggal di sini saja selamanya!” Seru Matahari gembira.
Matahari merasa senang sekali berada di Bumi. Ia menari dan bernyanyi. Di atas Lautan, Matahari berhenti lama sekali. Ia mengamati dirinya di permukaan Laut.
”Wouw! Ternyata diriku indah sekali!”
Inilah pertama kalinya Matahari melihat dirinya. Senyumnya mengembang. Tiba-tiba Laut menjadi kering. Bayangan Matahari juga menghilang.
Wuuuus...wussss....wussss.... Angin mendatanginya.
“Apa yang kamu lakukan di sini, Matahari?”
”Aku hanya ingin melihat keadaan di sini.”
”Tidakah kau tahu. Kedatanganmu telah merusak keindahan Bumi. Lihatlah.”
Matahari memperhatikan Laut yang mengering. Tumbuh-tumbuhan yang gosong, tanah yang mengering, dan binatang-binatang yang kehausan.
”Aku tidak bermaksud demikian...” Ia berkata seperti orang bodoh.
”Kamu harus mengembalikan keadaan Bumi seperti semula.”
”Bagaimana caranya?” Matahari berkata dengan sedih.
”Mari aku tunjukkan.”
Angin dan Matahari pergi bersama ke Langit. Sampai si sana, mereka melihat Awan. Ia tidak secerah biasanya.
Wajahnya sedih bukan main. Ia berjalan berarak mengelilingi Langit sambil membawa partikel-partikel kecil air.
”Awan mengapa rupamu jadi buruk seperti itu?” Tanya Matahari kepada Awan.
Awan telah berubah bentuk menjadi buruk, karena tubuhnya dipenuhi banyak air. Ia tidak cantik lagi seperti biasanya.
”Dasar Matahari bodoh! Sudah aku bilang kamu jangan pergi ke Bumi. Ternyata pergi juga!” Awan marah kepada Matahari.
”Aku tidak bermaksud merusakmu. Justru yang aku rusak adalah Bumi. Mengapa kamu yang marah padaku!” Matahari jengkel pada Awan.
”Matahari..., karena kamu terlalu lama di atas permukaan laut, maka Awan menjadi seperti ini,” Angin berkata sambil mengarahkan telunjuknya pada Awan yang dipenuhi partikel kecil air, ”Air laut yang terkena panas sinarmu, menguap menjadi partikel-partikel kecil air, dan menempel di tubuhnya. Jadilah Awan berubah seperti ini.” Angin menjelaskan dengan bijaksana.
”Aku harus bagaimana?” Tanya Matahari.
”Jangan khawatir, aku akan membantu mengembalikan keadaan seperti semula.” Kata Angin.
”Terima kasih, Angin. Kau baik sekali.”
Angin berhembus kencang membawa Awan terbang. Pertikel-partikel air yang dibawa Awan satu persatu jatuh menjadi hujan. Angin semakin kencang menerbangkan Awan. Hujan deras turun. Kehidupan di Bumi kembali seperti semula.
Tanah menjadi basah, tumbuh-tumbuhan menjadi subur, binatang-binatang sehat dan lincah karena tidak kehausan. Lautpun demikian. Ia tidak kering lagi.
”Mulai hari ini kamu tidak diijinkan untuk mengunjungi Bumi.” Kata Angin tegas.
Itulah mengapa sampai sekarang Matahari selalu berada di Langit.

Cahaya Kunang-Kunang

Oleh: Rosyidah Purwo*

Di senja hari, sekelompok Kupu-Kupu bersayap indah mengelilingi sebatang pohon bunga sepatu yang sedang berbunga. Mereka sedang menghisap sari bunga.
Sayapnya yang indah, membuat mereka selalu mendapat pujian dan sanjungan dari teman-temannya. Tidak seperti Kunang-kunang. Ia tidak memiliki keindahan apapun. Kecuali seberkas cahaya yang hanya dapat menyala di malam hari. Ia jarang mendapat sanjungan atau pujian.
“Kalian benar-benar binatang paling cantik yang pernah aku temui di dunia ini.” Puji seekor Babi.
“Kalian memang indah dan menawan. Aku kagum melihatmu.” Kata seekor Kodok.
“Iya, Tuhan memang pandai sekali menciptakan kalian. Sayapmu seperti bidadari.” Kata seekor Kumbang.
Begitulah pujian dan sanjungan yang diberikan oleh teman-temannya.
Tak heran apabila Kupu-kupu selalu memamerkan keindahan sayapnya. Ia selalu terbang hilir mudik ke sana kemari. Tidak di tempat ramai, atau di tempat yang sepi mereka selalu mengepakkan sayapnya lebar-lebar.
“Teman, bagaimana kalau kita sekali-kali keluar dari hutan. Aku jenuh berada di sini melulu.” Kata salah satu dari mereka.
“Aku setuju. Siapa tahu dengan kita keluar dari sini, semakin banyak yang mengagumi kita.”
“Aku juga setuju. Sayap kita kan indah, mengapa mesti terkurung di hutan terus. Boleh dong sekali-kali kita pergi.”
Merekapun pergi meninggalkan hutan. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan seekor Kunang-kunang.
“Selamat sore…hendak kemana sore-sore begini?” Sapa Kunang-kunang.
“Kami hendak keluar sebentar. Kami jenuh berada di hutan melulu.”
“Apakah tidak sebaiknya berada di sini saja. Barangkali di luar sana keadannya tidak aman.”
Mendengarnya, sekelompok Kupu-kupu menjadi ragu sejenak.
“Saya kira tidak. Sebab kami adalah binatang yang paling indah. Mereka pasti akan melindungi kami.” Kata salah satu dari mereka.
“Apakah tidak sebaliknya?“
“Maksudnya?”
“Dengan keindahan sayap yang kalian miliki, justru dapat mengundang perhatian manusia-manusia nakal. Kalian bisa ditangkap, kemudian dibunuh, lalu dimusiumkan.”
“Tidak mungkin. Kamu berkata begitu pasti karena kamu iri kepada kami. Kamu malu untuk keluar hutan sebab tubuhmu jelek.”
Kunang-kunang sedih mendengarnya. Ia terdiam sejenak.
“Jika begitu, hati-hati saja di jalan.”
Sekelompok Kupu-kupu itu terbang meninggalkan Kunang-kunang. Di tengah perjalanan, mereka berpapasan dengan manusia. Sekelompok kupu-kupu itu sengaja berlama-lama terbang di dekatnya. Dengan riang gembira, mereka memamerkan keindahan sayapnya.
Mereka tidak menyadari bahwa bahaya sedang mengancam jiwanya. Mendadak manusia itu merentangkan jala penangkap Kupu-kupu. Tak ayal, beberapa ekor Kupu-kupu tertangkap. Beberapa ekor yang lain terbang meninggalkan meraka karena takut.
Berjalan dalam keadaan takut, membuat pikiran tidak konsentrasi dan hati tidak tenang. Maka dari itu, tidak heran apabila Kupu-kupu tersesat.
Meraka tidak menemukan jalan pulang. Sementara hari semakin gelap. Mereka menjadi bingung dan khawatir. Di tengah kehkawatiran dan kebingungan, mereka melihat kerlap-kerlip cahaya indah.
“Teman, lihatlah di sana,” Kupu-kupu berbulu jingga menunjuk kearah kelap-kelip cahaya, “indah sekali. Bagaimana kalau kita ke sana.” Tanpa pikir panjang, mereka segera terbang menuju kea rah cahaya tersebut.
Ternyata kelap kelip cahaya itu adalah Kunang-kunang yang sedang memainkan cahaya di tubuhnya. Berpuluh-puluh Kunang-kunang berkumpul menyalakan cahayanya.
Sesekali mereka membentuk lingkaran bola api. Sesekali membuat posisi seperti kembang api yang terbakar. Sesekali membentuk ular naga yang terbang meliuk-liuk di udara. Sangat indah.
Kupu-kupu terbengong-bengong melihat keajaiban itu. Ia menjadi sadar, ternyata di balik kejelekan tubuh kunang-kunang, tersimpan keindahan yang tiada tara. Selama ini, Kupu-kupu tidak menyadari hal itu.
Seekor Kunang-kunang menyadari kedatangan Kupu-kupu itu, “teman-taman, ayo kita sambut kedatangan sahabat kita yang sudah lama berdiri di sana.” Ia berkata sambil menunjuk kearah pohon pinus yang besar.
Merekapun segera menuju ke tempat di mana Kupu-kupu berada. Sambil tetap memainkan cahayanya. Mereka terbang mengelilingi Kupu-kupu yang sedang bersedih karena kehilangan teman-temannya.
“Jangan bersedih teman, kami akan menghibur kalian.” Seekor Kunang-kunang berkata pada Kupu-kupu.
Setelah berkata demikian, Kunang-kunang mematikan cahayanya. Suasana hutan di malam hari terlihat semakin menyeramkan. Kupu-kupu menjadi semakin takut.
Dalam hitungan detik, mereka menyalakan kembali cahaya di tubuhnya. Tring…! Cahaya Kunang-kunang membentuk sebuah gambar daun waru. Kemudian berubah bentuk menjadi sebuah lentera.
Menandakan bahwa mereka masih mencintai Kupu-kupu dan bersedia untuk mengantar pulang.
Melihatnya, Kupu-kupu menjadi terharu. Mereka meminta maaf kepada Kunang-kunang atas kesombongannya. Kemudian Kunang-kunang mengantar Kupu-kupu pulang.
Setelah sampai, Kunang-kunang dan Kupu-kupu saling berpelukan. Kunang-kunang pamit untuk pulang.
“Saya harap kalian tidak keberatan menerima bantuan kami. Karena itu adalah sudah tugas kami mengantarkan siapa saja yang tersesat atau kegelapan jika malam tiba!” Seru Kunang-kunang sambil terbang meninggalkan Kupu-kupu.
Itulah mengapa sampai sekarang, Kunang-kunang selalu menyalakan cahaya di malam hari.

*Rosyidah Purwo. Penulis lepas. Masih belajar di Universitas Negeri Semarang.

Seorang Penggembala

Cerpen: Rosyidah Purwo

Udara sore hari, di bukit Bunga Sakura, berhembus sepoi. Seorang penggembala, dengan lima puluh kambing gembalaannya, tengah asyik menggembalakan kambing-kambingnya. Satu kebiasaan unik yang dimiliki penggembala itu adalah selalu berkata ”ini bagus” dalam keadaan apapun. Senang atau susah, untung atau rugi.
Suatu ketika salah satu kambingnya dimakan harimau. Penggembala itu berkata ”ini bagus.” Ia bahkan memperhatikan harimau yang memakan kambing gembalaannya itu dengan tersenyum.
Pernah pula sembilan belas ekor kambingnya dicuri orang, Penggembala tetap mengatakan ”ini bagus”. Penggembala tidak bersedih ataupun mengeluh.
”Dengan jumlah kambingku yang semakin sedikit, akan meringankan bebanku.” Katanya.
Esok hari, penggembala menggembalakan kambing-kambingnya sampai tempat yang jauh. Penggembala menyusuri jalan setapak di perbukitan itu. Di tengah perjalanan, penggembala bertemu dengan seorang raja
”Wahai anak muda, banyak sekali kambing-kambing yang kau miliki, apakah kamu tidak lelah menggembalakannya?”
”Tidak, sebab aku sangat menyayangi mereka?” Raja tersenyum mendengar jawaban Penggembala.
”Wahai Anak muda, bolehkah aku memiliki kambing-kambing itu?” Penggembala terdiam lama. Ia bingung harus menjawab boleh atau tidak. Jika Ia menjawab tidak, itu artinya penggembala tidak menghormati Raja, jika menjawab boleh, berarti Penggembala harus kehilangan kambing-kambing kesayangannya.
”Aku sedang mencari lima puluh kambing. Jumlahnya tidak boleh kurang dan tidak boleh lebih. Dan aku tahu kalau kamu memilikinya. Untuk itu sudilah kiranya Anak muda memberikannya padaku.” Raja meminta dengan penuh hormat.
Dalam hati Penggembala keberatan sekali. Namun karena sikapnya yang selalu berbaik sangka, Penggembala pun memberikan kambing-kambingnya pada Raja.
”Barangkali ini bagus untukku.” Begitu katanya.
Penggembala pulang dengan tangan kosong. Di tengah perjalanan pulang Ia bertemu dengan gerombolan perampok. Perampok itu mengambil apa saja yang ditemuinya.
”Wahai anak muda, berikan pada kami barang yang kau miliki.”
”Aku tidak memiliki apapun.” Jawab Penggembala. Perampok itu pun pergi setelah mengetahui Penggembala itu tidak memiliki apa-apa untuk bisa diambil. Perampok bersukur pada tuhan. Esok harinya Raja datang kerumah Penggembala dengan membawa lima puluh kambing-kambing miliknya.
”Anak muda, aku kembalikan semua kambing-kambing milikmu.” Penggembala heran dengan sikap raja.
”Maafkan aku, telah membuat kamu bersedih. Sebenarnya aku telah berbohong padamu. Sebenarnya aku tidak membutuhkan kambing-kambingmu. Aku hanya aingin memiliki saja, sebab kambing-kambingmu terlihat cantik dan sehat-sehat.”
”Tidak Raja, itu bagus untukku.” Raja heran mendengar jawaban Penggembala.
”Apa maksud kamu?”
”Andaikan kambing-kambing ini tidak aku berikan pada Raja, pasti kambing-kambing ini sudah dirampok.”
Penggembala semakin yakin bahwa dengan berbaik sangka, akan membawa pada kebaikan.



Semarang, November 2006

Jadah vs Jadah

Cerpen: Rosyidah Purwo

Semarang, 25 April 1981.
“Anya, akhirnya kita dapat melahirkan dengan selamat. Walaupuan anak ini tidak memiliki ayah, aku yakin mereka akan jadi orang hebat.”
“Aku tidak yakin, Put. Sebab aku tidak memiliki keluarga yang dapat melindunginya. Sementara kamu, ada bapak yang siap menjadi tameng kapan dan di mana saja. Sedang aku…”
Begitulah obrolan sepasang ibu muda di rumah sakit dokter Kariadi, Semarang.
* * *
Jakarta, 25 Agustus 2006
Di kampus Biru, Yahya sedang asyik mengikuti materi kuliah reproduksi. Berdasarkan teori yang berlaku, setiap makhluk hidup yang pernah ada di dunia, mengalami perkembangbiakan. Ada yang dengan cara membelah diri, ada pula yang berkembang biak dengan cara steak, akar rimpang, dan lain-lain.
Yang paling banyak dialami makhluk hidup di dunia adalah berkembang biak dengan cara pembuahan atau melalui proses perkawinan.
Di sana ada manusia, ada binatang, dan beberapa jenis tumbuhan. Semua ini berkembang biak dengan melalui perkawinan. Tanpa adanya perkawinan dan pembuahan, imposible makhluk-makhluk ini dapat berkembang biak.
Sebagai penganut paham rasionalis sejati, Yahya sangat setuju dengan teori ini. Ia kelihatan sangat tertarik dan menikmati sekali materi perkuliahannya.
Sementara di luar sana, di balik gerbong kereta, diantara rumah-rumah kardus, telah menunggu seorang gadis cantik dengan pakaian usang dan jilbab hitamnya. Ia sedang menunggu Yahya untuk melakukan diskusi bersama. Kegiatan rutin yang sudah berjalan hampir dua bulan.
Penampilannya menunjukkan bahwa gadis itu adalah anak-anak kolong jembatan. Sejumlah buku-buku menumpuk di atas kardus yang dijadikan alas duduk. Sayu, nama gadis itu.
“Halo. Sudah lama menunggu?”
“Lumayan.”
“Bagaimana dengan diskusi kita kali ini, sudah siapkah?”
“Yap.” Jawab Sayu sambil menunjuk sejumlah buku-buku yang dari tadi dibiarkan menumpuk di sebelahnya.
“Bagaimana kalau kita pindah tempat.” Ajak Yahya sambil melangkah ke tempat di mana ia memarkirkan mobilnya.
“Ok. Tidak masalah.”
Mobil melaju menuju ke sebuah taman indah di sebuah bilangan di Jakarta. Sayu belum pernah melihatnya.
Sayu adalah satu-satunya teman Yahya yang paling unik. Ia adalah anak kolong jembatan. Yahya sengaja menjadikannya sebagai teman. Itulah dunia, penuh dengan hal-hal unik. Di saat semua orang menyingkirkan anak-anak kolong jembatan. Yahya justru memilih untuk berteman.
Hari ini adalah giliran Sayu untuk menentukan tema diskusi. Sebagai seorang teman, Sayu ingin menjadikan teman diskusinya senang. Sayu tahu kalau Yahya sangat menyukai masalah reproduksi. Untuk itu, ia membuat tema diskusi mengenai reproduksi.
“Aku tahu kamu menyukai masalah reproduksi. Untuk itu, kita akan mendiskusikannya.”
“Nah, gadis pintar.”
“Ngomong-ngomong masalah reproduksi, apakah kamu percaya adanya anak ajaib?” Sayu membuka diskusi.
“Maksudnya?”
“Anak yang dilahirkan tanpa melalui proses pembuahan.”
Tentu saja Yahya tidak percaya dengan hal itu. Sebagai penganut paham rasionalis sejati, Yahya menolaknya mentah-mentah.
“Apa alasan kamu menolaknya?”
“Jelas aku menolaknya. Mana ada manusia lahir tanpa melalui proses pembuahan. Di jaman sekarang, tidak mungkin ada, Say,” Yahya berhenti sebentar untuk membetulkan duduknya, “barangkali kalau yang kamu bicarakan adalah Mariam, ibunya nabi Isa, aku percaya. Sebab cerita mereka ada di dalam Quran. Aku percaya Quran.”
Sayu menggelengkan kepala.
“Bukan Mariam maksud kamu?”
“Ya, yang aku maksud adalah bayi ajaib jaman sekarang.”
“No, no, no. Tidak ada sejarahnya aku percaya yang gitu-gituan. Ndak ilmiah, tahu nggak.”
“Kalau aku percaya.”
Yahya tersedak oleh ludahnya sendiri.
“Apa! Kamu percaya?” Matanya melotot karena heran, “alasanmu apa?”
“Di kampung halamanku ada.” Jawabnya enteng.
“What...?”
* * *
Dua puluh lima tahun yang lalu. Sesorang yang di desa Sayu akrab dipanggil Simbah, memiliki seseorang cucu laki-laki. Anak perempuan Simbah yang bernama Puput, melahirkan. Menurut Simbah, anak itu adalah anak ajaib. Sebab proses kelahirannya sangat aneh, usia di dalam kandungan hanya dua bulan. Satu hal lagi, Puput belum pernah bersebadan dengan laki-laki.
Orang-orang kampung memanggilnya Gus. Sebagai bentuk penghormatan kepadanya. Sayu tidak begitu setuju dengan panggilan itu. Menurut Sayu, orang yang dipanggil Gus biasanya adalah anak-anaknya kiai atau ulama besar. Sedangkan anak itu, tidak tahu anaknya siapa.
Suatu ketika ibu Sayu, membantah di depan sahabat dekatnya Simbah, saat mereka hendak sowan.(1)
“Simbah punya cucu ajaib.”
“Apa maksudnya?”
“Moso, Jeng ora ngerti. (2) Kabar ini sudah lama lho.”
“Bagaimana ceritanya?”
“Tidak bisa diakal memang. Tapi memang begitulah. Mbak Puput dua minggu yang lalu memiliki anak. Ia belum pernah bersebadan dengan laki-laki tapi bisa hamil. Terus itu lho, Jeng, hebatnya usia kandungannya hanya dua bulan.” Tamu itu bercerita penuh semangat.
“Moso! Aku ndak percaya.”
“Hati-hati lho, Jeng, sikapmu bisa membawa petaka.”
Memang pengaruh Simbah luar biasa hebatnya. Terbukti, semua orang percaya dengan ceritanya, mengenai keberadaan cucunya. Termasuk tokoh-tokoh agama dan tokoh masyarakat. Kecuali ibu Sayu.
Kelebihannya yang dapat mengetahui hal-hal gaib, dapat menebak dengan pasti mengenai hal-hal buruk dan baiknya seseorang. Mengetahui datangnya malaikat Jibril, dan lailatul qodar, membuat banyak orang kepencut(3) untuk menjadi anak buah atau muridnya.
Ini tebukti dengan berdirinya jamaah al-Oldri yang pesertanya hampir sebagian besar adalah orang-orang yang pernah menjadi pasiennya, alias meminta tolong untuk diramalkan mengenai nasib hidupnya. Pesertanya pun tak tanggung-tanggung. Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang kaya dan berpengaruh di masyarakat.
Bagi Sayu, keberadaan Simbah tak lebih dari seorang dukun. Menurutnya apa yang dapat dilakukan olehnya adalah hal-hal mustahil yang tidak mungkin dapat dilakukan oleh manusia. Kecuali manusia itu menjadi budak jin atau setan. Sedikit banyak Sayu pernah mengaji pada seorang ustadz mengenai masalah-masalah gaib tersebut.
“Selain nabi, manusia, siapapun dia, sehebat apapun dirinya, mereka tidak akan pernah bisa mengetahui keberadaan malaikat, datangnya lailatul qodar, meramal masa depan dan lain-lainnya terkait dengan hal-hal gaib. Kecuali ia mendapat bisikan dari setan.”
* * *
“Ya, aku mau tanya nih.”
“Bagaimana kalau kamu yang menjadi cucunya Simbah itu?” Lama sayu tidak mendengar jawaban. Ia memperhatikan Yahya yang kamitenggengen.(4)
Tentu saja Yahya begitu, sebab cerita Sayu mirip sekali dengan cerita masa lalunya. Yahya merasa tidak nyaman hidup di lingkungan tanah kelahirannya, Semarang. Di satu pihak Yahya diagung-agungkan, di sisi lain Yahya tersisih.
Jika ia bersama dengan jamaah al-Oldri, siapapun memuji dan mengelu-elukan dirinya. Siapapun ingin memuliakannya, menghormati dan berunggah-ungguh padanya. Namun ketika bersama teman-teman sekolahnya, ia sama saja dengan mereka. Bahkan lebih buruk, sebab Yahya tak lebih dari seorang anak jadah yang tidak memiliki ayah.
Di sekolah ia stres karena menjadi bulan-bulanan teman-temannya. Predikat anak jadah atau anak haram melekat di buku raportnya. Beruntung Yahya memiliki seorang kakek yang dapat melindunginya. Sehingga Yahya masih dapat berani menghadapi teman-teman dan orang kebanyakan.
Yahya masih memiliki orang yang mau menghormati dirinya. Bahkan mengelu-elukan bagai manusia agung. Akan tetapi kehidupan ini bukanlah jamaah al-Odri, yang mau menerima keadaan Yahya dengan titel anak ajaibnya. Tidak semua orang mau menerima Yahya. Orang kebanyakan menganggap Yahya adalah anak jadah yang dilahirkan dari seorang perempuan tidak bersuami.
Sebagai manusia yang berhati nurani dan berakal, Yahya tidak mau terus-terusan hidup dalam lindungan kakeknya. Sebab tidak selamanya kakek hidup di dunia.
Tidak selamanya pula kakeknya dapat melindungi dirinya dengan doktrin-doktrinnya. Tidak selamanya pula jammah al-Oldri mengelu-elukan dan memujinya. Suatu saat, semua itu akan hancur, dan Yahya barangkali akan ikut hancur. Untuk itu ia lebih menerima dirinya sebagai anak jadah, seperti orang kebanyakan menyebutnya.
“Say, kalau boleh tahu, siapa nama anak itu.”
“Menurut cerita ibuku, namannya Yahya Muhaimin. Tapi orang-orang biasa memenggilnya Gus Aya.”
“Apakah ibumu bernama Anya?”
“Kok tahu.” Jawab Sayu heran.
Jelas saja Yahya tahu, sebab ibu Sayu dengan ibu Yahya dulunya adalah teman dekat. Karena sama-sama mengalami kecelakaan, hamil di luar nikah, mereka berpisah. Hingga nasib mempertemukan anak-anak mereka hari ini.
Ah..., ternyata kau dan aku sama-sama anak jadah. Hanya saja nasibku jauh lebih beruntung darimu, Say. Yahya membatin.


NB:
1. Berkunjung
2. Masa, Nona tidak tahu.
3. Tertarik
4. Terheran-heran

Semarang, 12 April 2007

REALTIF

Segala sesuatu yang ada di dunai ini, menurut saya semuanya bersifat relatif.. Tidak ada yang berlaku mutlak, kecuali Allah SWT.

Menurut pacar saya, saya itu cantik. Sementara menurut teman saya, saya tidak cantikn tapi manis. Menurut pacar saya, suara saya seksi. Menurut teman saya, "begitu dibilang seksi."

Saya memiliki sebuah cerita.
Suatu ketika saya berjalan-jalan ke salah satu kota kecil di JAwa Timur, Pare. Seperti diketahui, Pare bisa dikatakan sebagai pusat pembelajaran bahasa Inggris bagi orang Jawa khususnya. Indonesia pada umumnya.

Di sana saya masuk ke sebuah asrama (english area). Tujuan utama saya datang ke sana adalah untuk menjenguk adiku yang sejak tiga bulan yang lalu belajar bahasa Inggris di Pare. Seperti kebiasaan banyak orang, setiap kita bertemu teman, saudara, atau sahabat atau siapapun yang pernah kita kenal, yang sudah lama meninggalkan kita, atau lama tidak bertemu, pasti akan melakukan peluk dan cium untuk melepas rasa kangen atau rindu. Begitupun dengan saya.

Untuk melepas rasa kangen, saya memeluk dan mencium adik saya. Malam harinya dilanjutkan dengan bercerita banyak hal.

Satu cerita yang sampai sekarang terus terngiang di telinga saya adalah sebuah cerita yang sempat membuat saya tertawa terpingkal-pingkal.

Di dalam sebuah kelas di mana adiku belajar bahasa inggris, ada seorang mahasiswa dari luar Jawa. Mahasiswa itu jauh-jauh datang dari luar Jawa sengaja untuk belajar bahasa inggris karena sebuah tuntutan. Dia diharuskan oleh dosennya untuk bisa berbahasa Inggris mengingat, kalau tidak salah, dia adalah anggota tim penelitian di kampusnya.

Mau tidak mau, suka tidak suka dia harus belajar bagaha inggris. Pada dasarnya dia sangat membenci bahasa inggris. Tentu saja dengan kondisi semacam ini, dia merasa bosan dan jengkel. Tapi bagaimana lagi. Sekali lagi itu adalah tuntutan.

Untuk mengungkapkan kekesalan dan kebosanannya, mahasiswa itu mengekspresikannya dengan sebuah ungkapan, "oh, my good!" Dengan kata "Good" dilafalkan "J" dpada huruf "g"nya. Menjadi, "oh, my jaad!"

Lalu mahasiswa itu, oleh teachernya ditanya, "what do you mean by jaad?" Jawabnya, "Tuhan. Alloh."

Mendengar cerita ini, saya tertawa terpingkal-pingkal, karena menurut saya cerita ini lucu. Namun belum tentu orang lain akan tertawa apalagi sampai terpingkal-pingkal mendengarnya.

Mengapa? Karena cerita ini bersifat relatif. Lucu menurut saya, belum tentu lucu menurut orang lain.

Yah, itulah. Bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini sifatnya RELATIF dan tidak ada yang bersifat MUTLAK kecuali hanya satu yaitu, my good, Alloh SWT.